Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Isi hati Melisa


__ADS_3

Demi memenuhi janji yang terlanjur terucap, Gibran berlatih beberapa jargon untuk mengiklankan pasta gigi, krim di bawah matahari, juga susu peninggi badan. Belum juga memulai karir di dunia hiburan, latihan itu saja sudah membuat Gibran nyaris menyerah. Melatih kata dan mengulanginya berkali-kali, rasanya sangat melelehkan. Timbul bermacam dugaan yang semakin menciutkan semangatnya, bagaimana jika sutradara Han kecewa akan dirinya? dia sangat sadar diri bahwa lakon nya sangat jauh di bawah rata-rata seorang bintang iklan. Demi mendalami peran, sebelum memutuskan hendak mengambil tawaran iklan yang mana, Gibran menghubungi Bella.


Artis pendatang baru yang sedang naik daun itu, tentu merasa sangat bahagia ketika Gibran menghubungi dirinya. Gadis itu langsung melesat menuju kediaman pantai, demi memberikan arahan dan masukan untuk latihan Gibran. Dan kedatangan Bella, menimbulkan desas-desus akan hubungan mereka kembali. Bella yang sangat tahu akan hal itu tentu saja sangat menikmati, selain tampan, Gibran juga seorang putra pengusaha sukses.


Meski hanya sekedar gosip belaka, menjadi wanita yang di curigai sedang menjalin hubungan dengan Gibran, sungguh menambah daya tarik pada dirinya. Apalagi jika benar-benar menjalin hubungan dengan Gibran, wah!! tiba-tiba keinginan itu sangat menggelitik hati Bella.


Aura seorang artis sangat terpancar, berpasang mata menatap kepadanya membuat garis senyum kepuasan"Permisi, aku sudah ada janji dengan Gibran, apakah dia ada di sini?," sengaja, Bella sengaja menanyakan tentang Gibran kepada pelayan, alih-alih langsung menelpon pria itu untuk menyambut kedatangan dirinya.


Sang pelayan yang merupakan warga sekitaran pantai, nampak sangat terkejut saat berhadapan langsung dengan Bella, wanita cantik yang kerap dia lihat di layar televisi"Mas Gibran ya, sebentar saya panggil dulu," ujar sang pelayan lelaki itu.


"Aku akan menunggu di meja halaman saja," senyuman Bella sangatlah manis, dan sangat cantik pastinya. Pelayan yang bernama Dito itu langsung mengangguk namun tak jua melepaskan pandangan dari Bella, yang sudah melenggang menuju meja cafe di luar.


"Baiklah," ucap Bella saat mendaratkan diri di bangku"Semakin banyak yang melihat kita bersama, maka itu akan semakin bagus, Gibran sayang," ujarnya berucap sendiri.


Mendapat sorotan, sungguh sangat menyenangkan. Dirinya sengaja membuka kaca mata hitam yang dia kenakan, agar semua orang lebih jelas mengenali dirinya. Bella sangat yakin kebersamaan mereka kali ini akan menjadi berita besar, memikirkan itu saja dirinya menjadi senyum-senyum sendiri.


"Maaf, anda nona Bella ya? bolehkan kami meminta tanda tangan?."


Aha! Bella sangat suka adegan seperti ini. Dia terus mengumbar senyum"Tidak ku sangka kalian mengenali ku. Bukan hanya tanda tangan, kalian boleh mengambil foto denganku."


Keramahan Bella, membuat pengunjung lain yang mendengar obrolan itu tidak lagi merasa sungkan. Satu persatu mereka ingin meminta tanda tangan dan mengambil foto dengannya. Sang manager yang memang di wanti-wanti agar menunggu di dalam mobil saja, menjadi resah. Segera dirinya keluar dari dalam mobil, namun harus urung sebab Bella memberi kode untuk kembali ke dalam mobil.


"Jangan lupa tag aku di Insta ya," ujarnya begitu ramah.


"Wah!!! tidak ku sangka anda sangat baik nona Bella, terimakasih sudah begitu baik kepadaku" pekik seorang gadis muda, menatap kepada Bella dengan rasa haru.


"Ah tidak, seharusnya aku yang berterima kasih kepada kalian. Aku bukan apa-apa jika tanpa kalian," tukasnya mengedarkan pandangan pada mereka yang mengerumuni.


Owwww~~~ ucapan Bella menghangatkan hati mereka.


"Permisi," terdengar, suara berat Gibran.


Kemunculan Gibran yang menghampiri Bella, membuat mereka semua terpana. Gibran yang tampan, Bella yang cantik, akan sangat cocok jika mereka menjadi pasangan.


"Kita ke lantai atas saja," bisik Gibran.


Bella segera mengekor langkah pria tinggi itu, tentu dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajahnya.


Seperti dugaan Bella, bukan hanya satu, tapi hampir dari semua pengunjung cafe itu mengabadikan kebersamaan mereka berdua. Bella sengaja memegang ujung kemeja Gibran, dan sikap itu terkesan manis di mata mereka.

__ADS_1


...💐💐💐💐...


"Sudah ku katakan! kau itu dalam bahaya! kau tidak bisa sembarangan muncul di depan orang ramai," hardikan Arkan, membuat Melisa sangat terkejut. Kejadian itu sudah berlalu, namun omelan Arkan tidak ada habis-habisnya.


"Apa kau tidak lelah, mengomel sepanjang waktu, dan yang kau omelkan itu tentang hal yang sama."


"Nona Melisa! apa kau tidak takut mati?," suaranya bergetar. Gadis ini nyaris di culik, saat keluar bersama Aron dan Ryung.


"Kau ini! jangan membicarakan kematian," ucap Melisa melirik tajam ke arah Arkan.


"Kenapa? apa kau takut? jika kau takut maka diamlah di rumah. Jika kau benar-benar ingin keluar, tunggu sampai aku bisa mengajakmu keluar."


"Menunggumu? kau si manusia robot pekerjaan ini? ayolah Arkan, aku yakin tidak ada hari libur di dalam kalendermu, apalagi hari untuk mengajakku keluar sekedar mencari angin," ketus Melisa.


"Ck! aku menyesal membuka identitas asli, seharusnya aku tetap menjadi wanita culun dan tetap bekerja di perusahaan mu. Meski terlihat jelek, setidaknya hidup ku bebas. Dari musuh-musuh Jake, juga dari pengawasan mu!!," sambung Melisa, gadis itu tidak lagi menatap Arkan.


Arkan diam, mendengar ocehan gadis kecil itu yang sedikit ada benarnya. Memang, sebelum Jake kembali muncul dalam hidupnya, kehidupan mereka terasa baik-baik saja. Tidak ada kejahatan, tidak ada kecelakaan, tidak ada upaya penculikan, ah! Arkan menjadi sangat lelah jika teringat hal itu. Sungguh, dia sangat rindu masa-masa sibuk di kantor namun tidak harus mengancam nyawanya, atau nyawa orang lain.


"Kau, apakah sangat ingin hidup bebas?."


"Tanyakan hal itu pada dirimu sendiri," sahut Melisa.


"Apakah kau menyesal terlibat dengan kami, Arkan," kini balas Melisa yang bertanya.


"Dan kau, apakah kau menyesal menjadi satu-satunya saudara Jake?."


Melisa menatap Arkan tajam"Ya! aku menyesal. Seandainya aku bisa merubah nasib, aku hanya ingin kami hidup dalam kedamaian, sebagai pengusaha kecil pun tidak mengapa. Daripada berlimpah uang namun selalu di kejar-kejar musuh seperti ini."


Arkan tidak menyangka Melisa akan berkata seperti itu. Gadis itu selalu menghamburkan uang, segala yang di inginkan selalu tercapai"Ku pikir, kau sangat menikmati kehidupan bergelimang uang ini."


"Uang? hahahha," gadis itu tergelak tawa.


"Ini uang haram Arkan, karena itulah aku selalu berpoya-poya."


Arkan menatap Melisa yang sedang tertawa, gadis itu nampak sangat menyedihkan saat itu. Terlihat sekali betapa rapuh dirinya, tanpa orang tua, tanpa sanak saudara, dan hanya di jaga orang-orang asing yang hormat kepadanya karena di bayar dengan uang yang banyak.


"Ngomong-ngomong tentang uang? apa kau menginginkan semua uang yang ada di dalam rekeningku? aku bisa memberikan semuanya kepadamu Arkan."


Kening Arkan di buat berkerut"Apa aku terlihat seperti pria yang kekurangan uang? meski tidak sebanyak yang kau miliki, aku masih bisa makan sampai kenyang dengan uangku sendiri."

__ADS_1


Melisa berjalan ke tepian dinding apartemen, menatap keramaian lalu lintas di bawah sana"Meski lebih banyak darimu, tapi uangmu uang yang halal, Arkan."


Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengapa omelannya berakhir dengan obrolan yang berat seperti ini. Apa dirinya terlalu keras terhadap Melisa, hingga dia menjadi sangat putus asa seperti sekarang?.


"Sudahlah! aku tidak akan mengomel lagi padamu, sekarang aku harus kembali bekerja. Kau, diamlah di sini, aku janji malam ini akan makan bersamamu di sini."


Terdengar helaan napas yang berat, Melisa masih menatap keramaian di bawah sana"Aku sungguh bosan, ayolah Arkan, ambil saja semua uangku."


"Ck! aku tidak ingin uangmu!," sentak Arkan.


"Bukankah kau selalu ingin bekerja karena uang? ambil saja semua uangku, kau tidak perlu bekerja dan kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama," celoteh Melisa di saat-saat Arkan hendak meninggalkan tempat itu.


"Itu artinya kau ingin membeliku, nona Melisa yang licik. Sudahlah! bersikap baiklah jika kau masih ingin bertemu denganku!," ucapan itu membuat Melisa menekuk wajah.


"Ah, satu lagi," tukas Arkan"Jangan lagi mengajak Aron atau Ryung untuk menemanimu keluar. Apalagi mengajak mereka ke warnet seperti kemarin, aku tidak tahu akan jadi apa kau jika aku tidak segera menjemputmu."


Melisa terpaksa mengangguk, dan Arkan pun perlahan menghilang dari balik pintu.


Perkataan Arkan memanglah benar, sebagai pengawal, bisa-bisa nya Aron dan Ryung terlena dengan game online di warung internet. Tenggelam dalam permainan hingga melupakan Melisa yang keluar dari tempat itu menuju pusat perbelanjaan. Beruntung Arkan lekas bertemu dengannya di jalanan, dengan sebuah mobil yang telah lama mengintai Melisa dan nyaris saja menariknya masuk ke dalam mobil.


...🎉🎉🎉...


Tubuh Jena bergetar, saat melihat hasil testpack yang dia beli sembunyi-sembunyi dari Agam. Setelah mengingat-ingat dan menghitung-hitung, dirinya memang terlambat datang bulan.


Dan saat mengetahui hasil dari alat penguji kehamilan itu, Jena sangat terkejut dan berdiam diri cukup lama di dalam kamar kecil.


"Sayang! apa kau di dalam? kenapa lama sekali?," suara Agam di muara pintu kamar kecil.


"Ya, sebentar lagi aku akan selesai, jika kau tidak bisa menunggu, kau bisa turun kebawah dan gunakan kamar kecil di sana," ucapnya menahan diri agar tidak bersuara bergetar.


Suara pria itu terdengar mulai khawatir"Apa kau tidak enak badan? mengapa begitu lama?."


"Tidak, .....aku baik-baik saja," ucap Jena lagi.


"Baiklah," Agam pun segera melangkah ke lantai bawah, meninggalkan Jena yang masih sangat terkejut di dalam kamar kecil.


"Bagaimana bisa?? apa alat ini rusak? atau kadaluarsa?," batinnya.


Benda itu menampilkan dua garis merah, yang pertanda Jena sedang mengandung. Tapi, lagi-lagi predikat wanita mandul yang selalu di ucapkan Jelita, membuat Jena sangat ragu akan keakuratan alat tersebut.

__ADS_1


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2