
Sore telah tiba. Arga hendak bergegas pulang kerumah karena pekerjaan nya saat ini telah di selesai kan lebih cepat seperti biasa nya.
Dengan jiwa penuh semangat karena akan pulang kerumah dan bertemu dengan misa. Arga memasuki mobil dan kini telah di jalanan kota untuk membawa nya ke rumah.
Sedang sekertaris Tang sedari tadi hanya terdiam fokus ke depan menatap jalanan yang akan di lalui nya.
Padahal di hati nya sedang gelisah sebab sampai saat ini misa belum kembali kerumah dan hal itu membuat hati Tang gelisah bukan diri nya saja yang gelisah dan tegang namun semua orang di rumah pun mengalami hal yang sama.
Tang tidak memberitahukan pada arga karena jika memberitahukan nya sedari tadi siang tuan nya akan mengamuk dan membatalkan semua jadwal penting yang sudah di susun. Juga akan membuat arga mengamuk di kantor.
Tidak ada perkcakapan di dalam mobil karena arga senang memejamkan mata nya sambil menyenderkan kepala nya ke senderan kursi. Sedang Tang fokus dengan kemudi nya
Tidak membutuhkan waktu lama mobil yang di tumpangi arga telah memasuki gerbang utama rumah nya dan kini telah melaju di pelataran rumah.
Mobil itu berhenti tepat di depan teras rumah pintu masuk. Di sana seperti biasa arga di sambut dengan para pelayan dan para penjaga nya yang berdiri rapih di ambang pintu sedang bi ane berdiri tepat di depan teras rumah.
Tang membuka kan pintu mobil arga. Yang memunculkan arga turun dari mobil nya. Arga berdiri menatap pada tempat berdiri bi ane. Ia mengkerutkan alis nya heran sebab misa tidak berdiri di tempat nya untuk menyambut kepulangan Arga.
"Bi ane Kemana romisa?" Tanya Arga yang sudah berdiri di teras rumah di hadapan semua para pelayan dan para penjaga nya.
Bi ane menunduk tidak mampu menatap tuan nya juga tidak mampu berkata apa apa.
"Saya tanya dimana romisa." tegas arga karena bi ane tak kunjung berbicara.
Dan lagi lagi bi ane hanya menunduk dan terdiam tanpa berkata.
Arga sedikit geram karena tidak di jawab pertanyaan nya oleh bi ane.
"Kenapa kau diam, dimana romisa!!" Tegas Arga dengan meninggikan satu oktaf nada suara nya karena sudah mulai geram.
"Maaf tuan.." Gumam pelan bi ane dan menunduk takut.
Sorot mata arga menajam menatap orang di hadapan nya karena medengar bi ane mengatakan kata maaf yang langsung bisa di artikan oleh arga jika bi ane melakukan kesalahan.
"Aku tanya dimana romisa, kenapa kau meminta maaf hah!!" Bentak Arga kesal.
"Maaf tuan, nona tidak ada di rumah." Ucap bi ane dengan suara gemetar.
"Kau bilang apa tadi. Kemana dia." Bentak Arga kembali dengan nada suara meninggi.
Bi ane terlonjak karena suara arga sangat kasar membentak nya.
"Nona...nona..tidak memberitahukan nya akan kemana tuan." Dengan berusaha menetralkan suara nya, bi ane berucap.
"Bagaimana bisa kalian mengizinkan nya keluar rumah tanpa seizin dari ku hah!!" Teriak Arga dengan penuh amarah.
__ADS_1
Seketika semua para pelayan dan para penjaga berwajah pucat dan berdiri tegang ketika mendengar suara teriakan arga yang di penuhi intonasi tajam.
Karena melihat situasi mulai memanas Sekertaris Tang maju untuk menghadapi arga.
"Tuan, saat ini nona sedang berada di rumah sakit jaya abadi." Ucap Tang.
Seketika rahang arga mengeras dan menatap tang sangat tajam.
"Buat apa dia kesana. Dan kenapa kau tidak bilang padaku jika romisa keluar rumah," teriak Arga dengan geram nya.
"Maaf tuan, bibi nya nona sedang sakit dan di rawat di rumah sakit itu. Lalu nona pergi tanpa mengucapkan izin terlebih dahulu. Mungkin karena syok mendengar bibi nya sakit." Jelas Tang dengan sikap tenang.
"Sejak kapan dia tidak ada di rumah?" Tanya Arga lagi.
"Sejak waktu dzuhur tuan." Tutur Tang.
"Selama itu kau tidak memberitahukan nya pada ku Tang. Kau mau membuat romisa menghilang." Seloroh Arga dan menendang kaki Tang.
"Tidak tuan, saya tidak memberitahukan nya pada tuan, karena pikir saya nona akan kembali lebih cepat," tutur Tang masih berdiri tegak menahan kaki nya yang bedenyut akibat tendangan keras arga.
"Tang..." teriak Arga karena sudah tidak bisa mengontrol emosi nya lagi.
"Telpon romisa sekarang juga dan suruh pulang." Sambung nya arga lagi.
"Maaf tuan, ponsel nona tidak aktif." Ucap Tang lagi menambah kegeraman arga.
"Jika terjadi sesuatu pada nya. Kalian tidak akan ku maafkan." Teriak nya lagi arga pada semua orang yang berdiri di sana.
"Tang.. kenapa kau diam saja. Bagaimana pun cara nya cari dan bawa romisa kembali sekarang juga," titah Arga lagi dengan emosi menggebu.
"Baik tuan. Lebih baik sekarang tuan menunggu nya di kamar. Bi ane akan menyiapkan keperluan tuan." Pinta sekertaris Tang.
Lagi lagi arga mengeplak keras kepala Tang.
"Kau menyuruh ku bersantai sementara aku tidak tahu kabar romisa," Bentak Arga.
"Tidak tuan, tp setidak nya. Jika nona pulang nanti tuan sudah bersih dan segar," ucap Tang masih dengan sikap tenang nya.
Arga menghela napas nya kasar.
"Baiklah, tp aku minta sekarang juga kau harus menemukan romisa dan membawa nya pulang. Jika tidak kau akan tahu akibat nya." Tegas Arga.
Lalu Arga berjalan melewati para penjaga juga para pelayan nya yang tampak tegang karena nya. Sedang bi ane mengekori arga untuk menyiapkan keperluan nya.
Iya saya tahu tuan. Untunglah di saat seperti ini nama nona bisa menjinakkan kembali tuan yang akan mengamuk.
__ADS_1
Huh.. Meskipun bi ane yang melakukan kesalahan pasti saya yang akan kena imbas nya karena saya tahu tuan tidak pernah memukul wanita.
----------------
Sementara di rumah sakit jaya abadi.
Misa masih asyik bercengkrama dengan bi ita di ruang inap nya dengan bagas yang duduk di sofa sedang mengamati nya.
"Bi cepat sembuh yaa. Misa sangat syok banget pas denger bibi sakit." Ucap Misa sambil mengelus tangan bi ita yang saat itu bi ita tengah terduduk di ranjang pasien nya.
Bi ita mengangguk. "Iya Neng, siapa juga yang mau sakit neng. Semua nya juga pengen sehat." Balas bi Ita tersenyum tulus ke arah misa.
"Iya bi. Jd kita harus menjaga kesehatan tubuh kita. Dan jika sakit harus berjuang untuk sembuh. Kan kasian bi, pada anak panti nanti jika bibi nya sakit siapa yang akan menjaga mereka," tutur Misa dan menatap bi ita dengan tatapan lembut.
"Bibi pasti sembuh. Oh iya Neng, sudah izinkah pada nak arga ketika neng kemari?" Tanya Bi Ita membuat misa tersadar akan waktu.
Misa melirik jam yang menempel di pergelangan tangan nya yang sudah akan memasuki ba'da isya.
Memang misa setelah shalat magrib langsung kembali lagi ke kamar inap nya bi ita dan melupakan jika diri nya harus kembali ke rumah arga.
Ya tuhaan kenapa aku bisa lupa waktu begini. Bagaimana ini. Aku harus pulang sekarang sebelum s singa pulang ke rumah.
Melihat misa tampak panik setelah melihat jam di pergelangan tangan nya. Bi ita sedikit curiga dan bertanya kembali.
"Apakah neng tidak meminta izin terlebih dahulu sebelum kemari?" Tanya bi Ita menyelidik.
Misa menggelengkan kepala nya sebagai jawaban bahwa diri nya tidak memberitahukan arga. "Tidak bi. Karena ponsel misa mati." Jawab nya.
"Neng, cepatlah pulang. Pasti nak arga sekarang sedang mencari neng. Jangan ulangi lagi seperti ini neng. Sepanik apapun neng harus tetap meminta izin kepada suami neng. Karena sekarang neng sudah jd tanggung jawab nya dia dunia akhirat," tutur bi Ita memberi nasihat.
Misa mengangguk pelan. "Baiklah bi, misa akan pulang. Maaf misa tidak bisa menemani bibi lebih lama. Cepatlah sembuh ya bi," balas Misa lalu memeluk bi ita.
Bi Ita membalas pelukan misa.
"Misa pamit ya bi. Assalamualaikum bi," salam Misa lalu melepaskan pelukan nya.
"Walaikumsalam neng. Hati hati di jalan nya." Balas bi Ita mengusap wajah misa lembut.
Misa mengangguk mengiyakan lalu menoleh pada bagas yang sedari tadi duduk di sofa memperhatikan kedua nya.
"Bagas tolong jaga dan rawat bi ita dengan baik yah." Ucap Misa dan bangkit dari duduk nya.
"Iya neng. Neng mau di antar pulang nya," tawar Bagas bangkit dari duduk.
Misa menggelengkan kepala nya. "Tidak perlu, saya bisa naik taxi. Terimakasih bagas atas tawaran nya. Ya sudah saya pamit yaa.. Assalamualaikum." Ucap Misa dan berlalu meninggalkan bi ita dan bagas di ruangan inap itu.
__ADS_1
"Walaikumsalam." Balas bagas dan bi ita bersamaan sebelum misa benar2 menutup pintu kamar nya.
BERSAMBUNG...