Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Sang penawar hati


__ADS_3

Malam semakin larut, namun Arkan masih beraktivitas di kediaman Lisa. Gadis itu, sungguh sebuah beban yang sangat berat untuk di pukul. Bukan hanya sekedar menitipkan dirinya kepada Arkan, nyatanya, Jake juga menitipkan segala kesengsaraan dan penderita pada lelaki seusianya itu.


Meski lebih muda, Melisa yang terbiasa memerintah meminta kepada Arkan untuk membersihkan kediamannya, begitu saja tanpa merasa canggung sedikitpun. Ingin sekali Arkan mendaratkan jentikan di dahi kecil Melisa, namun teringat dirinya yang kini telah sendirian, Arkan jadi sangat tidak tega.


Terlebih, hewan imut berkumis panjang merayap dengan leluasa di dapur Melisa, membuat Arkan menjadi khawatir jika meninggalkan kediaman itu dalam keadaan kotor dan berantakan.


"Kali ini saja, aku akan membantumu membersihkan tempat ini," dengan berat, Arkan menyingsingkan lengan baju, bersiap menumpas kotoran dan bau.


"Terimakasih Tuan Arkan," ujar Lisa dengan senyuman nan lebar.


"Kau jangan senang dulu, aku bilang akan membantu, berarti kau juga harus ambil bagian saat membersihkan tempat ini. Lagipula, ini kan tempat tinggalmu, setidaknya jagalah kebersihan, bukan berternak kecoa hingga jenggot dan kumisnya tumbuh begitu panjang."


"Hufffpphh!!," Lisa menahan tawa. Arkan yang mengomel terlihat menggemaskan di matanya.


"Arkan, bahkan saat bayi pun kecoa sudah punya kumis dan jenggot."


Pria itu memanyunkan bibirnya, selain gemar memaksa, Lisa juga bawel, dan berisik pastinya.


Teringat sikap santai Lisa saat sang kecoa melenggang-lenggok di area dapurnya, Arkan jadi penasaran, apa gadis ini tidak takut kecoa???


Tawa gadis itu seketika pecah, saat Arkan melontarkan tanya itu"Hahahah, apa kau lupa, aku adik seorang kepala preman. Adik seorang ketua komplotan yang memegang berbagai bisnis berbahaya, hari-hari ku sudah terbiasa dengan pisau, pedang, pistol, dan darah pastinya. Jika hanya dengan seekor kecoa, hewan itu bahkan tidak membuat jantungku menciut."


"Sombong sekali kau ini."


Lisa tersenyum angkuh"Lagipula, aku jauh lebih besar dari kecoa itu. Apa yang perlu ku takutkan darinya!."


Kedua mata Arkan mengikuti pergerakan kecil di pakaian Lisa. Senyuman nakal seketika terbit di wajah pria itu"Benarkah, jadi....kau tidak takut terhadap kecoa?."


"Hem... tentu saja," ujar Lisa sembari mengangguk. Gadis itu menepis rambut tergerainya. Seperti ada sesuatu yang mengelitik di area lehernya.


"Oh, ya sudah," tukas Arkan berjalan menuju beranda. Pria itu melihat peralatan bebersih di sana, ckckckc Arkan sempat heran atas tujuan apa Lisa meletakan benda-benda itu di sana.


Lisa nampak sibuk sendiri, mengibas rambut yang terasa begitu menggangu tengkuknya.


"Cepatlah, kau tidak berniat membiarkanku membersihkan kediamanmu sendirian bukan?."

__ADS_1


"Sebentar, ck! sepertinya aku harus mandi dulu. Rambutku sepertinya kaku, terasa menggelitik," sahut Lisa mengendikan bahu, mencoba menetralkan gelenyar yang mengusik diri.


"Sepertinya bukan rambut yang menggelitik mu," Arkan mendekati Lisa.


Sebelah dari alis gadis itu terangkat naik"Hah?."


Arkan hendak menyentuh wajah Lisa, namun gadis itu dengan lekas menangkis tangan kekar itu"Heit! aku memang menyukaimu, tapi kita perlu status sebelum kau bisa menyentuh diriku."


"Pletok," Arkan memukul kepala Lisa dengan kemoceng berbulu warna-warni"Seharusnya bukan rumahmu yang di bersihkan, tapi otakmu!."


"Eishhh!," Lisa mendesis dengan rahang mengeras, baru kali ini ada seseorang yang berani memukul kepalanya. Jika saja itu bukan Arkan, sudah di patahkannya jari-jari orang itu.


"Lantas, untuk apa kau ingin menyentuh wajahku?," sentaknya"Bukankah itu langkah awal sebelum berciuman," kali ini suaranya terdengar sangat pelan. Ada rona merah bersemu di sana.


"Diam! kau bisa diam tidak!," Arkan meninggikan suara, Lisa yang memang banyak bicara akhirnya diam.


Perlahan.... Arkan menangkap sesuatu yang sedari tadi bersembunyi di balik lipatan kerah kemeja Lisa.


Seekor kecoa dengan kumis dan janggut tengah tergantung di tangan Arkan, pria itu memperlihatkannya begitu dekat di wajah Lisa. Sang kecoa, seolah menyapa Lisa dengan sayap yang terbuka dan tertutup.


"Yak!!! Arkan!!! buang jauh-jauh benda bersayap itu!!!," teriakan Lisa sangat memekakkan telinga. Gadis itu meloncat beberapa langkah kebelakang.


"Jika dia kecoa bersayap, aku....aku sedikit takut," cicit Lisa di kejauhan.


"Ckckckck, bahkan dengan kecoa pun kau sangat pemilih," ledek Arkan.


...💮💮💮💮...


Kehadiran Adila sangat berpengaruh bagi Jena. Jika kebanyakan wanita akan senang saat berjumpa sang ibunda, hal itu tidak berlaku untuk Jena, juga sebaliknya terhadap Adila.


Jena meninggalkan pekerjaan menyiram tanaman saat Adila datang. Bahkan saat Adila bertanya tentang keberadaan Gibran, Jena seolah menutup telinga.


"Agam, di mana kau meletakan kunci motor? aku ingin jalan-jalan ke perkampungan ujung," ujarnya justru berseru kepada Agam yang sedang berada di belakang rumah.


"Jena, kau hanya memanggilnya dengan nama? Agam itu suamimu!," sebelum Jena beranjak pergi, sempat-sempatnya Adila memprotes panggilan Jena terhadap Agam.

__ADS_1


"Ibu mencari Gibran bukan, dia sedang menggoda anak gadis tetangga," celoteh Jena tanpa perduli pada wajah kesal Adila.


"Ck! kenapa anak-anak ku tidak ada yang benar! kau berlidah pahit, dan adikmu yang sudah punya kekasih itu masih gemar menggoda wanita lain!!," oceh Adila memutar langkah ke kediaman tetangga.


Jena hanya melengos menatap Adila, hingga saat sang ibu mulai menjauh barulah dia berkata"Memangnya lidah dia tidak pahit!."


Agam menutup mulut sang istri dengan kedua telapak tangan"Jangan seperti itu, ibu Adila wanita hebat yang telah melahirkanmu, sayang."


Jena mendongak, menatap Agam dengan tajam"Kau, pilih ibu atau pilih aku?."


"Sayang, kenapa aku harus memilih di antara kalian?," Agam di buat tertawa, akhir-akhir ini istrinya terlihat lebih kekanak-kanakan.


"Kau sudah membela ibu, jika kau begitu sayang terhadap dia, untuk apa kau menikahiku?."


Seperti seorang gadis kecil yang merajuk pada sang ayah, Jena berjongkok sembari memeluk lututnya.


Ikut berjongkok"Ya Allah, Jenaira sayang. Kau cemburu bahkan kepada ibu Adila??."


"Entahlah," sungut Jena membuang muka.


"Sayang, maaf. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi," Jemari Agam mencubit pelan pipi merona sang istri, namun wanita itu kepalang merajuk. Dia bahkan menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangan.


Begitu kecil, Jena yang merajuk dengan memeluk lututnya itu sangat menggemaskan.


Agam meraih kunci motor matic di atas meja, kemudian menggendong Jena yang masih dalam posisi memeluk lutut.


Begitu ringan bagi Agam, Jena akhirnya berontak untuk di turunkan"Kau pikir aku seekor kucing dalam kardus, kau gendong seperti itu."


Meletakan kedua telapak tangan di kedua pipi wanitanya, tatapan hangat seorang Agam menjalar hingga ke relung hati seorang Jenaira"Kau, bahkan lebih lucu dan menggemaskan dari seekor anak kucing, sayang. Apalagi ketika sedang merajuk."


Hupffhh! Jena mengulum bibir dalam-dalam, Agam selalu bisa membuat emosinya sirna begitu saja. Mendapati wajah malu-malu itu, Agam lekas meraih jemari Jena. Membawanya melangkah mendekati motor matic hitam istrinya"Mau jalan-jalan bukan? jangan merajuk lagi ya, kau semakin manis saat merajuk, aku takut diabetes,sayang."


Lagi, Jena menggembungkan kedua pipinya mendengar ocehan manis suaminya. Tanpa banyak bicara, Jena segera duduk berboncengan dengan Agam. Memeluk erat pinggang suaminya sembari menikmati sore yang cerah, keresahan usai berjumpa dengan sang ibu pun perlahan sirna.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗



__ADS_2