
Menjatuhkan hati pada lelaki yang salah, begitulah sebuah kekeliruan yang Jena renungkan pada masa lalunya. Jika di timang-timang titik kekacauan hidupnya berawal saat menjalin hubungan bersama Dewa. Andai saja dirinya dan Dewa tidak menjadi sepasang kekasih....mungkin saat terpuruk seperti sekarang ini masih ada sosok Tiara yang baik hati menemaninya.
Teringat betapa buruknya sikap kedua orangtuanya dahulu, hal itu masih dapat Jena lalui sebab bersama Tiara. Teringat senyuman manis Tiara yang selalu setia mendengar keluh kesahnya, teringat pelukan hangat Tiara juga bahu kecilnya yang sangat kokoh menopang kepalanya. Andai saja waktu dapat di putar, andai saja menyadari perasaan Tiara pada Dewa lebih awal, mungkin dirinya akan berkilah tak mencintai Dewa hingga akhirnya Tiaralah yang akan maju dan menjadi satu-satunya istri Dewa kala itu.
Kini, semua telah berlalu. Dengan kisah cinta kelamnya bersama Dewa, juga kisah tali persahabatan yang telah putus sebab memperebutkan Dewa. Baru menyadari, betapa bodoh nya diri di masa lalu. Dewa memang tampan rupawan namun bukan dirinya saja pria baik dengan paket lengkat seperti itu.
Tengah terhanyut dalam kilas balik masa lalu, sentuhan lembut pada kedua pipinya membuat Jena tersadar. Sosok Agam tengah menyeka genangan air mata yang entah sejak kapan telah mengalir begitu deras.
Mencengkeram bantal yang berada dalam pangkuan, wajah sedih itu terlihat tegang. Teringat suara tinggi Agam kemarin, bayangan Dewa yang selalu berkata cinta padanya, namun berubah kasar padanya, sungguh membuat dirinya kembali ketakutan.
Melihat wanita itu perlahan mundur, Agam menggigit tepian bibirnya. Lagi-lagi dirinya membuat sebuah kesalahan, tidak seharusnya dia berkata dengan nada tinggi hingga Jena menjadi panik dan hampir kehilangan kesadaran.
Kaki pria itu mun perlahan mundur"Maaf, apa aku mengejutkan mu? aku hanya ingin mengajakmu makan. Kau belum makan sejak tadi malam bukan," ujarnya menatap khawatir wanitanya.
Jena menelan saliva, mengatur napas hingga akhirnya berkata pelan"Aku belum lapar."
"Jena....."
Kedua manik wanita itu terpejam dengan bahu terangkat naik. Kedua alisnya saling bertautan, saat Agam hendak mendekatinya.
"Aku akan makan jika merasa lapar," cicitnya dengan suara tertekan.
Agam hanya mampu menarik napas berat, seperti apa perlakuan Dewa dan Jelita kepadanya dulu? hingga menyisakan kecemasan dan ketakutan pada diri Jena.
"Maafkan aku Jena, aku sudah berjanji akan membahagiakan dirimu. Tapi aku justru membuatmu kembali ke rumah ini dengan ketakutan," penyesalan yang selalu datang di waktu belakangan, kerap menyisakan sesak di dalam dada.
"Apa aku di nyatakan sakit jiwa, Agam?," tanya Jena, membuat Agam mengerutkan kening.
"Aku nampak menyedihkan bukan? aku tahu kau tidak bermaksud kasar padaku, tapi saat kau meninggikan suara, seluruh tubuhnya melemas. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, betapa merepotkannya diriku ini," sedikit keberanian mulai muncul, entah mengapa suara lembut Agam sedikit mengusir ketakutan dalam dirinya.
Mengambil duduk pada lantai yang dingin, Agam membangun sedikit jarak di antara mereka"Kau baik-baik saja, dokter mengatakan kau hanya harus lebih banyak menenangkan diri," ujarnya menengadah, menatap Jena yang sedang duduk di tepian ranjang.
Betapa teduh tatapan lelaki ini, hati yang menciut takut perlahan menenang kembali. Menarik tubuh duduk bersama Agam di lantai, dengan menyandarkan punggung pada tepian ranjang, Jena memberanikan diri membalas adu pandang suaminya.
"Apa keningmu masih sakit?."
Agam menyibak rambut yang menutupi keningnya"Sedikit lagi akan membaik, aku kan lelaki kuat," ujarnya mengurai tawa. Tingkahnya seperti anak kecil yang sedang pamer kekuatan pada kakak perempuan nya. Sejatinya, sikap Agam demi mencairkan ketegangan di antara mereka.
__ADS_1
"Dan tepian bibirmu, apa itu masih terasa sakit?," pandangan Jena beralih pada tepian bibir Agam, masih ada luka kecil di sana.
Dengan ujung jempolnya, Agam menyeka luka kecil itu"Aku baik-baik saja, besok luka-luka ini akan segera menghilang," ujarnya menatap pergelangan tangan Jena.
"Apa kau sudah mengoleskan obat pada pergelangan tanganmu?."
"Sudah," sahut Jena singkat.
"Kapan?."
"Kemarin, bunda yang mengoleskan nya," sahutnya singkat kembali. Menatap lampu-lampu perkotaan dari dinding kaca kamar mereka, hal itu lebih menarik bagi Jena. Setiap kata dan tindakan Agam membuat hatinya bergetar, entah itu rasa takut atau rasa yang lainnya, yang Jena tahu dirinya tak cukup kuat untuk melanjutkan adu pandang mereka.
Jika Jena sedang menikmati kerlip lampu bangunan perkotaan, berbeda hal nya dengan Agam. Tanpa menyentuh, Agam sudah cukup puas menikmati wajah tenang sang istri. Mungin...akan lebih menyenangkan jika memandangnya sembari menggenggam erat jemarinya, namun..."Perlahan lah mendekatinya, jiwanya tengah rapuh. Kehilangan sosok yang sangat di percayai itu sangatlah menyakitkan. Jangan paksa dia untuk menerima sentuhan asing, hal itu demi mempertahankan kewarasan jiwanya," begitulah titah sang dokter sebelum mereka meninggalkan rumah sakit.
...❣️❣️❣️❣️...
"Bawa pria dungu itu kemari? berani-beraninya dia berbohong padaku," seorang pria melempar foto-foto yang baru saja di berikan adik perempuannya. Sosok dalam foto itulah yang membuatnya begitu marah terhadap Dewa.
"Abang mau apa jika bertemu Dewa? menghajarnya?," tanya nya menghentikan seorang bawahan yang hendak melaporkan keberadaan Dewa.
"Tentu saja! dia telah mengganggu ketenangan sahabat ku!," tukasnya menatap sang adik.
Pria pemarah itu mendekati sang adik"Jadi...Dewa di tangkap polisi?."
"Tentu saja! apakah menculik bukanlah suatu kejahatan??."
"Ck! setidaknya kalian membawanya ke sini, biar aku yang memberinya pelajaran," sentak pria itu.
Ucapannya membuat nyali para bawahannya menciut, namun tenang saja....ada nona muda di sini, keadaan akan aman terkendali.
"Bang, jangan terlalu rakus. Biarlah pihak berwajib yang memberinya pelajaran, kita hanya perlu memantau keadaan dari jarak jauh. Bila perlu, kita hanya perlu menonton hasil dari kebodohannya sambil memakan popcorn," celoteh sang adik yang membuat para bawahan mereka hendak tertawa.
"Melisaaa.....," keluh sang abang.
"Ayolah bang Jake, aku taku kau sangat bosan. Tanganmu sangat gatal ingin menghajar Dewa si manusia dungu itu, tapi....jika aku tidak segera pergi membawa bawahan kita saat itu, bukan hanya Dewa yang berada di tangan pihak berwajib."
"Kau paham kan maksud ku?," tanya Melisa lagi.
__ADS_1
Jake terlihat membuang napas kasar.
Melisa kembali berceloteh"Lagipula....apa yang akan terjadi jika Arkan tahu para preman ini adalah bawahan ku, citraku sebagai pegawai kantoran yang manis di depannya akan tercoreng."
Jake menatap Melisa dengan jijik"Hisss! kau tidak malu masuk ke kantor itu hanya demi mendekati Arkan??."
"Aku menyukai pria luar biasa, kenapa aku harus malu?," Melisa balas melirik Jake dengan jijik.
"Ck!," Jake tak ingin melanjutkan perdebatan.
"Apa dia terluka parah?," Jake beralih dengan menanyakan keadaan Arkan.
"Tidak, apa kau lupa bahwa dia adalah pria yang jago berkelahi?," sahut Melisa beranjak dari duduknya. Menuju kulkas dan meraih sekaleng minuman bersoda.
"Gluk... gluk...gluk....," terdengar menggiurkan, tingkah Melisa membuat kerongkongan anak buah mereka juga merasa haus. Berbeda dengan Jake, kelakuan Melisa membuatnya melempar tisu pada sang adik.
"Wanita seperti ini yang ingin mendekati Arkan??? yang benar saja?!."
"Setidaknya aku wanita yang apa adanya bang! bukan seperti Ales....."
"Sudahlah!!! aku lelah. Kalian....," atensinya beralih pada para bahannya"Kabari aku jika Dewa telah bebas dari penjara. Aku sangat ingin memberikan pelajaran padanya," lanjutnya.
"Siap tuan!," sahut para bawahan seksama.
Ujung mata Jake melirik Melisa yang masih menikmati minumannya, berdiri menatap luar jendela"Lupakan nama wanita itu, mendengar namanya saja membuatku ingin muntah."
Melisa mencebik, lagipula bukan sengaja dirinya hendak menyebut nama wanita itu.
"Huh, sok coll. Lidahku hanya terpeleset hingga nyaris menyebut nama wanita yang membuat Arkan memutus tali persahabatan kalian," gerutunya kesal.
Di atas meja, tergeletak foto Arkan tengah menghajar para anak buah Jake. Nampak beringas, sangat tidak di ragukan lagi pria itu masih sangat kuat seperti dahulu.
...🌼🌼🌼🌼...
Berita terhangat, di ujung pesta pernikahannya penulis viral kita melarikan diri untuk menemui mantan suaminya. Sungguh malang nasib brondong yang baru saja menjadi suaminya.
"Prak!," gawai itu terjatuh dari tangan tuannya. Tubuh Jena mematung dengan pandangan kosong. Hari-hari suram tengah menanti nya di depan sana.
__ADS_1
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗