Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
91


__ADS_3

Sementara arga tampak sedang mengadakan rapat penting di kantor. Sekertaris Tang yang semula duduk di bagian jejeran belakang, bangkit dari duduk nya setelah mendapat laporan dari mata mata yang mengatakan jika telah terjadi sesuatu pada misa. Tang langsung menghampiri arga dan membisik kan sesuatu ke telinga arga.


Arga bangkit dari duduk nya dan langsung meninggalkan rapat tanpa sepatah kata pun yang terucap membuat orang2 yang berada di ruang rapat heran dan bertanya tanya.


Sekertaris Tang mengintruksi asisten arga yang lain nya untuk mewakili, agar menjelaskan kekacauan arga di ruang rapat. Setelah nya Tang mengikuti Arga yang sudah menaiki lift.


Arga telah sampai di depan mobil lalu menaiki mobil, yang pintu nya sudah di buka kan oleh tang. Dan setelah memastikan arga masuk ke dalam mobil. Tang juga ikut memasuki mobil, dan duduk di kursi kemudi lalu melajukan nya. Dan kini mobil itu melaju cepat di jalanan kota.


Raut wajah arga begitu sangat khawatir dan ada kilatan emosi, amarah dan gelisah dari sorot mata nya setelah mendengar penyebab misa menangis.


"Tang.." bentak arga karena mobil yang di tumpangi nya berhenti.


"Maaf tuan, seperti nya kita terjebak macet. Karena cuaca sedang hujan,'" tutur Tang.


Arga mendengus kesal.


"Tang.. jelaskan situasi ini," titah arga.


Sejenak Tang menghela napas nya lalu melirik kaca yang ada di depan untuk melihat kondisi tuan nya.


"Tuan, nona sebelum nya mempunyai trauma yang mendalam karena tragedi meninggal bunda nya," ucap Tang hati hati karena mengatakan hal sensitif ketika arga sedang emosi.


Arga menatap tajam ke depan meminta Tang menjelaskan nya lebih.


"Bunda nya nona, meninggal akibat pencopetan dan bunda nya meninggal karena luka beberapa tusukan di tubuh nya pada saat itu hujan deras dan guntur menjadi saksi atas kejahatan itu. Dan saat itu juga nona berada di sana menyaksikan semua adegan nya," jelas Tang panjang.


Mendengar penjelasan Tang membuat rahang arga mengeras, "lalu bagaimana dengan para pencopet itu, apakah masih hidup?" Tegas arga.


"Para pencopet itu dua orang sudah meninggal dunia dan satu orang menderita sakit mental dan kini dia di rumah sakit jiwa," jawab Tang lagi.


"Dan oleh sebab kejadian itu. Setiap kali ada perkelahian di depan nona atau hujan deras di sertai guntur trauma nona akan kambuh lagi tuan. Dan seperti nya sekarang trauma nona sedang kambuh," sambung Tang lagi. Dan kembali melajukan mobil nya karena jalanan sudah lancar kembali.

__ADS_1


"Kau sudah panggil dokter ke rumah," ucap arga.


"Saya sudah menelpon paman reno. Beliau mengatakan jika nona jangan di datangi dokter kala keadaan nya seperti ini. Karena itu akan membuat nya semakin memburuk," tutur Tang memberi penjelasan lagi.


"Lalu, aku harus bagaimana Tang." Seloroh arga semakin kesal.


"Tenangkan lah dengan cara tuan sendiri, karena nona tidak akan lama dalam keadaan seperti ini," jelas nya lagi.


"Dan tuan, pesan paman reno. Jika nona mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Tuan jangan marah karena dalam keadaan nya saat ini, nona dalam keadaan tidak sadar akan mengeluarkan seluruh isi hati nya," jelas Tang memperingati.


Arga mengangguk kan kepala nya mengerti lalu menghela napas kasar dan memejamkan mata nya.


"Tang, kau urus dani. Namun jangan sampai ke titik rendah nya. Karena bagaimana pun dia adalah sodara ku," titah arga di sela pejaman mata nya.


"Baik tuan."


"tidak anak, tidak ibu nya selalu membuat romisa tersakiti," gumam arga.


Iya kasihan nona.. nona jadi korban akibat cinta segiempat nya. Hmm semoga semua nya akan baik baik saja.


"Iya tuan."


"Kau membawa mobil atau rumah siput kenapa lama sekali sampai nya," gerutu arga kesal.


Jelas tuan sudah tahu jika saya mengendarai mobil tuan.


---------


Mobil arga telah sampai di depan rumah nya. Sekertaris Tang memayungi arga yang keluar dari mobil dan arga berjalan dengan langkah tergesa menuju rumah nya.


Arga memasuki pintu utama dan langsung di hadapkan dengan egi dan syila tampak sedang duduk di sofa ruang utama dan terlihat syila sedang mengoceh membujuk egi sesuatu.

__ADS_1


Egi bangkit dari duduk nya ketika melihat arga telah memasuki pintu utama.


"Kaka," panggil egi menghentikan langkah arga.


Arga menoleh dan menatap nya dengan tatapan tajam.


"Maafkan egi tidak bisa melindungi misa," ucap egi dengan tatapan penuh penyesalan.


"Kenapa, kau baru sadar." Seloroh arga.


Namun egi tidak menjawab nya malah terdiam


Melihat egi terdiam. Arga hendak melangkah kan kaki nya lagi. Namun lagi lagi egi menghentikan dengan panggilan nya.


"Kaka," panggil egi lagi.


Arga menoleh jengah terhadap egi dan masih menatap nya tajam.


"Izinkan egi melihat misa," pinta egi.


"Kau sudah gila, lihatlah wajah mu sudah tidak beraturan seperti badut. Kau masih berani menunjukkan nya pada romisa," bentak arga kesal.


Egi menatap arga memohon.


"Syila," panggil arga.


"Iya ka arga," sahut syila yang sedari tadi menyaksikan perdebatan antara kedua kaka nya.


"Obati luka lebam wajah kaka mu itu. Dan kau jika ingin melihat kaka ipar. Nanti jika keadaan nya sudah membaik," titah arga lalu pergi meninggalkan kedua nya menuju anak tangga yang menghubungkan ke kamar nya.


"Tuh kan ka egi. Susah di bilangin nya sih. Ka arga pasti nggak bakal ngizinin kita melihat kaka ipar. Sini syila obati luka lebam kaka. Kenapa sih sampe segini nya wajah ganteng ka egi kan jadi nya ketutup balon biru," celoteh syila menarik lengan egi untuk menuntun nya duduk kembali ke sofa.

__ADS_1


Dan egi hanya menurut duduk di sofa sementara pikiran nya masih melayang memikirkan keadaan misa.


BERSAMBUNG....


__ADS_2