
Denting jam dinding bagai irama pengantar tidur, ruangan yang tadi terang telah berganti temaram sejak beberapa waktu yang lalu. Sembari menambah lengan sebagai bantalan, pria romantis itu mengusap lembut pucuk kepala sang istri yang telah tertidur lelap. Terus mengusap lembut rambut halus sang istri, Tian memandang wajah bulat nan cantik Ane lekat-lekat.
"Aku, tidak bisa hidup tanpa dirimu", bisiknya di daun telinga Ane.
Perlahan tubuh kecil Ane bergerak"Lantas, mengapa kau sempat singgah pada dermaga yang lain", kini, bola mata cantik itu terbuka lebar. Beradu pandang dengan mata tajam Tian, kesedihan terpancar jelas dari pandangan dua insan itu.
"Aku khilaf sayang, aku sempat kehilangan arah hingga singgah pada dermaga yang lain", ujar Tian merapikan anak rambut yang mengenai hidup mancung Ane.
"Hebat, kau khilaf sampai menabur benih di rahimnya", bergetar, sangat tidak mudah menerima kembali pria di hadapannya tanpa mengungkit luka yang tertoreh.
Jemari besar itu merengkuh jemari-jemari kecil Ane, mendekapkan erat di dada dengan sorot mata menghujam dalam"Aku mengaku salah sayang, teruslah kau usik aku dengan kesalahan itu. Sampai mati aku tidak akan mengeluhkan hal itu, aku memang pantas kau caci, aku pantas kau maki".
Lagi-lagi, Ane terenyuh dengan kata manis suami tersayangnya. Bukan mencaci dan memaki, Ane justru masuk lebih dalam ke pelukan Tian"Kau sangat curang, bagaimana kau bisa mati tanpa diriku".
"Maka mari kita hidup dengan bahagia kembali sayang, aku sungguh tidak rela jika harus berpisah darimu", pipi bulat Ane di usap lembut, Tian benar-benar menyayangi wanita itu, namun dia juga tak bisa meninggalkan Tiara.
...πΈπΈπΈπΈ...
Di bawah naungan langit malam, Dewa telentang di tepian jalan. Belaian angin malam di tepian sungai tak membuat tubuhnya kedinginan. Pria itu seolah mati rasa, tubuhnya basah setelah di siram Rio dengan sebotol air mineral. Di sampingnya, Rio duduk dengan pandangan lepas menyapu sungai, lampu-lampu di seberang sana tak kalah cantik dengan kelip bintang di atas sana.
"Apa bintang itu cantik?", tanya Rio mendapati Dewa tak berkedip memandang langit.
"Hem, sangat cantik".
"Dan kau, apa lampu-lampu di seberang sana sangat indah?", Dewa balik bertanya.
"Hem, sangat indah", sahut Rio pula.
"Jika aku mampu menghadiahkan bintang yang cantik itu padamu, apa kau akan menyerah atas Jena??".
Tawaran Rio menggelitik hati Dewa"Dan kau, ketimbang bintang di atas sana, aku lebih mampu memberikan lampu dengan cahaya lebih indah dari seberang sana. Maka, menyerahlah atas Jena".
"Tidak, bahkan seluruh isi semesta ini tidak akan bisa di tukar dengan dirinya", Rio ikut merebahkan diri di samping Dewa. Mengindahkan lantai tak beralas dan dengan leluasa merebahkan diri di sana.
Usai itu, keheningan hadir di antara mereka. Dewa tetap terjaga memandang langit malam dengan pikiran berkelana. Begitu juga dengan Rio, penolakan Jena bukanlah suatu alasan untuknya mengambil langkah mundur. Sebab telah sendiri, tekat Rio semakin bulat untuk mengejar Jena.
"Aku tidak akan mundur, aku masih berada di hatinya. Kau harus tahu diri akan hal itu".
Melirik sekilas, Rio hanya tersenyum hambar. Kenyataan betapa Jena mencinta Dewa dahulu, sempat membuat hatinya ragu. Namun, kesalahan fatal yang di lakukan Dewa sungguh sebuah keberuntungan untuk Rio, dia meyakini menghamili sahabat istri adalah kesalahan yang tidak akan termaafkan.
"Apa di rumahmu tidak ada kaca? cobalah untuk bercermin Dewa. Kaulah biang kerok kekacauan ini. Jika saja kau tak tergiur manisnya Tiara, kebahagiaan Jena denganmu tidak akan membuatku berniat merebutnya darimu", imbuhan Rio membuat Dewa terdiam.
...πΈπΈπΈπΈ...
__ADS_1
Jalan transdaerah masih sangat ramai meski sang malam berada di puncaknya, bus-bus besar berjejer di tepi jalan. Di depan sana, hamparan air banjir menjadi penghalang perjalanan mereka, meski menaiki bus besar, perjalanan tetap tidak bisa terlaksana sebab kedalaman air semakin bertambah di pertengahan jalan.
"Kita harus menaiki perahu jika hendak melanjutkan perjalanan", seorang pria dewasa berucap. Sepertinya, dia adalah ketua dari rombongan relawan itu. Dan, di dalam bus itu Jena duduk di antara mereka.
"Nona, siapa namamu?", tanya pria dewasa itu kepada Jena.
Demi menutupi identitas agar tak terdeteksi sang ibu, Jena merubah namanya saat itu juga"Naira, namaku Naira", ujarnya tegas.
"Apa kau sungguh ingin bergabung bersama kami? jalan yang akan kita tempuh sangat berbahaya", ujar salah seorang dari mereka.
Jena menganggung yakin"Aku sungguh ingin bergabung bersama kalian".
"Sebentar, apa kau punya keluarga? setidaknya kau mengabari mereka terlebih dahulu sebelum bergabung bersama kami", ujar anggota relawan itu.
Pak supir hendak berucap, namun cepat-cepat di sambar Jena"Aku akan menghubungi mereka nanti, ponselku kehabisan daya", ujarnya.
Pak supir yang mengetahui kepergian Jena untuk menghindari keluarganya mengerutkan kening, wanita kecil ini bertindak tanpa berpikir panjang.
"Nak Naira, pikirkan matang-matang, lebih baik kau ikut saya saja kembali ke kota sebelah. Akan ada banyak tujuan dari pada ikut menjadi relawan seperti ini", bisik pak supir.
"Begini lebih baik pak, anggap saja aku sedang berwisata bersama teman-teman baruku".
Pak supir tidak mengerti dengan jalan pikiran Jena, namun sebagai orang yang baru saling mengenal, pak supir tidak merasa berhak menghalangi keinginan Jena"Nona, perjalanan kalian sangat berbeda dengan wisata sekolah".
"Bisa, tapi tidak begitu lihai", sahut Jena.
"Memangnya kenapa?", ujarnya lantas bertanya.
"Kita akan menyusuri jalan raya yang banjir ini dengan berjalan kaki, beruntung jika ada pikap yang mau mengantar kita menuju pelabuhan".
"Berjalan kaki menerjang banjir??", kedua mata Jena membulat sempurna.
Wanita itu mengangguk"Iya, khawatir ada lobang besar di tengah jalan. Kau harus siaga jika tak di sangka terjerumus dan terbawa arus deras".
Menelan saliva, sungguh kerongkongan Jena terasa sulit sekedar menelan saliva.
"Jika kita berjalan kaki, bagaimana dengan barang bawaan kita???",
"Kita harus memikulnya sendiri-sendiri", sahut seseorang di belakang mereka.
"Ya Tuhan!!", pekik Jena.
"Apa kau muslim??", tanya wanita cantik tadi.
__ADS_1
"Ya", sahut Jena singkat.
"Lebih indah jika kau menyerukan Ya Allah", tegurnya saat Jena terpekik.
"Ah, begitukah", tutur Jena sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Lantas, bagaimana cara kita melanjutkan perjalanan ini??", tanya Jena begitu penasaran.
Melihat 3 wanita dengan satu pak tua itu berincang perihal perjalanan mereka, orang yang di yakini Jena sebagai pemimpin kelompok relawan itu mendekat"Kita akan menaiki pikap, barang bawaan kita sangat banyak. Sangat tidak mungkin jika semua memikul benda-benda berat itu. Kau Syabila, apa kuat memikul genset listrik di pundakmu??".
"Hihihi, tentu saja", sahut wanita di belakang Jena yang ternyata bernama syabila.
"Tentu apa??", tanya wanita cantik di sebelah Jena.
"Tentu saja tidak", sahut Syabila membuat mereka tertawa. Spontan Jena pun ikut tertawa.
"Dan kau, apa kuat membawa berdus-dus mie instan di pundak sembari berjalan melewati banjir?", tanya pria itu kepada wanita di samping Jena.
Wanita itu tertawa malu"Tentu saja bisa".
"Bisa bagaimana??", Syabila balas bertanya.
"Bisa memikul dua bungkus mie instan saja", sahutnya sembari mengacungkan jari membentuk angka V. Sontak mereka kembali tertawa.
"Hahaha, dasar kalian ini. Kau Naira, sungguh ingin bergabung bersama kami??".
Jena kembali mengangguk yakin.
"Baiklah jika kau sungguh sangat yakin. Perkenalkan, aku Yasir, ketua kelompok relawan Al-Jannah", pria itu mengatupkan kedua tangan di dada. Jena yang hendak menyentuh tangannya untuk bersalaman di halau wanita cantik di sebelahnya.
"Bukan mahram", ujarnya.
"Betul sekali", sahut pria bernama Yasir itu.
"Oh begitukah", Jena tersenyum malu.
"Dan kau, siapa namamu?", tanyanya pada wanita di sampingnya.
Wanita itu menjulurkan tangan kepada Jena"Aku Zafirah".
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€
__ADS_1