
Setelah kedua nya melaksanakan shalat dzuhur.
Misa keluar dari pintu ruang ganti, memakai pakaian lengkap dengan kerudung. "Suamiku... emm... bolehkah aku ke bawah?" tanyanya menatap ragu.
Arga yang berdiri tidak jauh dari sofa, sontak menoleh memberinya tatapan dingin tanpa menjawab.
Misa masih dengan keinginannya, ia menatap melas. "Aku... aku hanya ingin meminum teh jahe saja. Jadi boleh kan?"
Cepatlah katakan boleh... katakan boleh singaa. Jangan diam saja.
Arga melangkah ke arah sofa, dan duduk santai dengan kaki sedikit terbuka. Masih menatap dingin. "Pelayan akan membawakannya kemari, kau tak perlu ke bawah."
Gadis itu tak gencar dengan keinginannya yang ingin keluar kamar. "Hanya sebentar kok, suamiku," pinta Misa sambil menangkupkan kedua tangan di depan.
Dan hal itu seperti nya cukup berhasil untuk merajuk di depan Arga.
Hah... Arga menghela napas pelan memalingkan wajah ke arah lain sejenak, lalu kembali menatap Misa. "Baiklah." Jawabnya sambil beranjak berdiri menghampiri gadis mungil yang berdiri tidak jauh darinya.
Romisa tersenyum senang dengan izin itu, ia hendak berbalik untuk berjalan ke arah pintu keluar. Namun...
Grep.
Arga tiba-tiba menggandeng sebelah tangan Misa lalu sedikit menariknya melangkah keluar kamar bersamaan.
Romisa tertegun, menatap jemari tangannya yang di genggam Arga. Dia menggandeng ku? Singaa, sebenarnya ada apa dengan mu? Kenapa kau berubah jadi begini?
Keduanya berjalan beriringan menuju lantai bawah, dan menuruni anak tangga.
Di lantai bawah banyak orang tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing, para pelayan yang bolak balik membereskan rumah juga para koki yang sudah berperang di dapur untuk menyiapkan hidangan makan siang.
Langkah kaki Misa terhenti tepat di depan pintu dapur yang terbuka lebar, mata nya memicing bingung ketika ia melihat wajah para koki yang terlihat asing bukan para koki dari sebelumnya.
Apa yang terjadi? Kapan rumah ini berganti koki? Bahkan satu pun tak ada koki lama.
Bi Ane yang berdiri tidak jauh dari tempat dirinya berdiri, tatapan wanita paruh baya itu tampak sangat awas memperhatikan gerak-gerik kinerja para koki.
Dia menunduk hormat saat menyadari Misa dan Arga yang baru datang memasuki area dapur. "Siang Nona Romisa, tuan. Apakah ada yang di perlukan sehingga Nona sampai turun ke dapur?"
Misa tersenyum ramah. "Aku hanya ingin meminum teh jahe saja."
"Baik saya akan titahkan koki untuk membuatkannya."
"Terimakasih bi Ane." Yang di balas anggukkan kepala.
Arga menarik kembali tangan Misa dan menggiringnya ke arah meja makan, ia menyuruh gadis cantik itu duduk di kursi yang sudah di tarik olehnya.
"Tunggulah." Titah Arga setelah mendudukkan Misa di kursi dan tanpa menunggu jawaban dari gadis cantik itu, Arga berbalik melangkah pergi menuju ruangan kerja.
__ADS_1
Mau kemana dia? Heran Misa melihat kepergian pria tampan itu yang semakin menjauh darinya.
"Silahkan Nona teh jahe nya," Bi Ane meletakkan cangkir teh ke atas meja hadapan Misa. Dan berdiri di samping kursi. "Bagaimana keadaan Nona?" tanyanya menatap cemas.
Misa menoleh dan tersenyum. "Saya baik-baik saja bi." Kemudian ia menangkup cangkir teh untuk di sesap airnya, dan pada saat meminum teh pandangan Misa menunduk hingga turun ke bagian bawah kaki bi Ane yang kebetulan wanita itu menggunakan rok di bawah lutut.
Mata Misa langsung melebar terkejut mendapati memar kebiruan di kaki bi Ane. Dan...
Brak.
Dengan Refleks dia meletakkan cangkir cukup kasar, lalu langsung bangkit dari duduknya berjongkok untuk melihat memar itu lebih dekat.
"Nona!" Dan hal itu membuat bi Ane terlonjak kaget hendak menjauhkan diri nya dari Misa, saat jemari tangan Misa hendak menyentuh kaki nya. "Nona jangan, Jangan seperti ini." Panik bi Ane.
Sret.
Dengan gerakan cepat Misa memegang kaki bi Ane hingga tetap berdiri di tempatnya. "Apa yang terjadi bi? Kenapa bisa memar seperti ini? Sepertinya bekas memar baru, kenapa tidak di obati bi?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulutnya tanpa memperdulikan sekitar, ia sibuk memidai memar di kaki bi Ane yang cukup besar yang tampak mulai menghitam.
"Nona jangan seperti ini, tolonglah duduk kembali, tuan bisa melihatnya. Saya mohon Nona duduklah kembali. Jangan sampai tuan melihatnya." Melas bi Ane ikut membungkukkan badan hendak berjongkok namun sulit karena kakinya di pegang kuat oleh Misa.
Apakah ini perbuatan si singa? Tapi dia seharian di kamar bersama ku, atau ini perbuatan sekertaris dingin itu. Tapi kenapa dia berbuat seperti ini pada bi Ane yang usia nya lebih tua darinya?
Misa bangkit dari duduk jongkoknya. "Bi duduk lah." Menghela bi Ane ke kursi kosong bekasnya tadi duduk.
"Tapi Nona-"
"Ah, jangan Nona. Ba-baiklah sa-saya akan duduk." Bi Ane menurut dengan sikap canggung duduk di kursi.
Misa melirik pada pelayan wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Pelayan." panggilnya.
Pelayan wanita itu menghampiri Misa dengan kepala tertunduk hormat. "Ada yang bisa saya bantu Nona?"
"Saya minta krim obat memar dan es batu segera," pinta Misa.
"Baik Nona," ucap pelayan wanita tersebut lalu pergi.
Tidak lama kemudian pelayan wanita itu kembali menghadap dengan membawa nampan berisi seperti yang di minta Misa.
"Ini Nona obatnya." Menyodorkan nampan.
Misa menerima nampan itu, di atas nampan terdapat mangkuk kaca yang berisi 1 kantung Ice Bag dan 1 botol kecil krim obat buat memar.
"Pegang ini bi." Misa memberikan krim memar ke bi Ane, lalu tiba-tiba...
Sret.
Dia kembali berjongkok, terduduk bersimpuh di bawah kursi yang bi Ane duduki. Kemudian ia mulai menempelkan ice bag itu ke bagian memar.
__ADS_1
Sontak mata bi Ane terbelalak kaget dengan apa yang di lakukan Misa. "Nona! Nona saya mohon jangan seperti ini, nanti tuan akan melihat nya." Dengan suara bergetar takut.
Singa...singa dan si singa lagi. Cengkraman tangan Misa meremet kuat pada ice bag, gigi nya mengkerat geram.
"Memang kenapa kalau dia melihat nya!" Teriak Misa yang sudah di penuhi kekesalan dengan penuturan bi Ane yang terus menerus mengatakan seperti itu.
"Romisa." Panggil Arga dari belakang yang sedang berjalan ke arahnya.
"Eh," terlonjak Misa seketika membatu di tempat sampai pegangan di ice bag melemah hingga ice bag itu jatuh di bawah kakinya.
Arga menarik sebelah lengan gadis cantik yang terduduk jongkok, untuk membangunkannya kemudian ia menghela tubuh Misa yang masih kaku membeku untuk di dudukkannya ke kursi.
"Sudah ku bilang, tunggulah, mengapa kau melakukan ini hah," ucapnya kesal, sambil melirik tajam ke arah bi Ane yang sudah berdiri kembali di samping keduanya.
Misa masih menunduk takut. "Maaf...," celetuknya terjeda sejenak, ia mendesah berat. "Maafkan aku suamiku. Tapi... tapi aku tidak tega melihat orang lain terluka, siapa yang memukul nya? Kenapa dia mendapat pukulan itu? Aku tidak tega melihat nya," ucap Misa pelan menahan tangisnya.
Arga mengusap lembut puncuk kepala Misa.
"Tang." tegas Arga pada Sekertaris Tang yang kebetulan berdiri di belakangnya.
"Iya Tuan." Tang maju satu langkah dengan kepala sedikit tertunduk.
"Kau sudah lihat. Jangan seperti itu lagi," ucapnya dingin. Kemudian Arga memegang sebelah lengan Misa. "Dan bi Ane, obati luka mu. Setelahnya siapkan makan siang."
"Baik tuan Arga."
Arga menuntun gadis cantik itu agar berjalan ke arah pintu keluar ruang makan. "Kembali ke kamar."
Misa menghentikan pergerakannya ketika akan melewati Sekertaris Tang.
"Sekertaris Tang" panggil Misa mengangkat wajahnya menatap.
Tang tak menjawab hanya menatap diam.
"Dimana cesa? Aku tidak melihatnya."
Namun Sekertaris Tang masih diam tak membuka bibir untuk menjawab pertanyaan itu, hanya menatap tak terbaca.
Arga menatap tajam ke arah Tang agar pria itu bersuara.
Mengerti tatapan tajam dari Arga. "Cesa sudah pulang Nona. Jadi sebaiknya Nona cepatlah kembali istirahat dan semoga lekas sembuh," tutur Tang dengan wajah datar dan nada dingin.
Misa menghela napas pelan. "Padahal aku sangat khawatir memikirkannya," gumamnya lalu ia berbalik melangkahkan kaki.
Arga yang masih memegang lengan menggiring Misa, mendengar gumaman tersebut ia menatap tidak suka ke arah gadis cantik di sampingnya.
Dia masih memikirkan orang lain, padahal dirinya juga terluka.
__ADS_1
BERSAMBUNG...