Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
72


__ADS_3

Mobil Arga telah memasuki gerbang utama rumah yang bak istana itu, mobil hitam tersebut melaju pelan melewati taman juga pelataran rumah hingga berhenti tepat di depan teras pintu utama.


Di teras, tampak Romisa dengan bibir merah nya tersenyum manis, ia sudah berdiri di ambang pintu dengan Bi Ane di samping nya untuk menyambut ke datangan Arga.


Sekertaris Tang membuka kan pintu mobil kursi belakang. Hingga memunculkan seorang pria tampan keluar dari dalam mobil, pria itu berjalan menghampiri Misa.


Arga berdiri tepat di hadapan Misa langsung menangkup kepala gadis itu dengan kedua tangan nya, perlahan wajahnya merunduk untuk mendekatkan ke wajah mungil Misa lalu...


Cup.


Dia mengecup lembut kening gadis itu.


Kedua mata Misa melebar terkejut dengan jantung mulai berpacu cepat, sehingga ia tampak membeku di tempat.


Ada... ada apa dengan si singa? Ke-kenapa jadi seperti ini setelah kejadian kemarin malam?


Arga beralih menggandeng lengan Romisa untuk masuk ke dalam rumah, dan saat ini mereka berjalan berdampingan menuju anak tangga.


Sebelum menaiki anak tangga, Arga berbalik menatap sekertaris Tang.


"Tang... suruh Egi ke ruang kerja," titahnya.


"Baik tuan." Jawab Tang sembari menundukkan pandangan sebagai hormat, sampai sepasang suami istri itu benar menaiki anak tangga.


Di Dalam Kamar.


Ceklek.


Arga memasuki kamar kemudian berjalan menuju sofa panjang ruangan. Sedangkan Misa seperti biasa mengambilkan sandal rumah di rak sandal.


Gadis itu berjongkok untuk mengganti sepatu Arga dengan sandal lalu menyimpan sepatu hitam tersebut ke rak nya.


Setelahnya Misa kembali menghampiri, dan berdiri di samping sofa yang sedang duduki Arga.


"Kemarilah, Romisa." Pinta Arga dengan nada suara pelan.


Misa melirikkan kedua bola mata nya ke arah suara dengan lirikkan ragu, menyelidik.


Dia tidak terpengaruhi ucapan si Nenek lampir itu kan? Tapi kenapa ke lembutan nya membuat ku merinding?

__ADS_1


Dengan gerakan ragu Misa menurut hendak duduk di samping Arga. Namun tiba-tiba...


Sreet.


Arga menarik pinggang Misa sehingga ia terduduk di pangkuannya.


"Suamiku." Cicit Misa pelan ketika sudah di pangkuan Arga.


Pria tampan itu membuka kerudung Misa dan melemparkan nya ke sofa sebelah.


"Romisa, apa yang kau lakukan dengan Egi?" tanya Arga tegas namun dengan nada pelan.


"Hah!" Kaget Misa mendongak cepat.


Benar dia sudah mendengar pengaduan dari si Nenek lampir. Tapi kalau di dengar dari nada suara nya seperti nya singa ini tidak akan mengaung.


"Katakanlah." Pinta Arga menangkup sebelah sisi wajah gadis cantik itu.


Misa mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Aku-aku tidak melakukan apa pun suamiku, aku... aku hanya tertidur di mobil dan ketika ku terbangun, adik mu... dia sudah ada di mobil dan duduk di kursi belakang." Ujar Misa jujur.


Cup.


Seketika tubuh Misa gemetar dengan rasa panas menciptakan warna merah di kedua pipi nya.


Kenapa perasaan ku mengatakan dia akan melakukan sesuatu? Dia belum mempelajari apa-apa tentang hubungan intim kan? Semoga saja. Kalau tidak aku tidak akan selamat malam ini.


"Kau tahu, itu adalah kesalahan mu." Suara tegas Arga namun masih bernada pelan.


Misa yang semula tertunduk kembali menatap wajah pria yang tampak dekat berjarak beberapa cm. "Tapi suamiku...," ucap Misa menggantung.


"Sst." Arga menutup bibir merah gadis itu dengan telunjuk nya.


"Kau mau menyangkal dan tidak mau bertanggung jawab." Lanjut Arga mendominasi.


Kenapa dia seakan menyalahkan ku? Misa menggeleng pelan dengan sorot mata takut.


Terbesit senyuman di bibir tipis Arga, tangannya kembali menangkup wajah Misa dengan kedua tangan.


"Ada denda nya jika kau melakukan kesalahan Romisa." Kata Arga misterius dan tersenyum menyeringai penuh arti.

__ADS_1


Gadis itu tertegun menatap diam. Denda? Emangnya aku melanggar pasal berapa singaa...


"De-de-denda...,"


Cup.


Ucapan Misa terhenti saat bibir Arga mendarat mengecup bibirnya di sertai ********** sekilas.


Degh! Misa terpaku dengan mata terbelalak tak berkedip, ia tampak terkejut wajahnya semakin merona merah padam. Serta detakan jantung yang seakan meloncat dari rongga dada nya.


Apa ini? Apa yang dia lakukan terhadapku?


Arga terkekeh senang saat melihat rona pipi Misa merah padam ia mengusap lembut kedua pipi gadis itu dengan ibu jari nya.


"Romisa, aku sudah Tahu tentang organ mu. Bolehkah aku...," ucapan Arga menggantung.


Dugh... Sreet.


Dengan refleks Romisa meloncat dan bangkit dari pangkuan Arga, lalu ia berlari terbirit ke arah pintu kamar mandi.


"Suamiku, aku-aku akan menyiapkan air hangat. Si-si-silahkan siap-siap untuk mandi," tergagap Misa setelah dekat dengan pintu kamar mandi kemudian...


Brak.


Dia masuk ke dalam nya sedikit kasar menutup pintu.


Arga tertawa pelan dengan bibir tertutup, ia begitu puas melihat ke gugupan Misa.


"Romisa, kau berani berlari seperti itu di depan ku!" Teriaknya menggema di ruangan kamar.


Sedangkan di dalam kamar mandi. Romisa mengunci pintu juga pintu ruang ganti agar Arga tidak masuk ke dalam nya.


Tubuh Misa lunglai merosot ke bawah samping lemari kaca.


"Gawat, gawat, gawat... dia sudah mempelajari nya. Bagaimana ini? Malam ini, aku harus bagaimana? Harus berbuat alasan apa untuk menghindarinya. Aku harus berpikir... berpikir Romisa... berpikir lah." Oceh Misa menepuk-nepuk pelan kepala nya beberapa kali.


Hah... dia menghembuskan napas panjang, dengan pandangan tertunduk lesu. "Kenapa dia begitu cepat mempelajari nya? Apa dia melihat dari internet video-video seperti itu? Bukannya kita sudah sepakat jangan menonton video seperti itu, tapi harus secara pendidikan. Dan bagaimana bisa dia bisa mempelajari secepat ini, bahkan dalam waktu sehari."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2