
"Kenapa Romisa lama sekali di dapur?" gumam Arga hendak bangkit dari setengah tidurannya namun belum juga ia menyibak selimut...
Ceklek.
Suara pintu terbuka, Arga menoleh ke arah pintu. Tampak Misa berjalan dengan tangan membawa nampan yang cukup besar sehingga tidak sebanding dengan tubuh mungil nya, Misa menyimpan nampan itu di atas meja nakas sebelah ranjang setelah memindahkan lampu tidur ke bufet kecil.
Di atas nampan itu ada mangkuk air putih, handuk kecil dan juga ada water bag, segelas teh hitam dan segelas air putih, 2 buah pisang, dan juga ada semangkuk bubur wortel dan ada termometer infrared.
Arga mengkerutkan kening nya. Apa ini semua? Jadi ini yang membuat nya lama sekali.
Setelah menyimpan nampan itu, Misa mengambil kursi kecil yang ada di dekat meja rias di pojok kan ruangan untuk bisa duduk di samping ranjang.
Arga terus mengamati pergerakan yang di lakukan Misa dengan awas.
"Suamiku, karena kamu tidak mau aku memanggil dokter juga Sekertaris Tang atau bi Ane, maka nya aku menggunakan pengetahuan ku saja, jika orang terkena diare biasanya aku suka menggunakan makanan juga minuman ini, setidaknya untuk memberikan tenaga mu yang terkuras lemah karena diare, apa mau mencobanya? " tanya Misa yang sudah duduk di kursi itu dan menelisik wajah Arga yang pucat.
Namun wajah Arga masih tetap terlihat beraut wajah datar meskipun dalam keadaan seperti itu hanya pucat saja yang berubah dari wajahnya. Dia melirik bubur itu dengan tatapan jijik. Apa aku harus memakan makanan lumpur itu?
Kemudian dia beralih menatap wajah Romisa yang terlihat kelelahan. "Boleh, tapi aku tidak mau yang ini dan itu," tunjuk Arga pada bubur wortel dan pisang.
"Baiklah, tapi untuk bubur ini, maukah memakannya aku sudah membuatkannya Suamiku." Misa menatap melas agar Arga mau.
Sejenak Arga menatap diam, yang akhirnya menghela napas di barengi dengan anggukkan pasrah.
Misa tersenyum, dan segera mengambil mangkuk yang berisi bubur itu lalu mengaduknya.
"Bubur ini bagus untuk yang terkena diare, untuk mengembalikan nutrisi yang hilang, nih makanlah Suamiku," Misa menyodorkan mangkuk itu ke tangan Arga.
"Tidak lihatkah aku sedang lemas," ucap Arga.
"Apa aku harus menyuapi mu Suamiku?"
__ADS_1
Arga menatap sayu dan mengangguk manja.
Manja sekali kau singa.
Misa mengambil alih mangkuk yang di tangan Arga lalu mulai menyendokkan bubur itu dan menyuapikannya ke mulut Arga.
"Panas," celetuk Arga langsung memegangi bibirnya.
"Maaf Suamiku, aku tidak tau bubur nya masih panas, baiklah untuk sekarang aku akan meniupnya terlebih dahulu," ucap Misa menyendokkan kembali bubur dan mendekatkan sendok itu ke bibir untuk memastikan suhunya, hal itu membuat Arga tertegun menelan ludahnya dengan kasar.
"Sudah dingin, makanlah Suamiku." Menyodorkan satu sendok bubur itu ke mulut Arga yang langsung di sambut dan di lahap.
Lumayan juga, tidak begitu menjijikan... pendapat Arga saat lidahnya mencecap makanan lembek tersebut.
Dan begitu seterusnya Misa menyuapi Arga dengan tenang dan telaten tanpa ada percakapan dari keduanya hingga bubur itu habis tidak tersisa.
"Alhamdulillah, baiklah Suamiku, tunjukkan dahi mu, aku ingin melihat suhu dalam tubuh mu," ucap Misa mengambil alat pengukur suhu dari atas nampan lalu menyingkap rambut yang menghalangi dahi Arga untuk menyorotnya dengan termometer.
Misa melihat hasil pengukurannya. "Wah suhu mu, cukup tinggi lihatlah suhunya menunjukkan angka 38.3 , Suamiku harus mau di kompres, dan bagaimana masih mules perutnya?" tanya Misa sambil meletakkan kembali alat itu ke nampan.
Arga menggeleng tipis sebagai jawaban tidak, namun tatapan masih lekat ke wajah Misa. Apa lagi yang akan di lakukannya?
"Syukurlah." Lalu Misa mengambil gelas yang berisi air warna hitam. "Suamiku minumlah ini untuk mengisi cairan agar tidak terkena dehidrasi," ucapnya menyodorkan teh hitam.
Arga diam sejenak, ia melirik gelas di hadapannya dengan alis sedikit berkerut tanya. Apa ini?
"Ini teh hitam, suamiku." Jelas Misa mendekatkan gelas itu ke bibir Arga yang mau tak mau langsung di teguk air teh hitam itu oleh Arga.
Kenapa rasanya pahit begini? Alis Arga semakin berkerut dengan mulut sedikit mengembung belum menelan teh itu.
Melihat hal itu, Misa menatap ragu. "Suamiku, maaf aku tidak memberinya gula tapi bukan untuk mengerjai mu, karena memang kalau untuk diare teh nya jangan di kasih gula," suara Misa melembut penuh kehati-hatian karena takut Arga akan mengamuk.
__ADS_1
Dan akhirnya Arga menelan air yang ada di dalam mulutnya, lalu ia mengambil alih gelas yang di pegang Misa untuk meneguk kembali teh pahit di gelas itu hingga habis hanya tersisa seperempatnya.
Misa menatap bengong dengan apa yang di lakukan Arga. Apa aku tidak salah? Dia meminumnya. Apa karena sakit jadi otak nya juga ikutan sakit?
Arga menyodorkan gelas kosong yang langsung di terima oleh tangan Misa yang sedikit kaku.
Arga mengernyit menahan rasa pengar dan pahit di mulutnya. "Air putih," celetuknya.
"I-iya." Misa langsung meletakkan gelas kosong ke atas nampan beralih mengambilkan gelas air putih, lalu menyodorkan untuk di dekatkan ke bibir Arga.
Hingga Arga meminum air putih itu sampai habis membuat Misa lagi-lagi tertegun diam.
Misa mengambil water bag yang sudah di isi dengan air panas. "Suamiku, berbaringlah aku akan mengompres kepala mu dan jika mengantuk tidur lah," tutur Misa menghela Arga agar terbaring.
"Pakai ini." Misa meletakkan water bag itu ke atas perut Arga.
Apa lagi ini? Sehingga membuat Arga sedikit terlonjak saat merasakan benda hangat ada di atas perutnya, meskipun terhalang baju namun masih terasa hangat menembus ke kulit perutnya yang membuat rasa nyaman di daerah nyeri mulas. Romisa sekarang kau ku biarkan mengatur ku. Karena aku suka perhatian ini.
Misa mulai sibuk memperas handuk yang di celupkan ke air di mangkuk, lalu ia mengompreskan handuk kecil itu ke atas dahi Arga dan jika sudah kering Misa akan menggantinya agar basah kembali, begitupun seterusnya.
Arga yang merasakan rasa nyaman, juga rasa sakit di perutnya berangsur hilang. Perlahan mata nya meredup yang akhirnya terlelap dalam tidur.
"Dia tertidur," celetuk Misa memperhatikan wajah tampan putih bersih pria yang terlelap tenang itu. Ada senyuman terulas di bibir Misa saat memperhatikannya.
Kalau lagi tidur terlihat tampan juga, tapi sayang tempramennya itu yang sering berubah-ubah bagai singa labil.
"Hoaamm," Misa menguap menutup bibirnya. "Ngantuk juga." Dia melipat kedua tangan ke atas kasur, dengan sebelah mengusap jemari tangan Arga yang berada dekat dengannya.
Hingga tidak lama kemudian Misa pun ikut tertidur lelap di samping Arga dengan posisi terduduk di kursi rias dan kepala di rebahkan di atas lipatan tangan yang berada di atas kasur, juga sebelah tangan mengusap usap tangan Arga.
BERSAMBUNG...
__ADS_1