Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Jejak takdir


__ADS_3

Kesuksesan seorang Gibran menarik perhatian para wartawan setelah tampil di malam penghargaan itu, membuat dirinya menjadi bulan-bulanan para pencari berita. Kehidupan pria itu mulai di kulik, di cari tahu hingga sampai ke kehidupan masa kecilnya. Ckckckc! sungguh dunia keartisan itu membuat Gibran seolah kehilangan kebebasannya. Juga status sebagai putra seorang pengusaha kaya raya, menjadikannya dirinya di gadang-gadang akan menggantikan posisi sang ayah kelak, dalam sekejap dirinya menjadi incaran para wanita, juga para agensi di dalam dunia hiburan.


Jika Gibran tengah menjadi ulat bulu yang sedang naik daun, ada seorang Tian yang telah terjungkal ke dasar keterpurukan, kehilangan semua hasil kerja kerasnya selama ini. Pria itu jatuh miskin, dan dengan terpaksa kembali ke panti asuhan tempat dia berasal. Beruntung seorang pengasuh senior masih bersedia menerima kehadirannya di tempat itu, kebesaran dan kelembutan hati wanita bernama Maria itu sungguh membuat Tian sangat terharu. Pada sisa-sisa harapan terakhirnya untuk bertahan hidup, tempat yang sempat di rutukinya itu justru menerima kehadirannya, seorang pria dewasa yang tak pernah sekalipun menyumbangkan sedikit hartanya di saat dirinya masih kaya raya.


Bagaimana dengan Tiara? wanita itu tak pernah mengangkat teleponnya lagi, selalu saja berkata sedang sibuk dan memintanya untuk berhenti menghubunginya. Sakit?? jelas saja hati seorang Tian terasa sakit, andai saja dirinya patuh akan nasehat Abian , untuk tak lagi berhubungan dengan Tiara....ah! begitulah penyesalan, dia akan selalu datang di penghujung sesal saja.


Pagi itu, usai menikmati sarapan bersama penghuni panti asuhan, Tian menikmati udara pagi nan sejuk di taman bermain. Duduk di ayunan sembari menyaksikan para anak-anak bermain di tengah halaman, Tian teringat dirinya sendiri di masa lampau.


Hampir berwisata pada masa lalu, sang jantung di dalam sana mendadak berdebar hebat. Bagaimana tidak, sosok pria yang baru saja dia pikirkan kini tengah berjalan menghampiri dirinya.


"Abian," lirihnya.


Sebuah map yang semula berada di tangan Abian, kini tengah menunggu sambutan dari seorang Bastian. Pria itu nampak begitu sulit menelan air ludah, kerongkongannya terasa tercekat.


"Cepat tanda tangani berkas di dalam sini?," alih-alih menyeretnya, dan menjebloskan dirinya ke dalam penjara, Abian hanya meminta sebuah tanda tangan untuk di bubuhkan pada berkas itu.


"Berkas apa ini, bang?," tanya nya menerima map itu dan segera membukanya.


Bagaikan petir di siang bolong, kedua bola mata Tian membulat bak bola ping-pong.


"Bang! penjarakan saja aku, aku tidak akan mampu menceraikan Ane," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kau sudah tak lagi berada di atas panggung sandiwara, sudahi lakon burukmu Tian. Ane bukanlah wanita yang kau cintai, lepaskan saja dia maka aku akan melelaskanmu."


Tian menatap manik coklat Abian, mencoba menyelami segala isi dalam pikiran lawan bicaranya"Bang, aku sangat mencintai Ane, sumpah mati bang!."


Abian mengibaskan tangannya"Wushh!! jangan bersumpah, sumpahmu sudah basi Tian, aku sudah memberimu kesempatan untuk berubah, juga Ane. Tapi apa yang kami dapatkan? kau justru menusuk kami dari belakang, ah! seharusnya aku menyadari semuanya dari awal, jika Tuhanmu saja mampu kau tinggalkan, bagaimana dengan Ane? kau tidak akan mendapat kebahagiaan hanya dengan cinta!!!."


Kedua bola mata Tian berlarian, pria itu sangat terpojok. Ya! dirinya memang telah berani meninggalkan Tuhannya, dan datang kepada Ane dengan iman berlandaskan cinta. Tapi benar apa yang di katakan Abian, dirinya tak benar-benar tulus memeluk keimanan yang sama dengan Ane, dirinya hanya menginginkan harta, sekaligus Ane sebagai wanita yang dia cinta.


Memandangi Tian lekat-lekat, Abian kemudian menyapukan pandangan pada suasana sekitar, nampak kehidupan di panti asuhan itu sangat damai, raut wajah para penghuni menyiratkan ketenangan hati dan jiwa. Lantas, Abian kembali berkata kepada Tian"Aku akan menjadi donatur tetap di panti asuhan ini, asal kau bersedia membubuhkan tanda tangan pada berkas itu."


"Tidak bang, bagaimana kau bisa memisahkan aku dan Ane!!!."

__ADS_1


"Cukup! aku muak dengan topeng kepalsuan itu. Atau, aku akan benar-benar menjebloskanmu ke dalam penjara, dengan semua kejahatan yang telah kau lakukan selama ini."


Tian nampak resah, dia pikir Abian hanya akan melaporkan dirinya atas tuduhan kelalaian dalam bekerja. Dia hampir melupakan semua kecurangan dan kelicikan yang telah dia lakukan selama bekerja di perusahaan Ahmad. Pria itu nampak menggigit tepian bibir, udara sejuk bahkan tak kuasa menghapus keringat yang mulai mengucur dari pelipisnya.


"Pikirkan matang-matang, hidup damai di sini, atau hidup tersiksa di penjara," ujar Abian dengan tawa yang begitu hangat. Jika di lihat dari kejauhan, interaksi Abian dan Tian nampak seperti sorang saudara saling sayang yang sedang melepas rindu, sebab Abian terlihat begitu tenang dan selalu tersenyum hangat.


"Lekas, aku masih ada pekerjaan yang penting," Abian mulai mendesak Tian.


"Aku akan menjadi donatur di sini, aku tidak main-main dengan janji itu," ujarnya membalas tatapan Bastian.


Perih, hatinya terasa sangat perih. Sejatinya cintanya kepada Ane bukanlah sebuah sandiwara, wanita itu benar-benar bertengger di dalam hatinya. Apalagi di saat-saat terakhir kebersamaan mereka, Ane begitu baik dan sangat memuaskan hasrat lelakinya.


Namun, apa hendak di kata, wanita itu telah membubuhkan tanda tangannya di atas selembar kertas itu, membuat hati kecil Tian tercabik-cabik.


"Ane, kau benar-benar tidak membutuhkan ku lagi," lirihnya begitu pilu sembari menanda tangani surat perceraian itu.


Selamat! kelegaan sungguh tersirat di wajah Abian. Dirinya berhasil mengabulkan keinginan adik iparnya untuk segera mengakhiri pernikahannya dengan lelaki tidak tahu diri ini.


Dengan senyum mengembang sempurna, Abian meninggalkan panti asuhan itu, segera.


...🐝🐝🐝🐝...


Rasa tahu diri itu menuntun Zafirah untuk meminta pembatalan rencana pernikahan dirinya dan Arkan. Begitu pahit dan berliku jalan percintaannya, begitu curam jurang yang harus dia lalui, sungguh Zafirah kembali menyerah dengan urusan yang satu ini.


Kiyai Bahi menarik dan membuang napas, terdengar sangat berat"Apakah memang harus dengan putra mu, Dawud," mengusap wajah tuanya yang lelah, dirinya teringat dengan gurauan tempo dahulu bersama saudara seimannya.


#Flashback#


Sore hari di bawah pohon nan rindang, dua saudara yang baru beberapa hari seiman itu sedang menikmati semangkok bakso.


"Saudaraku, sejatinya kau seorang santri, seharusnya aku yang sudah berkerja inilah yang mentraktir dirimu," ujar pria bernama Dawud.


"Jangan berkata seperti itu, hari ini aku menerima kiriman lebih dari ayahku, sesekali mentraktir dirimu bukan perkara sulit, bukan?," sahut pria bernama Bahi, seorang santri yang sedang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren ternama di kota itu.

__ADS_1


Tepian bibir pria bernama Dawud itu melengkung naik"Sesekali? ayolah kawan, bukan hanya sesekali. Kau selalu mentraktir ku jika bertemu, dan kau akan membungkus dua porsi lagi untuk ku berikan kepada istri dan anak ku di rumah."


"Kau sangat murah hati," lanjut Dawud lagi.


Mendengar hal itu, Bahi tersenyum kecil. Senyumnya semakin lebar saat paman bakso menyerahkan dua porsi bakso kepada Dawud, hal yang selalu dia lakukan saat mengajak sahabatnya itu untuk makan.


"Ya Allah, lihatlah, kau begitu baik. Kau sangat mengerti dengan keadaan keluargaku yang serba kekurangan, bahkan tak jarang kelaparan. Aku tidak tahu harus dengan apa membalas kebaikan mu ini, saudaraku Bahi," sepasang manik sendu Dawud meredup. Pada gurat wajah nan lelah itu tersimpan beban yang begitu berat. Dirinya hanya seorang penjahit keliling. Bermodal motor butut dan mesin jahit yang telah tua, meski telah banyak menempuh jarak dan waktu, tak jarang dirinya pulang tanpa membawa apa-apa.


"Bukankah kau punya Abdullah, dia seorang anak yang baik. Cukup doakan diriku kelak memiliki putra yang baik dan patuh seperti putramu."


Seketika Dawud berseru"Bahi, apa kau akan segera menikah?."


Bahi terkekeh, jawaban saudaranya sungguh lucu. Dirinya memang akan segera menikah, dan Dawud lah orang pertama di antara teman-teman yang lebih dahulu mengetahui hal ini.


"Kau tersenyum, jadi benar kau akan menikah?."


"Insa Allah," ujar Bahi tersenyum simpul.


"Alhamdulillah," Dawud terlihat begitu berbahagia.


"Kelak, jika kau memiliki seorang putra, ingatlah satu hal ini, putraku akan selalu menjadi pelindung nya."


"Tidak, mereka akan saling menjaga," ujar Bahi menyela.


"Tidak! aku akan mengajarkan kepada putraku untuk selalu menjaga putramu," sambar Dawud lagi.


"Bagaimana jika anak ku seorang perempuan?."


"Maka putraku harus menjaganya dengan sangat hati-hati, sebab dia adalah mutiara hatimu."


Dua saudara seiman itu tersenyum, seiring waktu mereka terus berandai-andai tentang putra atau putri seorang Bahi kelak.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2