
Misa telah naik kembali ke kamar nya untuk melaksanakan shalat isya.
Sedang arga baru keluar dari dapur dan langsung menghampiri sekertaris Tang yang masih duduk di kursi dekat pintu.
Sekertaris Tang yang tampak sibuk dengan ponsel, langsung bangkit berdiri tegap setelah melihat arga menghampiri nya.
"Nona, telah kembali ke kamar tuan," ucap Tang.
Arga mengangguk mengiyakan.
"Tang.. kau sudah pastikan dia akan datang untuk makan malam di sini?" Tanya arga menatap Tang serius.
"Sudah tuan, dan sekarang sedang dalam perjalanan," balas nya.
Arga mengangguk pelan, lalu berjalan pelan.
"Aku akan ke atas, kau siapkan sup yang di masak romisa. Dan jika dia sudah datang suruh langsung ajak ke ruang makan," titah arga yang di iyakan oleh sekertaris Tang.
Arga lalu berjalan ke arah kamar nya dan menaiki anak tangga..
Sesampai nya di kamar. Arga langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan ikut melaksanakan shalat isya lalu menunggu misa keluar dari ruang ganti.
Kini arga masih duduk di sofa kamar dengan laptop di pangkuan nya menunggu misa keluar ruang ganti. Karena misa jika setelah shalat isya akan selalu menyempatkan mengaji dulu jadi akan sedikit lama misa selesai dengan ibadah nya.
Misa keluar ruang ganti yang langsung di kejutkan pandangan nya dengan sesosok arga yang tampak fokus dengan laptop nya.
Sedang arga seperti nya masih belum menyadari jika misa telah keluar dari ruang ganti yang sedang berdiri menatap nya.
Kenapa s singa ada di sini. Bukan nya tadi dia ada di bawah. Dan seperti nya s singa sedang sibuk.
Misa menghampiri arga dan berdiri di hadapan nya. Arga menoleh pada misa lalu menatap nya hangat.
"Sudah," tanya arga.
Misa yang sudah mengerti maksud arga mengangguk kan kepala nya.
Arga menutup laptop dan meletakkan nya ke meja sofa. Lalu bangkit dari duduk nya.
"Mari makan malam," ajak arga dan memeluk pinggang misa.
Ya tuhaan memang aku ini prangko apa. S singa selalu lengket terus jika dekat dengan ku.
Misa hanya bisa pasrah dengan sikap arga yang selalu menempel.
Kini mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan. Baru sampai ambang pintu ruang makan. Misa sudah mendengar suara celotehan nya syila dengan suara laki laki yang familiar di telinga misa.
Seperti kenal suara pria ini. Tp siapa yah.
Arga masih setia memeluk pinggang misa untuk berjalan menuju meja makan. Mata misa menangkap sesosok pria yang duduk membelakangi nya menunduk fokus dengan ponsel nya.
Eh siapa dia. Apa ada tamu. Kenapa s singa nggak bilang terhadap ku.
__ADS_1
Misa dan arga duduk di kursi dekat dengan sosok pria tersebut dengan arga duduk di samping nya.
"Sudah lama," tanya arga pada pria tersebut setelah diri nya duduk di kursi.
"Ah, baru saja ka arga. Mana istri mu. Aku belum melihat nya. Dan maaf aku tidak datang ke pesta mu," ucap pria tersebut.
Arga memundurkan kursi nya sedikit lalu menyenderkan kepala nya agar misa terlihat oleh tamu nya.
Seketika mata pria tersebut membelalak terkejut, dan rahang nya mengeras. Sedang misa meskipun terkejut namun masih bisa menguasai nya.
"Pak dani," ucap misa menatap heran.
"Misa," balas dani terkejut lalu beralih menatap arga tajam.
"Seperti nya istriku sudah mengenal sodara ku," ucap arga mentapa misa.
"Iya suamiku. Pak dani ini sama2 mengajar dengan ku di sekolah SMA pelita," tutur misa jujur.
Arga mengangguk paham. Padahal arga sendiri sudah tahu.
"Romisa, ini sepupu ku. Dani anak semata wayang nya bibi lara. Dan dani ini istriku Romisa," tutur arga dan merangkul bahu misa dengan sebelah tangan nya.
"Tidak mungkin," celetuk dani pelan tidak percaya.
"Suamiku jadi pak dani ini. Sodara mu. Tp kenapa tidak datang ke pesta pernikahan?" tanya misa menatap arga.
Arga mengusap lembut sisi wajah misa.
Sedang dani masih menatap misa tidak percaya. Begitu pun egi hanya menatap dingin ke arah mereka.
"Kaka ipar.. syila udah laper syila pengen sup yang di buatkan kaka ipar dong," celoteh syila mencairkan suasana.
Misa tersenyum ke arah syila lalu bangkit mengambil kan mangkuk untuk mengisi nya dengan sup, namun tangan arga menghentikan gerakan tangan misa.
"Sup ini, di buat untuk kaka, syila." Tegas arga yang tidak mau berbagi.
Ya tuhaan apa s singa nggak mau berbagi pada adik nya sendiri. Dasar tamak.
"Suamiku, aku kan membuat nya cukup banyak. Bagilah untuk syila satu mangkuk saja," ucap misa lembut.
Arga menatap misa sendu, lalu menatap syila dingin. Dan akhirnya mengangguk pelan.
Gitu dong singaa. Mau kena diare lagi apa kau ini seperti dulu.
Misa menyendokkan sup nya ke dalam mangkuk dan memberikan nya ke syila.
"Asyiiikk, syila bisa mencicipi sup kaka ipar yang aroma nya menggoda ini," ledek syila pada egi dan dani sedang yang di ledek menatap nya datar.
"Hmm... enak banget kaka ipar, nanti kalau habis syila tambah lagi yaah," celoteh syila lagi setelah menyendok kan kuah ke mulut nya.
Misa yang sedang menyendok kan sup nya lagi ke mangkuk arga tersenyum manis ke arah syila.
__ADS_1
Coba adik s singa seperti syila semua mungkin rumah ini akan rame dan hangat.
"Suamiku, mau makan sama apa lagi?" Tanya misa setelah meletak kan semangkuk sup di hadapan arga.
Arga menggelengkan kepala nya.
"Sup saja cukup," jawab nya.
Haih, apa hanya sup saja akan enak. Kasihan para koki yang memasak belum ada yang menyentuh nya. Syila hanya sup. Singa juga hanya sup. Dan egi, pak dani masih belum menyendok apapun.
Misa duduk kembali dan menyendokkan sup nya untuk diri nya.
"Bu misa egi juga mau sup nya," ucap egi serempak dengan pak dani yang menyatakan keinginan yang sama.
Arga langsung menatap nya tajam ke arah mereka berdua.
Eh, jangan minta pada saya mintalah pada juru nya yaitu s singaa.
"Suamiku," panggil misa pelan.
Arga mengalihkan pandangan nya pada misa dan berubah menatap hangat ke misa.
"Bagaimana boleh?" tanya misa hati hati.
"Tidak boleh," tegas arga lalu menyendok kembali sup ke mulut nya.
Misa melirik semangkuk sayur besar sup nya yang masih banyak.
Apa s singaa setamak itu. Masa adik nya minta tidak di perboleh kan.
"Suamiku, lihatlah masih banyak. Nanti nya mubazir," ucap misa lagi dan menatap arga.
Arga mengusap puncuk kepala misa. Lalu mengangguk pelan, "semangkuk kecil saja."
Akhirnya misa mengisi dua mangkuk kecil untuk dani dan egi lalu memberikan nya yang langsung di terima dengan senang hati oleh mereka.
Misa mengambilkan satu potong bakwan jagung dan tempe goreng lalu meletakkan nya pada piring arga juga piring nya.
"Ini pelengkap nya suamiku, akan lebih enak untuk di nikmati nya," ucap misa.
Arga sejenak menatap misa lalu mencoba nya.
Huh syukurlah di makan juga. Kasian para koki memasak sebanyak ini berbagai macam menu tapi yang di makan mereka hanya sup ku saja. Apa mereka nggak pada selera dengan yang lain nya.
"Ah, syila juga mau kaka ipar seperti yang punya kaka," celetuk syila. Misa menyodorkan piring nya ke arah syila untuk mengambil.
Egi dan pak dani pun ikut ikutan mengambil seperti apa yang misa makan.
Ada apa dengan mereka. Kenapa semua nya mengambil menu yang sama.
BERSAMBUNG...
__ADS_1