Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Sang pemilik cincin.


__ADS_3

Setelah membujuk dan merayu adik tengilnya, dengan berat hati Jena harus membayar mahal demi mengutus sang adik menggantikan dirinya menghadiri acara penghargaan itu.


"Cuci bajuku selama seminggu, dan jangan lupa untuk menyeterikanya juga."


Jika saja hidung mendengus Jena dapat mengeluarkan api, mungkin kobaran api itu bisa melahap adik tengilnya hingga hangus terbakar.


Berhadapan dengan Gibran memang membuat emosinya menukik naik, jika saja Yoga tidak mengadukan sikap acuhnya kepada pak Salman, alangkah senangnya untuk mengabaikan acara penghargaan itu.


"Dengan bersedekap begitu, sembari melipat tangan, kau semakin terlihat seperti anak kecil kak, semakin lucu."


Sungguh, ocehan Gibran membuat gigi Jena bergerutuk keras"Kau pikir aku akan senang di katakan lucu!?."


"Bukankah semua wanita akan berbunga hatinya jika di katakan lucu?," ujarnya sembari tertawa.


Memelototi Gibran"Hal itu tidak berlaku padaku, apalagi jika kau yang mengatakan itu," dengusnya lagi.


"Oh ya? bagaimana jika Agam yang mengatakannya?," ujung mata bulat seperti boba nya melirik Jena, dengan sebelah alis terangkat naik.


Wajah mengolok-olok itu sungguh menyebalkan, namun Jena tak bisa marah sebab membayangkan Agam yang mengatakan dirinya manis, hampir setiap hari. Seketika dirinya mengulum bibir, menahan tawa.


Gibran menunjuk wajah malu-malu yang membuang pandangan itu"Lihatlah! kau malu-malu kucing" ujarnya berseru, menggoda sang kakak.


Di goda seperti itu, membuat Jena tak lagi bisa mempertahankan mimik datar di wajahnya, alhasil tawanya pun pecah"Kau memang nakal, sekali tengil tetap saja tengil," tangan kecilnya memukul lengan dan punggung Gibran membabi buta, sembari tertawa.


Berkilah kesana dan kemari, terlihat Gibran tertawa begitu lebar usai berhasil menggoda kakak perempuan yang galak itu.


"Hahaha, kau sudah bucin, Agam sudah berhasil membuatmu gila kepadanya," serunya menahan kedua lengan Jena, jika tidak maka tubuhnya akan terus mendapat serangan brutal sang kakak.


"Terserah, jika berkilah pun kau akan tetap usil," tukas Jena menepis tangan besar Gibran.


"Katakan saja kali ini kau berhasil menggoda ku," ujarnya lagi.


Barisan gigi kelinci sang adik terpampang nyata, pria tinggi berkulit gelap itu menatap Jena dengan tawa"Nah! sesekali mengaku saja, tidak ada ruginya,bukan.


Jena mengangguk terpaksa"Ya! terserah kau saja. Sekarang, apa kau akan setuju menggantikanku untuk hadir di acara nanti malam? aku masih harus kembali ke pondok pesantren untuk menemani Zafirah."


Teringat hal itu, Gibran sungguh kasihan kepada Zafirah. Dia pun mengangguk dengan patuh"Apa aku bebas memakan semua hidangan di sana?."

__ADS_1


"Hemm," sahut Jena menatap langit yang mulai kelabu.


"Apa di sana akan ada banyak wartawan?," tanya Gibran lagi.


"Itu acara televisi, jelas akan ada banyak wartawan di sana," sembari meraih keranjang besar, Jena berniat mengambil jemuran mereka di beranda belakang.


Mengikuti langkah sang kakak"Waduh, aku sedikit takut."


"Apa yang kau takutkan? apa kau pernah mendengar berita para wartawan bisa memakan manusia?," sahut Jena, segera jemari kecilnya mengambil satu-persatu jemuran mereka.


Mengambil duduk di tepian pagar beranda"Bukan seperti itu, tapi ini kali pertama ku kak, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa nanti."


"Ck," decih Jena"Kau hanya harus bersikap ramah, bersikap baik dan selalu tersenyum."


"Begitukah? aku akan semakin tampan jika tersenyum kak, apa kau yakin jantung para wanita di sana akan aman?."


Menghentikan aktivitasnya sejenak, Jena berbalik menatap Gibran dan"Bruk!!," segumpal handuk besar mendarat di wajah Gibran.


"Kau terlalu banyak bicara! sudahi ocehan tidak berguna itu. Lekas bantu aku membawa pakaian ini, lihatlah langit mulai gelap, aku harus segera pergi ke pondok pesantren sebelum hujan."


Sedikit terhuyung"Akh!! apa kau sedang meminta pertolongan kepadaku? bukankah kau harus sedikit lembut saat memerlukan bantuanku."


"Kalian ini! aku bahkan sudah minggat dari lantai atas, dan kalian masih akan bermesraan di tempat ini?? katakan saja! apa kalian ingin mengusirku??? mataku sangat terasa sakit melihat kalian bertingkah seperti bocah yang baru berpacaran!," menghentak kaki, dengan terpaksa pria itu mengambil alih pekerjaan Jena mengambil pakaian.


"Oho! jika kau terus mengomel, aku tidak akan mencuci dan menyetrika pakaian mu selama seminggu," bukan hanya Agam, Jena pun melemparkan ancaman kepadanya.


"Sebenarnya siapa yang sedang memerlukan bantuan? kenapa justru kau yang memberikan ancaman terhadap ku?," melempar pakaian itu dengan kesal ke dalam keranjang.


"Hem....ya sudah! biarkan saja jemuran kering itu di sana. Masih ada Angga yang bisa menggantikan istriku untuk menerima penghargaan itu."


"Yak!!," mendelik kepada Agam"Kalian bersekongkol mengerjaiku?."


"Makanya, hentikan ocehanmu. Kau sudah seperti bapak-bapak yang sedang mengomel karena gagal mengantri BBM."


Agam tertawa, celotehan sang isteri menggelitik perutnya.


"Cih! baiklah! demi kebebasan berpakaian selama seminggu, aku akan patuh pada perintahmu permaisuri galak!," seloroh nya kesal.

__ADS_1


"Bagus anak buah," ledek Jena lagi.


Kehabisan kata-kata, Gibran hanya memberengut menuruti perintah kakak galak itu, dengan hujan ledekan yang di lancarkan teman tengilnya, Agam.


...💞💞💞💞...


Memandangi kotak perhiasan berwarna merah, sorot mata nan sayu itu menyiratkan kesedihan yang teramat dalam. Hanya sebuah saja, entah kemana cincin yang seharusnya dia sematkan di jari manis calon suaminya, mendiang Yasir.


"Nak, sudahi kesedihanmu," Kiyai Bahi memergoki sang putri semata wayangnya itu, duduk sendirian di depan meja rias.


"Ikhlas itu sangat berat Abi," lirihnya, meletakan kotak perhiasan di hadapannya.


Perhatikan Kiyai Bahi tersita kepada isi dari kotak itu"Kau pasti bisa nak, Abi tahu kau gadis yang tegar," mengambil alih kotak perhiasan itu.


"Semoga saja Abi, Zafirah akan berusaha untuk mengubur rasa sedih ini," sahutnya mengikuti pergerakan tangan Abinya


"Kemana cincin prianya?," tanya nya kepada Zafirah.


"Hal itulah yang sedang mengusik pikiran Zafirah, Abi."


"Apakah terbawa Yasir? tapi..."


"Tidak mungkin, Abi!," seru Zafirah. Lekas-lekas dia memotong perkataan ayahnya, sungguh dirinya tidak sanggup jika mengingat bagaimana jasad mendiang calon suaminya.


"Bang Yasir tidak mungkin langsung memakainya, kami bahkan belum resmi menikah," ujarnya seolah dapat membaca pikiran Kiyai Bahi.


"Ya, memang tidak di temukan perhiasan di jarinya, lantas, kemana hilangnya pasangan cincin ini, nak?."


"Entahlah, Abi," ucapnya tertunduk, sendu.


"Haruskah Abi memeriksa di tempat kejadian?," ujarnya meminta pendapat sang putri.


Menarik napas perlahan"Zafirah akan mengikhlaskan jika cincin itu telah hilang. Tapi, tidak ada salahnya jika kita mencarinya dahulu, bukan?."


Kiyai Bahi mengangguk"Iya, Abi akan mencarinya di tempat kejadian, bersama Yahya dan ustadz Yunus."


Ingin rasanya Zafirah ikut mencari cincin itu di tempat kejadian, namun jangankan singgah, melewati tempat itu saja rasanya sangat berat bagi dirinya.

__ADS_1


to be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2