Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Lumba-lumba incaran Jena.


__ADS_3

Meniti karir di dunia hiburan, Tiara sangat takut ancaman tempo hari meluluh lantakkan impian yang telah tercapai. Meski gagal menjadi seorang penulis, setidaknya impian menjadi seseorang yang terkenal telah berhasil dia dapatkan. Terbilang sebagi pendatang baru, penghasilan Tiara sangat jauh dari nominal yang di inginkan Arkan untuk menutupi keburukannya, dan...demi ketenangan hidupnya, Tiara mencari pinjaman pada seorang rentenir, tentu dengan bunga yang sangat melambung tinggi.


Ketika seseorang yang diam saja mulai merasa terusik, maka bersiaplah untuk menghadapi kehancuran. Arkan terkekeh geli saat orang suruhannya memberi kabar bahwa Tiara telah masuk ke dalam perangkap. Boleh jadi wanita itu berbahagia atas hancurnya rumah tangga Jena, namun dia harus menukar kebahagiaan itu dalam kubangan lumpur utang piutang yang tiada habisnya.


"Bagaimana dengan Tian?," tanya Arkan pada pasangan binal Tiara.


"Bos Anderson menawarkan barang bagus padanya, iming-iming keuntungan berkali lipat membuatnya berinvestasi dalam jumblah besar."


Lagi, Arkan terkekeh geli, sungguh dungu pasangan haram itu.


Pada sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, Tiara tengah menghadiri peluncuran lipstik terbaru dari brand yang di naungi perusahaan keluarga Dewa. Wanita itu begitu di elu-elukan, tidak di pungkiri Tiara memang sangat cantik.


Di sudut lain dari pusat perbelanjaan, Angga tengah menceramahi dua rekan bisnisnya, siapa lagi kalau bukan Gibran dan Agam. Tak tanggung-tanggung, dua saudara ipar itu absen dari konter ponsel mereka dalam waktu yang cukup lama.


"Jadi, kalian masih mengingat tempat ini?," melipat kedua tangan di dada, Angga memandang Agam dan Gibran yang duduk bersama di sofa.


"Kau pikir aku sudah pikun? jelas saja aku mengingat tempat kita mengais cuan ini."


"Oh, begitukah, lantas, kemana kalian saat aku kewalahan melayani pelanggan? aku sampai meminta bantuan pada tante seberang beberapa hari ini," ujar Angga menunjuk tante manis penjual Thai tea di seberang konter mereka.


Agam tersenyum manis"Kau memang pintar, mengapa tidak kau kontrak saja tante itu."


Kening Angga di buat berkerut"Mengontrak tante itu? untuk bekerja di sini?."


Gibran dan Agam mengangguk bersama.


Seketika Angga melengos"Lantas, apa gunanya kalian? jangan katakan kalian akan terus bermalas-malasan di rumah pantai! ayolah, aku juga ingin bermalas-malasan seperti kalian."


"Atau....apa kalian akan berhenti mengurusi konter ini? ck! mungkin bagi kalian penghasilan konter kita tidak seberapa, tapi bagiku konter ini penopang ekonomi untuk keluarga ku."


Gibran beranjak menuju kulkas, mengambil minuman bersoda dan menikmatinya"Jangan berasumsi seperti itu, kau pikir aku tidak menyukai uang. Lagipula penghasilan kita cukup stabil, dan aku juga tidak ada niatan untuk berhenti menggeluti bisnis ini."


"Hanya saja, aku tidak bisa rutin menemani mu di sini, aku tahu kau pasti lelah. Benar kata Agam, mungkin sudah saatnya kita mempekerjakan seseorang untuk menemanimu menjaga tempat ini," sambungnya mematut diri di kaca, hem...Gibran tersenyum puas, dirinya sangat tampan hari ini.


Agam menggeleng jengah, tingkat percaya diri Gibran sangatlah tinggi, mematut diri dengan berbagai pose, kemudian memuji ketampanan nya sendiri sudah menjadi kebiasaan pria itu.


"Dan kau, apa alasanmu hendak mengontrak tante itu?," kini Angga beralih pada Agam. Sama seperti Agam, melihat tingkah laku Gibran di depan cermin sungguh membuatnya jengah.


"Sejujurnya, kepergian Jena menjumpai Zafirah menyisakan ketakutan dalam diriku," ujar Agam. Perkataan pria itu membuat Gibran kembali mengambil duduk di dekatnya.


"Beberapa hari ini, aku memperhatikan pengunjung yang keluar dan masuk area pantai. Kebanyakan dari mereka menanyakan cafe atau restoran yang dapat mereka singgahi, alih-alih menuju resort ujung pantai yang lumayan jauh itu," Agam menoleh pada Gibran"Kau lihat bukan, pengunjung pantai kerap menghabiskan waktu di belakang kediaman kita."


Gibran merenungi perkataan Agam, dan memang benar, kediaman mereka kerap di singgahi para pengunjung yang sekedar menatap lautan di sore hari. Melepas penat usai beraktivitas di perkotaan"Jadi apa maksudmu?."

__ADS_1


"Aku memikirkan sebuah bisnis baru, bisnis yang tidak akan membuatku harus meninggalkan Jena di rumah."


Angga mengacak rambutnya, sungguh sikap Agam membuatnya tidak habis pikir"Bahkan setelah menjadi suaminya pun, kau begitu enggan berpisah sejenak darinya. Ketakutan jika di tinggalkan kak Jena hanya sebuah alasan, kau sungguh budak cinta, Agam!."


"Terserah! sekarang sudah jelas bukan, aku menyerahkan bisnis ini untuk kalian."


"Hei, jadi kau hanya ingin keuntungannya saja? tanpa memunculkan diri di konter ini??," tanya Gibran kembali menenggak minumannya.


Agam tertawa, membuat dua rekannya mendengus kesal.


"Ayolah, aku hanya mau 25% saja," ujar Agam beranjak jua, mengambil minuman soda seperti yang sedang Gibran nikmati.


Gibran memandangi wajah Angga, menunggu kesediaan rekan kerjanya itu.


"Apa uang sangat tidak berarti bagimu?ku pikir, setidaknya kau meminta 75% dari bagianmu."


Nampak penasaran, Gibran langsung meminta kepastian dari Angga"Jadi, kau menyetujui keinginan Agam?."


"Anggap saja aku hanya orang kepercayaan kalian, dalam bisnis ini hanya aku yang menanam modal paling sedikit. Tapi lihatlah, berkat usaha ini setidaknya keluargaku hidup berkecukupan. Dan mengenai keuntungan bagian Agam, aku akan membaginya seperti biasa, dan aku akan segera mencari karyawan yang dapat membantuku mengelola bisnis kita ini."


Jawaban Angga membuat Agam terenyuh, sungguh, pria murah senyum ini sangat baik hati"Gunakan komisiku untuk menggajih karyawan kita kelak," ujarnya.


"Cari 2 atau 3 karyawan ya," Gibran menimpali.


"Kenapa? jangan katakan.....," kalimat Angga tergantung, raut wajah Gibran membuatnya yakin dengan dugaan yang masih bersarang dalam benaknya.


Agam membuang napas kasar"Lupakan niatmu, aku tidak ingin mengajakmu menjadi rekan bisnisku lagi!."


"Kau.....," gemas Gibran.


"Bersyukurlah, jika kau tidak ada setidaknya aku masih bisa menjaga kak Jena. istri galakmu itu!," tersungut-sungut, Gibran mencoba mengambil simpati dari seorang Agam.


Perlahan Agam mengangguk"Ada benarnya juga."


Angga hanya bisa pasrah, pilihan ada di tangan mereka berdua.


Usai mengutarakan niatnya, Agam tersenyum saat mendapat pesan dari Jena. Istri cantiknya itu telah sampai di pusat perbelanjaan. Meninggalkan dua rekannya, Agam segera menjemput sang istri di parkiran.


Memasuki pintu utama dari pusat perbelanjaan, Agam tak memberi kesempatan untuk melepaskan jemarinya dari jemari sang istri. Tanpa malu-malu, Agam terus menempel pada Jenanya. Tak berbeda dari Agam, Jena nampak menikmati kebersamaan mereka kali ini. Wanita itu terus mengurai senyuman saat berjalan beriringan dengan Agamnya.


Saat melewati area bermain anak-anak, Jena di buat terpekik saat melihat suatu permainan"Mesin capit! aku ingin memainkan benda itu," ujarnya terlihat sangat antusias.


Di hadapan mesin itu, nampak beberapa bocah yang sedang berjuang mendapatkan boneka yang dia inginkan.

__ADS_1


"Kau ingin memainkannya atau hanya tergiur dengan boneka-boneka di dalam sana?," tanya Agam yang lantas mengekor langkah Jena mendekati mesin capit.


"Aku akan memastikan setelah melihat bocah-bocah itu dulu, jika terlihat sulit, mungkin aku akan membatalkan niatku."


"Sayang, jadi kau tidak ingin berjuang demi mendapat apa yang engkau mau??."


"Aku tidak suka sesuatu yang sulit," tukas Jena singkat. Kini mereka telah menyaksikan para bocah itu memainkan benda itu. Terlihat begitu lemah, ujung-ujung capit itu seperti seekor kepiting yang kehabisan tenaga, bahkan untuk mencapit sebuah boneka kecil saja dia tak mampu.


"Aish! perusahaan permainan ini sangat licik, lihatlah, ujung pencapitnya sangat lemah," desis Jena.


"Bukan begitu, hal itu justru menambah tantangan demi mendapatkan hadiah di dalam sana."


"Sulit, aku jadi tidak ingin memainkannya!," seru Jena. Sama seperti para bocah-bocah yang putus asa, wanita itu segera menarik Agam untuk berlalu dari tempat itu.


Seketika Agam menahan langkah Jena"Perhatikan benda di dalam sana, apa ada yang menarik hati mu? aku bisa mendapatkan jika kau mau."


Seulas senyuman terbit di wajah Jena"Teringat lumba-lumba tidak simetris mu, aku jadi tertarik dengan boneka lumba-lumba itu," ujarnya menatap boneka berwarna biru itu lekat-lekat.


"Tapi sayang, tidak ada yang gratis di dunia ini," seringai tawa itu membuat Jena mencubit pelan perut suaminya.


"Awh! jadi beginikah caramu berterimakasih?," Agam sedikit mengaduh.


"Bagaimana aku akan berterimakasih, benda itu belum kau berikan untukku."


Seperti sebuah tantangan, Agam segera menukar koin untuk memainkan mesin capit itu. Bergantian Jena dan Agam memainkan benda yang sungguh menguji kesabaran itu. Bagi Agam yang penyabar, dirinya hanya tersenyum pahit saat usahanya gagal mendapatkan apa yang Jena inginkan. Sedangkan Jena, wanita itu terus mengumpat saat boneka incarannya tak berhasil dia dapatkan.


"Ash! seharusnya aku membawa jepit rambut!," sentaknya memukul tuas yang mengendalikan capit di dalam sana.


"Untuk apa jepit rambut?," tanya Agam kembali memasukan koin, kini giliran dirinya berjuang untuk mendapatkan si lumba-lumba.


Jena berbisik di telinga Agam"Aku sangat mahir menggunakan jepit rambut yang berbentuk seperti lidi."


Agam seketika kehilangan fokus, bisikan sang istri membuat otaknya berpikir keras"Untuk apa jepit rambut lidi itu?."


"Tuk tuk tuk....," Jena mengetuk lubang kunci pada mesin capit itu.


"Hei," Agam tertawa, kini dia tahu apa yang sedang di pikirkan istrinya ini.


"Mudah bukan? kita tinggal membuka kunci box boneka itu," celetuk Jena.


"Kemudian kita akan di kejar petugas keamanan karena bertindak curang, istriku," ujar Agam semakin tertawa karena ulah Jena.


Wanita itu menyerngitkan hidung saat jemari Agam menyentil pelan ujung hidungnya.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2