
Keinginan untuk membulai bisnis baru bukan sekedar isapan jempol belaka, dalam waktu singkat Agam dan Gibran telah merampungkan segala persiapan pembukaan Cafe dan toko buku mereka. Setelah melalui hari-hari yang sibuk, mulai dari perencanaan, pembangunan toko buku, pembangunan Cafe, dan segala kebutuhan yang harus mereka penuhi, akhirnya apa yang mereka rencanakan terlaksana jua.
Siang itu, Jena hampir menyelesaikan aktivitas di toko buku. Kediaman yang cukup besar itu di sulap menjadi tempat bisnis yang sangat nyaman, dan sangat menarik pastinya.
"Silahkan di nikmati mbak istri tersayang," Agam menghidangkan potato wedges di meja kerja Jena.
Dirinya bukan belum makan siang, namun aroma dari hidangan yang di buat Agam membuat liurnya hampir menetes. Menepuk-nepuk kedua tangan, Jena hendak menyambar potongan kentang yang di panggang dalam keadaan berbumbu itu.
"Heit!!! cuci tangan dulu, sayang," beruntunglah, Jena yang serampangan memiliki suami super perhatian seperti Agam. Teguran pria itu membuat Jena cekikikan.
"Sudah! kau lihat tanganku sudah bersih, bukan!?," usai mencuci tangan, Jena mengusap tangan basahnya pada pakaian yang dia kenakan. Masih nampak lembab, dengan percaya diri Jena memamerkan hal itu kepada Agam.
Agam menggeleng pelan"Tunggu, jangan di makan dulu," ujarnya sembari melangkah ke dapur. Mengambil kain lap bersih dan mengeringkan tangan istrinya.
Hal itu membuat Jena tersenyum simpul. Betapa manisnya perlakuan Agam kepadanya. Jika terus begini, Jena akan semakin jatuh hati pada pria mudanya ini.
"Mas Agam, jangan terlalu baik padaku."
Ucapan Jena membuat kerutan di kening Agam"Kenapa? kau istriku, mengapa aku tidak boleh bersikap baik terhadapmu?."
"Aku takut menjadi serakah, hingga mengharapkan kau menyuapi kentang itu ke dalam mulutku."
Astaga! Agam sempat resah mendengar perkataan istrinya. Mengingat Jena yang dulu dingin kepadanya, Agam sempat merasa takut mendapat penolakan kembali dari wanita di hadapannya ini.
Menarik lembut tubuh istrinya, duduk bersama di sofa, kini Agam telah berhadapan dengan wanitanya"Kau, jangan membuatku resah. Katakan saja kau ingin aku suapi. Aku sempat takut kau akan menolak diriku lagi, sayang."
Jena tersenyum kecil, mengusap punggung tangan Agam yang mendarat di pipinya"Tau kah kau, aku menyesal sempat menolak mu."
Seketika, sepasang lesung pipi di wajahnya kembali tercetak"Benarkah!!, kau tidak sedang menggodaku, bukan?."
"Untuk apa menggodamu, kau begitu baik, begitu pintar memasak. Sekarang, lekas suapi aku. Aroma kentang ini sungguh menggiurkan," kedua manilk coklat Jena berbinar menatap hidangan yang masih hangat.
Segera, pria itu menyuapi sang istri perlahan"Bagaimana?," Agam ketar-ketir menunggu penilaian Jena tentang hidangannya.
Dua jempol terangkat naik, dengan senyum kepuasan Jena menyodorkan dua jempol itu ke hadapan Agam"Enak! sangat enak."
__ADS_1
"Syukurlah," ujar Agam begitu lega.
"Jadi, apa kau yang akan memasak di Cafe nanti? aku sedikit tidak rela jika masakanmu di nikmati orang lain."
Wajah cemberut Jena membuat Agam senang, wanitanya ini terlihat menggemaskan saat menekuk wajah"Tentu saja tidak. Aku hanya mendedikasikan masakanku untuk mu, sayang."
Aha! Jena ceria kembali"Jika bukan kau, apakah si tengil Gibran? aku tahu dia menyebalkan, tapi masakannya cukup enak."
"Hehehe, aku tidak yakin dia akan memasak dengan baik, apalagi jika ada wanita cantik yang sedang menarik perhatiannya," tutur Agam membuat Jena mengangguk, membenarkan ucapan suaminya.
"Kami sudah sepakat untuk mempekerjakan seorang kenalan dari kota."
Hal itu memang belum di sampaikan Gibran atau pun Agam kepada Jena"Siapa?."
"Namanya Ben, mantan koki handal di restoran besar."
"Waw, jika dia koki yang handal, apakah bayaran nya akan mahal?."
"Dan apakah dia meningalkan pekerjaan di restoran itu demi bekerja di Cafe kita?.", sambung Jena lagi.
Agam kembali menyuapi Jena"Tidak, upahnya standar saja. Dan dia sudah lama berhenti di restoran itu sebelumnya."
"Bukankah tempo hari kau cemburu pada editor ku."
"Aku akan selalu mengawasi kalian."
Jena terperanjat, begitu ketat penjagaan Agam terhadapanya, bahkan terhadap temannya sendiri. Ekspresi Jena membuat Agam terkekeh geli, dia tahu apa yang sedang di pikirkan wanita itu.
"Hahaha, apa kau takut? aku hanya bergurau sayang. Ben seorang duda yang sudah memiliki putra. Putra kecil berusia sekitar 6 tahunan. Dia di khianati sang istri yang memilih bos nya yang kaya raya. Wanita itu bahkan sempat merawat putranya, namun suaminya yang kaya raya itu menolak kehadiran sang putra. Padahal, bocah itu lahir dalam keluarga barunya, dengan ayah barunya, namun kemiripan wajahnya dengan Ben membuatnya di tendang dari kediaman kedua orang tuanya."
"Astaghfirullah," Jena menutup mulutnya, sangat terkejut.
"Sejak bayi sudah di usir??."
Agam kembali menggelengkan kepala"Tidak, saat dirinya hendak masuk taman kanak-kanak. Sebab itulah Ben memilih berhenti dari pekerjaannya, jika harus meninggalkan anaknya seorang diri di rumah...Ben tidak sanggup."
__ADS_1
"Kasihan sekali, siapa nama anak itu."
"Enda, seorang bocah laki-laki yang tampan dan menggemaskan," muncul tiba-tiba, Gibran membuat Jena berjengkit.
"Ash!! apa kau hantu? kau seperti melayang sampai ke tempat ini, tanpa suara langkah laki."
"Jangan mengomel, kau akan membuat bocah itu takut."
Muncul seorang bocah laki-laki yang tampan dari arah Cafe. Seketika Jena tersenyum senang berjumpa dengan si tampan Enda.
"Hai....," hanya itu kata-kata yang mampu Jena ucapkan. Enda benar-benar tampan di mata Jena. Dan, bagaimana bisa anak selucu dan setampan Enda di usir dari kediaman ibu dan ayah sambungannya? dia bahkan terlihat sopan.
"Assalamualaikum, tante," ujarnya dengan suara khas anak kecil, sedikit cadel.
Seperti tersihir, Jena mendekati Enda. Dan bocah itu meraih jemari Jena untuk dia cium khidmat.
"Waalaikumsalam," lirih Jena haru. Dirinya yang selalu di katakan mandul, merasa sakit hati saat seorang anak semanis Enda mendapat penolakan dari ibu nya, demi suami kaya rayanya. Wajah polos Enda sungguh membuat hatinya teriris-iris. Bocah itu seperti malaikat kecil, begitu manis dan baik, seandainya Jena memiliki anak sebaik Enda..... begitulah suara hati Jena saat itu.
Tepian manik coklat Jena mulai berair, wanita itu sangat terharu.
"Ya! kenapa menangis!," Gibran yang lebih dulu mendapati Jena menangis.
Agam menoleh wajah istrinya yang memang sedang menangis"Sayang! kau kenapa?."
Jena semakin terisak, tangisnya semakin pecah saat Enda mengusap air mata di wajahnya.
"Jenaira, kau kenapa?," Agam memegang pundak istrinya"Katakan padaku, apa yang membuatmu menangis??."
Ben merasa tidak enak hati, Jena menangis setelah berjumpa dengan putranya"Agam, aku akan membawa Enda ke dapur Cafe, aku ingin melihat-lihat tempat kerjaku," setengah berbisik, Ben meraih tangan Enda dan hendak membawanya.
"Jangan....," lirih Jena.
Sontak, mereka semua di buat terkejut.
To be continued
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗