
...*Apa kau sedih??...
...Tidak!...
...Apa kau kecewa??...
...Tidak!...
...Lantas, mengapa kau diam??...
...Aku hanya sedang bertahan dalam kehancuran*...
...π₯π₯π₯π₯...
"Aku tidak menyangka, tindakan itu berimbas hilangnya kak Jena", sepasang mata boba tengah beradu pandang, sepasang mata sendu seketika berpaling saat sang lawan bicara berucap dengan nada melemah.
"Aku sudah berpesan agar dia memberikan kabar", lanjut Gibran. Berhadapan dengan Agam, membuat Gibran tersudut dan sangat merasa bersalah. Sejatinya, Gibran adalah adik kandung Jena, orang yang paling berhak marah jika hal buruk terjadi pada sang kaka. Namun, mengetahui betapa besar kasih dan sayang Agam terhadap Jena, nyali kokoh yang di miliki Gibran seketika menciut, meski petakilan, dia sungguh percaya akan adanya kekuatan cinta.
Sosok berkaca mata itu hanya diam, memandang lautan yang berderu dengan keresahan.
Menyentuh pundak sahabatnya"Gam, kak Jena pasti akan memberi kabar, aku juga risau, bahkan sangat risau."
"Sudah hampir seminggu", lirih Agam.
Bukan hanya Agam, Arkan yang telah tahu awal mula perginya Jena, melimpahkan kekesalan hati juga kepada Gibran.
"Aku curiga, kau sebenarnya bersekongkol dengan ibu. Mengingat ambisi ibu, jangan-jangan Jena kalian nikahkan secara paksa di tempat lain."
Ucapan Arkan sungguh menusuk di hati Gibran, namun apalah daya, kehilangan kontak dengan sang kakak membuat dirinya terlihat sebagai pelaku pengusiran Jena. Bahkan Arkan menuduh kehilangan kontak hanyalah sebuah alasan, keterpojokan semakin menjadi saat Abian menginterogasi anak bungsunya.
"Jika benar kau menolongnya, sekarang Jena ada di mana?."
Lemah tak berdaya, Gibran hanya mampu menggelengkan kepala.
"Kau......", perkataan Abian tercekat. Nampak jelas pria paruh baya itu menahan amarah, baru sejenak menyadari kasih sayang terhadap putrinya, sang putra bungsu justru membangun jarak di antara mereka, bahkan membuat putrinya menghilang entah kemana.
Sedang meratapi nasib, Gibran merasa malu untuk bertemu Agam. Membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah pantai ketimbang ke konter ponsel.
"Ku pikir, ini bukan salah Gibran. Kau tahu bukan, Gibran benar-benar menyayangi Jena."
__ADS_1
Agam hanya diam.
"Apa kau marah?", tanya Angga.
"Ya."
"Terhadap Gibran?", tanya Angga lagi.
"Tidak!."
"Lantas, kenapa kau tidak menghubunginya? setidaknya kau bisa mengajaknya datang ke sini bukan."
Agam menyahut dengan malas"Kau saja."
"Akan lebih baik jika kau yang menghubunginya, Gibran sedang menghukum dirinya dengan menyendiri di pantai. Kau tidak khawatir dia akan ikut menghilang seperti kak Jena?."
Agam menghela napas, beban di dada sungguh terasa berat. Kejadian ini memang bukan salah Gibran, seperi kata ali bin Abi Thalib apa yang menjadi takdirmu akan mencari jalan untuk menemuimu. Hanya saja, ikhlas itu sungguhlah berat. Belum juga mendapatkan Jena, kini dirinya harus menelan pil pahit kehilangan wanita itu pula. Amarah itu jelas ada, bukan pada Gibran, Agam lebih gusar pada dirinya sendiri.
"Seharusnya aku datang menemuimu saat kau abaikan pesan ku", gumam batin Agam, sungguh sesal itu sangat menyesakan dada.
Meraih jaket dan segera mengenakannya, Angga mengira Agam akan segera menemui Gibran di rumah pantai"Ajak dia kemari, aku yakin dia pasti sangat kesepian."
"Kau akan mengunjungi Gibran bukan??."
Dua alis Agam di buat beradu"Tidak, aku akan mengantar bunda ke pengajian."
Angga mengusap wajah, tidak menyangka sikap keras kepala juga ada pada diri Agam yang terkenal lembut.
Di belahan bumi yang lain.
Genangan air masih bertahan, tidak turun juga tidak naik. Rumah-rumah warga yang tergenang banjir masih belum bisa di huni kembali, tenda posko yang di huni Jena dan kawan kawan berada di antara tenda-tenda pengungsian korban banjir.
Duduk pada sebatang pohon tumbang di tepi sungai, Jena menatap langit yang sebentar lagi berubah jingga. Sepasang mata coklatnya menelisik dengan pikiran menerawang, hendak kemana jika bencana ini telah usai. Kembali ke rumah pantai? ah!!! cepat-cepat pikiran itu di tepis sejauh mungkin.
"Naira!!!", seru Syabila sembari melambaikan tangan dari kejauhan. Berlarian kecil, dalam sekejap Syabila telah berada di dekat Jena.
Membalas lambaian itu, Jena menyungngingkan senyum, senyum yang bahkan sangat jarang terukir ketika hidup berdekatan dengan keluarga.
"Apa yang kau lakukan??, hari sudah petang. Tidak baik jika melamun, kau bisa ketempelan!," cerocos Syabila dengan napas beradu.
__ADS_1
"Aku tidak sedang melamun",elak Jena.
Syabila membulatkan mata"Benarkah! tapi kau baru menoleh padaku di panggilan ketiga."
"Aku hanya sedang mengujimu", kembali, Jena berkilah.
"Menguji bagaimana?", dengan polosnya Syabila bertanya. Gadis dengan kerudung besar itu ikut duduk bersama Jena di sebatang pohon tumbang. Membuat goyah tempat mereka bertengger dan....
"Bruk!!!____Byurrrrr!!!!".
"Kyaaaa, Nairaaa!!!."
"Billlllaaa."
Dua wanita itu terjatuh kedalam air. Sontak para pengungsi yang melihat kejadian itu membantu. Beberapa berteriak meminta pertolongan.
Yasir dengan sigap segera meloncat ke dalam sungai, di susul dua orang pengungsi lainnya.
Terbatuk-batuk Jena yang telah terminum air sungai yang meluap merasa mual. Syabila berada tak jauh darinya, memegang batang pohon yang mengambang sembari berteriak, suara gadis itu menggelegar di ujung senja, sungguh tidak di sangka Syabila yang kecil mampu mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.
"Bertahanlah Naira", teriak Zafirah di tepi sungai.
Dengan kemampuan berenangnya, Jena sangat beruntung sebab sungai itu sedang tidak berarus deras.
...πΈπΈπΈπΈ...
Resah dan gundah juga tengah singgah pada hati seorang Rio, kehilangan Jena membuat pikirannya buntu. Kinerja pria itu seketika menurun, naskah yang seharusnya di serahkan beberapa hari yang lalu tak kunjung usai. Rekan editor mulai menodongnya untuk segera menyerahkan naskah, namun pria itu sungguh kehilangan ide untuk melanjutkan pekerjaannya.
Merebahkan diri di singgasana ternyaman, Rio kembali menekan nomor ponsel wanita yang teramat berarti dalam hidupnya. Lagi, pria itu menelan kekecewaan, kabar tentang Jena tak kunjung dia dapatkan.
"Jena, kau di mana???", ucapnya lirih memandang kosong pada langit-langit kamar.
Sejenak terdiam, Rio kembali menekan nomor itu meski kecil harapan"Ya Tuhan! di mana Jenaku???!", pekiknya membenamkan diri di sebalik bantal.
Rio mengubah posisi, pria itu tengkurap sembali memeluk bantal dan memainkan ponselnya. Berselancar jari pada laman youtube, manik mata pria itu memicing, trending topik berita bencana alam menampilkan kilas video Zafirah dan kawan-kawan yang sedang membagikan sembako. Nampak sosok yang mirip Jena juga ikut membagikan sembako bersama para relawan, hanya saja....
"Apa itu Jena???", tanya Rio pada dirinya sendiri. Pria itu bahkan menonton video itu hingga selesai, sayang rekaman pada video yang menyoroti wanita mirip Jena hanya beberapa detik saja dan posisinya kurang jelas.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€