Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Kultum Ustadz Yasir


__ADS_3

Kali pertama memadu kasih, hal luar biasa yang baru pernah Agam rasakan sepanjang hidup ini. Pria itu mencium pucuk kepala sang istri dengan sangat lembut, di balik selimut yang telah menutupi tubuh polos mereka, Jena sangat tidak menyangka akhirnya jatuh terkulai dalam pelukan pria muda ini.


"Jadi, aku bukan bocah tengil lagi kan," ujarnya bertanya, dengan jemari yang memainkan helai rambut sang istri.


Masih tersisa rona merah di wajah Jena, bagaimana bisa pria muda ini membuatnya menggila beberapa saat yang lalu"Hemmm, anggap saja begitu," sahutnya berusaha bangun.


Segera, Agam menahan tubuh sang istri untuk tetap berada dalam dekapannya"Mau kemana? jangan katakan kau malu berhadapan dengan ku," seringai tawa seolah memperolok Jena.


Ujung manik coklat milik Jena melirik Agam"Malu? mengapa aku harus malu?."


Kembali, sepasang lesung pipi tercetak jelas di kedua pipi Agam"Suaramu masih terngiang di telingaku, sayang."


Sayang??? mengapa mendengar panggilan itu dari seorang Agam membuat wajah merona yang mulai kembali memerah? Jena khawatir wajah yang terasa gerah itu akan berubah seperti kepiting rebus.


Sungguh, ini bukan kali pertama dirinya di panggil dengan sebutan sayang. Arabella, sang ibu mertua yang manis bak gula jawa kerap memanggilnya dengan sebutan itu, namun hatinya mendadak dangdut saat Agam yang memanggilnya dengan sebutan itu. Demi menetralkan hati yang sedang jumpalitan, Jena memilih untuk diam saja mendengar bisikan Agam. Dan....mengapa bisikan pria itu membuat bulu kuduknya meremang?


Mendapati Jena yang diam saja, Agam lebih memperhatikan mimik wajah sang istri. Benar saja, wanita itu seperti sedang memakai blush on berlebihan.


"Ada apa dengan telinga mu?," tanya Agam, rona merah yang menjalar hingga ke daun telinga membuat Agam semakin candu menggoda istri yang baru saja di taklukannya.


Jena memegangi telinganya"Memangnya kenapa dengan telingaku?."


Beralih dari memainkan helai rambut sang istri, Agam menyentuh perlahan daun telinga Jena"Aku tahu, kau sedang tersipu malu. Bukan hanya wajah, daun telinga pun juga bisa tersipu malu."


Jena mendecak, usai mendapat hak nya sebagai suami, apa bocah tengil ini memiliki hobi baru? menggodanya dengan raut wajah yang semakin tampan di pandanginya.


"Kau, jadi begini wajah aslimu, kau sangat menyebalkan dengan terus menggodaku, Agam," sentak Jena. Namun, pria itu bukannya takut mendengar suara tertahan emosi sang istri, baginya wajah yang sedang marah ini sangat menggemaskan.

__ADS_1


Agam menatap Jena lekat-lekat, tertawa kecil kemudian meletakan kepalanya di ceruk leher Jena.


"Hai, apa yang kau lakukan??," seru wanita bersurai panjang itu.


"Aku akan menampakan wajah asliku, jadi bersiaplah," Agam terkekeh, dia menggelitik Jena di bagian pinggang sembari menciumi wajah istrinya bertubi-tubi.


Jena yang tidak tahan tiba-tiba menjerit. Seketika kamar mereka menjadi gaduh, gelak tawa nan renyah terdengar begitu keras dari dalam kamar mereka. Lantas, bukankah Gibran juga berada di kediaman itu, apa reaksinya saat mendengar dua insan itu bercanda?


"Ck! aku tidak menyangkan dua makhluk itu akan seberisik ini," gumamnya memasang headset. Malam yang dingin mungkin akan terasa berat malam ini, mendengar dari suara saja Gibran dapat memastikan mereka telah benar-benar bersatu dalam cinta. Cinta yang candu juga rasa bercinta yang selalu membuat ingin dan ingin lagi, Gibran merasa ragu apakah dirinya dapat bertahan di kediaman ini jika suara-suara aneh terdengar kembali dari dalam kamar pengantin baru itu.


...❣️❣️❣️❣️...


Riak air semaki deras, belum ada tanda-tanda sang banjir akan mereda. Di tambah rintik hujan turun begitu lama, meski kecil perlahan akan membentuk genangan air yang menambah kedalaman air.


Pada sebuah tenda yang di bangun berdekatan dengan tempat pengungsian warga, Zafirah menatap langit malam dengan cahaya lampu temaran. Sendirian, gadis itu memeluk kakinya di temani secangki teh hangat buatan Syabila.


Menatap sajadah berwarna hijau, hati gadis itu masih saja terasa nyeri. Setan jenis apa yang sedang menempeli hatinya, menatap barang pemberian Agam saja menimbulkan kerinduan yang teramat dalam. Seperti hujan yang perlahan turun, genangan air mata jua turun dari kedua matanya. Untuk kesekian kali, Zafirah memohon pada sang pencipta, lenyapkan perasaan yang tidak seharusnya bersemayam di dalam dada.


Gadis itu menatap arah suara, Yasir berdiri di luar tenda dengan memakai payung.


"Aku sudah berlari sejauh ini, tapi dirinya begitu betah di dalam hatiku," lirihnya.


Yasir menggelang"Tidak, bukan Agam yang tengah mengisi hatimu, tapi setan Zafirah. Ingat! apa yang kau pikirkan akan terbentuk dengan sempurna di alam bawah sadarmu, terlebih cinta yang terlampau dalam. Berhati-hati lah....jangan sampai kau menjadi duri dalam biduk rumah tangga saudara mu sendiri."


"Meski sekedar duri, iri dan dengki akan menjadi bahan bakar yang membentuk duri kecil menjadi pedang nan tajam, menebas layar kapal yang tengah mereka arungi hingga terombang-ambing di lautan kekecewaan. Jika semua telah terjadi, bukan hanya Agam dan Jena yang kecewa, kau sebagai duri kecil juga akan menanggung kekecewaan itu. Dengan bahasa sekarang, kau akan di cap menjadi perusak rumah tangga orang," sangat menusuk jantung, Yasir benar-benar mengguncang relung hati seorang Zafirah yang gundah karena cinta.


"Astaghfirullah, tolong selamatkan aku," ucapnya menatap Yasir.

__ADS_1


"Jangan meminta pertolongan kepadaku, hati yang sedang di titipkan Allah padamu, harus segera kau ambil kendali. Aku sekedar ingin berucap, kau akan hancur jika hidup dalam kendali cinta, namun, hidupmu akan membaik jika kau yang mengendalikan cinta."


Kata-kata pria ini benar-benar menampar kesadaran Zafirah. Selama ini dengan mengatas namakan cinta, dirinya seolah berniat melupakan Agam, namun sejatinya masih membingkai wajah pria itu pada dinding hatinya.


"Kau munafik, Zafirah," desisnya pada diri sendiri.


"Jangan menghakimi dirimu sendiri, kau bukan Allah sang maha pencipta. Keadaan tidak akan menjadi baik jika di iringi dengan amarah."


Tangis wanita semakin pecah, betapa dungunya dirinya selama ini.


"Kau nampak sangat berantakan, pasang headset mu dan dengarkan kalam illahi. Memandangi langit meski hujan begini cukup menyenangkan Zafirah," ujar Yasir.


"Aku pamit ya, sudahi kesedihan mu. Ingat, jika dia bukan jodohmu, ada seseorang yang sedang memantaskan diri sebelum tiba saatnya berjodoh denganmu," sambungnya lagi.


"Hick....," Zafirah menarik napas dalam isak tangis"Makasih nasihatnya," ujarnya lirih.


"Sama-sama," sahut pria itu.


"Ah satu lagi," ujarnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Zafirah, membuat gadis itu kembali menatap Yasir.


"Sandal jepit saja punya pasangan, mustahil kau yang sholehah tidak punya pasangan."


Celoteh pria itu membuat Zafriah tertawa.


"Ya sudah, aku pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Zafirah tersenyum sembari menyeka air mata.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2