
Beberapa Minggu kemudian.
Seperti biasanya Misa masih bisa menjalankan kewajiban sebagai istrinya dengan baik dan benar. Dia memenuhi semua yang di perintahkan Arga dengan patuh tanpa ada bantahan walau sebenarnya hatinya merasa sakit, kecewa, marah dan di penuhi emosi.
Di bangku lengkap dengan meja yang berada di sebuah taman dekat SMA pelita, duduklah Misa dan Rina di sana mengistirahatkan pikiran masing-masing di jam istirahatnya.
"Kenapa kamu Mis, kok bengong?" tanya Rina yang mendapati Misa sedang duduk melamun merebahkan kepalanya di atas meja.
"Ah, tidak apa-apa Rin," balas Misa dengan nada lesu.
"Aku tau kamu lagi ada masalah, kamu tidak seperti biasanya kayak gini. Ada apa Misa? ceritalah." tanya Rina lagi dan merapatkan diri ke arah Misa.
"Entahlah Rin, anggrek ku ada yang mati satu, mana kesayangan ku lagi... huhu," ucap Misa dramatis seakan nangis.
"Ya sudah, sudah sini." Merentangkan tangan kedepan untuk memeluk Misa, yang langsung di sambut Misa berhambur memeluk.
"Kenapa anggrek itu yang mati sih Rin? Aku kan kesel, sebel, marah Rin....huhu," tutur Misa mengeluarkan unek-unek dalam hatinya yang sudah menggunuk.
"Sudah, sudah ikhlaskan saja kamu kan bisa beli lagi masa anggrek saja di tangisin," tutur Rina menenangkan Misa yang sudah menangis di pelukannya.
Aku tuh bukan nangisin anggrek tau, tapi aku tuh lagi nangisin nasib hidupku napa gini amaat sih. Emosi banget aku pada si raja singa.
"Hiks..hiks..Rinn aku mau es krim." Rengek manja Misa di sela tangisnya.
"Ya ampuun Misa. Jadinya kamu ini nangisin anggrek mati apa pengen es krim?" Dan melepaskan pelukan, beralih menangkup kedua sisi wajah Misa.
Aku nangisin hidup ku... nasib ku Riin. Misa memberenggut mencebikkan bibir seakan benar-benar menangis.
"Pengen itu," tunjuk Misa pada Bapak penjual es krim yang kebetulan ada di sekitar taman.
Rina tersenyum melihat tingkah Misa. Jarang-jarang melihat gadis mungil bersikap seperti itu. Kalaupun anggreknya mati Misa tidak pernah menangis sampai tersedu seperti itu, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu pikir Rina.
"Ya sudah kamu duduk dulu di sini yaa, biar aku yang beliin," ucap Rina beranjak dari duduknya yang di balas anggukkan kepala oleh Misa.
"Maafkan aku Rina, aku sudah berbohong pada mu, aku hanya tidak ingin kamu tau jika sekarang aku sudah menikah juga hidup di rumah singa." Gumam Misa pelan.
Beberapa saat kemudian.
"Nih Mis, es cream rasa melon kesukaan mu," Rina menyodorkan satu cone es cream yang di terima oleh Misa.
"Makasih Rin, kamu selalu tau kesukaan aku apa," ucap Misa tersenyum tulus dan di balas anggukkan kepala oleh Rina.
__ADS_1
Mereka memakan es cream tanpa ada pembicaraan dari keduanya. Misa maupun Rina sibuk dengan pikiran nya masing masing.
Teng..teng.
Bunyi bell yang menandakan akan di mulai kembali pelajaran sekolah.
"Mis kembali yuk, udah bell tuh, kamu ada kelas tidak setelah istirahat? Soalnya aku ada kelas," ucap Rina dan berdiri.
"Yuk Rin, aku juga ada kelas," balas Misa dan ikutan berdiri.
Mereka berjalan menuju ke pelataran sekolah.
"Bu Misa, Bu Rina," sapa Pak Dani yang berpapasan dari arah yang berlawanan.
"Eh Pak Dani," balas Rina tersenyum canggung sedangkan Misa memilih menundukkan pandangannya.
"Habis dari mana? Tadi istirahat saya gak lihat kalian di kantin," tanya Pak Dani yang tatapan menuju ke arah Misa yang masih menunduk. "Bu Misa sudah makan kan?" Sambungnya.
"Sudah Pak, Rin saya duluan yah kasian anak murid saya sudah menunggu, Assalamualaikum," jawab Misa tersenyum dan beranjak pergi meninggalkan kedua nya tanpa menunggu jawaban atas salamnya dari mereka.
"Walaikumsalam," serempak Pak Dani dan Bu Rina.
"Sudah Pak jangan di lihatin terus, sudah belok orang nya," ucap Rina yang lagi-lagi mendapati Pak Dani menatap kepergian Misa.
"Apa susahnya sih Pak ungkapin rasa keburu ada yang nikung. Yang mempunyai perasaan seperti itu ke Misa bukan Pak Dani saja tapi banyak. Ya setidaknya memberitahu, siapa tau ada peluang," tutur Rina lalu berlalu meninggalkan Pak Dani yang masih mematung.
"Jika aku punya keberanian sudah dari dulu aku mengatakannya. Jangankan untuk mengucapkan kata suka kepadanya, ketika berhadapan dengan nya saja kesadaranku seakan hilang karena saking senangnya." Gumam pelan Pak Dani.
*****
Misa melirik jam yang melekat di pergelangan tangannya, jarum kecil nya masih menunjukkan angka 4. Dia terduduk di kursi panjang yang ada di warung biasa dekat sekolahnya.
"Pak es kelapa nya satu, biasa ya Pak," pesan Misa.
"Siap Neng." Langsung bergerak mengerjakan pesanan.
Karena males pindah, Misa memilih tetap duduk di kursi panjang luar warung.
"Bu Misa belum pulang?" tanya Pak Dani yang datang dari arah lawan pandangan Misa.
Misa menoleh ke samping yang mendapati Pak Dani sudah berdiri di dekat kursi panjang yang di duduki nya.
__ADS_1
"Belum," balas Misa singkat.
Pak Dani duduk di ujung bangku sehingga jaraknya cukup berjauhan dengan Misa duduk.
"Kenapa Bu? Sudah jam segini tumben," tanyanya dengan tatapan menatap lekat.
Misa memilih melihat ke arah lain. "Lagi beli es kelapa."
"Oh gitu, Pulangnya mau saya antar?" tanya Pak Dani lagi dengan tetap melihat Misa.
"Neng es kelapa nya," Bapak warung menyodorkan gelas minuman yang langsung di terima oleh Misa.
"Tidak perlu, lagian rumah saya deket sini," ucap Misa lalu menyeruput es kelapa dengan sedotan.
Pak Dani tersenyum melihat Misa meminum es kelapa sampai habis setengah nya. "Haus ya Bu."
Misa tersenyum canggung. "Iya," ucapnya singkat. Lalu gadis mungil itu, kembali meminum es kelapa sampai habis dengan kelapanya.
Sedangkan Pak Dani hanya memperhatikan setiap
pergerakan Misa yang di abaikan.
"Alhamdulillah," ucap Misa setelah menghabiskan minumannya.
Misa berdiri hendak membayar minumannya namun Pak Dani terlebih dahulu menyodorkan uang pada tangan bapak warung. "Pak minumannya saya yang bayar."
Misa yang merasa tidak enak memberikan uang yang di pegangnya juga ke Bapak warung.
"Tidak usah Pak, biar uang itu buat Pak Dani beli es kelapa," ucap Misa dan tersenyum tulus.
"Kalau begitu saya permisi Pak, Assalamualaikum," salam Misa dan berlalu melangkah menjauh dari warung.
Pak Dani menatap kepergian Misa yang mulai menjauh. Kenapa begitu sulit, hanya untuk dekat dengan mu, padahal kamu ada di hadapan ku tapi rasanya seperti jauh untuk menjangkau mu.
Sedangkan Bapak warung tampak bingung yang mendapati uang 50 ribuan dua lembar di tangannya.
"Pak ini jadi nya gimana?" tanya Bapak warung.
"Buat Bapak aja uangnya," ucap Pak Dani yang ikutan berlalu tanpa menunggu respon dari Bapak warung.
"Ada apa dengan anak muda zaman sekarang, tapi lumayan juga. Rezeki," gumam Bapak warung tersenyum sumringah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...