
Misa dan bi ane telah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kedatangan arga.
Tiba mobil arga berhenti di hadapan misa. Arga keluar dari mobil nya setelah sekertaris Tang membuka kan pintu nya sedang misa sudah memasang senyuman terbaik nya untuk menyambut arga.
Namun arga dengan acuh nya melewati misa begitu saja. Seketika senyuman misa sedikit demi sedikit memudar dari bibir nya karena sikap acuh arga.
Eh, ada apa dengan s singa kenapa dia seperti ini. Biasa nya kan dia akan mencium kening ku lalu merangkul pinggang ku. Tp sekarang melirik saja tidak.
Misa memutar tubuh nya dan menghampiri arga yang tengah terduduk di sofa tunggal yang sedang di gantikan sepatu dengan sandal rumah oleh Bi Ane.
Setelah selesai memakai sandal rumah, Arga langsung beranjak dan lagi lagi melewati misa yang berdiri di samping nya begitu saja.
Misa menatap pada sekertaris Tang yang berada di hadapan nya berdiri tidak jauh darinya. Misa mengisyarat kan sesuatu ke Tang dengan menggerakkan kepala nya seakan bertanya 'ada apa dengan dia' isyarat Misa pada sekertaris Tang.
Dan sekertaris Tang yang mengerti dengan isyarat misa hanya menggelengkan kepala nya lalu menggerakkan kepala seakan berkata 'ikutilah tuan, nona. Tuan sudah menaiki anak tangga' lalu sekertaris Tang menatap ke arah arga yang saat itu sedang menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar nya.
Misa seakan tersadar melihat arah pandang sekertaris Tang lalu segera berjalan dengan cepat untuk mengikuti arga.
Ya tuhan. Kenapa s singa bersikap seperti ini. Apa karena aku mengobrol berdua dengan s egi tadi siang jadi nya dia seperti ini.
Arga sudah memasuki kamar nya di susul dengan misa yang bernapas terengah karena berlari kecil menyusul langkah kaki arga.
Kini misa dan arga telah berdiri di tengah tengah ruangan kamar.
"Suamiku, mau istirahat dulu apa mau langsung mandi?" tanya Misa dengan suara ke hati hatian karena arga masih saja berdiri membelakangi nya.
Arga menoleh kan kepala dan melirik Misa dengan tatapan dingin lalu merentangkan tangan nya setengah.
Misa yang seakan mengerti maksud nya arga, langsung mendekati arga lalu mulai melepaskan jas kerja arga.
__ADS_1
Aku harus bagaimana membujuk nya, kenapa dia tidak mengaung saja seperti biasa nya jika aku melakukan kesalahan. Kenapa kau diam saja singaa....
Setelah misa berhasil melepaskan jas kerja nya. Arga berjalan ke arah sofa tv lalu merebahkan tubuh di atas sofa panjang itu dengan kepala menyender ke lengan sofa.
Misa hanya bisa menggelengkan kepala nya. Lalu menyampirkan jas arga ke sofa ruang tengah.
Hey, singaa.. kenapa kau jadi dingin seperti ini. Aku tidak mau di diamkan terus seperti ini oleh mu. Seperti nya aku harus membujuk nya. Hah.. menyusahkan sekali sih.
Misa dengan langkah pelan menghampiri arga yang merebahkan tubuh nya di atas sofa dengan sebelah kaki tertekuk, mata terpejam dan dengan sebelah lengan di atas dahi nya.
Misa berjongkok di atas karpet samping sofa untuk mensejajarkan diri nya agar bisa lebih dekat menatap wajah arga.
"Suamiku, apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Misa dengan tangan mulai mengusap rambut arga dengan pelan.
Bicaralah singaa.... atau kau mengaung juga tidak apa. Aku tahu aku salah.. tp jangan mendiamkan ku seperti ini. Membuat ku semakin bersalah pada mu singa.
Arga masih betah dengan mata terpejam dan bibir rapat nya tidak menjawab pertanyaan misa.
"Suamiku, apakah ada yang sakit?" tanya Misa kembali masih dengan mengusap rambut arga lembut.
Lagi lagi arga tidak menanggapi nya hanya terdiam dan masih dengan posisi nya.
Singaa... jangan membuat ku kesal. Aku sudah berbaik hati mengakui kesalahan ku dan ingin merendahkan diri ku demi membujuk mu. Tp kau masih saja seperti ini.
"Suamiku..." ucapan Misa terputus karena Arga membuka mata nya lalu melirik misa masih dengan tatapan dingin.
Arga bangkit dari rebahan nya yang membuat misa sedikit terperanjat.
Dia tidak akan menyiksa ku kan. Kenapa kau masih saja menatap ku seperti itu singa.
__ADS_1
Sejenak arga menatap misa lalu beranjak hendak melangkahkan kaki nya untuk meninggalkan misa kembali. Namun misa dengan keberanian nya meraih lengan arga sehingga langkah kaki arga terhenti.
"Suamiku.." ucap Misa setelah diri nya berhasil mencekal lengan arga dan berdiri tepat di dekat nya.
Arga menatap lengan nya yang di cekal oleh misa. Lalu beralih menatap misa masih dengan tatapan dingin.
Misa mendekat ke hadapan arga. Lalu berjinjit dan menangkup kedua pipi arga dengan kedua tangan nya sehingga kini tatapan kedua nya bertemu.
"Suamiku, maafkan aku jika aku melakukan kesalahan. Tapi kau jangan mendiamkan ku seperti ini. Biasanya kan jika kau marah akan menegur ku dan meneriaki ku. Tp kenapa sekarang kau diam saja. Maafkan aku suamiku," tutur Misa dengan sungguh sungguh sambil mengusap lembut kedua pipi arga dengan ibu jari nya.
Ya tuhaan bagai sedang membujuk anak kecil yang tidak boleh membeli mainan. Kenapa kau jadi begini sih singa.
Ada senyuman yang tertahan dari sudut bibir arga namun misa tidak bisa melihat nya karena arga dengan pandai bisa menyembunyikan ekspresi di wajah nya.
Misa menghela napas nya lalu memberanikan diri nya lagi menarik kepala arga dengan pelan agar menunduk dan misa mengecup lembut kening arga.
Sedang arga melebarkan mata nya tertegun dengan apa yang misa lakukan terhadap diri nya adalah hal yang langka.
Setelah mengecup kening arga, misa kembali menatap arga dan memasang senyuman yang sangat manis yang dimiliki nya.
"Jangan tersenyum seperti itu," tegas Arga karena senyuman Misa mengingatkan kembali kekesalan nya.
"Kenapa tidak boleh suamiku?" tanya Misa heran lalu kembali tersenyum manis.
Arga menarik misa ke dalam pelukan nya dan mendekap nya erat.
"Aku tidak suka kau tersenyum pada laki laki lain selain pada diri ku, romisa" gumam Arga pelan di telinga misa lalu mengecup puncuk kepala misa beberapa kali.
Jadi ini penyebab nya kau mendiamkan ku singaa. Apa aku harus merapatkan bibir ku dengan lakban agar tidak tersenyum pada orang lain. Bagaimana bisa kau mempunyai pemikiran seperti ini sih. Ya tuhan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...