Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
96


__ADS_3

Setelah sarapan arga menyempatkan diri untuk menengok sekertaris Tang di ruang kerja nya. Dan meminta nya untuk tetap bekerja di ruang kerja tanpa harus mengikuti arga.


Misa, arga dan kedua adik nya arga berjalan menyusuri halaman belakang rumah. Dengan di ikuti para penjaga di belakang.


Misa mengedarkan pandangan nya ketika menginjakkan kaki di rerumputan yang terawat.


Ternyata di halaman belakang juga ada gerbang nya yang sangat tinggi juga di jaga sangat ketat. Bukan nya itu jalan besar. Seperti nya itu untuk jalan mobil bagi para pelayan di rumah ini.


Kini ke empat orang itu telah berada di pesisiran lapangan luas dengan hamparan rumput hijau yang tertata rapi.


"Kaka ipar kita main permainan yuk." Ajak syila sambil menggaet lengan misa.


Sedang arga dan egi mengikuti mereka dari belakang


Misa menoleh pada syila yang berada di samping nya.


"Permainan apa syila?"


"Tuh." Tunjuk syila pada sepeda yang berjejer dan melepaskan gandengan tangan nya pada lengan misa lalu berjalan ke arah sepeda.


Misa mengkerutkan alis nya bingung.


"Maen sepeda maksud nya?" Tanya misa memastikan dan sudah berada di dekat syila.


Syila mengangguk semangat.


"Jadi kita taruhan. Pasangan siapa yang tepat datang ke gazebo itu, itu pemenang nya." Ucap syila dan menunjuk gazebo yang jauh di ujung lapangan.


Misa melihat arah tunjuk syila.


"Baiklah siapa takut," ucap misa menantang.


Arga dan egi maju melangkah mendekati kedua nya


Dengan posesif arga merangkul kan lengan nya di pinggang ramping nya misa.


Kenapa senang sekali sih menyimpan tangan mu di situ. Apa tidak malu di lihat banyak orang. Di sini itu bukan kami berempat saja singaa. Tp lihat lah singaa para penjaga dan pelayan mu semua nya berjejer melihat ke arah kita.


"Jika kalah, " tukas egi ikut nimbrung.


Syila nampak berpikir. "Menggendong pasangan nya pulang ke rumah utama," tutur syila.


"Apa tidak ada yang lain syila, selain menggendong?" Tanya misa.


"Tidak ada. Poko nya itu peraturan nya." Kekeh syila.


Akhirnya misa mengiyakan. "Baiklah," ucap misa pelan.


Berarti aku harus menang bagaimana pun cara nya.


"Tapi ada aturan nya." Ucap syila memperingati.


Arga menatap syila begitu pun egi.

__ADS_1


"Aturan apa syila?" Tanya misa.


"Kaka ipar yang menyetir sepeda dan ka arga yang di bonceng. Begitu pun syila membonceng ka egi. Gimana setuju nggak." Tutur syila.


"Syila." Tegas arga dan egi serempak hendak menyela ucapan syila.


Tidak buruk juga. Siapa takut. Lagian aku juga sering membonceng bi ita waktu aku hidup di panti.


Misa mengangguk mantap. "Baiklah, kaka setuju." Ucap Misa menyetujui.


Seketika egi dan arga menatap misa.


Misa tersenyum ke arah kedua nya yang mengartikan senyuman bahwa tidak masalah... siapa takut.


"Horee... bisa di mulai nih kaka ipar permainan nya." Girang syila dan menghampiri sepeda yang ada boncengan nya di belakang.


Misa menyusul memilih sepeda yang akan di naiki nya bersama arga.


"Yang itu," tunjuk arga pada salah satu sepeda dengan ukuran cukup tinggi sehingga jika misa memakai nya tidak akan sampe kaki nya ke tanah.


Apa s singa ingin mempermalukan tubuh kecil ku memilih sepeda ko yang tinggi begitu.


"Tidak suamiku. Aku lebih senang yang ini." Pinta misa memegang sepeda pilihan nya.


Arga melirik pilihan misa yang di mana bagian jok boncengan agak pendek jarak nya jika duduk. Lalu arga menghela napas pelan.


Misa dan syila kini telah di garis star untuk memulai permainan nya sedang arga dan egi telah duduk anteng di jok belakang mereka.


"Kaka ipar kita mulai 1..2...3..go." Teriak syila dan sudah mendahului misa menggoes sepeda nya.


"Eh, syila kaka belum siap." Balas misa setengah berteriak dan mulai menggoes sepeda nya.


Dan setelah beberapa meter misa mengayuh sepeda nya. Misa tampak kelelahan dan kesusahan untuk mengayuh sepeda nya lagi.


Kenapa rasa nya tubuh ku lelah sekali, padahal aku sering membonceng bi ita. Tp kenapa ketika membonceng s singa serasa nya berat sekali.


Arga terkekeh melihat misa dengan sedikit kesusahan mengayuh pedal sepeda nya.


"Romisa, berganti saja." Ucap arga di sela menahan tawa nya.


"Ti...dak.. sua..miku.. aku pas..ti.. bi..sa." Ucapan misa sedikit tersendat sendat di tenggorokan nya karena napas nya mulai terengah2.


Kenapa badan s singa berat sekali sih. Berapa kilo dia sebenar nya. Atau mungkin karena aku nya saja yang sedang lemah.


Dengan gerakan lambat sepeda misa melaju karena membawa beban tubuh arga yang berat sehingga membuat misa mengayuh sepeda nya dengan kaku.


Melihat itu arga mencondongkan tubuh nya lalu memeluk erat perut misa dan menyenderkan kepala nya di bahu misa.


Singaa jangan seperti itu. Kau membuat tambah berat. Semakin susah aku membawa mu.


"Kau benar keras kepala romisa." Gumam arga yang berada dalam senderan bahu misa.


"Sua..miku.. bisa..kah," ucapan misa terhenti seiring dengan kayuhan sepeda nya berhenti.

__ADS_1


Aku sudah tidak kuat. Kenapa tubuh ku lemah sekali sih. Memalukan sekali.


Hah...napas misa terengah dan membalikkan badan nya menoleh ke arah arga yang ada di bahu nya


Arga mengangkat kepala nya lalu menatap misa.


"Kau tidak apa apa?" Tanya Arga dan mengelap keringat yang ada di dahi misa.


Misa menggelengkan kepala nya pelan.


"Kaka ipar.. kaka ipar." Teriak syila dari kejauhan melambaikan tangan nya yang sudah berada di pertengahan lapangan.


Misa melihat syila dan tersenyum.


Syila saja bisa kuat membawa egi yang lumayan besar dari nya masa aku tidak. Aku pasti bisa pikir misa dan mengepalkan sebelah tangan nya menandakan semangat.


Arga terkekeh melihat sorot mata misa yang penuh dengan semangat dan sengaja turun dari jok belakang lalu mengambil alih stang sepeda dari pegangan misa.


"Biar aku. Kau di belakang," titah arga menyingkir kan misa dari duduk nya.


"Tp suamiku. Peraturan nya kan." Ucap Misa ingin menyanggah namun arga menatap nya tajam.


Dan akhir nya misa menurut duduk di jok belakang untuk di bonceng arga.


Arga mengambil kedua lengan misa dan melingkarkan nya di perut arga.


Eh buat apa juga aku memeluk nya. Bukan di motor ini.


"Pegangan." Titah nya dan mulai mengayuh sepeda nya sedikit lambat dan laun2 arga mengayuh nya dengan kecepatan yang cepat sehingga membuat misa mengeratkan pelukan nya di perut arga.


Singaa bisakah pelan2 membawa nya. Kenapa cepat sekali. Jika aku jatuh bisa benjol kepala ku.


--------------


Kini ke empat orang telah berkumpul di gazebo dengan permainan sepeda di menangkan oleh pasangan misa dan arga. Karena arga dengan sangat cepat menyusul syila dan egi.


"Ka arga curang. Kan aturan nya kaka ipar yang boncengin ka arga. Malah ini sebalik nya. Pemenang ini tidak sah poko nya." Gerutu syila memberenggut sebal.


Misa tersenyum dan menghampiri syila yang sudah duduk bersender di gazebo.


"Yasudah syila saja yang jd pemenang nya," ucap misa menenangkan.


"Yeay. Jd syila pemenang nya. Wleek..ka arga kalah. Ka arga harus gendong kaka ipar ke rumah." Girang syila memeletkan lidah nya pada arga.


Kenapa harus yang kalah sih yang di gendong syila. Kurang masuk akal.


Ada terbesit rasa bahagia di dalam hati arga dengan kekalahan nya sementara egi tampak acuh dengan permainan yang sedang mereka jalanin.


Arga menghampiri misa lalu berdiri di samping nya dan merangkul bahu misa. Sehingga membuat misa menoleh mendongakkan kepala nya.


"Duduklah ke dalam." Titah arga yang di angguki kepala oleh misa.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2