Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Buah pahit dari kejahatan.


__ADS_3

Hari itu, Permintaan untuk berpisah yang di lontarkan Dewa bukanlah kali pertama, hal itu sudah beberapa kali Dewa ajukan kepadanya. Namun kali ini, dengan berlutut di hadapanya, sungguh membuat hati kecil Tiara tergigit, nyeri.


Menatap pria itu nanar"Aku sangat mencintaimu, Dewa."


"Tidak! kau hanya terobsesi terhadapku, sebab aku adalah pria yang di cintai Jena. Buka mata hatimu Tiara, kau hanya mencintai Tian!," sambarnya menatap penuh harap kepada Tiara.


Alih-alih memberikan jawaban, Tiara berlari dari kediaman Dewa. Menyisakan perasaan sesak di dalam dada seorang Dewa.


...* * * *...


Iri dan dengki menjalari seluruh relung hati seorang Jelita, penyakit hati itu semakin menjadi-jadi saat Jena, mantan menantunya itu terlihat menghiasi layar televisi. Entah apa kehendak semesta, dua mantan sahabat itu seolah terus bersaing di segala bidang.


"Apa kau sudah lihat, si mandul itu masuk nominal penulis novel terbaik tahun ini," tanpa permisi, Jelita langsung masuk ke kamar Tiara setelah mendapati sang menantu tengah menonton televisi di sana.


Terkejut, Tiara lekas menelungkupkan ponselnya. Saat itu dirinya tengah menerima telepon dari Tian yang sedang dalam pelarian saat ini. Tidak main-main, Arkan dan Abian membabat habis hasil kerja keras Tian dalam menipu keluarga mereka. Dan betapa terpuruknya Tian, saat Ane menjabarkan berkas-berkas balik nama tanah miliknya menjadi nama Tian, di hadapan pria tak tau malu itu.


Ane sangat bersyukur, meski sempat menerima perlakuan kasar darinya, Arkan masih menolongnya secara diam-diam. Sungguh, Ane sangat lega saat mengetahui permainan para anggota komplotan Jake, yang sekarang telah di ketuai oleh Anderson.


Lantas, bagaimana dengan nasib Tian? mimpi untuk memperkaya diri telah kandas. Dengan segala kuasanya, Abian mengambil kembali secuil saham yang sempat di miliki oleh Tian. Merasakan posisinya sudah tak lagi aman, Tian melarikan diri dari kediamannya. Meninggalkan Ane yang sudah menolak untuk menerima maafnya lagi.


"Aku masih punya Tiara," pikirnya sesaat setelah berkemas. Pria itu pergi dengan membawa segala benda berharganya, saat Ane tengah menghadiri arisan berlian yang di ketuai oleh bunda Agam, Arabella.


Namun, sial sungguh sial. Semua uang di dalam rekeningnya telah habis terkuras. Ternyata, Ane tak sebodoh apa yang Tian sangka. Bukan hanya menghabiskan isi dari rekening sang suami, Ane bahkan sukses membuat tidur pusaka nya.


"Jika bukan denganku, jangan biarkan benda pusakanya bangun barang sekejap saja," pinta Ane pada mbah dukun beberapa waktu yang lalu.


Kini....Tian yang tampan telah kembali menjadi lelaki miskin, seperti saat pertama kali berjumpa dengan Ane. Bagaimana dengan Tiara? bukankah dia rekan kencan yang sangat mencintainya??


"Maaf Tian, sepertinya aku tidak bisa memberikanmu uang, aku juga sedang terlilit hutang," ujarnya berbicara dengan Tian sebelum kedatangan Jelita.


"Sayang, bantu aku. Aku mohon!," lirih pria malang itu.


"Kau tau bukan, aku hanya seorang artis pendatang baru, bayaranku tidak seberapa. Untuk membayar uang tutup mulut saja aku meminjam uang kepada rentenir," wanita itu membuang napas berat teringat hutang yang mulai menumpuk.


"Ck! lantas aku harus bagaimana? aku bahkan tidak tau hendak kemana."


Saat itulah Jelita datang. Membuat Tiara lekas menelungkupkan ponselnya yang masih menerima panggilan dari Tian.


"Dia memang kerap menerima penghargaan bu," Tiara menanggapi celotehan Jelita.

__ADS_1


"Oh ya? tapi baru kali ini aku melihat fotonya terpampang di layar televisi."


"Setahuku, dia tidak pernah hadir di acara seperti itu. Hanya editornya yang datang sebagai perwakilan," sangat tau betul dengan kebiasaan Jena, sepantasnya Tiara memang sahabatnya. Meski telah bertikai nyatanya Tiara sangat memahami tabiat dan kebiasaan Jena.


"Heran, apa bagusnya tulisan wanita itu, hingga dirinya mendapatkan penghargaan," Jelita duduk di tepi ranjang Tiara, bergandengan dengan sang menantu layaknya sepasang sahabat yang saling mengerti. Jika saja Gibran ada di sini, pasti dirinya sudah terpingkal mentertawakan kedekatan tak sehat antara Tiara dan Jelita.


"Entahlah, bu. Apa ibu mau ku buatkan jus? aku sedang ingin membuatnya sekarang," mencari alasan, Tiara berniat mengirim pesan kepada Tian di tempat lain.


"Boleh," sahut Jelita memfokuskan diri menatap layar televisi.


Bagaimana pun, hubungan mereka terjalin hanya karena uang. Jelita, masih menerima Tiara sebab wanita itu berjanji akan memberikannya cucu, juga penghasilan sebagai artis di bagi rata kepada Jelita. Sedangkan Tiara, wanita itu menyimpan maksud terselubung bertahan di dalam keluarga Dewa, mengambil hati Dewa dan Jelita kemudian perlahan-lahan mengambil alih perusahaan mereka. Sungguh, ide gila Tian itu akan menjadi cemoohan Dewa jika mengetahui hal itu, sebab sampai kapanpun Dewa tak akan sudi kembali kepada Tiara.


"Kembalilah dulu ke panti asuhan, aku yakin suster Maria akan menerimamu dan melindungimu," pesan terkirim kepada Bastian.


...❣️❣️❣️❣️...


Meregangkan tubuh sembari menatap ombak berdebur di tengah lautan, Agam menyadari kenikmatan inilah yang membuat Jena begitu betah tinggal di tepi pantai. Nyanyian merdu sang burung camar, semilir angin dengan aroma asin, perasaan hati perlahan menjadi baik saat menghirup udara di tempat itu.


Usai sejenak menatap luasnya samudera, Agam berniat membangunkan Jena yang sedang terlelap saat itu. Semalam, wanitanya nampak tidur setelah tengah malam, sempat bangun sejenak untuk menunaikan sholat subuh, Jena kembali tertidur hingga sang mentari berdiri dengan gagah di atas sana.


Namun, sebuah pemandangan indah membuat kedua bola matanya terbuka dengan sempurna. Jena ternyata sudah bangun, mengenakan atasan piyama yang kebesaran di atas lutut, dengan rambut tergelung handuk ke atas. Ya Allah, mengapa dirinya tidak memakai celana dari piyama itu?? langkah kaki Agam bergerak spontan menghampiri sang istri.


"Sudah bangun? aku baru saja ingin membangunkan mu," ujarnya membalas senyum yang di lemparkan Jena.


"Hem, kau bahkan tidur lagi setelah sholat subuh," tutur Agam sembari melingkarkan tangan di pinggang kecil Jena. Memeluk Jena dari belakang, sang jantung di dalam sana berdegup dengan sangat cepat. Juga aroma khas seorang Jena, membuat Agam menarik napas demi menangkan diri.


"Maaf, aku terlalu sibuk demi menyelesaikan naskah. Sedikit lagi aku akan menyudahi novel itu."


"Oh ya! kenapa? apa kau sudah kehabisan ide??."


"Ya...bisa di katakan begitu. Berbulan-bulan mencurahkan segala kisah horor ke dalam naskah, sepertinya aku perlu menonton film horor untuk mendapatkan asupan ide-ide baru lagi."


Agam, pria itu mengangkat tubuh kecil sang istri ke atas meja, berhadapan dengannya, Agam meletakan kedua tangannya di punda Jena"Coba, katakan kau mau alur cerita horor seperti apa? mungkin aku bisa membantu."


Jena menengadah menatap prianya, sorot mata yang begitu hangat saling menyapa dirinya dan Agam"Ini kisah azab seorang wanita perebut suami orang."


Agam langsung tertawa, dirinya menarik kursi dan mengambil duduk di hadapan Jena, membuat tinggi mereka kini sama rata"Apa kau memberikan nama Tiara pada pemeran pelakor itu?."


"Tidak," Jena ikut tertawa, pertanyaan suaminya membuat hatinya geli. Memang benar, kisah yang sedang di buatnya banyak mengambil kisah nyata dari pengalaman rumah tangganya yang terdahulu, yang telah kandas karena orang ketiga, yaitu Tiara. Tapi jika harus memakai nama sang mantan sahabat secara langsung, rasanya tidak begitu menarik.

__ADS_1


"Bagus, setidaknya kau tidak menuliskan nama jelek itu di dalam novelmu."


"Hei!," seru Jena mencubit pelan kedua pipi Agam"Jangan mengotori lidahmu dengan mengatai wanita itu."


Menggosokkan wajahnya ke ceruk leher Jena"Hihihi, baiklah sayang, kau ini masih saja bersikap baik terhadapnya.


"Tidak bersikap baik, aku hanya tak ingin membuat lisanmu berdosa, mas Agam," meraih kedua pipi Agam, mengusap helai rambutnya yang begitu lebat.


Mengangguk patuh"Iya, iya sayang. Baiklah, lupakan wanita itu. Lantas, bagaimana dengan novel mu? bolehkah aku melihat naskahnya?."


"Hup" sedikit meloncat, Jena turun dari atas meja dan menarik tubuh Agam agar masuk ke kamar mereka, ingin memperlihatkan hasil pemikirannya tadi malam.


Bergandengan tangan sembari berjalan beriringan, Agam kembali terfokus pada piyama kedodoran sang istri.


"Sayang, mana bawahan piyamamu? pakaianmu sangat berbahaya jika di lihat pria lain."


Jena melepaskan pegangannya dari jemari Agam"Lihat, aku memakai dalaman," tak segan-segan, Jena menyingkap piyama kedodorannya hingga terlihatlah celana super pendek yang dia kenakan.


Menggemaskan!"Ya Allah, Jenaira!!! aku lelaki normal. Kenapa menyingkap bajumu dengan tiba-tiba seperti ini!," seru Agam mengendong tubuh kecil itu. Seketika gelungan handuk yang membungkus kepalanya terbuka, membuat rambut setengah basahnya terurai.


"Salahmu sendiri, kau pikir aku akan berkeliaran di lantai atas ini tanpa celana? otakmu mulai kotor, suamiku."


Seringai tawa itu terbit di wajah Agam, alih-alih mendudukan sang istri di kursi tempatnya mencurahkan ide-ide brilian, dirinya justru mendudukan sang istri di tepian ranjang.


"Bukankah kau ingin melihat naskahku? kenapa membawa ku sini?."


"Kita bisa melihat naskah itu nanti, kau harus menanggung akibat setelah menyibak pakaianmu tanpa berpikir dulu," mengambil alih handuk yang sedari tadi di pegang Jena. Dengan perlahan mengungkung Jena hingga wanita itu terbaring di bawahnya.


"Mas Agam, kau tau bukan aku belum sholat dzuhur," lirih nya merasakan napas yang mulai menghangat di wajahnya.


Setengah berbisik"Setelah ini," debar itu mulai membuat suara berat pria itu semakin berat. Ciuman sekilas di kening sang istri membuat kedua mata Jena terpejam, dengan wajah mulai memerah.


"Dengan begini kau membuatku harus mandi lagi," cicitnya pasrah menerima hujan ciuman di wajahnya, hingga ke lehernya.


"Itu resiko yang harus kau tanggung, sayang. Salah sendiri, kau sudah tau bukan betapa menariknya dirimu di mataku, lagipula kau tidak akan mandi sendiri kali ini."


Tak ada pilihan lain, sejatinya Agam juga sangat menarik di mata Jena.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗



__ADS_2