Romisa Kehidupan

Romisa Kehidupan
68


__ADS_3

"Emmh." Misa menggeliatkan tubuh ke kiri dan ke kanan, lalu perlahan ia mengerjapkan mata disertai menguceknya.


Ketika mata nya terbuka lebar menatap dengan jelas, Misa melihat sekitar. "Ah, ternyata aku ketiduran," gumamnya pelan.


Kemudian ia melirik tubuh yang memakai selimut. Pasti Cesa yang pakaikan...


"Sudah bangun Bu Misa." Suara pria yang terdengar berada di kursi belakang.


"Eh!" Misa terperanjat kaget, lalu ia menoleh ke kursi belakang.


"Egi! Ke-kenapa kamu bisa ada di sini? Dan-dan kemana Cesa?" tergagap Misa heran.


Egi melirikkan kedua mata nya ke arah luar jendela yang mendapati Cesa sedang berdiri di samping mobil.


Misa mengikuti arah pandang mata Egi dan kebetulan jendela mobil di sampingnya terbuka lebar.


"Syukurlah dia ada di sekitar sini." Menghela napas lega.


Cesa yang mendengar ada suara Misa dari dalam mobil. Dia menundukkan pandangan nya untuk lebih jelas melihat ke dalam mobil.


"Nona sudah bangun? Maafkan saya Nona, saya tidak membangunkan Nona karena saya tidak tega melihat Nona yang begitu lelap tertidur."


"Tidak apa Cesa." Balas Misa tersenyum dengan anggukkan kecil.


Dan tiba-tiba...


Bruum... Bruum...


Suara deru mesin mobil berhenti tepat di samping mobil hitam Misa.

__ADS_1


Sontak Misa melihat ke arah luar jendela sebelah lainnya lagi. "Siapa itu?" Celetunya lemah.


Terlihat sebuah mobil warna merah menyala terparkir, dari dalam mobil itu keluarlah seorang wanita berpakaian modis serba ungu menenteng tas tangan di sebelah lengannya. Dia berjalan dengan lenggak-lenggok ke arah Cesa.


Dia kan, Bibi Lara!.... Misa keluar dari mobil di susul oleh Egi yang ikut keluar dari dalam mobil.


"Wah.. wah... wah.. hebat yaah, kamu, kamu atau si kecil jelek." Menunjuk-nunjuk Misa dengan telunjuknya. "Selain kampungan, ternyata murahan juga. Sedang melakukan apa wanita udik di dalam mobil bersama adik suami mu ini hah." Ucap wanita paruh baya yang terlihat sombong itu.


Oh Tuhaan. Baru bangun tidur sudah di hadapkan dengan si Nenek Lampir.


Hah... Misa menghela napas pelan berusaha bersikap tenang, lalu ia menatap dengan tatapan tenang ke arah nya.


"Bibi, apa kabar? Lama tidak berjumpa. Bibi tidak terkena stroke atau asam urat kan? Karena sudah lama terakhir kali Bibi kesini itu beberapa bulan yang lalu." Ujar Misa ramah di akhiri senyuman manis yang palsu.


Kedua mata Bibi Lara melotot tak suka. "Kau menyumpahi ku atau mendoakan ku terkena penyakit! Mana ada orang menanyakan kabar seperti itu!" Sewotnya sinis.


Misa masih tersenyum manis nan palsu. "Saya tidak menyumpahi Bibi, hanya mendoakan agar sehat."


Humph... Bibi Lara mendengus kesal. Kemudian menatap Misa dengan jijik tak suka.


"Aku kemari ingin melihat keadaan rumah putra, selama di tinggali putra apakah keponakan-keponakan Bibi masih hidup dan sehat di tinggal dengan wanita ular seperti nya." Sindirnya menatap sinis dengan lirikkan menunjuk Misa jijik.


Egi tampak geram dengan sikap dan omongannya itu, ia menatap tajam tak terima.


"Bibi sudah lihat kan? Kami tampak bahagia bahkan sangat bahagia. Jadi kami tidak butuh perhatian dari mu." Ucap Egi tegas.


Dengan gerakan tangan mempersilahkan ke arah pintu. "Bibi, mau ke dalam untuk minum-minum dulu?" tanya Misa sopan.


Bibi Lara mengibaskan sebelah tangan dengan angkuh. "Cih! Jangan sok polos kau wanita murahan. Jika Arga atau Putra tau tadi kalian keluar dalam satu mobil dan ada selimut. Sudah pasti kau akan di ceraikan nya detik ini juga." Sarkase Lara dengan nada jijik.

__ADS_1


Misa masih menatap tenang, padahal tangannya telah terkepal kuat karena emosi. "Silahkan Bibi, dan kita lihat saja apakah suami saya akan lebih mempercayai Bibi atau saya? Saya akan menunggu pendapatnya setelah mengetahuinya dari Bibi."


"Percaya diri sekali kau wanita ******. Huh.. lihat saja kau!" Sinis Bibi Lara lalu melirik Egi dengan tatapan kesal.


Dia beralih memiringkan kepala sedikit menengok ke arah belakang. "Pak sopir! Kau sudah ambil gambar nya kan? Ketika wanita ****** ini dan Egi keluar mobil bersama," tanyanya pada supir yang berdiri di belakang.


"Sudah Nyonya."


"Bagus." Tersenyum puas Lara.


Kemudian ia kembali menatap gadis cantik di hadapannya. "Tunggu saja wanita murahan, kehancuran mu. Dan kau Egi. Jaga diri dan otak mu jangan sampai kau mau di cemari wanita ****** ini." Ancam Bi Lara lalu berbalik badan dengan gaya angkuh nan sombong.


Wanita paruh baya itu melangkah ke arah mobilnya, ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi sejenak Lara memberikan tatapan sinis dan seringaian di bibir pada Misa sebelum pintu mobil tertutup rapat.


Hingga mobil merah menyala itu perlahan melaju meninggalkan pelataran rumah.


Hah... Misa menghembuskan napas panjang, seiring kepalan tangannya memudar. Semoga saja si singa tidak kemakan fitnah dari si Nenek Lampir itu. Dan kenapa juga si Egi bisa berada satu mobil dengan ku?


Lagi-lagi Misa menghela napas panjang berbalik yang langsung di hadapkan dengan Cesa.


"Nona, tidak apa-apa?" Cemas Cesa yang sedari tadi jadi pengamat akhirnya bersuara.


Misa menggeleng pelan, lalu ia melirik Egi yang sama-sama pria itu tengah menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Egi maafkan saya. Kamu jadi terlibat dalam masalah gara-gara saya," Ucap Misa tertunduk.


Kemudian gadis itu pergi meninggalkan Egi tanpa mau mendengar respon darinya.


Pria tampan itu menatap kepergian Misa yang di buntuti Cesa dari belakang.

__ADS_1


Misaa jika masalah ini bisa membuat mu terpisah dari Kakak mungkin aku akan bahagia. Namun, aku tidak akan membiarkannya karena fitnah ini akan mencoreng nama baik mu. Yang jelas-jelas kamu adalah wanita yang sangat baik.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2