Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
pergerakan Ane


__ADS_3

Lenguhan dan desisan memenuhi kamar pasangan halal, Ane dan Tian. Akhir-akhir ini, Ane sangat lihai membuat Tian menggila. Sentuhan dan dekapan hangatnya membuat Tian selalu memikirkan dirinya, saat bekerja, juga saat bersama Tiara. Tak selalu dungu, Ane, yang sempat di bodohi suaminya kini mulai bertindak. Lelah di bohongi, lelah di kibuli, wanita itu menyelidiki gerak-gerik suaminya saat di luar rumah. Dan...saat hati yang lembut merasa di khianati, bahkan setelah kesempatan kedua itu dia berikan, nyatanya sang suami masih bermain gila dengan wanita jal*ng itu.


Bukan tidak tahu dengan status seorang Tiara, namun kekecewaan yang teramat dalam membuat Ane memikirkan cara halus untuk membalas prilaku kejam mereka kepadanya. Dan mengenai Jena, sungguh, Ane merasa amat sangat bersalah terhadapnya. Atas dasar cinta yang begitu dalam kepada lelakinya, Ane menjadi buta, bahkan tuli, mencari kambing hitam untuk di salahkan, alih-alih menghadapi kenyataan pengkhianatan Bastian adalah karena ulah pria itu sendiri.


Namun, begitulah penyesalan. Dia selalu akan datang saat semuanya telah hancur berantakan. Dan demi melancarkan aksi diam-diam menusuk nya, Ane tetap terlihat tak perduli terhadap Jena. Mungkin kelak, saat semuanya telah terbalas, wanita itu akan kembali merajut hubungan baik kekeluargaan mereka. Entah Jena akan memaafkan, atau keras hati seperti biasanya, untuk saat ini Ane mengesampingkan masalah itu.


Masa-masa suram perlahan singgah dalam kehidupan Tiara. Gagal menghubungi kekasih gelapnya, wanita itu beralih mengintip akun sosial milik Ane. Dan...betapa gundah begitu menyebar dalam relung sang hati, ketika senyum seorang Tian merekah dengan sangat sempurna dalam potret kebersamaan mereka beberapa hari yang lalu. Pria gagahnya memeluk mesra istri sahnya, Ane.


Meregangkan jemarinya pada layar sang gawai, Tiara memperbesar foto di akun media sosial milik Ane tersebut"Ini di kota lama," gumamnya dengan hati bergemuruh kesal.


Seketika jemarinya mengepal, dirinya sempat mengatakan kepada Tian ingin berwisata di kota lama, namun, kekasih gelapnya itu sudah lebih dahulu mengajak istrinya ke sana. Bagaimana sang hati tidak meringis, Tian yang lembut sudah jarang menemuinya, bahkan sekedar membalas pesan-pesannya. Juga saat mengajaknya bercumbu mesra, Tian seolah selalu di kejar waktu saat bersamanya. Berbincang sejenak kemudian mencium lembut keningnya, hanya itu yang kerap Tian lakukan saat mencuri waktu untuk bertemu.


"Kau sudah selesai? apa kau tahu siapa yang ibu lihat di supermarket tadi?," Jelita datang menghempas diri di kursi mobil. Katakan saja Jelita adalah manager Tiara, namun, pekerjaannya hanya mengatur jadwal pekerjaan untuk Tiara. Selepas itu, Tiara kerap menyelesaikan segala urusan dalam pekerjaan itu sendiri. Ckckckck! nasibmu indah sekali duhai Tiara.


"Ibu ke supermarket, sedangkan aku sedang kehausan di belakang panggung tadi," keluhnya, alih-alih bertanya siapa yang telah di jumpai Jelita.


"Ck! hanya kehausan, dan kau sudah ingin mengomel kepadaku?."


Pandangan Tiara perlahan meredup, bagaimana dia berani membalas sorot tajam dari sang ibu mertua. Kini, Tiara hanya terdiam, jika dia kembali bersuara maka amarah Jelita akan sampai pada puncaknya.


"Lihatlah, betapa tidak tau malunya wanita mandul ini," bukan sekedar foto, Jelita merekam kebersamaan Jena dan Agam di supermarket.


Apa kau tahu, luka tersayat sembilu itu semakin perih walau sekedar tersiram air, terlebih air garam. Kesal karena gagal menghubungi kekasihnya, berhujung dengan mendapati foto pria itu yang begitu mesra dengan kekasih halalnya. Dan kini, Tiara kembali menelan pil pahit menyaksikan kebahagiaan Jena.

__ADS_1


Tiara memijat pelipis, menyandarkan diri lebih dalam ke punggung kursi"Lantas, Tiara harus apa ibu?," ujarnya begitu malas.


"Sampai kapan kau akan pasrah dengan Dewa? apa kau sudah bicara padanya? apa kau sudah memperbaiki hubungan kalian?."


Ya! Dewa, lelaki itu semakin menghilang dari kehidupan Tiara. Dengan sengaja dia menarik diri dari istrinya, juga kedua orangtuanya. Terakhir kali mereka bertemu, saat Jelita membebaskan Dewa dari penjara, dan setelahnya...Dewa tak pernah kembali ke kediaman mereka.


Menggeleng pelan"Tidak bu, dia tidak pernah mengangkat teleponku."


Ck! Jelita mencebik. Mendelik dan melengos kesal. Kalau begini, kapan dirinya akan menimang cucu? hubungan putra dan menantunya saja sudah hancur berantakan. Jika tidak karena uang yang terus di hasilkan Tiara, mungkin Jelita benar-benar anak menendangnya dari hidupnya.


Meninggalkan Tiara yang selalu di rundung duka, nyatanya kehidupan pedih itu perlahan-lahan meninggalkan Jena. Hari-hari suram perlahan berganti dengan hari-hari yang ceria. Katakanlah Tiara beruntung dalam karir barunya, namun Jena juga terus menunjukan kemajuan dalam pekerjaan yang di gemarinya.


"Grap!!," Agam memeluk tubuh sang istri yang sedang menikmati kopi di beranda kamar. Memandang langit malam dengan irama syahdu sang debur ombak.


"Mungkin sebentar lagi," jemari kecilnya mengusap lembut punggung tangan Agam yang melingkar di perutnya.


"Naskahnya sudah selesai?."


Jena menggelengkan kepala"Belum, editor baruku orangnya tak buru-buru seperti Kirana. Setidaknya saat menelponku dia tak semata menagih naskah saja."


Agam semakin mengeratkan pelukannya"Tapi, aku lebih senang jika Kirana saja yang menjadi editor mu, sayang," wajahnya sedikit masam. Mengingat editor baru istrinya seorang pria, hati kecil di dalam sana merasa resah.


Jena membalikkan badan, menatap wajah prianya"Senyum!," ujarnya menarik sudut bibir Agam, mengukir senyuman yang nampak canggung di sana.

__ADS_1


"Cih! kau yang terpaksa tersenyum pun sudah cukup tampan. Bagiamana bisa kau cemburu dengan editor baruku??."


"Tetap saja, dia kan punya hati. Jika dia tertarik padamu, bagaimana?."


Jena meletakan gelas kopinya di tepian pagar, menangkup kedua pipi suaminya dengan erat"Kau, sangat menggemaskan saat cemburu. Lagipula, apa kau mulai meragukan perasaanku padamu? apa kau begitu pundung, padahal kita sudah resmi menjadi suami istri, Agam sayang."


Agam sayang! kata itu membuat Agam menahan senyuman, hingga akhirnya tertawa.


"Kau harus tahu, aku sangat mencintaimu, Istriku!!!," lirihnya memeluk Jena dengan erat. Jena yang kecil merangsek begitu dalam ke pelukan Agam.


"Aku sangat tahu, aku pun sangat mencintaimu," pekiknya menahan diri.


"Agam!!," Jena merasakan kakinya tak menapaki lantai. Begitu gemas, Agam memeluknya hingga membuat tubuhnya terangkat.


Ciuman itu bertubi-tubi, menjelajahi setiap senti wajah cantik Jena. Perlahan turun ke ceruk leher dan mencipta desir hangat di hati mereka. Dengan lembut, pasangan itu semakin tenggelam dalam indahnya cinta. Dengan bibir yang saling berpagutan, mereka melangkah menuju kamar dan berbaring di peraduan. Beruntunglah Gibran, pria itu memilih pindah ke lantai bawah. Mengisi kamar kosong di sana, alih-alih bertahan tinggal satu lantai dan berdampingan dengan kamar pasangan hangat itu.


Pakaian mereka satu persatu jatuh teronggok di lantai, hingga saat lampu yang menyala terang berganti meremang.


"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna," Agam memulai aksinya sebagai lelaki perkasa.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2