Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Amarah Jenaira


__ADS_3

Sejatinya, kejahatan itu bermula dari pada kamu sendiri. Setelah meneguk manisnya tipu duniawi, seorang wanita menatap semesta dengan penuh kehampaan. Uang yang berlimpah itu telah hilang, bahkan tak meninggalkan jejak sedikitpun. Para manusia yang dahulu selalu memuja kecantikan yang di milikinya, kini berubah menjadi pembenci atas dirinya.


Yah, setelah melewati proses yang cukup panjang, juga berkat usaha yang di lakukan ketua panti asuhan, akhirnya Tiara dapat menghidu udara bebas.


"Nikmati pagi ini dengan sedikit berolah raja, melamun seperti ini tidaklah baik, sayang."


Baru saja wanita itu melintas dalam benaknya, sekarang dia telah hadir di samping, membawa secangkir teh kental dengan campuran susu.


"Ibu Maria," lirih Tiara. Siapa saja yang mendengar suaranya, pasti tahu bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Merengkuh tubuh ringkih itu"Sudahlah, penyesalan itu akan semakin menyakiti, jika kau terus meratapinya. Setidaknya sekarang kau tidak lagi mengusik kehidupan sahabatmu."


Meremat lengan ibu Maria"Mantan sahabat, ibu. Aku tidak yakin dia masih menganggap ku sebagai sahabat.


"Jika kau memang tulus, kau tidak perlu pengakuan, Tiara. Cukup membiarkan dia berbahagia, maka kau sudah pantas di sebut sebagai sahabat yang turut bersuka cita atas kesuksesan yang di raihnya."


"Lihatlah, Tian. Meski awalnya hampir gila, namun akhirnya dia berdamai dengan dirinya sendiri. Cinta untukmu tak sebesar cintanya kepada Ane, namun Ane tetap tidak sudi kembali kepadanya. Kesempatan untuk hidup bebas yang di berikan Tuan Abian, menampar kesadaran bahwa hidup tanpa cinta tidaklah buruk."


Saat itu seorang pria telah hadir di antara mereka"Sebab hidup hanya perlu menatap ke depan. Meski sesekali kita perlu menatap ke belakang, aku yakin sang waktu akan perlahan menghapus Ane dari kehidupanku. Kesempatan kedua ini tidak akan aku sia-sia kan, aku akan mencoba melakukan hal baik, selagi aku bisa."


Bastian, pria itu membiarkan Tiara menatap dirinya yang melepas pandangan pada halaman luas panti asuhan itu. Penyesalan itu sangat kentara menghiasi raut wajah pria tampan itu, seandainya dia hidup dengan menitip jalan yang lurus, jalan yang telah di buka oleh Ane dan keluarganya, tentu dia telah menjadi pengusaha yang sukses sekarang.


Tian beralih menatap Tiara, sang cinta pertama yang ternyata tak selalu indah. Andai saja wanita itu tidak merusak rumah tangga sahabat nya karena iri dan dengki. Seandainya dia tidak mencoba menghancurkan karir sang sahabat, mungkin dia juga akan menjadi seorang penulis saat ini, dengan ciri khas tersendiri, alih-alih sempat mengakui karya orang lain adalah miliknya. Atau meniti karir sebagai seorang selebritis, sepak terjangnya di dunia hiburan juga cukup bagus, sebelum kebusukannya di masa lalu menghancurkan segalanya. Atau lagi, jika cinta buta penuh nafsu tidak menjerat mereka berdua....akh! ternyata kesalahan mereka teramat banyak.


Dua anak manusia yang akhirnya tersadar, setelah di tampar oleh kenyataan. Sebab tidak ada lagi sanak saudara, kini mereka hanya bisa kembali ke panti asuhan, tempat semula mereka berada.


...🌹🌹🌹🌹...


Jena yang kepalang kesal mengepal kan tangan, berjalan dari area dapur menuju meja yang di duduki Fely, dengan Khair di depannya"Cukup tinggalkan tempat ini jika pelayanan kami tidak baik bagimu!!."


Mengangkat pandangan"Nyonya, aku pelanggan. Dan pelanggan adalah raja, jika suamimu tidak bisa melayaniku untuk menikmati hidangan di sini, setidaknya biarkan aku menikmati sarapan pagi ini dengan kedua pria tampan ini," menunjukkan Khair dan Gibran dengan garpu di tangannya.


"Dan raja pun memiliki rasa hormat kepada rakyatnya. Hanya raja biadab yang gemar menginjak-injak harga diri orang lain," gigi Jena bergerutuk, menahan amarah.


"Sudahlah kak, dia hanya sebentar," bisikan Gibran terdengar oleh Fely.


"Contohlah adikmu, dia dengan suka rela melayani ku," dan dengan sengaja menumpahkan kopi pada ujung sepatunya.

__ADS_1


Memandang Gibran dengan senyuman manis"Ups!! tuan pelayan, bisakah kau membersihkan ujung sepatu ku? hanya sedikit saja."


Keributan pun terjadi, Jena merampas garpu dari tangan Fely, mengacak-acak hidangan yang di pesannya membabi-buta. menumpahkan sisa kopi itu di atas meja dan menepuk-nepuk nya, hingga cipratan kopi itu mengotori wajah Felysia.


"Sangat tidak sopan. Wanita seperti inikah yang menjadi pendamping Agam?," teriak Fely gusar.


Saat itulah, Jena menancapkan ujung garpu di atas meja dengan mata berkilat tajam.


"Jenaira, tenangkan dirimu," Khair coba mengambil garpu itu.


Jena mendorong tubuh Khair"Diamlah Khair, aku yakin Zafirah pun akan melakukan hal segila ini jika berhadapan dengan wanita tidak tahu malu ini!!."


Jena juga menahan Gibran saat hendak menghentikan dirinya.


Menarik garpu itu hingga menimbulkan suara berderit"Kesabaran ku telah habis. Apa kau tahu aku adalah penulis cerita horor, segala bentuk seni keindahan mencabut nyawa seseorang kerap melintas di otak ku. Dari menusukan pisau ke perut orang, sampai mencongkel kedua mata wanita gatal dengan ujung garpu ini."


Fely merasa kesulitan menelan saliva.


Kreeeeeeeettttttt!!!," suara garpu mengantam meja kayu, membuat siapa saja yang ada di sana bergidik, sembari menutup kedua telinga.


"Kak Jena," Gibran segera menarik lengan sang kakak, melepaskan garpu itu dari tangan wanita itu"Klontang!!," suaranya juga tak kalah nyaring saat jatuh pada ubin cafe mereka.


Wanita itu pucat pias.


"Fely! pergilah!!," sentak Gibran.


Suara kursi yang berderit, dengan langkah kaki cepat Felysia pergi dari cafe tersebut. Bagaimana tidak, setelah menciptakan drama sebelum memesan hidangan, dengan membuat Gibran sebagai pelayan nya. Fely juga meminta Khair untuk menemaninya menikmati hidangan kecil yang di masak Khair, namun berkahir dengan langkah seribu karena amarah Jena yang meledak.


.... . . . ....


"Kau menakuti pelanggan! sadarkan dirimu kak!. Tidak seharusnya kau menyerang Fely!."


Kini dua beradik itu telah berada di dapur pribadi mereka. Sempat kesulitan membawa wanita dengan perut besar itu menuju dapur, akhirnya Gibran berhasil mendudukan sang kaka di hadapan meja makan mereka.


"Kau membelanya?," geram Jena dengan sorot mata tajam.


"Bukan seperti itu, jika tidak ada pelanggan aku bisa saja menjambak rambutnya."

__ADS_1


"Brak!!!," tangan sang kakak menggebrak meja maka"Lantas kenapa tidak kau lakukan???!."


Gibran menelan saliva"Kak Jena, tahan emosimu. Orang seperti Fely tidak harus di lawan dengan kekerasan," sembari menuangkan air minum dan memberikan kepada Jena.


Sepertinya emosi di dalam dada benar-benar membara, air yang di suguhkan Gibran habis dalam sekejap.


Untung saja gelas itu tidak pecah, sebab Jena Meletakannya masih dengan emosi"Bicara saja memang mudah, bagaimana jika kau yang berada di posisiku? kau yang terlahir dengan kesabaran minim ini pasti akan langsung membakar pria yang terang-terangan ingin mendekati Kanaya!."


Tersenyum kecut, apa yang di katakan Jena itu benar. Apalagi hampir setiap hari Fely menyambangi cafe mereka hanya ingin di layani oleh Agam, wanita itu bahkan tidak segan-segan meminta Agam menemaninya menikmati hidangan yang mereka sajikan. Dan jika hal itu tidak di penuhi Agam maka dia akan meminta pelayan yang tampan untuk menemani dirinya.


"Berbulan-bulan, lalat itu terbang dengan anggun di depan kedua mataku! kau pikir aku harus diam saja!."


Fely bahkan kerap memesan menu yang mereka jual, dan meminta Agam yang mengantarkan ke kediamannya. Meski Agam selalu menolak dan mengirimkan pelayanan untuk mengantarkan pesanan itu, Fely tak jua menyerah.


Dan hari ini kesabaran Jena telah sampai pada batasnya. Sudah di katakan bahwa Agam tidak ada di cafe, Fely tetap memaksa untuk bertemu. Dia bahkan membuat Gibran menggantikan tugas Agam, meski banyak pelayan dia hanya ingin di layani Agam atau Gibran saja.


..."Flashdisk on#...


Sedikit demi sedikit mengikuti keinginan kedua orang tuanya, Agam mulai melebarkan sayap pada bisnis yang di geluti oleh sang ayah. Meski tidak setiap hari, Agam mulai ikut sibuk mengurusi pekerjaan di perusahaan sang ayah. Dan pagi itu, Agam di haruskan menghadiri rapat di perusahaan tersebut.


Pagi itu setelah menikmati sarapan bersama sang istri, memijat kedua kaki Jena yang sudah nampak membengkak"Sayang, pagi ini aku harus ke kantor, ada rapat. Tapi aku janji tidak akan lama, setelah segala urusannya selesai aku akan segera pulang," ujarnya memandangi Jena dengan penuh kasih sayang.


"Jika kau terlambat aku akan kabur dari kediaman ini," ketus Jena. Semakin hari dirinya merasa tidak bisa jauh dari Agam, namun jika mengingat semua yang di lakukannya demi masa depan mereka, Jena menekan rasa rindu yang tak bertepi itu. Toh Agam tidak setiap hari harus ke kantor, dan saat ke kantor pun dia tidak pernah pulang hingga sore hari.


Agam terkekeh, ancaman Jena mengingatkan dirinya akan kejadian di masa lalu, saat Jena kabur untuk menjumpai Zafirah ke kamp pengungsian bencana alam.


"Jenaira ku sayang, Zafirah tidak sedang menjadi relawan bencana alam, jika tidak di rumah dia pasti berada di pondok pesantren. Aku akan menemukan mu dengan mudah."


Dan Jena pun teringat akan kejadian yang sama pada tempo dahulu. Dirinya yang sempat takut memiliki seorang sahabat akhirnya luluh akan ketulusan seorang Zafirah, hingga akhirnya persahabatan mereka terjalin begitu erat. Dirinya bahkan sempat memilih Zafirah alih-alih Agam, pria yang sangat mencintainya itu.


Rona malu terlihat begitu jelas di wajah putih bersih sang istri, membuat Agam gemas hingga menarik kedua pipi Jenaira"Ya humaira, kau sangat menggemaskan!."


"Humaira mu ini sangat gendut, mas," ucapnya malu-malu.


Rona merah itu semakin menjadi ketika Agam menyentuh wajahnya. Kenaikan bobot badannya membuat Agam semakin mencintainya"Dan sekarang kau semakin cantik sayang."


...#Flashdisk off#...

__ADS_1


To be continued..


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2