Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
24


__ADS_3

Malam mulai semakin larut dan Misa sudah terlelap pulas dalam tidurnya, namun ada satu orang yang masih terjaga di kamar itu, dia adalah Arga.


Arga merasakan mulas yang melilit di perutnya sehingga sudah dua kali ia bolak-balik ke toilet, dengan yang sekarang adalah ke tiga kali nya dia kembali lagi ke toilet dan hal itu sukses membangunkan tidur lelap Misa.


Merasa ada kegaduhan suara langkah kaki yang bolak-balik Misa mengerjapkan mata nya, menggeliatkan badan lalu terduduk, dengan mata sayu khas bangun tidur ia megarahkan pandangannya ke arah atas kasur.


"Kemana dia?" Heran Misa yang tak menemukan sesosok yang di carinya di sana.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi terbuka lebar dan memunculkan Arga keluar dari sana dengan langkah yang terlihat lesu, lunglai. Misa bisa melihat dari cahaya lampu kamar mandi yang masih menyoroti tubuh pria itu.


Misa beranjak dari sofa dan menyalakan lampu ruangan lalu menghampiri Arga. "Suamiku."


Arga melihat jelas wajah Misa yang sudah berdiri di hadapannya dengan rambut panjang yang tergerai indah.


Sangat cantik. Itu yang terlintas dalam benak Arga.


"Suamiku, Kau tidak apa-apa?" tanya Misa cemas ketika melihat wajah pucat Arga.


Melihat Misa menunjukkan wajah cemas, ada rasa kebahagiaan tersendiri dalam hati Arga.


Namun Arga tetap diam tidak menjawab pertanyaan itu, ia melangkah dengan lesu ke arah kasur.


Melihat itu membuat Misa merasa bersalah. Apa ini gara-gara memakan sup terlalu banyak?


Misa menghampiri kembali ke arah ranjang, dimana Arga telah terduduk setengah terbaring lemah menyender ke kepala ranjang di atas kasur.


Tatapan Arga tidak lepas ke arah Misa, yang tatapan itu terlihat sayu meredup menandakan bahwa kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja.


Gadis mungil itu, duduk di sisi kasur samping tubuh Arga. "Suamiku maafkan aku, mungkin gara-gara sup itu kau jadi terkena diare seperti ini, harus bagaimana aku untuk menebus kesalahan ini, aku harus menelpon dokter atau Sekertaris Tang, tapi ini jam berapa?" Oceh Misa panjang lebar dengan nada renda merasa bersalah.


"Tidak usah kau memanggil siapa-siapa, nanti pagi juga aku akan sehat, dan kau jika merasa bersalah tebuslah dengan cara mu sendiri," tutur Arga rendah.


"Baiklah Suamiku, aku akan bertanggung jawab," balas Misa yakin.


Arga memijat pelipisnya yang terasa berdenyut pusing.


Melihat Arga seperti itu, Romisa memberanikan diri menyentuh dahi Arga dan memijatnya pelan.

__ADS_1


Arga menatap Misa dengan tatapan bahagia. Namun di artikan oleh Misa tatapan itu ketidak sukaan.


"Ah, maaf Suamiku aku menyentuh mu, karena melihat mu seperti sedang pusing dan benar sepertinya kamu terkena demam juga karena dahi mu cukup panas," ujar Misa sambil terus memijat dahi Arga.


Namun Arga masih saja diam tidak merespon apa-apa, hanya tatapan sayu nya saja yang terus menatap Misa, dan itu membuat Misa merasa tambah bersalah.


Misa melirik jam yang menempel di dinding. "Sudah jam 12:25 malam sepertinya orang-orang sudah terlelap, ya sudah aku mau mengambil air kompres dulu ke bawah, tunggu sebentar." Misa hendak berdiri namun tangannya di tahan oleh Arga sehingga gadis mungil itu terduduk kembali.


Menatap bingung dengan alis tertaut. "A-ada apa suamiku?"


"Pakai kerudung mu," ucap Arga lemah namun masih kental dengan titahnya.


Siapa juga yang akan keluar kamar tengah malam gini ke dapur, kalau bukan karena darurat seperti ini. Misa masih diam, menatap tanya


.


"Tapi bukannya orang-orang pasti sudah terlelap suamiku, dan di dalam rumah kan nggak ada pelayan pria," ucap Misa mengkerutkan alis nya.


Arga menatap tajam meskipun masih terlihat sayu karena sakitnya. Seakan Misa mengerti maksud tatapannya. Dengan pasrah Misa menurut beranjak ke arah sofa untuk mengambil kerudung.


"Aku ke bawah dulu," ucap Misa yang sudah memakai kerudung. Arga mengangguk tipis menatapnya.


Baru kali ini aku sakit merasa bahagia seperti ini ada apa dengan diriku ini? Sepertinya yang sakit bukan fisik ku melainkan pikiran ku yang sudah gila oleh wanita ini.


Setelah Misa berlalu Arga mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakas, Ia mengirimkan pesan kepada bi Ane, agar ia tidak boleh sampai bertemu Misa jika melihat Misa di dapur.


*****


Di dapur.


Misa membuka semua lemari apa saja yang ada di dapur itu untuk mengambil barang juga bahan yang di butuhkan.


Gadis itu, mulai mengolah makanan untuk membuat bubur yang di tambahi wortel karena Misa tau sewaktu dia di panti dan ketika mengalami hal serupa dengan Arga, Bibi Ita memberinya bubur wortel. Dan untuk membuat bubur itu, dia perlu memblender wortelnya agar menjadi potongan kecil untuk mempercepat pembuatan.


Misa beralih pada kotak obat yang tersedia di lemari pojok yang berada di dapur. Dia tidak mengambil obat apapun dari kotak obat itu karena ia takut salah memberikan obat, yang dia ambil hanya termometer untuk mengukur panas yang di derita Arga.


Dari balik tembok yang tidak jauh dari Misa berkutat, ada sepasang mata seorang wanita yang terus mengawasi gerak geriknya. Wanita itu adalah bi Ane.


Bi Ane setelah mendapat pesan dari Arga, ia langsung memastikannya sendiri ke dapur untuk melihat apa yang di lakukan Misa, dan sebenarnya ada apa dengan tuannya sehingga Misa harus turun ke dapur malam-malam seperti ini.

__ADS_1


"Sepertinya tuan sedang sakit, melihat nona membuka kotak obat. Kenapa tuan tidak memanggil dokter pribadi? Dan setau saya, tuan orangnya jarang sakit atau bahkan tidak sama sekali. Apa gara-gara makan sup terlalu banyak?" Gumam bi Ane pelan.


"Sedang apa Bibi di sini?" Suara pria mengagetkan bi Ane yang sedang mengintip.


"Hah!" Bi Ane terlonjak kaget, dan menoleh ke arah suara. "Tuan Egi... ssuut." Menempelkan telunjuk ke bibir lalu melirikkan mata ke arah dapur.


Egi melihat arah pandang bi Ane. "Misa?" Herannya memicingkan mata.


Sedang apa dia di dapur malam-malam begini, dan apa itu yang di kerjakannya.


"Tuan Egi, kembali lah ke kamar biar Bibi di sini menemani Nona," ucap bi Ane berbisik.


"Bi Ane memerintah saya?" Menatap tak suka dengan suara dingin.


"Tidak tuan Egi, bukan begitu." Gelagap bi Ane.


Egi masih menatap dingin. "Bi Ane yang tidak perlu menemani bu Misa lagi, biar saya yang gantikan," ucapnya hendak melangkah namun tangannya keburu di tarik oleh wanita itu.


"Jangan kesana tuan," Mencekal lengan Egi.


Egi menatap bi Ane tajam, juga mengibaskan lengannya agar terlepas pegangan itu.


"Maaf tuan Egi, tapi ini perintah dari tuan Arga agar jangan ada yang mendekati Nona untuk saat ini."


Alis Egi terangkat sebelah. "Kenapa dia memerintahkan bu Misa seperti itu?"


"Seperti dugaan saya, tuan Arga sedang sakit, dan ingin di rawat oleh Nona," tutur bi Ane semakin membuat Egi geram.


Enak sekali kakak menginginkan Misa merawat nya. Bukannya dia bisa memanggil dokter. Egi menatap gadis mungil itu dari kejauhan.


Beberapa saat kemudian.


Misa telah selesai dengan semua yang di butuhkan Arga. Dia mulai berjalan mengangkat nampan besar di tangannya untuk menaiki anak tangga satu persatu dengan langkah ke hati-hatian dan itu tidak luput dari dua pasang mata yang sedang mengawasinya.


Egi hendak menghampiri, ketika melihat gadis mungil itu menaiki anak tangga yang tampak kesusahan, namun lengannya lagi-lagi di pegang erat oleh bi Ane untuk mencegah hal itu terjadi.


Sehingga Egi hanya bisa pasrah di sertai umpatan dalam hatinya yang tak keluar akibat ketidak berdayaannya membantu Misa.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2