
Tok...tok...tok.
Pintu kamar mereka di ketuk dari luar membangunkan Arga dari tidurnya. Perlahan bulu mata lentik itu bergerak mengerjap terbuka lebar, pertama kali yang di tangkap oleh indra penglihatannya adalah wajah cantik Misa yang tertidur dengan kepala tersender ke tepi ranjang.
Arga bangkit dari tidurnya, memandangi wajah Misa dengan jarak yang sangat dekat hanya berjarak beberapa senti.
Romisa... Pria tampan itu tersenyum mengusap puncuk kepala Misa dengan lembut.
Kemudian ia turun dari ranjang dengan hati-hati agar tidak membangunkan Misa. Dia berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang mengganggunya.
Ceklek.
Pintu itu terbuka hanya sebatas tubuh Arga yang berdiri di ambang pintu itu sehingga orang di luar tidak akan ada yang bisa melihat ke dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Arga dingin.
Setelah melihat orang yang mengganggunya adalah pelayan rumah.
"Tuan sudah waktunya makan siang, dan ini saya membawakan makanan untuk makan siang," ucap pelayan wanita itu dengan kepala tertunduk tidak berani menatap tuannya.
"Berikan," Arga mengambil alih nampan besar dari tangan pelayan.
Pelayan wanita itu terhenyak kaget dengan sikap tuannya. "Tapi tuan anda sedang sakit."
"Pergi," titah Arga tegas.
"Baik tuan." Pelayan wanita itu menunduk hormat lalu berbalik melangkah pergi.
Setelah kepergian pelayan wanita itu, Arga membuka lebar pintu kamarnya untuk membawa nampan berukuran besar itu masuk ke dalam kamar. Lalu setelahnya pintu itu kembali di kunci.
"Untunglah pintu ini terkunci, kalau tidak, aku tidak suka ada orang lain mau itu wanita apalagi pria melihat Romisa tertidur dengan rambut indahnya," gumam Arga pelan kemudian berjalan ke arah sofa, ia menyimpan nampan itu di atas meja sofa.
Arga kembali mendekati Misa yang masih terlelap dengan tidurnya. Alih-alih dia tidur kembali malah memilih memandangi wajah Misa yang terlelap yang baginya akan sangat rugi jika melwatkannya.
Kruuuk...kruuk.
Suara perut Misa berbunyi cukup jelas, mengalihkan perhatian Arga yang melirikkan mata ke arah perut Misa.
Sepertinya dia lapar. Arga tersenyum tipis sehingga terlihat sangat tampan.
Tangan pria tampan itu terulur menyentuh kulit pipi mulus. "Romisa, bangunlah," ucapnya sembari mengusap lembut pipi Romisa dengan ibu jarinya.
"Emm...," alis Misa mengernyit seiring kepalanya bergerak. Dia menggeliatkan badan ke kanan dan kiri membuat Arga yang melihatnya terkekeh pelan.
Kemudian Misa mengerjap dan mengucek mata nya.
"Eh, Suamiku sudah bangun," tanya Misa dengan suara serak khas bangun tidur.
"Cepat bangunlah, makan dulu," perintah Arga dan mengelus lembut rambut Misa lalu ia beranjak dari duduknya turun dari ranjang melangkah menuju sofa.
Misa spechless, terbengong tak berkedip. Apa aku tidak salah? Dia mengusap rambut ku.
"Romisa, kenapa diam? Cepatlah, perut mu sudah berbunyi," suara Arga membuyarkan lamunan Misa.
"Eh, i..ya Suamiku," Misa beranjak menuju sofa yang dimana Arga sudah terduduk santai.
Gadis mungil itu memilih duduk di atas karpet bawah sofa yang di duduki Arga.
"Kenapa kau duduk di situ?"
Misa menoleh ke arah belakang dengan kepala sedikit mendongak. "Aku... aku ingin di sini."
"Makanlah," titah Arga mengedikkan dagu ke arah nampan.
__ADS_1
Misa mengangguk berbalik kembali, ia mengambil piring kosong dan mengisinya dengan lauk pauk yang dia inginkan.
"Suamiku mau makan apa? Aku ambilkan," tanya Misa menoleh ke arah Arga.
"Sama seperti mu," ucapnya dengan pandangan tidak lepas dari Misa.
Misa mengambilkan makanan untuk Arga yang sama seperti dirinya lalu menyerahkan ke pegangan tangan pria itu.
Keduanya mulai memakan makanan mereka masing-masing tanpa percakapan.
Ting...ting.
Suara notifikasi berasal dari ponsel yang tergeletak di atas meja. Arga mengambil ponselnya dan membuka isi pesan itu.
Sekertaris Tang : "Tuan, Apakah anda masih belum selesai makan?"
Arga : "Ada apa?"
Sekertaris Tang : "Saya mendapatakan info tentang adik anda, tuan Egi."
Arga : "Baiklah, ke ruang kerja."
Setelah saling kirim pesan Arga menyimpan piring yang masih setengahnya itu ke atas meja, membuat Misa menolehkan kepala menatap heran.
"Kenapa, apakah makanannya tidak enak, atau ada yang sakit?"
"Tidak, hanya sudah kenyang," jawabnya lembut.
Glek... Misa menelan makanan di mulutnya sekaligus, menatap tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa aku tidak salah lagi? Dia sekarang bicaranya jadi lembut gitu.
"Habiskan makanan mu, aku harus ke bawah," titah Arga beranjak dari duduknya, ia sempat mengusap pelan puncuk kepala Misa lalu berlalu keluar kamar.
Misa masih terbengong dengan apa yang di lakukan Arga terhadapnya. Kedua bola mata nya menatap punggung tegap itu hingga hilang dari balik pintu.
*****
Di ruangan kerja.
"Informasi apa Tang?" tanya Arga dingin yang saat ini dirinya telah duduk bersandar di punggung sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Tang.
"Tuan, sepertinya tuan Egi menyukai Nona," ucap Tang dengan suara kehati-hatian.
"Aku sudah tahu Tang, lanjutkan," titah Arga.
Tang sedikit terkejut mengenai jawaban Arga, namun ia kembali bersikap tenang dan menatap serius. "Tuan Egi menyukai Nona sejak Nona Romisa mengajar di sekolah SMA, saat itu tuan Egi masih duduk di kelas satu dan sekarang sudah kelas tiga, yang berarti tuan Egi menyimpan perasaannya dari dulu hingga sampai sekarang selama beberapa tahun ini, tuan."
Arga terdiam, mengusap dagunya dengan jemari tangan. Jadi itu sebabnya dia mengatakan istriku adalah Misa ku.
Kemudian dia menatap kembali pada Tang agar melanjutkan penjelasannya.
"Setiap hari jika Nona Romisa pulang dari tempat mengajarnya, tuan Egi selalu menyempatkan secara diam-diam mengikuti Nona sampai rumahnya. Selain itu juga, ternyata tuan Egi terlalu terobsesi oleh Nona sampai-sampai dia mengorek semua tentang Nona dari kesukaannya hingga ke hal yang di benci Nona." Jelas Tang sambil melihat raut wajah Arga apakah baik-baik saja.
Dan benar saja, Arga mulai tersulut emosinya, terlihat jelas rahang tegas itu mengeras dengan tangan terkepal, menandakan jika ia tidak suka mendengarnya lagi.
Arga mengangkat sebelah tangannya. Untuk mengintrupsi agar Tang berhenti menjelaskan cerita tentang Egi.
"Cukup Tang, mulai sekarang hanya awasi terus dia. Jangan sampai bertindak lebih terhadap Romisa," tegas Arga.
"Baik tuan."
Arga bangkit dari duduknya, sejenak menatap Tang. "Kau lanjutkan pekerjaan mu di ruangan ini saja, aku akan ke kamar dulu," ucapnya sambil lalu keluar ruangan kerja.
Tang melihat kepergian Arga, dan menghela napas pelan. Hubungan yang rumit, adik kakak terjerat cinta pada satu wanita.
__ADS_1
*****
Baru saja keluar dari ruangan kerja, Arga telah di kejutkan dengan melihat pemandangan orang baru saja di bahasnya di dalam.
Egi memberikan bunga anggrek pada Misa yang berada di ujung anak tangga.
Beraninya anak itu... kesal Arga mengepalkan tangan dan menghampiri keduanya.
"Bu Misa, selamat ulang tahun hari guru," ucap Egi menyodorkan sebuket bunga anggrek.
Misa tersenyum melihat sebuket bunga anggrek bermacam warna di hadapannya itu. Bunga kesayangan ku.
Tangan Misa terulur hendak meraih bunga di hadapannya itu. "Terimaka... sih." Namun sebuah tangan kekar tiba-tiba merampas kasar buket tersebut sebelum tangan Misa menyentuhnya.
Arah pandang Misa masih melekat pada buket bunga itu. Eh, bunga ku...
Arga menatap tajam tidak suka pada Egi begitu pun yang di tatap, sama-sama menatap Arga sangat tajam.
Pandangan mata Misa naik, untuk melihat siapa yang merebut buket bunganya. Singa? Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka saling tatap seperti itu?
"Ekhem... Bunganya indah sekali, aku minta yang ini satu, boleh," Misa mengambil setangkai anggrek warna putih dari buket bunga itu.
"Boleh," ucap Egi.
"Tidak boleh," tegas Arga.
Arga dan Egi saling menurunkan pandangan mereka ke arah Misa.
Namun dengan tatapan berbeda, Arga menatap Misa dengan tatapan tajam penuh kekesalan sedangkan Egi menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Seketika Misa menjatuhkan setangkai bunga yang di pegangnya, ia membeku dengan jantung berpacu cepat.
Kenapa mereka menatap ku seperti itu? Dan suasananya jadi mencekam begini, aku harus kabur, iya harus.
"Ekhem... ekhem se-sepertinya tenggorokan ku kering Suamiku, aku... aku ke dapur dulu sebentar, maaf meninggalkan kalian berbincanglah." terbata Misa karena takut, lalu perlahan ia memundurkan langkah kakinya dan secepat mungkin ia berbalik melangkah pergi meninggalkan ke duanya yang masih menatap.
*****
Sesampainya di dapur Misa menghembuskan napasnya panjang beberapa kali.
"Syukurlah akhirnya aku bisa pergi dari tatapan mereka yang mengerikan," gumam Misa yang telah sampai di pantry dapur.
"Ada apa Nona?" tanya bi Ane yang melihat Misa datang dengan kehabisan napas.
"Astagfirullah." Latah Misa memegang dadanya. "Bibi jangan ngagetin saya, jantung saya hanya ada satu," sambung Misa membuat bi Ane tersenyum.
"Nona tidak apa-apa? Kenapa seperti baru lihat hantu?" tanya bi Ane sambil menyodorkan segelas air putih.
Misa menerima dan langsung meminumnya hingga tandas.
"Hah... bukan hantu lagi tapi siluman singa dan macan," celetuk Misa yang balas kekehan bi Ane.
"Nona ada perlu apa ke dapur? Jika Nona butuh apa-apa kan bisa panggil saya atau pelayan lainnya."
"Mau minum bi." Misa mengangkat gelas yang sudah kosong di tangannya.
"Oh, iya bi, Ayah kemana? Misa nggak lihat hari ini," tanya Misa.
"Oh tuan besar lagi istirahat di kamarnya Nona, tadi baru saja jalan jalan dari taman belakang," jawab bi Ane.
Misa hanya membalasnya sengan anggukkan kepala dan ber-oh ria.
Semoga saja Ayah Putra selalu sehat, mengingat ia tidak bisa berjalan. Sebenarnya apa penyebab dia tak bisa berjalan? Aku ingin bertanya tapi takut menyinggung.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....