Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
40


__ADS_3

Misa dan Arga tampak sedang menikmati makan siang di kamar. Mereka terduduk di sofa memakan makanannya tanpa ada percakapan dari kedua nya.


Misa menyendok makanannya dengan gerakan pelan dan tatapan bengong berpikir. Bercak merah di kulit ku cukup parah, bagaimana aku mengajar besok?


Arga yang melihat Misa melamun sambil menyuapkan makanan. Alisnya terangkat sebelah.


"Jangan berpikir." Celetukk Arga meletakkan piring ke nampan, lalu tangannya terangkat mengusap lembut puncuk rambut Misa.


"Eh," Misa terperanjat saat merasakan sentuhan itu. Kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah samping dimana pria tampan itu berada.


"Apa... apa besok aku bisa mengajar kembali?" tanyanya dengan suara kehati-hatian.


Seketika tatapan hangat Arga berubah menjadi tatapan tak terbaca, ia menggeleng kecil sebagai jawaban tidak.


"Kenapa?" tanya Misa yang memang sudah tahu akan jawabannya.


Yaa pasti karena Misa sedang pemulihan dari dampak alergi yang membutuhkan waktu paling cepat 3-4 hari atau bahkan bisa seminggu jika ingin sembuh dari bercak merah di kulitnya.


"Kau masih bertanya," Arga masih menatap tak terbaca, perlahan dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Misa yang seketika dengan refleks Misa menundukkan kepalanya.


Baiklah, baiklah singa... tapi jangan seperti ini juga kau memberitahukannya.


Tangan Arga terulur mengangkat dagu Misa dengan jemarinya sehingga wajah cantik itu mendongak dekat dengan wajahnya.


"Istirahatlah," ucap Arga, lalu melepas pegangan jemari nya dari dagu Misa.


Pria tampan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "3 hari, dan sudah di atur izinnya," sambung Arga menyiratkan titah yang tak mau di bantah.


"Ti-ti-tiga hari." Terbata Misa menatap penuh penolakan ke arah pria di sampingnya itu.


Arga menggerakkan kepalanya, menatap Misa dengan tatapan dingin sehingga Misa memilih diam menundukkan kepalanya.


"Habiskan makanan mu." Mengedikkan dagu ke arah nampan.

__ADS_1


"Ah, i-iya." Misa kembali meneruskan memakan makanannya.


Selang beberapa saat kemudian.


Brakk.. tok...tok...tok.


Pintu kamar itu di gebrak secara kasar di sertai ketukan tergesa. "Kakak ipar... kakak ipar, kenapa ini pintu pakai di kunci segala sih," gerutu Syila.


'Syila." Celetuk Misa segera bangkit dari duduknya hendak membukakan pintu itu, namun tiba-tiba...


Grep.


Tangannya di genggam oleh Arga, membuat gerakan Misa terhenti. Lalu ia menoleh ke arah pria yang memegang tangannya.


"A-Ada apa suamiku?"


Arga mengambil kerudung yang tersampir di lengan sofa, lalu bangkit dan memakaikan kerudung itu ke kepala Misa.


"Tunggu." Titahnya.


Arga berjalan ke arah pintu, dan membukakan kunci pintu kamar.


Ceklek.


Pintu itu terbuka lebar, seketika Syila yang terus menggebrak pintu tersebut langsung berhambur ke dalam kamar mencari Misa.


"Kakak Ipar... Kakak ipar."


Sedangkan Arga masih berdiri di ambang pintu menatap tajam ke arah Egi yang berada di ambang pintu, sedang Egi yang di tatap malah acuh tak acuh dan melangkah kan kaki masuk ke dalam ke arah sofa dimana Misa dan Asyila berada.


"Kakak ipar... kata Kak Egi kakak ipar sakit, sakit apa Kakak ipar? Kenapa ini tangan kakak Ipar merah-merah begini? Kakak ipar di rebus siapa? Kenapa bisa merah nya begini?" Rentetan pertanyaan dari Syila sambil memeriksa memutari tubuh Misa.


Misa terkekeh pelan mendengar kata rebus dari nya. "Syila Kakak terkena alergi, bukan di rebus orang," balas Misa, mengelus rambut panjang Syila.

__ADS_1


"Alergi! Kakak ipar alergi apa? Kenapa bisa kambuh alerginya kakak ipar?" tanya Syila lagi menggenggam jemari tangan Misa.


Misa mendudukkan tubuh Syila ke sofa panjang dan di susul dirinya duduk di sebelahnya.


"Alergi makanan... 2 hari juga sembuh Syila," ucap Misa dengan nada lembut.


"Hmm... syukurlah, Syila lega dengarnya." Sambil manggut-manggut kecil Asyila menimpali. "Memang makanan apa yang membuat kakak ipar alergi?" tanyanya lagi.


"Hanya udang syila," jawab Misa pelan.


"Padahal udang itu enak loh kakak ipar, tapi sayang kenapa bisa alergi sih?"


Misa hanya tersenyum menanggapinya.


Syila beralih menatap kedua pria tampan yang berdiri tidak jauh dari mereka. Arga dan Egi masing-masing bersedekap tangan di depan dengan tatapan tersorot ke arah Misa.


"Kakak ipar lihat lah mereka, seperti orang kembar... hahaha." Bisik Syila di akhiri tawa geli.


Misa melihat arah pandang Syila, ia tersenyum mengangguk kecil.


Memang kembar syila, sama-sama aneh dan menakutkan.


"Kakak ipar ngerasa tidak sih, kak Arga sama kak Egi itu mirip?" tanya Syila masih dengan suara setengah berbisik.


Misa menganggukkan kepala, mengiyakan. Sangat-sangat mirip.


"Menurut Kakak ipar apanya yang mirip?"


Misa berpikir, lalu melihat ke duanya secara bergantian.


"Sama-sama laki-laki Syila."


Yang di sambut tawa geli dari Asyila. "Kakak ipar bikin syila gemess dech..." sambil menangkup ke dua pipi Misa dan di uyel-uyel ke kiri ke kanan.

__ADS_1


Misa menahan rasa panas tambah perih di pipinya, tersenyum kepaksa. Bukan sama-sama laki-laki, tapi sama-sama menakutkan yang satu singa yang satunya macan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2