
Semilir angin membelai lembut wajah cantik Jena, wanita itu tertidur pulas di atas ayunan. Mentari perlahan naik, perlahan menggeser dinginnya pagi menjadi lebih hangat. Mengambil sebuah kursi, duduk sembari memandang wajah sang istri, mencipta sebuah senyum kebahagiaan di wajah Agam.
Membelai lembut pucuk kepala sang istri, sungguh rasa syukur itu tak terhingga dari dalam hatinya. Sangat tidak di sangka, wanita berharga ini kini telah menjadi istrinya. Teringat betapa pedihnya sang hati saat wanita yang di cintainya menikah dengan pria lain. Kala itu, dirinya masih terbilang sangat muda, bahkan akan menjadi lelucon jika ketahuan tengah menyimpan hati terhadap Jena.
Namun, siapa yang tahu rahasia sang illahi? bahkan sesuatu yang tak mungkin, dapat terjadi hanya dalam sekejap mata.
Jena meggeliat, wanita itu membuka mata, dan jemarinya terjulur membalas belaian lembut Agam pada pucuk kepalanya"Kau tidak ke kota? apa kau tidak takut mendapat omelan dari Angga lagi?," tanyanya mengusap wajah Agam.
"Hem, maaf jika aku telah mengambil keputusan tanpa bertanya padamu. Aku telah menyerahkan urusan konter kepada Angga."
Kedua alis Jena di buat berkerut"Ng? maksudnya, kau akan berhenti bekerja?."
"Apa kau akan marah?," alih-alih menjawab, Agam justru balik bertanya.
Jena mendudukan diri, memandang Agam yang terlihat mulai resah"Kenapa aku harus marah? kau berhak menentukan pilihan hidupmu. Hanya saja, setidaknya kau harus memiliki pekerjaan baru, bukan? ingat Agam, aku wanita yang banyak makan, gemar menikmati cemilan juga, apa kau masih bisa memberikan ku jatah makanan jika tidak lagi bekerja?."
Seketika, sepasang lesung pipi Agam tercetak jelas"Jadi, kau hanya khawatir terhadap makanan?."
"Hem," Jena mengangguk-angguk.
Sungguh lucu, wajah polos Jena saat menjawab pertanyaan Agam membuat pria itu tertawa. Lantas, Agam meraih jemarinya, memutar-mutar cincin pernikahan mereka di jari manis Jena.
"Jenaira, apa kau tahu, benda ini akan sangat mahal jika di jual."
Jena membulatkan mata"Kau!!!!," serunya.
"Sungguh, jika menjual cincin ini, kau tidak perlu mengkhawatirkan stok makanan berbulan -bulan, sayang."
"Agam!! buang jauh-jauh pikiran menjual cincin pernikahan kita!," Jena di buat kesal. Wanita itu menarik paksa tangannya dari genggaman Agam. Bagaimana bisa pria ini berpikir untuk menjual cincin pernikahan mereka saat dirinya tak lagi bekerja!.
Jena meremat jemarinya erat-erat, seolah takut cincin giok emas di jari manisnya terlepas. Berbeda dengan cincin nikah pada umumnya, benda turun temurun keluarga Agam itu tergolong unik. Alih-alih berhias intan permata, nenek buyut Agam memilih cincin giok emas sebagai benda turun temurun keluarga mereka.
Sederhana namun sangat manis jika di pandang, di balik tampilan itu tersimpan harga yang sangat mahal.
Jena tau, Agam hanya sekedar bercanda. Namun wanita itu sangat tidak rela jika satu-satunya tanda di jari manisnya di jadikan gurauan. Segera, Jena turun dari ayunan, melangkah hendak meninggalkan Agam.
"Sayang!!! aku hanya bercanda," pekik Agam merangkul tubuh kecil itu dari belakang.
Terlihat, Jena menekuk wajah, kesal.
"Maaf, aku hanya bercanda," ucapnya lirih.
"Aku sudah memikirkan bisnis baru, tapi perlu persetujuan mu dahulu," ujarnya lagi.
Jena melepaskan pelukan Agam, berbalik menatap pria itu"Katakan, apa yang harus aku setujui?."
"Sebentar! jangan lagi kau meremehkan cincin ini, benda ini sangat berharga untuk ku," ujarnya saat Agam menggiring nya duduk di tepi beranda.
Agam tersenyum simpul"Tentu saja sangat berharga, itu bukan sekedar giok biasa."
"Benarkah??."
"Hem," angguk Agam.
"Itu giok jade, milik neneknya, nenek, nenek,neneknya nenekku."
Lagi, Jena memberengut. Mata cantik itu mendelik kepada Agam"Apa ini kebiasaan barumu? sepertinya kau sangat suka menjahiliku!."
Kedua mata Agam menyipit, membantuk bulan sabit dengan senyum yang begitu manis.
"Benarkah," lirih Jena menatap lekat-lekat cincin di jari manisnya.
"Apa kau sangat menyukai cincin itu?."
__ADS_1
"Ya, terlepas dari harga fantastis nya, aku menyukai benda ini karena dialah pengikat diriku dan dirimu."
Ah! hari Agam seketika menghangat, begitu banyak kupu-kupu cantik berterbangan dengan riang di dalam sana.
"Sepertinya, bukan hanya menyukainya, aku juga sangat menyayanginya," ucap Jena lagi.
"Oh, jadi kau hanya menyayangi cincin itu? lantas, bagaimana dengan diriku?."
"Tentu saja kau lebih ku sayangi," tukas Jena tersenyum riang.
"Grab" Agam menarik tubuh kecil sang istri ke dalam pelukan.
"Terimakasih sayang, aku juga sangat menyayangimu," lirih Agam haru.
Di bawah langit biru, dua insan yang saling cinta itu saling berpelukan. Jemari besar Agam begitu lembut mengusap kepala sang istri, dan lengan kecil Jena melingkar erat di pinggang suaminya.
"Aishh!!! entah siang, entah malam, apa tidak ada pekerjaan lain selain berpelukan?," Gibran, pria itu berteriak dari bawah. Dirinya baru selesai menelpon sang mama, memberi kabar bahwa dirinya akan memulai bisnis baru.
"kenapa? cepatlah menikah jika kau iri," tukas Agam mengurai pelukan.
"Hilih, aku tidak yakin Kanaya akan sudi menikah dengannya," celetuk Jena. Ujung matanya melirik sekilas kepada Gibran di bawah sana. Terlihat, Gibran meunjuk ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Heh, kak! jangan kau remehkan laki-laki tampan ini! aku hanya belum siap menerima masakan bercita rasa aneh racikan Kanaya."
"Alasan," seru Jena mencibir.
Gibran menjadi kesal, dan mereka bukan saudara jika tidak gemar saling memancing emosi.
Agam tertawa melihat tingkah dua bersaudara itu, terlihat begitu senang. Dan tentu saja kesenangan itu menambah kesal di hati Gibran.
"Kalian, jangan senang dulu! sebentar lagi mama akan ke sini."
Perkataan Gibran menghentikan aktivitas Jena, mimik wajahnya seketika berubah masam.
Mengambil duduk di kursi area belakang kediamannya, Gibran kembali berucap sembari mengawasi Jena dan Agam di beranda lantai atas"Mama datang kemari sebab bisnis baru yang akan kita rintis, Agam."
Lantas, Agam segera mengutarakan niat mereka memulai bisnis baru di kediaman pantai. Sempat berpikir sejenak, Jena akhirnya setuju dengan rencana mereka. Dalam benaknya, wanita itu juga sempat memikirkan hal itu, membangun sebuah cafe dengan konsep toko buku. Kemudian, mereka pun duduk bersama untuk saling bertukar pendapat. Hingga, saat kesepakatan terjadi di antara mereka, Jena pun menanyakan maksud kedatangan Adila nanti ke tempat ini.
"Sebagai anak yang baik, aku meminta izin kepada mama untuk memulai bisnis baru ini."
Jena menyandarkan diri di kursi sofa ruang tengah, di sanalah mereka akhirnya bertukar pendapat"Lihat Agam, di dalam tubuh raksasanya ini masih tersimpan jiwa bocah berusia 5 tahun. Dia bahkan meminta izin kepada mama tersayangnya, padahal dirinya sudah cukup dewasa untuk memutuskan segalanya sendiri, bukan?."
"Jittt!!!!," Gibran menarik ujung rambut tergerai Jena. Membuat sang kakak menjerit kesakitan.
"Kyaaaa!!!, Gibran!! apa kau ingin di mutilasi!!??."
"Plak!," Agam memukul tangan nakal Gibran. Tanpa bicara, pria itu membuat Gibran melepaskan serangan tangannya kepada Jena.
Kaki besar Gibran menghentak"Dasar pasangan kejam! kau melukai hatiku dengan lidahmu!," tunjuknya kepada Jena.
"Dan kau!, kau bahkan memukul tanganku demi membela istri mu!," ujarnya beralih kepada Agam.
"Dia istriku, bahkan jika salah pun aku masih akan tetap membelanya," sahut Agam dengan senyum menyebalkan.
Ash!! Gibran semakin di buat kesal. Demi kesehatan jantungnya, pria itu memilih pergi dari hadapan Jena dan Agam, tentu dengan iringan gelak tawa pasangan menyebalkan itu.
...🌹🌹🌹🌹...
Bunyi kode pintu yang sedang di tekan, kemudian dari balik pintu kokoh itu muncul seorang gadis dengan tampilan sederhana. Nampak lelah, dia melepaskan sepatu yang menjadi alas kakinya seharian ini, menggantinya dengan sandal boneka nan empuk yang begitu nyaman ketika di kenakan.
Melangkah menuju dapur, membuka kulkas dan menenggak minuman bersoda tanpa mengambil duduk. Berdesis penuh kelegaan, masih dengan sekaleng minuman soda di tangan, gadis itu membalikan badan dan....
"Yaaaaa!!," pekiknya menggeram. Beruntung, jemarinya spontan meremat kaleng minuman dengan sangat erat ketika terkejut.
__ADS_1
"Ka....kau! apa yang kau lakukan di sini? bagaimana kau bisa masuk?."
Seorang pria sedang duduk dengan santai memperhatikan tingkah lakunya sejak tadi. Hanya satu tanggapan pria itu tentang dirinya...
"Ceroboh! serampangan, sembrono, kau masih sama seperti dahulu, nona Lisa."
Gadis yang di panggil Lisa itu merasakan serat pada tenggorokan, bahkan untuk menelan saliva pun rasanya sulit.
Melihat wajah tegang itu, seketika Arkan tersenyum miring.
"Ada apa dengan tampang tegang ini? bukankah di kantor kau begitu gencar mendekatiku, lihatlah sekarang aku telah datang kepadamu," Arkan membuka kedua lengannya, sikap itu begitu sarkas bagi Lisa.
"Jadi, kau sudah tahu siapa diriku?."
Kedua alis Arkan terangkat naik"Yah, mungkin baru beberapa puluh jam yang lalu."
"Apakah Jake mendatangi mu?."
"Tentu saja," sahut Arkan.
Melisa membuka blazer yang dia kenakan, menyisakan kemeja putih membungkus tubuh kecilnya"Oh, jadi si tua Jake yang memberikan akses untuk masuk ke kediamanku ini."
"Katakan, apalagi yang di katakan orang tua itu? aku sudah beberapa minggu tidak berjumpa dengannya. Entah apa yang sedang dia lakukan, sepertinya dia sedang menemukan permainan baru."
"Sepertinya begitu, dan...apa kau tahu permainan baru apa yang sedang dia lakoni?," tanya Arkan sembari menyusuri kediaman Melisa. Berantakan, sangat jauh dari kata rapih. Sangat tidak mencerminkan bahwa seorang wanita cantik tengah tinggal di apartemen itu.
"Haish!!! sudah berapa abad kau tidak membuang sampah!," desis Arkan mendapati berkantong- kantong sampah menumpuk di beranda kecil apartemen itu.
"Ck! ayolah, hentikan, kau terlihat sangat menikmati menghina diriku," keluh Lisa menarik Arkan untuk masuk kemudian menutup pintu menuju beranda, membuat Arkan terkekeh geli.
Mendudukan Arkan di sofa"Katakan, apa yang sedang di mainkan Jake?."
Menatap wajah yang dulu imut dan menggemaskan itu, setelah di pandang lebih dekat, ternyata Lisa telah menjelma menjadi wanita dewasa nan cantik"Jake sedang bermain kucing-kucingan dengan geng mafia, komplotan penjahat yang membuatku hampir kehilangan nyawa."
Kedua mata cantik Lisa mengerjap, tiba-tiba ada sebuah keresahan menjalari hatinya. Dia sangat tahu komplotan itu, mereka bukan orang sembarangan.
"Lantas, di mana Jake sekarang?," tanyanya duduk di atas lantai, bersandar pada sofa yang sedang di duduki Arkan.
"Entahlah, dia hanya mengatakan akan pergi ke luar negeri, tapi tidak memberitahu di negara mana dia akan tinggal."
Kedua alis Lisa saling bertautan, wajah gadis itu mulai terasa panas, hatinya mencelos menghadapi kenyataan tinggal berjauhan dengan saudara laki-lakinya.
Suasana itu membuat Arkan semakin tertekan. Gadis itu menangis, dan Arkan sangat tidak tahan melihat wanita menangis. Ingin rasanya meminta Lisa untuk segera menghentikan tangisannya, namun....Arkan bukan tidak pernah tinggal berjauhan dengan saudaranya.
"Hem...nona Lisa, ah! kata Jake aku tidak boleh lagi memanggilmu nona," Arkan meralat kata-kata"Lisa, kau jangan bersedih, sebelum pergi,Jake menitipkan mu kepadaku."
Sekejap, Lisa mengangkat wajah. Menatap Arkan yang kini telah duduk di lantai berhadapan dengannya.
"Benarkah??? Jake memberikan ku kepadamu?," hei! kemana wajah bersedih tadi? mengapa gadis ini justru terlihat bahagia setelah mendengar perkataan Arkan.
Arkan mengangkat kedua tangan, seolah membentengi dirinya dari Lisa"Bukan! Jake hanya menitipkan mu, bukan memberikan."
"Aku tidak perduli dengan hal itu, aku hanya perduli bahwa sekarang aku hanya akan tinggal bersama dirimu!!," pekik Lisa terbang memeluk Arkan. Pria itu terhuyung hingga terjungkal ke lantai, dengan Melisa yang memeluk erat tubuhnya.
"Akh!! yak!! Lisa!! hentikan!," teriak Arkan.
"Tidak!, masa bodo Jake hendak kemana, jika bersama dirimu aku sudah cukup bahagia," begitu erat, Lisa tak melepaskan pelukannya dari tubuh Arkan.
Arkan berusahan bangkit, setidaknya dia ingin duduk kembali alih-alih terkapar di lantai dengan Lisa yang menempel begitu erat memeluknya. Namun, usaha hanya tinggal usaha. Si kecil Lisa sudah begitu lengket, bahkan mengalahkan perangko sekalipun.
"Melisaaaaa," pekik Arkan kesal tak berdaya.
To be continued....
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗