
...Duhai sang hati......
...Terimakasih karena kau selalu bersabar,...
...Terimakasih kau terus bertahan dalam hubungan yang...tak lagi indah ini....
...Salwa Al-Adnan....
...ππππ...
Lantunan ayat suci Al-Quran, terdengar sayu di sepertiga malam. Berbekal hati yang tengah patah, seorang wanita dengan sudut mata berair itu tengah mengadu pada sang maha pencipta. Dahulu, dirinya bukanlah seorang gadis yang tumbuh dalam lingkungan pondok pesantren, namun dengan seiring berjalannya waktu, juga dengan pahitnya liku kehidupan ini, mengantarkan dirinya pada hamparan sajadah di setiap malam-malamnya, bercerita pada Allah sang penguasa segalanya.
Sembari menunggu waktu subuh tiba, dia masih betah berlama-lama dengan kalam ilahi, rasanya begitu tenang dan damai saat membaca ayat suci Al-Quran. Rasa nyaman itu perlahan memudar, saat langkah seseorang tertangkap indra pendengar, spontan wanita bernama Salwa itu mengakhiri aktivitas nya"Shadaqallahul adzim".
Untaian kata itu di sambung denganΒ derit pintu kamar, nampak seorang pria tinggi tegap, menatapnya tajam.
"Sudah ku katakan! pelankan suaramu ketika mengaji!! aku sedang bekerja!!."
Suara itu terdengar nyaring, bahkan bisa mengejutkan seseorang yang sedang melamun atau tertidur. Namun tidak bagi Salwa, sebab suara tinggi lelaki yang seharusnya mengimami setiap sholatnya, sudah sering dia rasakan. Hingga dirinya telah terbiasa dengan perlakuan seperti itu.
"Maaf mas, aku hanya sedang menunggu waktu subuh, sembari mengaji."
"Nah! kau tahu kan sebentar lagi subuh!. Seharusnya pada jam segini aku sedang tertidur, pada kenyataannya aku masih sibuk dengan pekerjaan. Dan suara berisik mu itu mengganggu ku ketika bekerja!!."
Rasa perih di hati, memangkas kata yang akan kembali keluar dari mulutnya. Salwa memeluk kitab suci Al-Qur'an, seraya berkata"Maaf mas, lain kali aku akan membacanya dengan pelan."
"Brak!!," pintu kamar itu terdengar di tutup kasar. Meninggalkan Salwa, seorang diri meniti langkah di bibir jurang kesabaran.
Air matanya hampir saja jatuh saat terdengar Adzan berkumandang. Jemari lembut itu segera menepis kedua mata, kembali menguatkan diru bahwa menangis bukanlah jalan terbaik dalam menghadapi semua ini, menghadapi tabiat suami yang semakin kasar padanya.
Usai melaksanakan sholat subuh, Salwa menyibukkan diri di dapur. Seperti biasa, dia akan memasak untuk suami tercinta.
__ADS_1
"Mas...mas Randy, sudah pagi mas," pelan sekali, bahkan sangat hati-hati Salwa membangun suaminya itu.
"Mas...."
"Ck!! berisik!! aku tahu!," sentak pria itu.
Salwa hanya bisa menggigit bibir, menahan diri agar tidak menangis. Sungguh, sikap Randy sangat menyiksa dirinya. Ini baru tahun kedua perjalan rumah tangga mereka, dan akhir-akhir ini sikap Randy semakin kasar, sangat berbeda jauh dengan dahulu mereka masih berpacaran.
Mengambil duduk, dengan rambut yang acak-acakan. Randy berdecih saat melihat penampilan Salwa"Apa yang kau pakai!!."
Salwa berdiri, setelah sebelumnya duduk di tepian ranjang saat membangunkan Randy"Aku sedang mencoba berpakaian tertutup Mas."
"Untuk apa? dan itu! ada apa dengan kerudung itu!! apa kau juga akan memakainya?? sepanjang hari? bahkan di dalam rumah??," rentetan pertanyaan itu mengalun dalam nada datar namun terasa menyakitkan. Apalagi dengan tatapan menghunus, sebongkah hati yang tengah Salwa obati kembali merasakan sakit.Β
"Ti...tidak mas. Aku hanya memakainya saat keluar rumah saja," wanita itu tegagap, tidak menyangka reaksi Randy akan semarah ini.
"Ini di dalam rumah, apa sekarang kau juga harus memakainya?!!."
"Akh! semakin hari tingkahmu membuatku muak Salwa. Untuk apa memakai kerudung? kau sangat cantik jika berpakaian seperti biasanya!."
"Aku mendengar ceramah agama di utub mas, aurat perempuan yang telah bersuami akan menjadi tanggung jawab suaminya. Aku..aku hanya sedang..."
"Sudahlah!! jangan sok alim!. Siapkan sarapan. Aku akan mandi dulu."
"Dan satu lagi! lepaskan kerudung itu. Kau masih sangat muda, nanti saja setelah tua barulah kau memakainya."
"Iya mas," ujarnya melepas kerinduang yang dia kenakan. Nampak leher jenjang di sertai untaian rambut yang namlak tergerai. Nafsu Randy seketika bangkit.
"Salwa."
"Iya mas?," sahutnya menoleh.
__ADS_1
Seketika Randy menariknya, mendorongnya ke tempat tidur. Pria itu menikmati tubuh Salwa dengan beringas. Tanpa kelembutan, dan menyisakan tanda kepemilikan begitu banyak di tubuh sang istri. Alih-alih menikmati, serangan yang di lancarkan Randy secara kasar membuat hati Salwa kembali sakit.
"Mas...tidak bisakah kau meminta dengan lembut," lirih harinya saat memungut pakaian yang teronggok di lantai. Permainan di pagi hari, cukup memuaskan bagi Randy namun tidak bagi Salwa. Dia sadar suaminya begitu menggilai tubuhnya, namun caranya sudah tak lagi lembut seperti dahulu. Dan setiap kali Salwa meminta untuk di sentuh dengan lembut, Randy justru semakin memperlakukan dirinya dengan kasar. Bahkan, Randy merasa lebih puas jika Salwa menangis dalam permainan panas mereka.
"Cepat siapakan sarapan. Aku ada rapat pagi ini!," hardik Randy dari muara pintu kamar mandi.
Sementara Salwa, dirinya belum membersihkan diri usai di jamah, rasanya tidak nyaman jika langsung berpakaian. Ingin rasanya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri di sana, namun mengingat di sana ada Randy, Salwa takut suaminya akan kembali meminta hak nya di sana.
"Ya Allah, ampuni hamba yang menghindari sentuhan dari suami hamba," lirih nya kembali.
Di rumah itu hanya ada mereka berdua. Salwa dengan leluasa bisa turun dengan menggunakan handuk saja menuju kamar mandi di lantai bawah. Di sana, Salwa kembali mandi , kemudian lekas-lekas menyiapkan sarapan untuk Randy.
"Mas, kira-kira pulang jam berapa?."
"Entahlah. Memangnya kenapa?."
"Tidak, nanti malam mas mau makan apa? aku akan memasakanya."
Randy diam sejenak, kemudian"Tidak perlu, malam ini kita akan makan malam di rumah Adi."
Adi, sepupu Randy. Salwa menganggu, sembari meraih tas laptop milik Randy dan mengantarkan nya ke pintu depan.
"Ingat, berpakaian yang cantik. Aku paling suka kau memakai dress merah hadiah dari mama. Kau pakai dress itu malam ini ya."
Salwa menelan saliva, dress yang di maksud Randy cukup terbuka. Haruskah dia mengenakan pakaian seperti itu? sedangkah hatinya sudah tidak nyaman untuk memakai pakaian seperti itu.
Setelah menimbang-nimbang, dengan terpaksa Salwa mengikuti apa yang di inginkan Randy, memakai dress merah kesukaannya. Tubuh Salwa memang indah, bahkan sangat indah di pandang mata. Tak dapat di pungkiri, banyak lelaki yang memandang kagum pada Salwa malam itu. Di tambah Randy meminta Salwa untuk menggelung rambutnya ke atas. Wanita itu semakin mempesona, dan Randy sangat bangga akan tatapan terpesona rekan kerjanya pada sang istri.
Mohon dukunganya untuk novel baru aku ya teman-teman π€. Kasih aku saran dan kritik yang membangun, biar lebih baik lagi dalam menulis.
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu, salam hangat dari Be___mei π₯°