Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Kejar daku, kau ku tinggal


__ADS_3

#Malam sebelumnya#


Panggilan dari Agam, juga maksud dan tujuan pria itu menghubungi Yasir menyisakan tanya di benak. Atas dasar rasa penasaran, Yasir bertanya tentang Agam kepada Jena, dan ekspresi wanita itu saat mendengar nama Agam menambah rasa penasaran di benaknya.


"Jadi, kau memang mengenal Agam?", telisik Yasir.


"Tidak! ah, iya!", Jena tergagap. Niat hati melarikan diri dari kisah masa lalu, Jena sudah mereka-reka hendak kemana membawa diri usai tugas sebagai relawan ini usai.


Yasir mengambil duduk, saat itu Jena tengah merebus air di dapur posko, rasa pahit dan manis kopi sungguh tidak bisa di lewatkan begitu saja.


"Maaf Naira, jika aku lancang ingin lebih tahu tentang dirimu. Sekarang kau telah bergabung bersama kami, setidaknya aku harus tahu siapa dirimu, berasal dari mana dirimu. Dan melihat barang bawaanmu, aku yakin kau pasti sedang kabur dari rumah", sepasang mata elang Yasir menatap wajah tertunduk Jena. Bahkan dari bahasa tubuh yang sedang nampak, Yasir dapat memastikan Jena sedang terpojok atas pertanyaan yang dia lontarkan.


Wanita dengan rambut ekor kuda itu mengangkat wajah"Aku akan melepaskan diri dari kalian setelah bencana ini berakhir."


Ya, kedalaman air semakin turun, perlahan warga-warga di pengungsian mulai membersihkan rumah dan bersiap untuk kembali ke kediaman mereka.


Jalan transdaerah mulai mengering, jalur air mulai sepi sebab jalur bus sudah aman terkendali. Jika, di haruskan untuk membuka jati diri di hadapan Yasir, maka dengan terpaksa Jena akan angkat kaki dari kelompok tersebut. Entah kembali ke kota asal, atau kembali melanjutkan kelana ke kota selanjutnya, kota dengan sebutan Bumi lambung mangkurat.


Menyeduh kopi tanpa berucap sepatah kata lagi, Jena seolah kembali membangun jarak kepada siapa saja yang ingin lebih mengenal dirinya. Sikap ini sangat jauh berbeda dengan dirinya yang telah menghabiskan beberapa hari bersama kelompok yang di ketuai Yasir, seketika pria itu menyadari, sosok sesungguhnya dari seorang Naira yang dia kenal sungguh sangat tertutup.


"Hendak kemana kau jika melepaskan diri dari kami?", tanyanya seolah tahu Jena yang kehilangan arah.


Menatap Yasir sekilas, kemudian menyesap kopi instan yang dia genggam erat, udara perlahan menggigit kulit, gelas berisi kopi yang hangat sungguh nikmat di genggam erat-erat.


"Aku akan kembali pada keluargaku", sahutnya.


"Benarkah? dari Agam, aku mengetahui bahwa kau sedang tidak ingin berjumpa dengan keluargamu", sedikit mengurai senyum"Lebih tepatnya, kau sedang kabur dari rumah, bukan?", pria itu memamerkan barisan gigi putihnya di hadapan Jena. Wajah teduh itu terlihat cukup tampan, namun tak jua menggelitik hati kecil Jena untuk sekedar membalas senyum kecil seorang Yasir.


"Kau menyindiriku."


Seketika tawa seorang Yasir pun pecah"Hahaha, ternyata kau galak sekali, Jenaira."


Wanita itu lantas memutar kepala dan menatap Yasir lekat-lekat"Kau sudah tahu identitasku, untuk apa kau bertanya jika sudah tahu jawabannya", ujarnya sedikit bernada tinggi.


Kembali pria dewasa itu tertawa"Agam bertanya tentang wanita bernama Jenaira, dan foto yang di tunjukannya kepadaku jelas sekali adalah dirimu. Setelah ku pikir-pikir ternyata kau memangkas namamu dari Jenaira menjadi Naira saja, pasti ada maksud tersendiri kau menyamarkan namamu. Juga tentang koper besar yang kau bawa bersama kami, jika bukan kabur dari rumah, untuk apa berbekal koper besar itu jika untuk sekedar jalan-jalan melintasi kota."


Usia yang cukup matang, mungkin itu alasan seorang Yasir menerka dengan benar jalan hidup yang sedang di jalani Jena. Ah, tidak juga, anggap saja Yasir yang peka ini memiliki jiwa-jiwa detektif hingga dugaannya terhadap Jena tepat dengan kenyataannya.


Mencoba mengalihkan obrolan, Jena iseng bertanya tentang Agam kepadanya.


"Sudah lamakah kau mengenal Agam", terasa canggung, ini kali pertama Jena bertanya tentang bocah ingusan yang sok perhatian bagi Jena itu.


Yasir membenahi duduknya, bunyi kodok yang bersahutan menjadi irama obrolan mereka di dapur posko"Cukup lama, ayahku seorang tenaga pengajar di pondok pesantren Al-jannah, dan sejak remaja Agam menjadi santri di pondok itu jika ramadhan tiba. Usia kami terpaut jauh namun kedewasaan nya membuat kami dekat."


"Jadi maksudmu, dia lelaki yang memiliki pemikiran matang?."

__ADS_1


Pria itu mengangguk"Hem, dia juga pria yang lembut dan perhatian."


"Oh" Jena berucap singkat.


Kembali mengingat hal yang sangat ingin di ketahui, Yasir kembali bertanya tentang jalan hidup seorang Jena.


"Aku hanya seorang anak yang tak di inginkan oleh orang tuaku."


Kata yang terlontar, menyentil hati hingga membuatnya meringis"Tidak ada orang tua yang tak menginginkan anak Jena."


"Bisakah kau memanggilku Naira saja, aku merasa lebih nyaman dengan nama itu."


"Oh, baiklah", tukas Yasir.


Jena melanjutkan ucapannya"Kau menilai tanpa melihat bagaimana kedua orang tuaku memperlakukan diriku."


Sembari menyugar rambut dan kembali mengenakan pecinya"Apa kau sangat menderita?."


"Sangat!!", tegas Jena.


Yasir mengangguk-angguk"Lantas, itu alasan kau pergi dari rumah?."


"Tidak juga. Sejak kecil mendapat perlakuan yang berbeda, aku sudah terbiasa dengan ketidak adilan dalam keluarga kami."


"Hanya saja, menganggap ku pembawa sial, ingin menjauhkan diriku dari kedua saudaraku, hati yang beku pun bisa terasa sakit", meletakan gelas kopi, jemari-jemari wanita itu saling bercengkraman. Lagi, Yasir melihat bahasa tubuh tertekan pada diri Jena.


Yasir lantas membelalakkan kedua mata"hah! di jaman modern ini masih ada istirahat menikah karena perjodohan? hei, kami yang tinggal dalam ruang lingkup pesantren pun tidak lagi melakukan hal itu. Jika salah seorang dari calon pengantin menolak pernikahan, maka pernikahan itu tidak akan di paksakan terjadi."


"Beruntungnya kalian yang hidup dalam pesantren namun masih memiliki kebebasan dalam memilih", lirih Jena. Sorot mata menerawang lurus kedepan, andai saja hal itu terjadi padanya. Terdengar helaan napas darinya, kemudian meraup napas demi sebongkah hati yang terasa sesak di dalam sana.


"Jadi, ceritanya kau sedang lari dari perjodohan."


Jena menggeleng"Ku pikir tidak juga, kebetulan lelaki itu sangat terobsesi padaku. Ibu yang ingin memisahkan aku dan dua saudaraku lantas mendesakku untuk menerima lamarannya. Belakangan ku ketahui, desakan itu agar kedua saudaraku lega, merasa aman akhirnya ada seseorang yang menjaga dan menemaniku. Sehingga titik fokus mereka berdua kembali hanya untuk memperhatikan ibuku saja."


Lagi-lagi Yasir tertawa, dan kali ini tawa itu terdengar sangat renyah"Hahahaha, lucu sekali ibumu itu. Jadi, dia cemburu kepadamu".


Jena menanggapi dengan senyuman pahit.


Puas tertawa, Yasir diam sejenak. Seolah sedang berpikir hingga akhirnya berbicara"Jika tidak dengan lelaki itu, apakah kau akan terbebas dari rasa cemburu ibumu?."


"Entahlah, ibuku begitu bersemangat saat tahu ada seseorang melamarku."


"Bagaimana jika kau memilih menikah dengan lelaki pujaanmu saja. Terus terang, kau sangat cantik Naira, sangat mustahil jika tidak memiliki seseorang yang sehati denganmu."


Jena menatap Yasir dengan kedua mata memicing"Pacar maksudmu?."

__ADS_1


Pria itu kembali mengangguk.


"Hei, bukankah tidak ada pacaran dalam ruang lingkup pesantren!", tegur Jena.


"Ck! aku berbicara begitu dari sudut pandang kehidupanmu. Bukan bermaksud menilai buruk tentang dirimu, terlepas dari kehidupan pesantren, umumnya wanita cantik pasti sudah memilik pasangan bukan."


Dengan cepat Jena menepis anggapan Yasir.


"Jadi kau benar-benar tidak memiliki pasangan?."


"Iya", sahutnya sembari kembali menikmati kopinya.


"Menikah saja dengan Agam."


"Byur!!!", Jena menyemburkan kopi yang hendak dia teguk. Terbatuk-batuk Jena mencari celah untuk bernapas dengan baik.


"Nai!!!, apa kau baik-baik saja!!", pria itu hampir menepuk punggung Jena yang sedikit merunduk. Namun urung sebab Jena kembali menegakan diri sembari menepuk dada.


"Aku tersedak, apa itu baik-baik saja bagimu?!." desisnya akhirnya setelah semua kembali membaik.


Sungguh, pria di hadapan Jena ini sangat gemar tertawa. Seperti kali ini, Yasir kembali tertawa dengan barisan gigi terlihat nyata"Maafkan aku, aku tidak menyangka kau akan sangat terkejut."


"Tapi aku tidak bercanda, kau akan bahagia jika menikah dengan Agam. Dia menyukaimu, sungguh tidak pernah ku dengar suara bergetarnya saat menanyakan seorang wanita."


Seolah kehabisan kata-kata, Jena menatap Yasir dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


...🌺🌺🌺🌺...


Melaju dengan pasti, sedikit lagi jarak yang memisah akan sirna. Rio sangat bersemangat melewati jalanan turun naik meski beraspal, meliuk-liuk bagai ular naga panjang yang di kata leluhur pada jaman dahulu. Usai melewati jalanan berliku, Rio kini beristirahat di sebuah warung makan. Berkendara cukup lama membuat cacing di perut berdendang syahdu. Menikmati makanan dengan lahap, pria itu sangat tidak sabar ingin segera memastikan wanita dalam video. 40 menit menghabiskan waktu untuk makan dan beristirahat, Rio kembali memacu mobilnya membelah jalanan transdaerah.


Di tempat lain, mobil yang membawa Gibran dan Arkan juga melaju dengan kecepatan tinggi. Bergantian membawa mobil, Arkan dan Gibran juga sangat bersemangat sebab rindu telah sangat berat membebani hati mereka.


"Bang, kira-kira kak Jena akan senang atau akan marah saat bertemu kita?."


"Entahlah, yang jelas kau siapkan saja keningmu."


Satu alis tebal Gibran menukik naik"Kenapa dengan keningku bang?."


"Apa kau lupa, kaka manismu itu sangat gemar melayangkan telapak tangannya ke keningmu,"sahut Arkan dengan senyuman nakal.


Seketika Gibran memegangi keningnya"Awh!! jangan berkata begitu bang. Ingat, perkataan adalah doa,"protes nya sambil bergidik nyeri. Geplakan tangan Jena terasa perih di kening, efek samping dari serangan tangan gemulai itu mampu merabunkan pandangan, mengingatnya saja membuat Gibran menggelengkan kepala.


Arkan tertawa, tingkah Gibran membuat geli hatinya. Saat dua saudara itu bercengkrama menuju kota pelarian Jenaira, wanita yang mereka cari tengah duduk dalam sebuah bus. Bersama kelompok relawan yang lain Jena akan segera kembali ke kota semula.


To be continued....

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2