Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Rival baru


__ADS_3

Kehadiran bocah kecil Enda, bagai semilir angin yang menyejukan hari seorang Jena. Entah mengapa, dirinya merasakan kehangatan setelah beradu pandangan dengan bocah kecil itu.


"Mata tante cantik," ujarnya usai berlama-lama berpandangan dengan Jena.


"Benarkah? tapi matamu lebih cantik,"ujar Jena menoel ujung hidung Enda nan lucu.


"Oh no! aku tidak cantik tante, aku seorang pria. Kata Ayah, seorang pria tidak boleh di katakan cantik, jika di katakan tampan itu baru boleh," bocah itu melipat kedua tangan di dada, seolah sedang merajuk di katakan cantik oleh Jena.


Senyum begitu lebar terbit di wajah Jena, begitu lucu sikap polos seorang Enda, membuatnya melupakan mereka yang sedang melihat interaksinya bersama Enda.


"Baiklah," Jena mencubit pelan kedua pipi Enda"Kau sangat tampan, paling tampan di dunia ini."


Apa kau tahu, cemburu itu sangat tidak memandang tempat, bahkan usia. Sikap hangat yang di berikan Jena kepada Enda, membuat hari seseorang tercubit, di singgahi cemburu.


Agam mencebik tanpa suara, memalingkan wajah dari pemandangan istrinya bersama bocah pria itu"Haish!!! ilmu apa yang di miliki Enda, mereka baru bertemu, tapi Jena langsung menyukainya," gerutu hatinya kesal.


Jika saja waktu bisa di ajak bekerja sama, Jena akan sangat senang bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Enda. Ben mengajak Enda pergi dari kediaman pantai, bocah kecil itu hendak di antar ke tempatnya belajar mengaji iqro.


"Terimakasih permennya, tante," tangan kecil itu menerima beberapa permen jeruk. Tangan yang begitu kecil, Jena sungguh gemas ingin selalu menggenggamnya.


"Sama-sama sayang," di usapnya lembut pucuk kepala Enda.


Dan betapa kebahagiaan Jena semakin bertambah saat Enda membalas perlakuan lembut Jena dengan menarik jemarinya, berpamitan sembari mencium tangan Jena khidmat"Enda pulang dulu ya."


"Ya, hati-hati ganteng."


Melihat Agam yang berkali-kali mengusap tengkuknya, membuat Gibran sangat senang bukan kepalang. Dia sangat tahu betul tingkah Agam saat sedang resah, mengusap tengkuk tak gatal berkali-kali, begitulah yang selalu di lakukan sahabatnya itu.


Menaiki motor matic sang ayah, Enda melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kepada mereka, khususnya kepada Jena, mungkin. Sebab bocah itu melayangkan ciuman kepada Jena.


"Ckckckc....tinggal pulang saja, kenapa harus ada ciuman melayang juga!," Agam lekas berbalik, bukan seperti Jena yang memandang kepergian Enda hingga perlahan menghilang.


"Hahaha, kau cemburu dengan Enda," tanpa basa-basi, Gibran langsung menodong Agam.


"Tidak! dia hanya bocah kecil, kenapa aku harus cemburu padanya," ujarnya melenggang menuju dapur cafe, membuka kulkas kemudian meminum air mineral dingin.


Jena tersenyum kecil, senyumnya semakin menjadi saat Gibran menyenggol lengannya"Lihat, jika sedang cemburu, lebih menggemaskan Agam apa Enda?."


Wanita itu tak memberikan jawaban, dia hanya tertawa hingga hidungnya menyerngit.


Alih-alih mendatangi sang suami yang bersandar pada dinding konter minuman, Jena kembali ke ruangan buku-buku dan melanjutkan aktivitasnya.

__ADS_1


Sorot mata Agam mengikuti bayang sang istri, tingkat cemburu itu semakin menjadi saat Jena tak mendatangi dirinya. Apakah Agam telah di kalahkan Enda? hei!! seperti yang Agam katakan, Enda hanya seorang bocah kecil, bukan tandingan dirinya hingga harus di cemburui. Tapi....sebagai seorang suami yang melewati berbagai rintangan demi mengambil hati sang istri, Agam merasakan sinyal bahaya sejak kehadiran Enda. Bagaimana tidak, bocah itu menyita perhatian Jena beberapa detik sejak pertemuan pertama mereka.


"Jangan katakan dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada bocah kecil itu," desis Agam kembali meminum air mineral dingin.


Menari di atas derita Agam, Gibran terlihat sangat senang menyaksikan kegelisan seorang Agam.


"Katakanlah kau pemenang dari persaingan tiga pria. Kau, Dewa, dan Rio," celoteh Gibran duduk di depan konter.


Agam berbalik menghadap Gibran, dia tahu pasti bukan hal baik yang akan di katakan ipar lucknat ini.


"Tapi, apa kau tahu di atas langit masih ada langit," seringai tawa di wajah Gibran sangat menyebalkan. Agam berdecih kemudian kembali membelakangi Gibran, menatap laut dengan ombak kecil yang saling menggulung.


"Hei....kau cemburu, aku tahu betul," ujar Gibran lagi, mencolek punggung Agam dengan sebilah sumpit.


"Brak!," Agam lekas berbalik dan menyambar sebilah sumpit itu"Jangan sembarang berasumsi.


"Hufffpphh," hampir meledak, Gibran menahan tawanya agar Agam tak semakin merajuk.


Rupa-rupanya, Jena mengintip mereka dari ruang buku. Oh....jadi seperti itu tingkah Agam ketika sedang merajuk, sunguh lucu!. Memanglah Enda sanggat menggemaskan, tapi menanggapi pertanyaan Gibran tadi...di mata Jena Agam yang merajuk sedikit lebih menggemaskan ketimbang Enda.


"Mas Agam," ujarnya kembali pada posisi merapikan meja kerjanya. Seolah dirinya tidak sedang mengintip prilaku suami dan adiknya di dapur cafe.


"Diam! aku akan menyumpahimu di kehidupan mendatang terlahir sebagai banci," desis Agam sembari menepis sumpit di tangannya.


"Idih...melambai dong, amit-amit ya Allah," cepat-cepat Gibran mengetuk konter dan kepalanya bergantian.


Segera, Agam membawa diri menjumpai sang istri"Ya, kenapa sayang?," senyum itu begitu hangat, meski sedang merajuk dia tak terlihat resah di hadapan Jena.


"Hemmm....," memutar bola matanya, Jena seperti sedang berpikir keras.


Sedikit memiringkan kepala memandang sang istri "Katakan, apa yang sedang kau pikirkan."


Terdengar tawa kecil seorang Jena, begitu cantik hingga membuat Agam spontan mengusap lembut pipinya"Ada apa?," tanyanya lagi bernada sangat lembut.


"Enda belajar mengaji di mana?."


Oh, jadi wanitanya masih memikirkan si bocah Enda??? Agam mengatupkan bibir rapat-rapat.


"Entahlah," ujarnya singkat.


"Oho! ada apa dengan wajah itu? kau terlihat sedang berbohong tuan suami!."

__ADS_1


Agam beralih menyusuri rak yang sudah banyak di penuhi buku-buku"Sungguh, aku tidak tahu di mana Enda belajar mengaji," ujarnya tanpa membalas tatapan dua manik coklat Jena.


"Cem-bu-ru," Gibran membisikan kata itu dari arah dapur. Membuat hati kecil Jena tergelitik geli.


"Sayang," ujar Jena pelan.


Agam lantas berbalik, kembali mendekati Jena yang masih duduk di meja kerjanya"Siapa yang kau panggil sayang? seingatku sangat jarang kau memanggilku dengan sebutan sayang."


Jena mengerucutkan bibir sembari menahan tawa.


"Ah! aku ingat. Bukankah kau tadi memanggil Enda dengan sebutan sayang? bocah itu sudah pergi Jenaira," ujarnya memainkan pensil kayu yang tergeletak di hadapan Jena.


"Ya, aku tahu Enda yang tampan itu sudah pulang. Di sini hanya ada kau dan aku, lantas jika bukan padamu, kepada siapa aku memanggil dengan sebutan sayang," ujung mata Jena melirik sekilas pada Gibran"Lagipula, tidak mungkin aku memanggil cecunguk tengil itu dengan sebutan sayang."


"Jadi, yang tadi itu panggilan sayangmu padaku, maaf, setelah mendengar kau sempat memanggil Enda dengan sebutan sayang, ku pikir kau tidak sedang memanggil kepadaku."


Jelas! sangat jelas. Agam yang tampan sedang cemburu karena Jena memanggil Enda sayang, juga menyebutkan Enda si bocah tampan.


Jena berdiri, segera memeluk erat tubuh tinggi suaminya, pundaknya terlihat bergetar namun tanpa suara. Agam menjadi panik, apakah istrinya menangis???


"Sayang! apa kau menangis?," pria itu menarik tubuh Jena, namun tangan sang istri yang melingkar di pinggangnya sangatlah erat.


"Jenaira, sayang! maaf jika aku membuatmu sedih. Terserahlah jika kau ingin memanggil Enda dengan sebutan sayang, atau, mengatakan dia lebih tampan dariku pun tak mengapa," suara pria itu terdengar sangat khawatir. Dirinya menjadi semakin panik saat tubuh Jena semakin bergetar.


Lebih kuat, Agam melepaskan pelukan erat Jena pada tubuhnya. Alih-alih menangis seperti yang Agam pikirkan, nyatanya Jena sedang tertawa. Wajah wanita itu merah bagai kepiting rebus karena menahan tawanya agar tak bersuara.


Terdengar suara napas kelegaan Agam"Ya Allah, ku pikir kau menangis karena aku menyindir sikapmu pada Enda."


Jena pun tertawa terpingkal-pingkal, demi meminimalisir suara tawanya yang renyah, Jena menutup mulutnya dengan kedua tangan"Kau cemburu kepada Enda."


"Ck! kau begitu terpesona padanya! bagaimana aku tidak cemburu," desis Agam mengambil duduk di sofa.


"Nah! akhirnya kau mengaku cemburu," seru Gibran dari arah dapur cafe.


Tak bisa berkata-kata lagi, wajah yang merah hingga menjalar ke daun telinga, cukup menggambarkan betapa malunya Agam saat ini.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


**Sorry up nya sedikit terlambat, mbak author sedang mabuk wayv 🤭🤭 dari kemaren-kemaren mantengin YouTube melulu ngikutin kegiatan mereka di Indonesia 😅**

__ADS_1


__ADS_2