Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Sedikit rasa cemburu(Kata Jena)


__ADS_3

"Abang! aku ingin kue itu!."


Seorang gadis kecil dengan kuncir kuda, sedang merengek kepada abang sepupunya, untuk di belikan kue bakpao dengan isian coklat. Gadis sang pecinta coklat itu sungguh tidak bisa menahan diri, meski sang abang sudah mengatakan tidak memiliki uang, dia tetap memaksa untuk di belikan kue yang dia mau.


"Lekaslah, aku akan mengantarmu hingga ke rumah. Kau bisa meminta uang kepada siapa saja di rumahmu dan aku akan menemanimu membeli kue itu."


"Tidak!!! itu akan memakan waktu yang lama!. Aku ingin kue itu sekarang," sang gadis mengambil jongkok, sebagai bentuk protes nya kepada sang abang.


Sang bocah lelaki menarik saku baju dan celananya"Lihatlah, aku benar-benar tidak memiliki uang, Kanaya."


Gadis kecil bernama Kanaya itu semakin kesal, bagaimana bisa abang sepupunya ini tidak memiliki uang lagi"Pembohong!!."


Angga berjalan mendekati Kanaya, mengambil jongkok hingga tinggi mereka sama rata"Kau tidak percaya kepadaku? ayahku hanya memberi uang saku sedikit, uang itu sudah ku habiskan saat di sekolah tadi."


Dua bola mata sang gadis berkaca-kaca"Bohong!."


"Kanaya...., abang tidak berbohong. Sekarang abang tanya, apa kau masih memiliki sisa uang saku?."


Memberengut, Kanaya menggeleng"Sudah habis. Aku mentraktir teman-teman di kantin."


Terdengar Angga membuang napas berat"Untuk apa kau mentraktir mereka? ku dengar kau kerap melakukan itu."


"Jika tidak begitu mereka tidak akan berteman denganku!."


Jawaban yang keluar dari mulut Kanaya, membuat Angga bungkam. Meski bersaudara namun status sosial mereka berbeda. Kanaya memiliki kedua orang tua yang kaya raya, sedangkan Angga lahir dalam keluarga sederhana. Sekolah mereka juga berbeda, meski berdekatan.


"Kanaya, jika saja kita satu sekolah, aku akan selalu menemanimu."


"Bilang saja pada ayahmu, agar memindahkan kau ke sekolahku."


Angga yang lebih tua 2 tahun mengusap pucuk kepala Kanaya"Tidak semudah itu Kanaya. Semua membutuhkan uang yang banyak."


"Akh! kau hanya membuat ku berharap. Sudahlah! cepat belikan aku kue itu!!," rengekan Kanaya kembali terdengar.


"Aku tidak punya uang!!!, jika kau memang menginginkan kue itu, lekaslah pulang."


Sedikit lagi, sepasang manik cantik gadis itu akan membentuk anakan sungai. Sudut bibirnya juga mulai menurun ke bawah"Abang...., bisakah kau berhutang dulu pada paman itu," suaranya bergetar.

__ADS_1


Angga mengacak rambutnya, bocah kelas 6 SD itu berdecak"Ayahku selalu mengatakan untuk tidak berhutang. Berhentilah merengek. Jika kau tak jua beranjak dari situ aku akan meninggalkan dirimu," kesabaran Angga mulai menipis. Dia berbalik dan"Aku akan hitung sampai tiga. Jika kau tak jua bergerak, aku akan benar-benar meninggalkan mu!."


"Satu....!."


"Dua....," bibir bawah Kanaya maju, gadis itu semakin kesal.


"Tiga!!," sentak Angga"Terserah kau saja. Aku sudah menyuruhmu pulang bersama paman Joko, tapi kau menolak. Sekarang lihatlah! bersamaku kau akan kelaparan."


"Abang...., aku berniat mengajakmu ke rumahku untuk bermain. Bukankah kau akan senang jika bermain game di rumahku," ujar gadis itu terisak.


Beberapa langkah dari Kanaya, Angga kembali menghentikan langkah"Baiklah, sekarang lekas kau berdiri. Kita ke rumahmu dan aku akan menemanimu membeli kue itu."


Menyeret langkah, Kanaya akhirnya bersedia menuruti perkataan Angga. kaki melangkah namun sorot matanya tersita pada gerobak paman bakpao beberapa meter di belakangnya. Terlihat sang paman akan bergerak, berkeliling menjajakan jualannya.


"Abang!! paman itu akan berjalan," serunya hampir menangis.


Angga kembali di buat pusing oleh tingkah Kanaya"Aku akan meminta paman itu menunggu."


"Tidak!! aku mau kue itu sekarang!!," dan Kanaya kembali memaksa kepada Angga. Meksi ada satu atau dua orang di sekitar mereka, namun tidak ada yang mereka kenali. Gang sempit menuju perumahan Kanaya memang tergolong sepi, oleh karena itulah Kanaya kerap di antar dan di jemput ketika sekolah. Namun karena senang berteman dengan Angga, gadis itu terkadang menolak sang supir yang datang menjemput. Dia ingin mengajak Angga bermain di rumahnya, atau dirinya yang ikut bermain ke rumah Angga.


Lelah membujuk Kanaya, Angga meninggalkan gadis yang merengek itu beberapa langkah. Hingga sampai pada sebuah tikungan, Angga mengintip, namun Kanaya tidak ada di belakangnya.


Begitulah Kanaya di culik.


...🍒🍒🍒...


Lirikan mata Jena, seolah menguliti seluruh tubuh Agam.


Mengigit bibir,"Sayang...., ada apa dengan tatapanmu."


Tanpa bicara, Jena menyerahkan laptop milik sang suami, dengan laman Facebook yang menampilkan chat dari Fely. Kedua mata Agam mengerjap saat membacanya, dan Jena dapat melihat dengan jelas bahwa pria itu kesulitan menelan saliva.


"Cendol rasa cinta??."


Kening Agam berkerut"Ayolah sayang, kau tahu aku tidak perduli padanya."


Jena beranjak dari sisi Agam, berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan diri di sana"Yahh," ujarnya berucap.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak pernah berduaan saja dengannya. Kebersamaan yang dia katakan, bukan seperti itu adanya. Ada banyak teman-teman yang lain bersama kami."


Jena membelakangi Agam"Terserah."


Agam juga naik ke atas ranjang, memeluk wanitanya dari belakang"Jenaira ku tersayang, bahkan saat itu kau sudah mengusik hatiku, bagaimana aku bisa tergoda dengan wanita lain."


Ucapan Agam bagai sebuah mantra, emosi Jena mereda dan kini tubuhnya berbalik, menghadap sang suami"Aku? saat itu kau masih duduk di bangku SMA mas!."


Mengusap lembut pucuk kepala Jena"Ya, dan kau sudah mengusik hatiku sejak saat itu."


Wajah yang semula dingin, kini terasa hangat, oh! Jena yakin wajahnya pasti mulai merona saat ini. Merasa malu untuk mengangkat wajah, Jena menyembunyikan wajah merona itu pada dada bidang Agam.


"Oh, begitukah?," ujarnya singkat.


Sikap sang istri membuat Agam menahan tawa"Heem, sekarang apa kau sudah tidak merah lagi."


Memainkan kancing baju sang suami"Bukan marah, aku hanya sedikit kesal. Wanita bernama Fely itu pasti banyak menghabiskan waktu bersamamu di sekolah. Ck! mengingat hal itu membuat dadaku sesak."


Agam tidak bisa menahan tawa lagi, tubuhnya bergetar namun tak bersuara. Merasakan getaran itu, Jena tahu Agam sedang mentertawakan dirinya.


Pria itu sedikit meringis, sebab sebuah pukulan mendarat di dadanya"Kau senang?? kau senang aku kesal terhadap Fely?," Jena bangun dan menatap Agam, yang masih merebahkan diri.


Menyugar ramburnya, Jena melengos mendapati betapa tampannya pria ini"Tidak, aku hanya sekedar tertawa," ujar Agam berkilah. Kehamilan Jena membuatnya banyak berubah. Tingkat kecemburuan pada dirinya melonjak naik, akh!! Agam merasa di awang-awang merasakan ketakutan sang istri jika dirinya tergoda wanita lain. Dengan begitu dirinya merasa sangat di cintai.


"Lihat!! kau tertawa mas!!," Jena menarik kedua pipi Agam. Dan tawa Agam semakin menjadi. Wanita cantik ini semakin cantik saat cemburu.


"Katakan, kau cemburu bukan?."


"Tidak! aku hanya sedikit kesal!," giliran Jena yang berkilah.


"Oh ya! apa kau tidak penasaran dengan pesonaku saat SMA? aku juga anggota OSIS sayang, kau yakin tidak ingin tahu bagaimana sepak terjang ku di sekolah?."


Agam yang tampan juga seorang anggota OSIS, tentu saja daya tarik pria itu semakin menjadi"Sepak terjang dalam menebar pesona?," hardik Jena. Ya Allah, Jena semakin kesal memikirkan hal itu.


"Hahaha, tidak! maksudku sepak terjang dalam segala kegiatan di sekolah. Bukan yang lainnya, sayang," dari mencubit kedua pipi, Jena kini beralih mencubit perut sang suami.


"Ash!! kau menyebalkan, mas!!," sentaknya terus menumpahkan kekesalan itu.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2