Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Hilang arah.


__ADS_3

Semesta seketika sendu, langit yang semula biru kini berubah menjadi abu. Tergesa-gesa Gibran membantu Jena mengepak koper, secepat mungkin Jena harus segera pergi dari kediaman itu.


"Kau, pergilah ke mana saja kau kamu, dan sebaiknya kau mengganti nomor ponsel. Aku yakin mama tidak akan diam saja saat mengetahui tindakan ini", cerocos Gibran sembari mengapit Jena keluar dari kediaman mereka.


"Kau sungguh ingin mengusir ku", lirihnya di sela langkah yang terseret.


"Demi kabaikan mu, juga kebaikan mama. Aku menyayangi kalian berdua, melihat kalian berseteru membuat hatiku menderita".


"Tapi___", cicit Jena.


"Aku mohon kak!", wajah itu memelas penuh harap. Menatap Jena dengan manik berkaca-kaca.


Memandangi wajah yang kerap menyebalkan, kali ini hati wanita itu bagai tersayat belati"Sungguh unik caramu mengungkap sayang kepadaku bocah tengil", ujarnya di sela air mata yang siap jatuh kapan saja.


"Kalau begitu, apa kau sudi masuk dalam pelukanku sebentar saja", suara berat Gibran bergetar.


Tak ayal, Jena meraup tubuh tinggi Gibran dalam pelukannya. Membuat tubuh tinggi tegap itu merunduk demi menyamakan tinggi badan mereka. Kenangan masa kecil, saat mereka kerap bercanda dan bergurau bersama, berkelebat hingga memacu air mata lolos dan menggenangi kedua pipi.


"Pandai-pandailah menjaga diri kak, catat nomorku sebelum kau berganti nomor ponsel", ucapnya sembari mengusap pucuk kepala Jena.


Bocah laki-laki itu terus berceloteh"Ingat! kau harus memberi kabar kepadaku".


"Hem, baiklah", sahut Jena pelan.


...🌸🌸🌸🌸...


Waktu perlahan berjalan, Adila lantas gusar saat Jena menghilang dari rumah pantai. Gibran yang tak ingin di curigai, sengaja menghilang dari kediaman itu.


Mengambil jalan yang berbeda arah, Jena dengan motor matic nya menuju perkotaan, sedangkan Gibran dengan langkah gontai menuju ujung pulau.


Kemarahan Adila semakin menjadi saat putrinya tidak dapat di hubungi, teringat keadaan kamar Jena yang berantakan, Adila menyadari bahwa sang putri kembali menolak perintahnya untuk menikah dengan Rio.


Tangannya mengepal dan bergetar"Jenaira....kau memang tidak berguna", geramnya.


Beberapa waktu yang lalu, keberuntungan tengah singgah dan menyelamatkan Jena. Netranya lebih dahulu melihat mobil Adila di jalanan, segera wanita itu berbelok memasuki area mushola dan bersembunyi di sana. Nyaris saja mereka berpapasan, entah apa yang akan terjadi jika Adila yang lebih dahulu melihat dirinya.


Saat bayang mobil sang ibu perlahan menjauh dan menghilang, segera Jena melanjutkan perjalanan. Tak tahu hendak kemana, Jena yang memang tidak memiliki teman merasa bingung dengan arah dan tujuannya.


Teringat sang ibu yang teliti dalam mencari, Jena singgah sejenak di halte bis, bertepatan dengan datangnya bus menuju kota. Tanpa banyak berpikir, motor matic itu di tinggalkan begitu saja di halte bus, sementara Jena pergi melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus.


"Maaf, semoga Gibran menemukanmu dan membawamu pulang bersamanya", ujarnya sebelum meninggalkan kendaraan roda dua itu.


Membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, supir keluarga Ahmad ketar-ketir sebab Adila terus mengomel di kursi belakang.


Rutukan dan umpatan wanita itu lontarkan, tentu saja beralamat kepada Jena, putrinya sendiri. Hati kecil sang sopir merasa sedih, mendengar seorang ibu begitu mudah mencaci dan memaki putri yang dia lahirkan sendiri.

__ADS_1


"Haish!! apa yang harus aku katakan pada keluarga Rio!!?", desis Adila memijat keningnya.


"Pak Adi, jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan pada Jena", tanya nya pada sang supir.


Sungguh suatu beban, pak Adi bimbang harus menjawab seperti apa. Jelas sekali bahwa dirinya tidak mendukung perbuatan dan sikap Adila terhadap Jena, namun, jika dia berkata jujur pekerjaan nya mungkin terancam.


"Pak Adi, aku sedang bertanya padamu", Adila menyaringkan volume bicaranya.


"Saya, saya tidak bisa berkomentar bu", sahutnya akhirnya.


"Ck!", terdengar decihan jengah Adila.


"Apa aku ibu yang buruk di matamu?".


Pak Adi menelan saliva, pertanyaan majikan wanita ini membuatnya sulit untuk bernapas.


"Katakan saja pak Adi, aku tidak akan memarahimu", desak Adila.


"Tidak bu, saya tidak berani berkomentar", ulangnya lagi.


"Ah, apa aku menakutkan. Aku hanya bertanya, kau tidak perlu sampai berkeringat begitu".


Pak Adi segera menyeka keringat di keningnya"Maaf bu", ujarnya sopan.


Adila akhirnya diam, ash! apakah dirinya sungguh seorang ibu yang buruk.


Sang supir hanya menyimak.


"Hingga usia kehamilan 7 bulan aku kesusahan untuk tidur, selera makan ku sangat buruk. Aku bahkan masih mual dan muntah di usai kehamilan 7 bulan itu. Aku sangat tersiksa, namun aku juga sangat menginginkannya", wanita itu terus bercerita, dan pak Adi masih setia sebagai pendengar saja.


"Sampai saatnya untuk melahirkan, aku hampir mati karena Jena tak jua keluar, aku berjuang melawan rasa sakit, namun Jena seakan enggan untuk lahir kedunia. Bocah itu tersangkut di pinggulku, hingga dengan terpaksa aku melahirkannya dengan cara di operasi sesar. Apa kau tahu pak Adi, aku sangat kecewa, sejak bayi pun Jena sudah membuatku menderita. Ah tidak!", ralat Adila"Dia membuatku susah sejak masih dalam kandungan", lanjutnya.


"Tapi, dia darah daging ibu", memberanikan diri, pak Adi akhirnya berkomentar.


"Tentu saja dia darah dagingku, aku hanya tidak menyangka akan sesulit itu mengandung hingga melahirkannya", gerutu Adila lagi.


"Dan kesalnya lagi, dia terlahir dengan berbekal kesialan".


"Ibu", ujar pak Adi sangat tidak rela"Itu hanya bualan peramal palsu".


Adila menarik napas dan membuangnya kasar"Iya, aku tahu. Tapi ku rasa putriku itu memang terlahir membawa nasib sial".


"Lihatlah sekarang, Rio begitu baik, tapi dia menolaknya. Aku harus menanggung malu, apa yang harus aku katakan saat bertemu keluarga Rio nanti??!".


"Non Jena kan tidak cinta bu sama nak Rio".

__ADS_1


"Cinta akan datang karena terbiasa pak Adi", tegas Adila.


"Tapi tetap saja cinta tidak bisa di paksa, apalagi non Jena pernah terluka. Pasti sangat sulit baginya untuk kembali percaya pada seorang pria", ucapan pak Adi sedikit menyentil hati Adila.


Keheningan sejenak singgah di dalam mobil itu.


Tidak terasa, Adila kini telah berada di depan restoran.


"Pak Adi, aku memaksa Jena untuk menerima Rio demi kebahagiaannya", rupanya wanita paruh baya itu terngiang dengan banyak perkataan Pak Adi.


Pria tua itu hanya mengangguk dengan senyuman kecil. Sungguh, hati Adila sangat keras melampaui kerasnya batu.


Lama menikmati perjalanan, Jena tidak beranjak dari bus itu hingga pemberhentian terakhir. Sang supir bus menanyakan tujuan Jena, namun wanita itu hanya tersenyum pahit.


"Nona, apa kau tidak punya tujuan?", tanya pak supir lembut. Wajah tua itu mengingatkan Jena akan sang kakek, pria tua berhati malaikat yang sangat dia rindukan.


Mengangguk pasrah, Jena sungguh tak tahu hendak kemana dirinya.


"Apa kau sedang dalam masalah?", tanya pak supir kembali.


"Iya", sahut Jena"Aku kabur dari rumah", lanjutnya lagi.


"Ah, kabur dari rumah ya. Mungkin kau bisa menemui sahabatmu?".


"Aku tidak punya sahabat".


"Sanak saudara yang dapat di percaya?".


"Mereka bahkan memusuhi ku", sahut Jena pula.


Sang supir memutar duduknya hingga sempurna menghadap Jena"Nona, sepertinya kau sedang dalam masalah besar. Tapi, aku tidak tahu dengan cara apa untuk membantumu".


Jena hanya diam, otaknya benar-benar buntu.


"Mungkin, kau ingin ku antar ke hotel atau sebuah penginapan", ujar pak supir lagi.


"Aku tidak tahu harus kemana pak, jika harus ke hotel....mungkin keberadaanku dapat di lacak oleh keluargaku", sahut Jena memainkan jemari-jemari di pangkuan. Wanita itu tertunduk lesu, seperti yang di lihat Gibran, Jena bagai seorang macan betina yang kehilangan taring usai di pecundangi wanita yang melahirkannya.


Ucapan Jena membuat sang supir menggaruk tengkuk, tidak gatal, hanya saja dia sungguh bingung harus berbuat apa.


"Nona, maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud untuk mengusirmu, hanya saja sebentar lagi aku ada janji dengan seseorang. Bus ini sudah di booking sekumpulan relawan".


Jena sungguh terpojok, salahkah jalan yang telah dia tempuh? nyatanya sekarang dia terkatung-katung tak tentu arah.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—.


__ADS_2