
Abian dan Adila telah sampai di rumah sakit, di susul Ane dan Tian kemudian. Mereka berkumpul bersama di ruangan itu untuk memastikan keadaan Jena.
Meski sedikit gaduh, Jena tidur dengan sangat nyaman saat itu. Tubuhnya beristirahat dengan tenang usai di gasak brutal oleh Tiara.
Sorot mata Agam terfokus pada sosok Tian, pria yang kemarin di pergokinya bermesraan dengan wanita lain. Sikapnya terhadap Ane sangat mengagumkan, kemana langkah Ane, kesitulah langkah Tian. Mereka selalu berpegangan tangan, bahkan di depan ayah dan ibu Jena, Tian tidak segan merapikan anakkan rambut Ane dan menyelipkannya ke daun telinga.
"Kau ingin mencontek sikap perhatian om Tian?", tanya Gibran saat memergoki manik mata Agam mengikuti gerak gerik Tian.
Sontak Agam menggeleng kepala, siapa yang ingin menjadi seperti Tian sang pengkhianatan ulung itu.
"Lantas, mengapa kau selalu menatap om Tian? apa kau sangat kagum pada wajah tampan nya?".
Lagi-lagi Agam menggelengkan kepala, kali ini dengan bibir mengucut.
"Jadi, apa yang sedang kau perhatikan darinya?!", Gibran sungguh menjadi penasaran.
"Tidak ada yang menarik, aku sekedar memperhatikan dirinya saja", tukas Agam, dari sikap Gibran, Agam yakin Jena belum membeberkan perselingkuhan yang Tian lakukan.
Bahkan ketika nama Tiara di sebut, Tian bersikap biasa-biasa saja. Sungguh mengundak decak kagum di hati Agam menyaksikan hal itu.
Namun, mimik wajah Tian berubah saat Gibran menuturkan tentang Tiara yang keguguran. Ada riak kekhawatiran di wajah itu, Agam yang selalu memperhatikan pria itu dapat melihatnya.
Beberapa menit kemudian, keluarga itu masih berkumpul di ruangan inap Jena. Saat itu Tian pamit untuk ke toilet, menolak tawaran Ane yang ingin menemaninya, Agam yakin pria licik ini pasti akan mencari kamar inap Tiara.
"Kau hendak kemana?", Gibran menegur saat Agam beranjak dari duduknya.
"Ke toilet, kau mau ikut?".
Gibran bergidik geli"Ternyata otakmu kotor juga Gam".
Seringai tawa mengiringi langkah Agam meninggalkan Gibran.
Mengendap-ngendap tanpa suara, malam itu Agam kembali menjelma menjadi ninja hatori, mengekor langkah Tian tanpa pria itu sadari.
Setelah bertanya kepada perawat, Tian kini telah sampai di muara kamar inap Tiara, di dalam sana masih ada kedua orang tua Dewa, juga Dewa tentunya. Nyaris saja Agam terciduk saat Tian tiba-tiba berbalik arah. Menyangka pria tinggi itu akan kembali ke kamar Jena, ternyata Agam salah menerka.
Sedikit berbalik arah, Agam mendapati Tian duduk pada kursi yang tidak jauh dari kamar Tiara. Ternyata pria ini sedang menunggu orang-orang di dalam sana pergi.
Seperti Tian yang menunggu dengan sabar, Agam pun melakukan hal yang sama. Meski menjadi santapan nyamuk-nyamuk nakal, Agam tetap menunggu pergerakan Tian.
__ADS_1
"Kau tidak boleh menceraikan Tiara, kau dengar kan apa yang di katakan dokter, Tiara masih bisa hamil meski menjalani kuretes", suara Jelita terdengar sangat jelas, entah apa yang di pikirkan wanita itu, saat di rumah sakit tetap saja tidak bisa bersikap lebih tenang.
Terlihat, Jelita mengomeli Dewa di muara pintu, nampaknya dia akan segera pulang, namun masih saja mengomeli Dewa layaknya anak kecil.
Terlihat Bagas tidak setuju dengan perkataan Jelita, namun wanita itu sangat keras kepala. Hingga apa yang di ucapkan anak dan suaminya hanya berlalu seperti angin yang lalu.
Seperginya Jelita dan Bagas, Tian memberanikan diri untuk masuk ke kamar Tiara. Hal itu berani dia lakukan sebab Dewa mengantarkan kedua orang tuanya sampai menuju mobil.
Wanita itu sendirian di ruangan nan sepi, hati kecil Tian sakit bagai teriris sembilu.
"Tiara", bibirnya bergetar saat memanggil nama cinta pertamanya.
Seketika Tiara menoleh pada Tian, pria tinggi tegap itu tengah berdiri di muara pintu. Air mata kesedihan kembali tumpah, inikah hukuman atas perselingkuhan mereka.
Segera Tian melangkah mendekati Tiara, meraup wanita itu kedalam pelukannya. Di dada bidang Tian, tangis Tiara semakin menjadi. Anak yang sangat mereka inginkan kini telah pergi.
"Jangan menangis lagi, kau masih bisa mengandung kan", ujarnya coba meredakan tangisan wanitanya.
"Maafkan aku Tian, aku tidak bisa menjaganya. Aku ibu yang jahat, anak itu pasti tidak ingin berjumpa denganku yang banyak dosa ini".
Ucapan dalam tangis Tiara membuat hati Tian semakin pilu, bagaimana bisa Tiara menyalahkan dirinya dan berkata penuh dosa.
Agam masih beraksi di luar sana, merekam apa yang sedang terjadi dengan ponselnya.
"Siapa kau, apa yang sedang kau lakukan".
Dewa memergoki Agam di depan pintu, membuat pria itu gelagapan dan kehabisan kata-kata.
Dewa melihat ke dalam melalui kaca yang ada di pintu, emosinya kembali tersulut saat mendapi Tian dan Tiara berpelukan erat.
"Bastian!!!", teriak Dewa langsung masuk ke dalam kamar.
"Kau___", Tian terkejut bukan kepalang.
Tanpa menunggu, Dewa melayangkan tinju ke wajah Tian. Membuat Tiara menjerit, Tian tersungkur dengan tepian bibir yang berdarah.
"Apa kurangnya tanten Ane! kau di angkat dari jalanan karena menikah dengannya, namun apa yang kau lakukan Tian??!".
"Hentikan Dewa", teriak Tiara saat Dewa menarik kerah baju Tian.
__ADS_1
"Kau berteriak padaku demi lelaki ini??, kau sungguh menjijikan Tiara!", ujarnya masih berteriak.
Tian tidak terima melihat Tiara di perlakukan seperti itu, balas menarik kerah baju Dewa, dua pria itu berguling di lantai dan beradu tinju.
"Buk!", sebuah tinju mendarat di wajah Dewa. Terperangkap dalam cengkeraman Tian yang kini berada di atasnya, Dewa sungguh tidak dapat berkutik lagi.
Agam yang menyaksikan itu menjadi bingung, siapa yang harus dia bantu. Jika dia membantu Tian, maka Jena akan gusar. Jika dia membantu Dewa, akh!!! bukankah pria itu saingan cintanya!.
Tiara berusaha turun dari ranjang, tidak perduli dengan infus yang melekat di tangan, wanita itu menarik Tian agar melepaskan Dewa"Hentikan Tian, kau menyakiti Dewa".
Sekali saja Tiara berkata, Tian segera melepaskan kungkungan nya dari tubuh Dewa"Kau harus berterimakasih pada Tiara, sejujurnya aku sangat ingin menghabisimu".
Pasrah merebahkan diri di lantai, Dewa menatap Tian dan Tiara bergantian"Kau seharusnya menerima ajakan berceraiku Tiara, kau juga seharusnya bercerai dengan tante Ane. Lihatlah, kalian berdua sama menjijikannya".
"Aku tidak bisa bercerai dari Ane".
"Kau gila Tian, lantas, mengapa kau berselingkuh jika kau tidak ingin berpisah darinya??!", ucapan Tian sungguh memuakan. Sebagai sesama lelaki, Dewa pun merasa gusar atas tindakan rendahan Tian.
Di sela isak tangis, Tiara juga tetap menolak untuk bercerai"Sampai kapanpun aku tidak akan bercerai darimu Dewa".
"Ck, kau tidak bahagia, aku tidak bahagia, tidak ada alasan lagi untuk kita tetap bersama".
"Aku bahagia bersamamu".
"Dengan berselingkuh dengannya!?", sentak Dewa. Pria itu nampak tidak berdaya di atas lantai, tubuhnya terasa sangat lelah. Hal ini sungguh menyiksa dirinya.
Agam mencoba mendekat untuk membantu Dewa bangun dari lantai.
"Kau siapa?", teringat Agam yang merekam kejadian di balik pintu, Dewa jadi penasaran dengan sosok Agam.
Sedikit bingung, Agam tergugu menjawab pertanyaan Dewa.
"Aku___, aku ini___".
"Ah, sudahlah. Ini urusan kami, sebaiknya kau pergi dari sini", tukas Dewa. Tanpa menunggu, Agam lekas undur diri dari sana. Tidak perduli jika mereka kembali bertikai, yang penting bukti perselingkuhan Tian sudah berhasil dia dapatkan.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1