
Masih dengan hujan, rintik air itu menyambut kedatangan Jena di kota seribu sungai. Di tengah pagi dengan udara nan menggigit, Zafirah teramat terharu menatap Jena bersama rombongan relawan susulan.
"Astaghfirullah, jadi Jena menyusul kemari," seru Syabila, gadis itu tak kalah terkejutnya dengan Zafirah, hingga mulutnya nampak menganga beberapa detik.
Berbeda dengan Zafirah yang sangat antusias melihat kehadirannya, Jena sungguh ragu melangkah lebih maju mendekati mereka, gadis-gadis solehah yang baru beberapa waktu menjadi sahabatnya.
"Bruk!," lari kecil itu mengantar Zafirah langsung memeluk Jena.
"Alhamdulillah, kau baik-baik saja," ujarnya memegangi lengan Jena seperti memeriksa keadaan wanita itu.
Di pandanginya wajah yang nampak kelelahan itu, perjalanan jalur air bukanlah mudah, sempat berganti melewati jalur darat saat di kota cantik, wanita itu kembali melewari jalur air untuk sampai ke tempat mereka sekarang.
"Kau pasti sangat lelah, aku seduhkan kopi ya," Zafirah mengajak Jena menuju tenda mereka. Menggenggam erat jemarinya yang terasa teramat sangat dingin.
Seorang gadis berwajah bulat nampak sangat khawatir, apakah kehadiran Jena di sini sebab ucapannya tempo hari, saat Jena menanyakan kabar Zafirah melalui dirinya? Syabila sungguh menyesali sikap ketusnya saat itu.
Jena memandangi Zafirah yang mengurusinya dengan tulus dan sepenuh hati. Senyum tak pernah pudar dari wajah cantik Zafirah, membuat hati kecil Jena semakin menciut. Sungguh besar hati seorang Zafirah, bahkan ketika berhadapan dengan dirinya yang merebut lelaki idalamannya.
Menempelkan telapak tangan pada cangkir seng yang di berikan Zafirah, Jena masih nampak termenung.
"Minumlah, apa kau sangat kedinginan hingga tak kuasa berkata-kata?," tanyanya mengambil selimut dan menyelimuti Jena.
"Tidak, aku tidak merasa dingin. Sikapmu cukup menghangatkan hatiku, Zafirah," ujarnya akhirnya. Menyesap kopi buatan Zafiah, sungguh nikmat.
"Sikapku? ada apa dengan sikapku?," tanya Zafirah mengambil duduk bersama Jena.
Sepasang manik coklat itu menatap Zafirah lekat-lekat, di pandanginya setiap jengkal wajah cantik wanita berkerudung itu. Di pandang-pandang, Zafirah memanglah sangat cantik, juga solehah. Lagi-lagi rasa pundung itu menghinggapi hati kecil Jena, seharusnya wanita seperti Zafirah yang menjadi istri Agam.
"Hei!!," sentak Zafirah "Apa yang kau lamunkan?."
"Ah!," Jena terkesiap"Kau sangat cantik, Zafirah."
Kata itu membuat kening Zafirah berkerut, sikap Jena mengundang tanya dalam hatinya.
"Kau kenapa, Jena? sikapmu sedikit aneh. Jangan katakan kau kerasukan setan di jalanan," wanita itu sedikit waspada. Mengingat trip yang di tempuh Jena, amit-amit kan jika Jena datang ke sini dalam keadaan sedang di tempeli mbak kunti atau sejenisnya.
Tawa Jena pun terdengar, Zafirah semakin waspada"Jenaaaaa, aku bisikin ayat seribu dinar nih!," ujarnya hendak memegang pucuk kepala Jena.
"Hahaha, aku baik-baik saja. Aku hanya bercanda," ujar Jena semakin tergelak tawa.
"Fyuh!," memegangi dadanya, Zafirah nampak bernapas lega.
Melihat betapa khawatirnya Zafirah kepadanya, Jena lebih memilih bersenda gurau dahulu bersama gadis itu.
Setelah puas mendengar segala hal yang di lalui Jena bersama rombongan relawan, Zafirah sedikit memperbaiki duduknya sebelum berucap"Jadi, mengapa kau ke sini tanpa meminta izin kepada suami mu?."
Tawa di wajah Jena seketika sirna. Wanita itu terlihat menelan saliva demi memberikan jawaban kepada Zafirah.
__ADS_1
"Katakan, mengapa kau pergi tanpa izin Agam? apa kau tahu, dia mencarimu."
Jena segera memeriksa ponsel yang dia letakan di dalam ransel. Namun benda pipih itu tidak ada di sana.
"Kemana ponselku!!," pekiknya, panik.
"Mana? mana ponselku, Zafirah?," tanyanya kepada Zafirah. Jelas saja bingungnya Jena menular kepada Zafirah, wanita itu bahkan menanyakan ponselnya kepada Zafirah.
"Itu ponselmu, dan kau baru datang. Mengapa bertanya padaku, Jena!," jawabnya sembari menggelengkan kepala. Sungguh, wanita di hadapannya ini sangat memancing rasa ingin menjitak keningnya.
"Itu ponsel pemberian Agam, apa aku sekarang menghilangkan nya?," tanyanya lagi. Mengingat hanya ada dirinya dan Zafirah di tenda itu, jelas tanya itu beralamat kepada Zafirah.
"Kau...., ah! coba kau ingat-ingat kapan terakhir kali kau menggunakan ponselmu?."
Jena mencoba meredam kepanikan, mencoba mengingat saat-saat terakhir memakai benda pipih itu.
Sejenak, waktu berjalan sembari mencari ingatan akan benda itu. Hingga akhirnya terdengar lirihan yang keluar dari mulut Jena.
"Sepertinya aku meninggalkan nya di rumah."
"Bagaimana bisa? seharusnya benda itu berbunyi saat Agam menghubungi mu? lagipula, dia akan menemukan ponselmu jika berada di rumah, bukan?."
Tertunduk lesu"Ponsel itu dalam keadaan mati, aku mengisi dayanya dan meletakanya di sudut ranjang, sementara aku berkemas hendak kemari."
Zafirah menahan diri agar tidak mencubit lengan wanita bersurai panjang itu, sungguh, tingkahnya terkadang sangat tidak cocok dengan usianya.
Zafirah meraih ponselnya dan menghubungi Agam....
"Mereka telah sampai di kota cantik."
"Mereka? kota cantik?," ucap Jena dengan nada bertanya.
"Suamimu akan segera datang, bersama dua saudara laki-laki mu," ujar Zafirah.
"Bagaimana bisa?, mereka tidak tahu aku akan kemari, mengapa sekarang sudah berada di kota cantik?."
"Apa kau lupa, bang Arkan punya banyak mata-mata yang dengan mudah dapat melacak keberadaan mu," sahutnya. Manik Zafirah menatap Jena dari atas hingga kebawah, membuat Jena merasa sedang di telanjangi.
"Kenapa? kenapa menatapku seperti itu??," pekiknya menyilangkan tangan di dada.
"Plak," Zafirah memukul lengan Jena menggunakan sendok pengaduk kopi.
"Hei, kenapa memukulku???," pekik Jena menghindar.
"Apa yang membawa mu ke sini? kau tidak tahu sebesar apa dosa yang harus kau tanggung saat meninggalkan rumah tanpa izin suamimu??," menatap Jena dengan tatapan tajam.
Jena tergagap"Aku....aku tidak tahu, lagipula, aku ke sini karena dirimu."
__ADS_1
Zafirah meletakan sendok kembali ke dalam cangkir seng nya"Karena aku?."
Menggigit tepian bibir, Jena menata hati sebelum mengungkapkan segala keresahan di dalam dada.
Dan, Zafirah terdiam saat Jena mengatakan telah mengetahui perasaan Zafirah terhadap Agam, suaminya.
"Jika aku tahu dari awal, aku tidak akan menerima lamarannya."
"Jena!!, pernikahan bukan sebuah permainan!," sentak wanita berbaju panjang itu.
"Tapi pernikahan kami menyakitimu," balas Jena meninggikan suara.
Terlihat, Zafirah menghela napas berat"Tidak Jena, aku akui, aku memang pernah menyimpan perasaan terhadap bang Agam, tapi perasaan itu telah terkubur sangat dalam."
"Kau menguburnya karena kehadiranku, bukan?," tukas Jena mengejar pandangan Zafirah. Dan nyatanya wanita itu membuang pandangan dari Jena, sahabatnya.
Baik Jena, ataupun Zafirah, dua sahabat itu nampak menggenangkan air mata.
"Maafkan aku, Zafirah. Jika harus memilih, aku akan memilihmu daripada Agam."
"Dosa Jena, kau berdosa jika melakukan itu. Bang Agam begitu baik, kalian telah terikat dalam garis jodoh yang di torehkan sang ilahi. Jika meninggalkan bang Agam demi perasaanku, bukankah kau telah melawan takdir sang maha pencipta?," menatap Jena nanar, Zafirah tidak menyangka hal itu sempat mengisi pikiran Jena.
"Lantas, bagaimana dengan hatimu," terdengar isakan tangis, Jena tersedu.
Menyeka air mata yang juga membasahi kedua pipi, Zafirah menarik napas demi menetralkan emosi yang mengaduk hati"Aku sudah menyerahkan pilihan jodohku kepada Abi, sekarang aku bertanya. Apa kau sudah mulai mencintai bang Agam?," bukan rahasia lagi, pernikahan Jena dan Agam pada awalnya hanya bertepuk sebelah tangan saja.
Jena tak kuasa memberikan jawaban, sejatinya hatinya tengah menahan rindu kepada prianya.
"Lihatlah, kau bahkan tidak bisa memberikan jawaban. Sangat jelas, kau sudah jatuh cinta kepada bang Agam. Bukankah akan menambah perih di hati jika kau meninggalkannya demi menjaga perasaanku?."
"Jena, saat kau pergi pikirkan keadaan bang Agam, dia tidak lantas datang padaku dan memintaku menggantikan posisimu! diriku bahkan tak kau temukan sekedar di muara hatinya. Sadarlah Jena, jangan menjadi manusia yang tidak mengenal akan rasa syukur!," di tatapnya tubuh bergetar Jena, meski perih, Jena harus menyadari betapa jodoh tidak pernah salah memilih.
Menyeka air mata"Jadi, kau akan menyerahkan pilihan jodoh mu kepada kiyai? tidak perduli apakah kau memiliki rasa atau pun tidak terhadap pria itu?."
"Bahkan jika aku tidak mengenalnya pun, aku akan menerima pria itu."
"Tanpa rasa cinta?," sambar Jena.
"Ya! kau dan bang Agam menikah tanpa cinta yang bersambutan, tapi sekarang kau bahkan telah jatuh cinta kepadanya, bukan. Urusan hati memanglah pelik, Jena. Tapi jika berserah kepada sang ilahi, sepelik apapun masalah itu pasti akan berakhir baik."
Sungguh, Jena sangat tertampar dengan pribadi Zafirah. Juga kebodohannya datang ke sini tanpa meminta izin dahulu dari Agam, suaminya.
Apakah pria itu akan marah kepadanya?
Apakah Agam yang lembut akan marah padanya?
Memikirkan hal itu membuat hatinya semakin sedih.
__ADS_1
To be continued
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗