
Arga baru saja selesai membersihkan dirinya, dia kembali menaiki ranjang dan duduk setengah berbaring di kasur, sedangkan Misa masih setia menemaninya terduduk di kursi kecil.
Beberapa Pelayan membawakan sarapan di atas nampan yang berukuran besar, di atasnya telah tersedia berbagai macam menu makanan untuk sarapan.
Tatapan penuh minat Misa tak teralihkan dengan gerakan kepala mengikuti arah nampan yang di letakkan di atas meja dekat dengannya.
Arga yang memperhatikan Misa seperti yang tidak mau berkedip melihat makanan itu, ia tersenyum kecil.
"Sarapanlah," titah Arga untuk menyuruh Misa sarapan terlebih dahulu.
Misa menoleh menatap tanya. "Tapi Suamiku juga belum makan apa-apa."
"Kau saja dulu," Arga berucap sambil mengedikkan dagu.
"Gini saja, Suamiku sarapan aku pun sarapan," Misa menunjuk nampan itu.
"Suamiku ingin makan apa?" tanya Misa.
"Itu dan ini saja," menunjuk pada roti panggang juga teh jahe.
"Mau pakai selai apa Suamiku isi nya?" tanya Misa.
"Kacang."
Misa tersenyum dengan apa yang dipilih Arga, lalu mengambilkan roti panggang itu ke atas piring dan melumuri nya dengan selai kacang. Setelahnya Misa memberikan piring itu ke tangan Arga.
Arga melirik pada piring di tangan nya. "Kau tidak menyuapi ku?"
"Eh," Misa tertegun diam. Kenapa manjanya sampai sekarang?
"Tangan ku masih lemas." Lanjut Arga yang melihat Misa masih diam tak bergerak.
"Ba-baiklah sini aku suapi Suamiku." Misa mengambil alih roti panggang itu lalu menyodorkannya ke mulut Arga.
Arga dengan senang hati langsung menggigit roti itu, memakan dan mengunyahnya.
"Giliran mu, makanlah," memegang tangan Misa untuk membelokkan roti bekas gigitannya ke arah bibir Misa.
Sejenak Misa terdiam ragu, melirik roti yang sudah menempel di bibirnya. Singaa... kenapa semenjak sakit sikap mu jadi tidak normal seperti ini.
"Makanlah Romisa." Arga sedikit mendorong roti itu ke bibir Misa yang masih rapat.
Tersadar dari keterkejutannya, Misa menurut membuka mulut dan menggigit roti bekas Arga.
"Enak sekali Suamiku selai kacangnya," celoteh Misa berbinar senang ketika sudah mengunyah roti itu.
Arga kembali mengarahkan tangan Misa yang masih memegang roti ke mulutnya dan menggigit bekas Misa. "Kau suka kacang?" tanyanya di sela kunyahan.
Misa mengangguk semangat mengiyakan. "Sangat suka."
Bibir Arga yang sedang mengunyah sedikit berkedut tersenyum kecil, melihat wajah ceria gadis mungil itu yang sedang menyiapkan lagi roti panggang.
Setelah menghabiskan 2 pasang roti panggang yang di makan secara suap-suapan. Misa mengambilkan gelas teh jahe.
"Suamiku tau saja pilihannya, teh jahe memang baik untuk pencernaan dan menghangatkan perut," ucap Misa sambil menyodorkan cangkir ke arahnya.
Arga menerima gelas itu lalu meminumnya.
"Kau minumlah juga," titah Arga menyodorkan gelas teh jahe ke Misa.
__ADS_1
Misa lagi-lagi tertegun diam. Ada apa dengan si singa, kenapa terus bersikap aneh gini?
"Romisa." Arga menggerakkan tangannya karena gelas itu masih saja belum di terima.
"Ah, i-iya." Misa menerima gelas dan menurut langsung meminum teh jahe yang tinggal setengah itu sampai habis.
"Kau menghabiskannya?" tanya Arga.
Misa tersenyum malu. "Maaf Suamiku, kira nya nggak akan di minum lagi oleh mu."
Arga mengalihkan wajah untuk menyembunyikan senyuman kecil di bibirnya.
Ceklek.
"Kakak... Kakak." Suara cempreng Asyila yang baru masuk ke kamar dan langsung berhambur ke arah ranjang.
"Syila pelan-pelan, jangan terburu-buru seperti itu," ucap Misa tenang.
Tapi Syila tidak menghiraukan ucapan Misa malah langsung sibuk memidai tubuh Arga.
"Kata Kak Egi, Kaka sakit, kenapa nggak bilang Syila sih? Sudah di periksa belum? Sarapan dan minum obatnya sudah belum Kak?" Pertanyaan beruntun dari bibir Syila.
Arga hanya membalasnya dengan anggukkan kepala, melepaskan pegangan tangan Syila di kedua bahu nya lalu kembali menyandarkan punggung ke kepala ranjang.
"Syila Kakak mu sudah tidak apa-apa, dia sudah sarapan dan sebentar lagi akan minum obat, tidak perlu khawatir Syila," Misa mencoba menenangkan Asyila dengan memegang kedua bahu nya dengan lembut.
"Syila percaya karena ada Kakak Ipar yang baik di sini pasti akan merawat nya, Kakak Ipar pesan Syila kalau nanti Kakak tidak mau minum obat, pukul saja kepala nya biar nurut," celoteh Syila yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arga.
Namun Syila menanggapi tatapan itu dengan senyum cengengesan.
"Syila kenapa kamu tidak kesekolah, sekarang kan sudah hampir jam 8?" tanya Misa heran.
Asyila memutar tubuhnya sedikit untuk berhadapan dengan Misa. "Hari ini kan hari guru, masa Kakak ipar sebagai guru tidak tau sih, jadi hari ini Syila akan merayakan hari ulang tahun guru-gurunya Syila. Maka nya Syila nanti datangnya agak telat."
"Kenapa Kakak Ipar bengong?" tanya Syila yang mendapati Misa melamun.
"Tidak apa-apa Syila." Mengusap sayang rambut Syila.
Sedang Arga hanya memperhatikan kedua wanita yang sedari tadi berceloteh di depannya.
"Asyila cepatlah berangkat ke sekolah, dan berikan hadiah terbaik untuk guru kesayangan mu, Kakak mengizinkan berbelanja apa saja sesuka mu," ucap Arga.
Dengan gerakan tangan seperti sedang hormat. "Siap boss, Kakak memang is the best deh," Lalu mencium sebelah pipi Arga dan beranjak pergi ke arah pintu keluar.
"Kakak Ipar jaga Kakak ku yaaah... dadah," pamit Syila sebelum hilang dari balik pintu.
Misa tersenyum manis melihat tingkah Asyila. Ternyata di keluarga ini ada juga yang normalnya.
"Ekhem... Romisa kunci pintu kamar itu," titah Arga mengedikkan dagu ke arah pintu.
Misa beranjak mengunci pintu kamar lalu kembali lagi duduk di samping ranjang.
"Kau pakai kerudung rapi gitu mau kemana, buka kerudung mu."
Misa terdiam mencengkram bagian bawah kerudungnya, menatap waspada. Mau apa dia meminta ku membuka kerudung segala?
Melihat Misa masih terdiam. Arga mulai geram dengan menatap tajam. "Bukalah!" Sentaknya.
Terhenyak semakin mencengkram kuat ujung kerudung, dan menatap takut. "Tapi suamiku...," sela Romisa menggantung.
__ADS_1
"ROMISAA!" geram Arga dengan suara meninggi.
Baiklah, baiklah singa... jangan mengaung seperti itu.
Dengan tatapan takut dan dengan tangan gemetar Misa menuruti perintah Arga. Dia membuka kerudungnya, dan tampak lah rambut panjang lurus hitam legamnya tergerai sangat indah yang sangat pas dengan porsi wajah cantik Misa membuat Arga seketika diam terpaku terpesona dengan kecantikan wajah mungil imut Misa.
Cantik... gumam Arga dalam hatinya, ia memalingkan wajah menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
"Biarkan seperti itu jika kau sedang di dalam kamar bersama ku." Ucap Arga tanpa menatap.
Misa tampak terlihat bingung, merapihkan rambut lurusnya yang sedikit berantakan.
Arga kembali menatap gadis mungil itu, tangannya terulur untuk mengangkat dagu Misa dengan telunjuknya. Dia sedikit mencondongkan kepala ke depan sehingga wajah mereka cukup dekat jaraknya.
Degh... seketika jantung Misa berdegup sangat cepat, wajahnya mulai memerah, dengan sorot mata menatap kaku tak berkedip. Singa ada apa dengan mu?
"Sua..miku a-ada apa?" terbata Misa karena gugup.
Arga melepaskan telunjuk dari dagu Misa. "Naiklah," titahnya menepuk ke bagian kosong sebelah kasur yang di tiduri nya.
Misa terlongo kaget, menatap diam. Naik kemana maksud dia? Apa ke atas kasur?
"Kau tau aku tak suka kau diam seakan membantah," ucap Arga terselip nada kesal.
"I..ya Suamiku, maksudnya naik kemana?" tanya Misa gelagapan.
"Kau tidak melihat tangan ku menepuk dimana!" Melirikkan mata ke tangan yang ada di atas kasur.
Misa terdiam melirik tangan Arga.
"Cepatlah Romisa," geram Arga.
"I-iya." Misa naik ke tempat tidur namun tidak di tempat yang di tepuk Arga melainkan di ujung ranjang.
"Siapa yang menyuruh mu di situ, kemarilah." Pinta Arga masih dengan nada kesal.
Misa akhirnya menurut duduk di samping Arga, ia menselonjorkan kedua kakinya dan ikut menyandarkan punggung ke kepala ranjang seperti posisi Arga saat ini.
"Kau ternyata susah di atur, sudah jelas dalam syarat itu bahwa kau harus patuh," ucap Arga.
"Maafkan aku Suamiku, aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Misa menundukkan pandangan.
Arga merebahkan kepala di pangkuan Misa sehingga membuat gadis mungil itu terjengkat kaget hendak bangkit. Namun tubuhnya di tahan oleh lengan kekar Arga yang melingkar di pinggang sehingga Misa tidak dapat bergerak kemana pun.
Singaa... tubuh Misa kaku membeku dengan mata melebar tak berkedip.
"Diamlah, kepala ku pusing, aku ingin tidur," tutur Arga membenamkan kepalanya di antara dua paha Misa seiring memejamkan mata.
"Sua..miku kau belum minum obat," ucap Misa pelan.
Namun tidak mendapat jawaban apapun. Arga malah dengan sengaja menarik tangan Misa dan meletakkannya di atas kepala.
Misa terbengong kaget menatap tangannya. Apa demam semalam membuat otaknya bermasalah? Kenapa sikapnya berubah bagai bayi besar?
"Usap, agar aku tertidur," ucap Arga.
Tangan Misa serasa beku untuk di gerakkan namun akhirnya ia menurut mengelus rambut Arga, dengan gerakan kaku hingga lama kelamaan menjadi usapan lembut seperti seorang ibu yang sedang menidurkan bayinya.
Tidak ada percakapan lagi dari keduanya, Arga menikmati usapan Misa membuatnya terbuai hingga terlelap kedalam tidur.
__ADS_1
Begitu pun dengan Misa yang tidak lama kemudian ikut menyusul tertidur.
BERSAMBUNG...