Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
55


__ADS_3

Malam mulai semakin larut dan karena kekenyangan membuat Misa tertidur lebih awal. Dia terbaring begitu pulas di atas sofa dengan sebuah buku menutupi keseluruhan wajah cantiknya.


Sementara di ruangan Musik.


Treng...Treng.


Terdengar suara melodi begitu fals yang berasal dari alat musik yang di petik yaitu gitar. Nada itu begitu tak teratur di petik asal sehingga siapa saja yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahi ingin menutup telinga.


Asal tercipta melodi tak teratur itu dari seorang pria tampan terduduk di sofa tunggal tanpa senderan, ia begitu semangat memetik senar gitar di dampingi seorang pria di hadapannya sama-sama memangku gitar.


Sedangkan sekertaris Tang terduduk di kursi di pojok ruangan, mengamati keduanya yang bermain gitar.


"Huft... kenapa susah sekali hanya tinggal petik aja! Kenapa harus ada kunci nya segala hah!" ucap Arga kesal sambil terus memetik asal pada senar.


"Maaf tuan. Jika kunci E bukan seperti itu penempatan jemarinya. Tapi seperti ini." Kata pria yang sebagai guru gitar menunjukkan tekanan pada titik chord di gitar nya.


Humph... Arga mendengus kesal, dan lagi-lagi ia asal menekan chord gitar.


"Tang, benarkah yang kau bawa ini benar-benar guru musik yang handal?"


Tang melirik pria yang sebagai guru. "Benar tuan, meskipun dia seumuran dengan tuan, tapi dia adalah pemain gitar terbaik di negeri ini." Jawabnya.


"Ck." Arga berdecak sebal, melirik meremehkan pada pria di hadapannya.


"Lalu kenapa dari tadi aku tidak di ajari dengan benar!" Sentaknya. Lalu...


Brak.


Meletakkan dengan kasar gitar itu ke atas meja bundar yang berada di tengah-tengah sofa yang mereka duduki.


Hah... Tang menghembuskan napas pelan. Memang tuannya saja dari tadi hanya marah-marah saja dan tidak belajar dengan benar, bukan salah guru ini.


"Tuan, bukannya guru ini sudah mengajari dengan benar, dan menunjukkan gerakan jemari untuk menekan ke setiap kunci gitar."


Arga menatap tajam ke arah Tang. "Kau membela nya hah."


Iya saya membela yang benar dan menyadarkan tuan.


"Tidak tuan." Ucap Tang bohong.


Kemudian Arga beralih menatap tajam ke arah guru nya. "Dan kau, kenapa dari tadi hanya bilang kunci-kunci saja. Kapan memainkan lagunya!" Sentak Arga yang sudah di penuhi kekesalan.

__ADS_1


Pria itu menundukkan pandangan tak berani menatap langsung. "Maaf tuan Arga, untuk bisa memainkan lagu kita harus tahu setiap kunci gitar terlebih dahulu, baru kita ke sesi memainkan lagu."


Huh... Arga mendengus lagi sambil membuang muka.


"Baiklah, tunjukkan aku cara cepat agar bisa menguasai setiap kunci gitar." Pintanya sambil menunjuk gitar di atas meja.


Guru gitar itu masih menunduk.


"Hanya dengan mengingat dan memperagakan tuan Arga, baru bisa cepat menguasai."


Sorot mata Arga semakin menajam tak suka. "Kau meragukan ingatan ku?"


Menggeleng cepat. "Tidak tuan, mana berani saya meragukan kemampuan tuan." Balasnya masih menunduk.


Arga menghembuskan napas kasar, ia kembali mengambil gitar di atas meja. "Baiklah, cepat ajari aku lagi yang benar jangan membuat ku pusing dengan kunci-kunci apalah itu."


Tang menatap dengan sorot mata sedikit meredup ke kedua pria. Apakah tuan tidak mengantuk?... Dia melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah jam 11 malam, apa tidak ada lain waktu lagi.


"Ekhem... tuan." Panggil Tang menghentikan pergerakan jemari tangan Arga yang sedang memetik gitar.


Arga menoleh menatap tanpa bicara.


Arga nampak berpikir sejenak. "Benar juga kata kau," ucapnya sambil meletakkan gitar ke atas meja.


Kelegaan tampak dari sorot mata Tang begitu pun dengan pria yang sebagai guru itu tampak terulas senyuman kecil.


Arga beranjak dari duduknya. "Baiklah, kita teruskan lagi besok sekarang kalian pulang lah."


Guru gitar ikut beranjak berdiri, ia setengah membungkuk hormat. "Baik tuan, selamat istirahat."


"Tang kau juga pulang lah dan antarkan guru ini," titah Arga.


"Baik tuan." Sahut cepat Tang.


Arga keluar dari ruang musik dan berlalu menuju kamar nya.


*****


Pria tampan itu, memasuki kamar yang masih terang menyala. Begitu berbalik setelah mengunci pintu, pandangan Arga langsung terjatuh pada sesosok yang tertidur terlentang di atas sofa. Dia mendekati gadis cantik itu, lalu mengambil buku yang menutupi wajah cantiknya.


"Kenapa kau tidur disini?" Gumam Arga pelan di selingi senyuman.

__ADS_1


Kemudian ia merunduk membungkukkan badan untuk memperhatikan wajah Misa lebih dekat. Dan...


Cup.


Dia mengecup kening Misa dengan sangat lembut.


Arga menyelipkan lengannya di antara bahu dan tengkuk lutut tubuh Misa, lalu dengan sangat kehati-hatian agar tidak membangunkannya ia berjalan pelan membawa tubuh gadis itu menuju kasur.


Ada gerakan dari Misa yang mendusel-dusel kepala ke dada Arga. "Singaa... makan." Igauan kecil keluar dari bibirnya yang bergerak seakan mencecap rasa.


Alis Arga terangkat sebelah menunduk melihat wajah cantik dalam gendongannya.


"Mengapa dia selalu mengigau nama hewan buas? Apa dia tadi membaca buku dongeng," gumamnya heran.


Arga merebahkan tubuh mungil Misa ke atas kasur dengan gerakan pelan penuh kehati-hatian. Dan pada saat akan melepaskan lengannya yang berada di bawah bahu Misa. Tiba-tiba...


Sreet.


Misa berguling menghadap ke arahnya, sehingga menindih lengan Arga.


Arga mengernyit, dengan pelan berusaha menarik lengannya namun tak berhasil keluar. "Badan mu mungil tapi kenapa berat sekali. Apa aku nya saja yang tidak punya tenaga."


"Hmm...," tubuh Misa menggeliat kembali. Dan...


Grep.


Dia merangkul bahu Arga lalu mengkeratkan memeluk erat.


"Hey." Pekik Arga tercekat saat wajahnya menempel pada sesuatu yang bulat nan empuk. Ini... ini apa?


Misa mengusap-usap rambut Arga yang kepalanya berada di dada, seakan-akan Arga adalah bantal guling.


"Singaa... bungloon." Igaunya lagi sambil terus mengusap kepala.


"Hei." Tercekat wajah Arga memerah. "Aku bukan singa juga bukan bunglon dan kau memeluk ku seperti ini. Aku tidak bisa bernapas Romisa." Oceh Arga pelan dalam pelukan, ia tersenyum senang karena di peluk meskipun keadaan Misa yang tidak sadar.


Bukannya di lepaskan pelukan tangan Romisa. Namun Arga malah melingkarkan lengan kekarnya ke tubuh gadis itu, untuk membalas pelukan Misa dan semakin membenamkan kepalanya di dada Misa mencari posisi yang nyaman.


"Hah... hah... Romisa kau membuat ku gila, bagaimana pun aku ini lelaki normal." Gumam Arga menetralkan napas oleh karena jantungnya yang berdetak sangat cepat juga wajahnya memanas merah.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2