
Berbelanja bersama pasangan halal, hal seperti ini kerap Agam jumpai di mall tempatnya mengais cuan. Mereka bergandengan tangan, memilah dan memilih apa yang mereka butuhkan baik itu urusan dapur atau perabot rumah baru mereka.
Teringat akan hal itu, Agam hanya menatap punggung sang istri yang telah lebih dahulu mendorong troli belanja saat masuk ke supermarket. Keinginan untuk menjalani kesehariannya layaknya pasangan lainnya sembat terbersit dalam benaknya, namun kembali lagi Agam harus menekan keinginan itu.
"Aku akan belanja sendiri, kau bisa menunggu ku di mobil."
Agam tak mengindahkan ucapan Jena, pria itu justru mengekor langkah sang istri sembari memilih sayuran apa yang akan dia beli.
Melihat sikap itu, Jena mengikuti kegiatan Agam memilih sayuran sembari berkata"Tidak seharusnya kau di sini, sebagai seorang istri hal ini harusnya ku lakukan sendiri."
Garis senyum terukir naik di wajah Agam"Pemikiran dari mana? bukankah sebagai suami istri kita harus saling membantu."
Bukan apa-apa, saat menjadi istri Dewa, tak pernah sekalipun pria itu menemaninya melakukan kegiatan seperti ini. Sang ibu mertua, Jelita, selalu mewanti-wanti agar putranya jangan di pandang sebagai lelaki lemah. Apalagi tentang urusan dapur, sesibuk apapun Jena, Dewa tak pernah membuat makanannya sendiri, sebab Jena di wajibkan selalu melayani dan mengurusi segala konsumsi sang suami. Ketetapan Jelita cukup bagus, namun peraturan itu tetap berjalan bahkan saat Jena dalam keadaan sakit.
Teringat akan hal itu, Jena merasa tidak nyaman saat Agam menemaninya berbelanja bahan dapur. Namun, sikap pria itu, juga kepintaran dalam memilih daging dan sayuran membuat Jena berdecak kagum.
"Kau tidak risih, wanita-wanita di stan sayuran ini memandangi mu."
Agam menyapukan pandangan, memang benar, para pengunjung wanita menatap dengan senyum sembari berbisik pada rekannya.
"Hanya berbelanja bukan, kenapa harus risih?."
"Mereka membicarakanmu," bisik Jena. Sangat jelas, Agam terlihat lebih menonjol di antara para wanita kala itu, sebab hanya dia seorang yang begitu setia menemani pasangannya.
Tetap sibuk dengan kegiatannya, Agam mengambil alih troli dari Jena"Kau ingin cepat menjumpai Zafirah tidak?," tanya nya berpindah ke area ikan"Ah, aku ingat, kau menyukai ikan bakar bukan? aku akan membungkus beberapa ikan untuk mu."
"Yah!!," Jena menepuk keningnya"Aku hampir melupakan Zafirah.
Agam di buat tertawa, sejatinya usia tidak menjadi patokan untuk seseorang bersikap dewasa. Sejak bersama, Agam kerap menjumpai sisi kekanakan Jena.
"Tidak! ikan besar itu terlihat menakutkan, lagi pula dagingnya terasa berbeda dengan yang berukuran sedang," protes wanita itu saat Agam hendak mengambil ikan yang besar.
"Begitukah? aku masih pemula dalam urusan ikan," tukas Agam. Benar begitu, bisa di katakan dirinya mengkonsumsi ikan, bermula saat Jena menghadirkan hidangan ikan bakar padanya di rumah pantai. Demi rasa hormatnya kepada Jena saat itu, dengan perasaan ketar-ketir Agam memakan hidangan barunya itu. Dan....rasa ikan bakar lumayan nikmat, bahkan sangat nikmat.
Interaksi mereka memang menyita perhatian pengunjung lain, bukan semata karena Agam yang begitu setia menemani Jena. Wajah rupawan pria itu membuat mereka tak bisa menatapnya sekilas saja. Bertubuh tinggi tegap, berkulit putih membuat Agam semakin mencolok dengan kaos hitam dan jaket berbahan jeans yang dia kenakan. Dan saat pria itu tersenyum hangat menatap wanitanya, betapa sepasang lesung pipi itu membuat para wanita ikut tersenyum menyaksikan.
Juga paras cantik Jena, bisik-bisik para pengunjung menerka-nerka akan seperti apa anak mereka kelak. Meski bertubuh kecil, dengan perawakan langsing, juga berkulit putih bersih, berpakaian seperti apa pun Jena terlihat begitu menarik, bahkan di mata sesama wanita sekali pun.
Pasangan itu akhirnya sampai di kasir, setelah menghitung belanjaan mereka, sang kasir mempersilahkan untuk membayar.
Jena memberikan beberapa lembar uang sejumblah belanjaannya, sedangkan Agam tengah mengambil air mineral di kulkas samping kasir.
"Pakai ini saja", Agam menyerahkan kartu berwarna gold pada sang kasir.
__ADS_1
"Pakai tunai itu saja," celah Jena.
"Tidak, pakai kartu itu saja," ujar Agam lagi.
Sang kasir terlihat bingung dengan pasangan ini.
"Apa kalian suami istri?," tanya pelanggan di belakang Jena dan Agam.
"Iya," sahut Jena lekas, Agam mengulum senyum mendengar ucapan sang istri. Hatinya menghangat saat Jena mengakui hubungan mereka di hadapan khalayak ramai.
"Biarkan suamimu membayar belanjaan itu, cepatlah. Anak ku sedang menunggu di luar," ujar pelanggan itu.
Agam mengambil uang milik Jena yang akan di kembalikan kepada empunya. Menyambar tangan terjulur Jena yang gagal mengambil uang nya lebih cepat dari Agam.
Tanpa berkata, Agam menggenggam dan memasukkan jemari Jena ke dalam saku jaketnya.
"Hei," wanita itu hendak protes. Wajahnya bersemu.
Semakin mengeratkan genggaman"Diamlah," ujar Agam setengah berbisik.
Kecepatan gerak sang kasir patut di acungi jempol, dalam beberapa menit mereka telah melangkah meninggalkan kasih. Sembari bergandengan tangan seperti yang Agam inginkan beberapa saat yang lalu.
"Ckckcck.....,dasar anak muda," ujar pelanggan di belakang mereka.
Di kediaman Kyai Bahi, nampak sebuah bus baru saja berhenti di halaman nan luas. Zafirah beserta rombongan relawan berbondong-bondong menuruni bus besar itu.
"Ustadzah Zafirah," panggil para santri kecil. Mereka berlarian mengejar wanita lembut yang kerap mengajarkan ilmu agama kepada mereka.
"Jangan berlarian," seru Zafirah khawatir. Anak-anak berusia 5 sampai 10 tahunan itu tetap berlarian mengejar Zafirah. Sosok yang sangat mereka rindukan beberapa hari ini, sungguh, kebaikan dan kelembutan wanita itu sangat membekas di hati mereka.
"Saya bantu bawa tasnya ustadzah," ucap salah seorang santriwati.
"Tidak perlu, kalo mau membantu, bantu Syabila saja. Dia membawa banyak makanan untuk di bagikan kepada kalian di asrama nanti," ujarnya menunjuk ke arah bus. Di dalam sana Syabila tengah mengumpulkan nyawa. Bagaimana tidak, wanita itu menyantap banyak buah durian sebelum kembali ke pondok pesantren, jarak tempuh yang jauh sukses mengguncang seluruh isi dalam perutnya, hingga akhirnya dirinya yang tidak pernah mabuk darat akhirnya merasakan hal itu.
Di iringi kawanan para malaikat, Zafirah tersenyum dan tertawa mendengar celoteh mereka saat dirinya tiada.
"Kak Yasmin galak, belajar sama kak Yasmin menakutkan," mereka mulai mengadu kepada Zafirah.
Telah sampai di beranda kediamannya, Zafirah menarik bocah kecil berusia kurang lebih 6 tahunan itu ke dalam pangkuan"Coba katakan, kenapa kak Yasmin di sebut galak?."
"Dia tidak menulis ustadzah," sambar temannya yang lain.
__ADS_1
Zafirah tertawa"Naaahhhhhh, berarti kak Yasmin galak bukan tanpa sebab kan."
Bocah perempuan itu menyembunyikan wajah di balik kerudung besar Zafirah.
"Coba ustadzah tanya, apa benar kak Yasmin galak?," tanya nya pada anak-anak yang lain.
"Hemmmm," bagai paduan suara, anak-anak itu serempat mendengungkan suara.
"Siapa yang galak?," pucuk di cinta, Yasmin keluar dari gerbang asrama putri saat itu.
Spontan anak-anak tertawa, begitu pula dengan bocah perempuan di pangkuan Zafirah.
"Aisha hanya bercanda ustadzah," ujarnya kembali menyembunyikan wajah di balik kerudung Zafirah.
Yasmin tertawa, di ikuti anak-anak lain yang juga tertawa.
Dengan gemas, Zafirah mencubit pelan ujung hidung Aisha"Hayo, kalo begini siapa yang harus di hukum? Aisha atau kak Yasmin?."
"Aisha dong," seru Yasmin.
Menundukan wajah" Aisha hanya bercanda."
"Sama, kak Yasmin juga hanya bercanda," ucapan wanita bermata sipit itu kembali menerbitkan senyuman di wajah Aisha.
"Ini, kak Yasmin punya banyak oleh-oleh dari ustadzah Zafirah. Kalian mau tidak??."
Bersamaan mereka mengacungkan jari sembari berseru"Mau!!."
"Lekas kejar kak Yasmin," seru Zafirah memandu Yasmin agar menuju ke kelas TPA.
Kini giliran Yasmin yang di kejar-kejar para malaikat itu, sungguh, pemandangan itu sangat menyenangkan hati kecil Zafirah.
Di kejauhan, Kyai Bahi sedang berjalan dari kelas santri putra. Zafirah melambaikan tangan pada Abi tercintanya. Senyum mengembang di wajah tua itu, masih sangat tampan dan menarik untuk di pandangi.
Atensi lelaki tua itu tersita pada mobil yang baru saja memasuki gerbang utama pondok pesantren. Zafirah yang sangat mengenali mobil itu menarik napas dalam-dalam.
"Bang Agam," desisnya. Kepergiannya kali ini memang demi menghindari pesta pernikahan Agam dan Jena. Dan di kala luka itu mulai sedikit terobati, mengapa dua insan yang di takdir bersama ini hadir kembali di hadapannya???.
"Ya Allah, hati seperti apa yang engkau titipkan padaku? apakah dia sekuat itu?," lirihnya menggigit bibir saat mobil itu semakin dekat padanya.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗
__ADS_1