
Ting..ting.
Bunyi notifikasi yang berasal dari ponsel Sekertaris Tang menandakan ada pesan masuk, namun sang pemilik ponsel tidak menghiraukan bunyi itu karena saat ini dia sedang menjelaskan sebuah dokumen di depan Arga.
Ting...ting.
Ponsel Tang kembali bergetar dan berbunyi yang kini bunyinya begitu sering yang menandakan begitu banyak pesan masuk ke dalam ponselnya. Arga yang merasa terusik oleh bunyi tersebut. Dia menyuruh Tang untuk membuka pesan dulu, siapa tau penting kata nya.
Tang menurut, ia merogoh ponsel dari balik jas, lalu membuka pesan itu untuk di baca isinya. Setelah Tang mengscroll ke bawah, mata nya sedikit melebar terkejut, dan itu tidak luput dari pandangan awas Arga.
"Ada apa?" Heran Arga yang terganggu dengan ekspresi keterkejutan Tang.
Tang melirik pada tuannya sejenak. "Tidak ada tuan, hanya laporan kegiatan Nona Romisa."
Mendengar nama yang di sebutkan, dengan cukup kasar Arga merebut ponsel Tang. "Hal apa sehingga membuat mu sampai berwajah seperti itu," ucapnya melihat layar ponsel.
"Eh, tuan." Tang sedikit kaget dengan gerakan Arga yang tiba-tiba merampas ponselnya.
Sorot mata Arga terpaku tajam melihat isi pesan gambar di layar. "Ini yang di bilang izin ingin mengunjungi rumah nya," ucap Arga setelah melihat gambar Misa yang tampak sedang memilih buah bersama orang yang sangat di kenalnya yaitu Egi adiknya sendiri, ada nada tajam ketidak sukaan di dalam ucapan yang di lontarkan Arga.
Ternyata benar tuan telah menyukai Nona, kalau di pikir jika memang benar tuan jatuh cinta terhadap Nona, ini adalah yang pertama kali nya. Tang menatap memperhatikan setiap ekspresi wajah yang di keluarkan Arga saat menatap layar ponsel.
Arga terus mengamati setiap gambar Misa yang terdapat di layar ponsel itu, begitu banyak gambar yang di tampilkan di layar ponsel tersebut, dan dengan gerakan berbeda pula Misa tergambar di dalamnya.
Di bagian gambar yang di scroll ke bawah, terlihat foto Misa begitu bahagia duduk bertiga di teras rumahnya yang beralaskan karpet kecil, hal itu membuat Arga geram dan menatap tajam tidak suka pada gambar Misa yang menunjukkan kedekatan duduknya yang tidak terlalu jauh dari Egi juga tatapan Egi yang terus menatap ke arah Misa, Arga tau dengan tatapan yang di berikan Egi itu apa, tatapan ketertarikan terhadap lawan jenis.
Hebat sekali kau Romisa, tersenyum lebar seperti itu pada laki-laki lain.
"Tang, kenapa Egi ada di sana?" tanya Arga tajam ada nada kesal di dalamnya.
"Menurut dari mata-mata, tuan Egi kebetulan lewat jalan daerah situ ketika melihat nona sedang menunggu taxi, karena rasa simpati nya. Jadi tuan Egi berinsiatip menawarkan tumpangan kepada Nona," tutur Tang menjelaskan.
"Menawarkan kata mu! Lihatlah gambar ini, jelas-jelas dia sendiri yang seperti nya duluan membuka pintu mobil itu untuk mendorong Romisa ke dalam nya, itu sama saja dia memaksa Romisa," tegas Arga kental dengan nada kesal.
Tang melirik layar ponselnya. Apakah tuan tidak bisa membeda kan mana menawarkan juga mana memaksa. Kalau tuan Egi memaksa mungkin sudah menyeret atau mendorong tubuh Nona.
Brak.
Arga melempar kasar ponsel Tang ke karpet sofa secara sembarang hingga layar ponsel itu sedikit retak namun masih menyala.
Tang terlongo menatap nasib ponselnya. "Ponsel saya...," gumamnya pelan sambil memungut ponsel tersebut.
"Jam berapa sekarang?" tanya Arga.
"Jam 2 kurang Tuan," jawab ngasal Tang dengan suara lemah dan dengan pandangan masih menatap ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa dia belum pulang! Bukannya janji nya tidak akan larut sore, ini bukan sore lagi tapi sudah larut." Kesal Arga.
Tang tak menjawab, ia menyalakan ponselnya kembali untuk memeriksa beberapa pesan yang masih belum terbuka.
"Tang apa yang mereka makan itu?" tunjuk Arga pada gambar di layar ponsel yang fokus Arga pada mangkuk yang di pegang Egi.
Tang memperbesar foto di layar ponsel yang retak itu. "Menurut mata-mata setelah mereka mendengar dari jarak dekat, itu sup krim jagung dan salad buah semangka, namun yang di buat Nona adalah sup krim jagung tuan."
Arga mengangguk tipis dengan seringaian di bibir tipis nya, dan hal itu membuat Tang bergidik ngeri saat melihatnya. Jangan bilang Tuan akan menyuruh Nona untuk membuatkan nya.
"Sekarang dia ada dimana?" tanya Arga.
Tang menghela napas pelan, meletakkan ke atas meja ponselnya yang jadi korban bully Arga. "Masih di rumah itu tuan."
"Suruh dia pulang sekarang, ini sudah larut sore," titah Arga tegas nan tajam.
Tang melirik arloji di pergelangan tangannya. "Tapi tuan, bukannya ini masih jam 3 kurang, belum pas jika nona di suruh segera pulang, apa alasan yang akan saya katakan."
Hmm benar juga kata Tang. Arga tampak berpikir sejenak.
"Baiklah, biarkan dia pulang semaunya dia, kau lanjutkan kerjaan mu, aku keluar dulu," ucap Arga. Lalu beranjak berdiri dan keluar ruangan kerja.
Sepeninggalan Arga.
Sekertaris Tang menatap sedih pada ponselnya yang sebagian layarnya telah hancur. Ia menghembuskan napas kasar, "ganti ponsel lagi."
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, saat ini Misa yang usai melaksanakan shalat ashar. Dia segera bergegas pamitan pada bi Sum untuk bersiap pulang.
"Bibi Misa pamit dulu ya, Misa minta selalu jaga dan rawat anggrek-anggrek ini yaa Bi," tutur Misa memeluk Bi Sum yang mereka berdua berdiri di teras rumah.
"Pasti Neng, itu kan sudah tugas Bibi, luangkan waktu Neng selalu kunjungi rumah ini," ucapnya sambil membalas pelukan Misa dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.
Sedangkan Egi sudah berjalan ke arah mobil yang berada di luar pagar.
"Ya sudah Misa pulang ya Bi, Assalamualikum," Misa melepaskan pelukannya dan menyalami tangan Bi Sum.
"Walaikumsalam Neng, hati-hati di jalan nya." Yang di balas anggukkan kepala dan senyuman dari gadis mungil itu.
Misa berjalan keluar halaman rumah minimalis tersebut.
"Tidak usah Egi, saya bisa naik taxi, Egi duluan saja," tolaknya saat Misa melihat pintu depan mobil yang sebelah kemudi di buka kan oleh Egi.
Egi menatap tajam Misa.
Anak ini, apa tidak bisa bicara, hanya bisa menatap seperti itu saja.
__ADS_1
"Nggak perlu Egi, saya bisa naik taxi," tolak Misa dengan mencoba menutup pintu mobil itu namun dorongan nya tidak membuat pintu itu bergerak sedikit pun karena Egi memegang nya kuat.
"Sudah sore, lebih baik cepat," ucap Egi dingin.
Dan akhirnya Misa menyerah dia duduk di kursi depan mobil.
Egi sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi yang bersebelahan dengan Misa.
"Pakai sabuk pengaman nya," ucap Egi yang melihat Misa tidak menggunakan sabuk pengaman.
Misa menurut menarik seat belt untuk di lingkarkannya ke tubuh.
Mobil putih itu perlahan sudah melaju ke jalanan kota. Tidak ada perbincangan di dalam mobil itu, mereka masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Rasanya hati ku begitu bahagia Misa bisa menghabiskan waktu liburku bersama mu walaupun hanya sehari. Egi sesekali mencuri pandang ke arah samping dengan sudut bibir sedikit terangkat.
"Egi, gimana keadaan Ayah, selama saya di sana hanya bertemu dengan Ayah beberapa kali," suara lembut Misa menyadarkan lamunan Egi.
"Ayah baik," jawab singkat Egi dengan tatapan tetap fokus pada jalanan depan.
"Syukurlah, apakah Ayah selalu di kamar dan hanya keluar untuk jalan-jalan itu pun sebentar?" tanya Misa dan menolehkan kepalanya ke arah Egi.
"Hn," gumam Egi mengiyakan.
Ck, Misa berdecak sebal. Lalu beralih menatap ke arah jendela.
"Bu Misa," panggil Egi.
"Egi bisakah kamu memanggil ku Kakak jika di luar sekolah, bukan nya aku ini Kakak Ipar mu?" Menoleh ke arah Egi lagi.
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
Karena sampai detik ini aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kamu adalah Kakak Ipar ku bukan Istri ku.
Melihat diamnya Egi, Misa bersuara yang seakan mengerti dengan alasan pria itu. "Baiklah jika kamu tidak bisa memanggil Kakak, mungkin Egi tidak menyukai saya, jadi saya tidak memaksa," ucap Misa lalu menoleh kan kembali kepala nya ke arah jendela.
"Eh, tadi bukan nya Egi mau bicara memanggil saya?" tanya Misa.
"Tidak ada, Tidak jadi," jawab dingin.
Hah... Misa mengela napas panjang, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Hening kembali suasana di dalam mobil itu, hanya suara deruman mesin mobil yang terdengar. Misa memilih memperhatikan pemandangan di luar jendela, dan Egi fokus ke jalanan yang akan di lewatinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...