
Arga keluar dari dapur mengejutkan sekertaris Tang yang sedari tadi duduk di dekat pintu menjaga pintu dapur. Dengan langkah tergesa arga menuju meja makan mencari teko air dan gelas.
Sesampai nya di meja makan arga langsung menuangkan air ke gelas nya sampai penuh dan meminum nya hingga tandas. Arga menghabiskan semua air yang ada di teko kaca tersebut tanpa tersisa setetes pun.
Lalu menghela napas nya beberapa kali untuk menetralkan lidah nya yang terasa terbakar sampai mata dan hidung nya berair.
Ada apa tuan. Kenapa tuan seperti habis memakan makanan yang sangat pedas.
Sedang sekertaris Tang yang bingung melihat tuan nya keluar dari dapur dengan keadaan seperti itu langsung menghampiri arga.
"Tuan.. baik baik saja?" tanya Tang memperhatikan wajah arga yang merah dengan hidung merah, mata merah.
Arga hanya mengangguk pelan.
"Tang," panggil arga pelan.
"Iya tuan."
"Kenapa kau di sini. Jaga pintu itu. Jangan sampai ada yang masuk terutama egi," titah arga.
Tang menatap sejenak pada arga lalu mengangguk dan berlalu kembali berjaga di pintu dapur.
Tuan.. tuan.. memang ada apa di dapur nya sehingga harus di jaga seperti ini. Paling juga nona sedang memasak.
Arga berjalan hendak kembali ke dapur namun terhenti langkah nya karena sekertaris Tang tampak sedang menggeser pintu dapur.
Plakkk.
Arga menepuk kepala Tang keras.
Tuan kenapa tuan menimpuk saya. Apa salah saya.
Tang menatap arga lalu mengusap kepala nya yang nyeri.
"Kau mau membuka pintu itu. Agar bisa mengintip istri ku," tukas arga kesal.
Tuan.. saya menutup pintu ini. Karena tadi sedikit terbuka ketika tuan keluar kenapa saya di salah kan. Lagian jarak pintu ini ke bagian dapur juga cukup jauh. Bagaimana bisa saya melihat nona.
"Tidak tuan, hanya saja pintu nya sedikit terbuka dan hendak di tutup kembali," ucap Tang jujur.
"Jangan cari alasan Tang. Tetap jaga di sini aku mau masuk lagi. Dan jangan ngintip lagi," tegas arga lalu menggeser pintu dapur dan masuk ke dalam nya
meninggalkan Tang yang menggelengkan kepala nya.
Memang menyela ucapan tuan ketika mengenai nona pasti akan terkena imbas nya dan selalu saya yang salah. Tuan..tuan.. benar benar sudah berubah.
-----
Arga telah kembali ke dapur dan langsung memeluk misa dari belakang yang tampak sedang mengaduk sup di panci nya.
Misa sempat terperanjat dengan kedatangan arga yang tiba tiba memeluk nya.
Eh, s singa sudah kembali ternyata. Apa belum kapok juga aku kerjai tadi.
"Suamiku, sudah kembali." Ucap misa dan membalik kan tubuh nya menatap arga.
__ADS_1
Ya tuhaaan. Sampe begini efek nya aku kerjai. Kasihan juga s singa. Nanti kalau dia sakit diare lagi aku juga yang repot.
Misa mengusap wajah arga lembut dan mengusap mata arga yang tampak merah. Sedang arga tersenyum senang karena di perlakukan seperti itu oleh misa.
"Suamiku, mau meminum jus buah atau susu. Lihatlah mata mu merah dan hidung mu merah," ucap misa ada raut wajah khawatir di garis wajah misa.
Arga semakin bahagia di perhatikan seperti itu oleh misa. Lalu mengangguk mengiyakan, "susu saja." Pinta arga.
Yaa aku harus tanggung jawab. Nanti kalau s singa sakit yang paling di repotkan pasti aku.
"Duduk lah dulu, aku akan buatkan dulu minuman nya suamiku," titah misa menggiring arga agar duduk di kursi pantry.
Dan kali ini arga menurut duduk di kursi dan memperhatikan misa.
Misa mengecilkan api kompor terlebih dahulu lalu membuatkan segelas susu untuk arga.
Setelah membuatkan segelas susu. Misa menghampiri arga yang sedari tadi duduk menatap nya.
"Suamiku minumlah," ucap misa meletakkan gelas susu di atas meja di hadapan arga.
Arga mengangguk kan kepala lalu kembali menatap misa yang masih berdiri di samping nya.
"Aku mau kembali memasak suamiku duduk saja di sini. Dan habis kan susu nya," titah misa lalu hendak berbalik menuju sup nya namun arga lagi lagi memeluk perut misa dengan erat.
Ya tuhaan kenapa lagi s singa. Bukan nya tadi sudah menurut kenapa sekarang malah seperti ini lagi. Dasar singa bunglon.
"Suamiku, nanti sup nya kering. Kalau aku tinggalkan terlalu lama," ucap misa dan melepaskan pelukan lengan arga di perut nya namun pelukan arga sangat erat sehingga sulit di lepaskan.
"Sebentar," ucap arga dan memejamkan mata nya menenggelamkan kepala nya di perut misa.
Singaaa bisakah sikap bayi besar mu ini hilang. Senang sekali kau ini bersikap seperti ini terhadap ku.
"Suamiku, sudahkah. Aku ingin melihat sup nya," ucap misa pelan.
Arga mendongak kan kepala ke arah misa lalu mengecup kedua pipi misa.
Ayah, bunda, kenapa s singa selalu membuat jantung misa meledak.
"Teruskan memasak," titah arga melepaskan pelukan nya.
Misa segera berjalan ke arah kompor dan melihat sup di panci.
Misa menghembuskan napas lega.
Syukurlah sup nya tidak kering. Dan syukurlah aku bisa kabur dari s singa. Kalau berlama lama aku di dekat nya bisa terkena serangan jantung mendadak.
Tidak lama kemudian sup yang misa masak telah matang dan kini misa akan mencicipi rasa nya.
Arga yang sedari tadi duduk memperhatikan misa. Berjalan menghampiri misa, dan kembali lagi memeluk pinggang misa dari belakang.
Misa terlonjak dan secara langsung sup panas yang ada di sendok nya langsung masuk ke mulut misa dan tertelan.
"Aaaa... panas," celetuk misa memegangi bibir nya yang panas terbakar akibat kuah sup panas.
Arga langsung membalikkan tubuh misa dan mengusap bibir misa.
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya arga khawatir.
Ini gara gara kamu singaaa.. maen peluk2 secara tiba tiba, ngagetin tau singaa...haduuh bibir ku panas.
Misa masih mengibas ngibas kan tangan ke arah bibir nya yang terasa panas. Arga menangkap tangan misa yang bergerak sehingga berhenti dan menurunkan tangan misa.
Arga menangkup kedua pipi misa dengan kedua tangan sehingga wajah misa mendongak ke arah nya. Arga lalu mendekatkan wajah dan mengecup bibir misa lalu ******* nya.
Mata misa membulat dengan perlakuan arga yang secara tiba tiba lagi.
Singaa apa yang kau lakukan kenapa dia seperti ini. Singaa hentikan.. singaa hentikan.
Cukup lama arga mencium bibir misa. Dan ketika misa memukul pundak arga agar berhenti baru arga menghentikan aksi nya.
Kau mau membuatku ke habisan napas singaa.
Arga tersenyum senang lalu mengecup kembali bibir misa sekilas,
"gimana, masih panas?" tanya arga dan mengusap bibir misa yang basah dan merah akibat aksi nya.
Sekarang bukan bibir saja yang panas singaa.. tp hati dan jantung ku juga. Kau mau meledak kan jantung ku singaa.
Misa menggelengkan kepala nya pelan sebagai tanda sudah tidak panas lagi.
Arga melirik sup yang ada di panci lalu mengambil kuah nya sesendok dan arga mencicipi sup tersebut.
"Sangat enak," ucap nya setelah menyuapkan satu sendok kuah sup tersebut.
Hmm.. syukurlah. Jika enak. Atau s singa hanya ingin menghiburku saja.
"Suamiku, aku juga ingin mencoba nya," pinta misa ingin memastikan. Arga mengambilkan nya 1 sendok lagi lalu mengetes suhu nya terlebih dahulu dengan di tempelkan ke bibir nya lalu menyuapkan ke mulut misa.
Misa mengangguk mengiyakan jika pendapat arga sama seperti yang di rasa nya.
Meskipun lidah ku masih perih akibat sup panas tadi tp ku yakin jika sup ini enak.
"Romisa, masakan mu telah jadi. Naiklah ke kamar untuk shalat isya. Dan setelah nya kau turun kembali untuk makan malam," ucap arga sambil menangkup sebelah pipi misa.
Tumbenan s singa ngomong nya lancar dan panjang.
"Lalu siapa yang akan menyiapkan sup ini ke meja, suamiku?" tanya misa melirik sup nya.
"Biar aku," balas arga.
Misa mengangguk kan kepala nya,
"baiklah, suamiku aku ke kamar dulu." Ucap misa lalu melepaskan apron.
Arga mengambilkan kerudung misa dan memakaikan nya. Lalu arga mengusap dan mengecup puncuk kepala misa.
singaa kenapa sikap mu dari tadi masih mode bunglon. Kapan kau berubah lagi seperti singa normal.
Misa menatap arga sejenak Lalu misa berjalan menuju pintu dan meninggalkan arga di dapur sendirian.
Ternyata buku panduan keluarga harmonis itu benar benar ampuh. Buktinya sekarang aku memperaktekan nya langsung membuat ku menerima hadiah kebahagiaan dari Romisa. Bagaimana nanti jika aku memperaktekan buku panduan yang bersampul biru yah. Aku jadi tidak sabar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...