
Sepeninggalan mobil Paman Reno.
Misa melirik Arga yang sedari tadi terdiam dan merangkul bahu Misa. "Suamiku... ayo masuk!" ucap Misa.
Arga menoleh pada Misa. "Aku tidak suka paman mu itu menyentuh mu seperti tadi," tegas Arga dengan nada tidak suka.
Misa tersenyum. "Suamiku, dia itu paman ku, jadi wajar jika dia mengusap dan bersalaman dengan aku," tutur Misa mengusap wajah Arga lembut.
"Meskipun paman dia itu laki laki. Dan aku tidak suka itu," tegas Arga dengan nada sebal.
Ketika Misa berdebat tiba tiba.
Brumm... Brum. Suara mesin mobil yang memasuki pelataran rumah Arga.
Dan tiba tiba mobil mewah datang dan berhenti tepat di depan teras rumah yang dimana Misa dan Arga masih berdiri di depan teras.
Misa, Arga, Sekertaris Tang dan Cesa seketika menoleh ke arah mobil yang terparkir di hadapannya.
Arga dan Misa mengkerutkan alis nya heran.
Seperti mobil mewah nya s singa... tp kan dia ada di sini. Terus siapa yang ada di dalam mobil.
Dari pintu kemudi turunlah seorang pria berjas hitam dan rapih yang Sekertaris Tang mengenalnya.
Bukankah itu pak Tarjo supirnya Tuan besar.
Lalu pria itu membukakan pintu penumpang mobil yang memunculkan seorang pria paruh baya namun masih gagah dan tampan meski sudah berusia setengah tuwuh. Pria paruh baya itu berjalan menggunakan satu tongkat kayu dan melangkah tertatih menghampiri Misa dan Arga yang terbelalak kaget dan terpaku di tempatnya.
"Ayah!" serempak Misa dan Arga kaget melihat Ayah Putra pulang ke rumah tanpa memberitahukan terlebih dahulu.
"Kenapa? Kaget kamu, ayah pulang hah... dasar anak nakal, ada berita bahagia nggak bagi bagi," gerutu Ayah Putra kesal ke arah Arga.
Arga menatap Sekertaris Tang yang berada tidak jauh dari nya.
__ADS_1
"Tuan, mengenai kepulangan tuan besar saya tidak mengetahui nya," ucap Tang yang seakan mengerti tatapan tajam Arga.
"Tang... apa ini semua? Kau tidak.." tanya Arga namun terpotong.
"Apa! Kau mau menyalahkan Tang, jangan menyalahkan orang lain anak nakal... ayah tahu semua nya meski kau menutupi nya dari ayah. Dasar anak bodoh... sini kau," tutur Ayah Putra dengan nada kesal dan mengisyaratkan dengan tongkatnya agar Arga mendekat ke arah nya.
"A...yah, aku... tidak bermaksud," ucap Arga gelagap dan menghampiri Putra.
"Sudah diam kau, anak bodoh ikuti ayah, biar kau terima hukuman nya," cerocos Putra sambil mengaitkan kepala tongkat nya ke lengan Arga.
"Kau dan Tang... antarkan menantu ku ke kamar nya," titah Putra.
"Baik tuan," jawab serempak Tang dan Cesa lalu kedua nya menghampiri Misa.
Misa yang sedari tadi memperhatikan dan terbengong. Misa mendekati Putra dan memeluk lengan Arga.
"Ayah..ayah tidak akan menyakiti suamiku kan? Maafkan suamiku ayah jika salah. Tp jangan menyakiti nya," ucap Misa membela Arga yang lengan nya sudah di kait oleh tongkat Putra.
"Kau tidak malu anak bodoh, di bela oleh menantu ku. Nak Romisa sayang... ayah hanya akan menghukum nya karena sudah menyembunyikan berita penting dari ayah juga membiarkan mu berdiam diri di luar rumah malam malam begini. Jadi menantu ku kembalilah ke kamar biar suami mu ayah sandera dulu untuk menerima hukuman nya," tutur Putra pelan ke Misa.
"Romisa... ikutilah apa yang di perintah ayah. Aku akan mengobrol dulu dengan ayah," ucap Arga lalu mengecup kening Misa lembut.
Misa menatap sendu ke Arga. "Baiklah, aku ke kamar dulu," ucap Misa lalu beralih menatap Putra.
"Ayah jangan menghukum suamiku yang berat berat," ucapnya yang di balas anggukkan kepala oleh Putra.
"Tenang saja menantu ku, palingan ayah akan memberinya sedikit pelajaran agar dia jera," ucap Putra dan tersenyum misterius.
Misa dengan langkah enggan berpisah dengan Arga berbalik melangkah menjauh dari Arga namun mata masih menoleh pada Arga hingga akhirnya diri nya di giring pergi oleh Cesa dan Sekertaris Tang untuk menuju kamar nya.
Sepeninggalan Misa.
"Ayah, jangan melakukan hal itu di depan Romisa.. kasihan istriku seperti akan menangis melihat suami nya yang akan di hukum oleh ayah," gerutu Arga sebal.
__ADS_1
Plakkk.
Putra mengeplak kepala Arga cukup keras membuat Arga mengusap kepala nya yang panas akibat keplakan Putra.
"Memang kau pantas di hukum anak bodoh... sini ikuti ayah!" ucap putra sambil menjewer sebelah telinga arga.
"Aaaww... haish... ayah aku bukan anak kecil lagi, kenapa di jewer gini. Malu ayah di lihatin para pelayan juga penjaga rumah," teriak Arga sambil memegang telinga nya yang di jewer Putra.
"Sudah diam anak nakal, ikuti saja," ucap Putra masih menjewer telinga Arga dan berjalan melewati beberapa ruangan untuk menuju ruang kerja.
Sementara Misa yang sudah sampai di kamar nya dan di temani oleh Cesa sedang Sekertaris Tang menyusul Arga dan Ayah Putra ke ruang kerja.
"Cesa... ayah nggak bakal memukul suamiku kan?" cemas misa menatap cesa.
Cesa ikut duduk di sofa samping Misa. "Nona, tidak perlu khawatir. Meskipun seberapa kesal dan marah nya, Tuan besar tidak pernah main kekerasan fisik terhadap anak anak nya. Hanya ucapan kasar dan tajam saja yang akan menghukum anak anak nya," tutur Cesa dengan nada tenang agar Misa tenang.
Misa menghela napas nya panjang.
"Tapi aku masih khawatir Cesa. Tadi kamu melihat nya kan betapa marah Ayah Putra terhadap suamiku. Dan kenapa suamiku bisa menyembunyikan berita tentang kehamilan ku pada ayah," ucap Misa dengan nada gusar.
"Tuan menyembunyikannya pasti ada alasan yang baik di baliknya nona. Jangan menaruh curiga yang tidak baik pada Tuan, percayalah," tutur Cesa sambil mengusap punggung tangan misa.
Misa menatap Cesa dan mengangguk mengiyakan.
Aku sangat percaya pada nya Cesa. Yang ku khawatirkan sekarang bagaimana keadaan s singa di sana. Semoga saja ayah tidak menghukumnya dengan menyakiti s singa.
"Nona, sebaiknya nona tidurlah. Akan lama jika menunggu kembali nya Tuan," titah Cesa.
Misa menatap ragu pada Cesa. Lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah. Kau boleh keluar Cesa. Aku akan siap siap untuk tidur," ucap Misa.
"Baik nona. Selamat malam dan selamat beristirahat," ucap Cesa lalu menunduk hormat dan berlalu meninggalkan Misa sendiri di dalam kamar.
"Sebaiknya aku berganti pakaian dulu sebelum dia kembali ke kamar," gumam Misa lalu beranjak ke ruang ganti.
__ADS_1
BERSAMBUNG...