
...Ketika sebuah penyesalan hadir dan menggerogoti keteguhan hati......
...Hadirnya menggoyahkan butir-butir cinta yang baru saja bersemi....
...Jika tidak di sirami dengan kasih sayang......
...Dapatkah benih-benih cinta itu tumbuh dengan suburnya?...
...π₯π₯π₯π₯...
Penculikan Jena, menjadi sebuah pukulan keras bagi banyak orang, tak terkecuali Adila. Menanti kabar pencarian putrinya dengan resah dan gelisah, dering ponsel milik Abian bagai cahaya terang di tengah kegelapan.
Sejenak memberikan penjelasan bahwa semua telah baik-baik saja, Abian mengajak Akhtar untuk menjemput anak-anak mereka. Hati seorang Arabella semakin merasa resah, jika mereka semua telah baik-baik saja mengapa harus kembali dengan cara di jemput?.
Tak sempat melontarkan pertanyaan, Akhtar segera mengekor langkah Abian menuju halaman. Dengan hati yang gundah, Arabella dan Adila hanya bisa berpasrah menanti kepastian.
Sepak terjang Arkan membuat para preman kewalahan, juga serangan Angga dan Gibran yang mendadak mendapatkan kekuatan.
"Huh! ternyata mereka hanya besar otot, kekuatanku jauh lebih besar di banding mereka," celoteh Gibran saat melihat salah satu preman lari terbirit-birit usai menikmati sebatan ikat pinggangnya.
"Heh, kenapa kau biarkan kabur? cepat kejar! kita harus membawa mereka ke kantor polisi," sentak Arkan sembari mengejarnya.
Sayang seribu sayang, saat Arkan menyapukan pandangan ke lantai bawah, tidak satu preman pun yang kelihatan batang hidungnya.
"Ash!!! pengecut!," teriaknya kesal memukul udara.
Di tempat penyekapan Jena...
"Bugh!!," terdengar hempasan yang cukup kuat mendarat di lantai.
Pandangan tajam Agam bagai menguliti tubuh Dewa"Kau pikir hanya dirimu yang bisa menjadi gila," Agam mencengkeram kerah baju Dewa.
Gibran menghampiri Jena, melepas ikatan yang masih mengekang kedua tangannya"Kau sangat dungu! tidak biasanya kau bersedia ikut bersama orang asing", omelnya meraup Jena dalam pelukan.
"Ya, aku memang dungu," desis Jena terisak.
"Tapi aku punya kau, aku yang dungu pun masih kau kejar dan selamatkan", ujarnya lagi sembari mengerat pelukan.
Tak terdengar lagi omelan Gibran, sungguh dirinya sangat takut saat mengetahui sang kakak telah di culik.
Agam masih menahan tubuh Dewa, menghenyakkan tubuh pria itu pada lantai yang dingin "Bugh!," kembali tinju pria itu mendarat di wajah Dewa, meninggalkan memar di wajah yang dahulu sempat Jena rindukan.
Mendapat serangan seorang bocah di saat dirinya telah kehabisan tenaga, Dewa tak kehilangan keangkuhan sedikit pun.
__ADS_1
"Cuih", semburan darah dari dalam mulutnya menodai wajah Agam.
"Bocah sialan, kau hanya dermaga tempatnya singgah sejenak. Pelabuhan terakhirnya tetaplah diriku."
Lonjakan emosi memancing Agam kembali melayangkan tinjunya. Sontak hal itu membuat Dewa memejamkan kedua mata.
Jena menyeret dirinya"Hentikan!," memeluk lengan Agam erat.
"Sudah cukup, jangan lagi kau sentuh pria menjijikan ini," nampak bergetar, dapat Agam rasakan wanita itu tengah berusaha menguatkan diri atas kejadian ini.
Melihat pergelangan tangan istrinya yang memar, sungguh hati seorang Agam tercabik-cabik. Dan Dewa, pria yang masih dalam kungkungan Agam itu juga merasakan hati yang sakit, bukan maksud dirinya menciptakan luka di pergelangan tangan itu.
"Sudahlah Gam, kita serahkan orang gila ini pada pihak berwajib," ucapan Angga membuat Agam menarik tubuh dari atas Dewa.
Menyibak gaun pengantin Jena, Agam melepaskan ikatan dari kedua kaki istrinya. Kedua matanya memanas, bukan malam pernikahan seperti ini yang dia harapkan.
Memandangi wajah Jena dengan perasaan hancur "Maaf, aku datang terlambat," ucapnya lirih merapikan helai rambut wanitanya.
Tak mampu berkata, tangis wanita itu pecah kembali. Ada perasaan lega saat dirinya melihat Agam, meski terlambat kehadiran pria itu telah mengusir segala rasa ketakutannya.
Di halaman depan, seorang wanita menatap sekilas kediaman itu. Usai menarik semua preman yang di sewa Dewa, wanita itu sangat menantikan kedatangan pria gila itu keluar dari sana.
Namun, kedatangan pihak berwajib membuatnya urung menunggu kedatangan Dewa.
...πΏπΏπΏπΏ...
Di tempat lain...
Di depan layar komputer yang menyala, seorang pria sedang tersenyum senang. Memandang bukti transferan sejumlah uang yang telah masuk ke rekeningnya, sungguh sangat menyenangkan. Tak berapa lama memandangi gawai, ada sebuah panggilan yang tak dapat di abaikan.
"Selamat malam," ujarnya masih dengan senyuman.
"Dari suara mu, aku dapat menerka kau sedang tersenyum lebar, apa sesenang itu saat mendapatkan uang?."
Seseorang itu menyeringai"Heheheh, jelas saja. Siapa yang tidak suka uang di dunia ini," ujarnya pula.
"Ck, kau sangat serakah."
"Hei, bukankah kau yang menawarkan keserakahan ini padaku? lagipula, bukankah kau puas dengan pekerjaanku??."
"Hahaha, tentu saja aku puas. Kita lihat saja, tak berapa lama kegaduhan akan kembali menyapa mereka."
Panggilan itu berakhir, meletakan gawai di sampingnya seseorang itu kembali meng-upload hasil jepretannya di kediaman Pratama.
__ADS_1
Sementara sang pemberi uang, sosok itu nampak sangat bahagia malam ini. Mengambil sebatang rokok kemudian menyalakannya, kepulan asap yang dia tiupkan ke udara seolah membawa pergi rasa sakit hatinya terhadap Jena.
"Cih!!! kau pikir aku akan diam saja. Kau berbahagia di atas luka hatiku. Kau tersenyum bahagia sementara aku di sini menderita," ujarnya kembali menghisap rokok itu.
...β£οΈβ£οΈβ£οΈβ£οΈ...
Lagi-lagi mereka kembali ke rumah sakit. Meski tidak di rasa parah, para orang tua tetap memaksa mereka untuk di rawat di rumah sakit.
Alih-alih memilih di rawat di ruang pribadi, Arkan, Gibran dan Angga meminta di rawat di ruang yang sama. Sementara Jena dan Agam berada di ruangan lainnya.
Dengan mata kepalanya sendiri Jena menyaksikan perawat membalut luka pada pundak Agam. Wanita itu tidak berani menatap Arabella hingga detik ini. Sungguh, Jena sangat takut ibu mertuanya akan menyalahkan dirinya atas luka-luka yang tertoreh pada tubuh Agam.
Tubuh kecil itu bahkan terjengkit saat Arabella mengusap pucuk kepalanya. Sejak kembali pulang tak satu katapun keluar dari mulut Jena. Tanpa mereka sadari wanita itu tenggelam begitu dalam, dalam rasa ketakutan.
"Maaf bunda, tidak seharusnya Agam menyusul ku," tanpa berpikir, ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Jena. Dirinya nampak tertunduk dalam ketika Arabella memperhatikan perawat mengobati lukanya.
Segera Arabella menutup mulutnya dengan jari telunjuk, menatap Jena"Husss, apa yang kau katakan."
"Ck! kenapa berkata seperti itu. Kau tanggung jawabku, Jena," sentak Agam sangat terganggu dengan perkataan istrinya.
Nada bicara yang tinggi dari sosok pria yang selalu lembut padanya, membuatnya teringat pada sosok Dewa yang lembut, namun berakhir menakutkan baginya. Rasa takut itu membuat tubuhnya kembali bergetar, pikiran-pikiran aneh mulai berkecamuk di dalam kepala, juga kenangan-kenangan suram yang dia lalui di kediaman mereka dahulu. Sungguh, di balik sikap dingin itu, Jena hanyalah seolah wanita rapuh yang sedang bertahan untuk tetap hidup.
"Jangan lagi berkata begitu Jena, benar kata Agam, kau adalah tanggung jawabnya," ujar Akhtar.
kedua manik coklatnya terus mengerjap, pertanda Jena telah berada di ambang kesadaran jiwanya"Tapi....ta.....," Jena tiba-tiba tergagap. Bayangan saat dirinya kerap di adili di kediaman Dewa datang menghantui. Wanita itu menarik kedua kaki di dada, memeluk kedua kakinya erat-erat dengan isakan tangis. Keringat dingin mulai bercucuran, membasahi kening hingga merosot ke kedua tepian pipinya.
"Jena," panggil Arabella.
"Jangan!!," pekik Jena. Spontan dia menjauh dari Arabella. Nampak menggeleng dengan tatapan kosong, Jena yang awalnya tenang kini nampak sangat panik. Dua perawat yang mengurusi Jena mencoba menenangkan, namun lagi-lagi Jena meminta mereka untuk menjauh.
"Sus, kenapa menantuku," tanya Arabella dalam kesedihan.
Agam perlahan bangkit dari ranjang pesakitannya"Jena...kau.....," tangan terulurnya bagai sebuah ancaman bagi Jena.
"Jangan!! aku minta maaf, aku sudah meminta maaf bukan!? jangan sakiti aku," pekiknya memutus kata-kata Agam. Menunduk dengan dua tangan menutupi telinga, Jena terus menggeleng saat mereka coba bicara padanya.
"Suster!!," sentak Arabella.
"Rekan saya akan memanggil dokter, bantu saya menenangkan pasien," pinta salah seorang perawat, sementara rekannya berlari kecil pergi dari ruangan itu.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€
__ADS_1