Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Rahasia wanita Gibran.


__ADS_3

Suara nyanyian jangkrik di luar sana, seperti sedang mentertawakan Khair dan Zafirah yang sedang di peluk kecanggungan. Dua insan yang telah resmi menyandang status suami istri itu, kini terdiam saja, meski beberapa waktu yang lalu terlibat percakapan singkat.


"Assalamualaikum," sapa Khair saat menapaki kamar pengantin mereka.


Waalaikumsalam," sahut Zafirah. Tiba-tiba saja, hati kecilnya berdebar hebat. Wanita itu lantas bangkit dari tempat tidur, usai menidurkan kembali, Enda.


Kini, bergantian, Khair yang mengambil duduk di tepian tempat tidur. Menatap sang putra yang sudah tertidur lelap"Terimakasih, sudah menidurkannya kembali," ucapnya pelan.


Zafirah mengangguk"Sama-sama," tukasnya meraih handuk berwarna biru muda"M....mas Khair...., apa mau membersihkan diri dulu sebelum tidur? ini handuk baru milik abi."


Diam sejenak, Khair menatap Zafirah yang berdiri di seberang ranjang. Kemudian"I...iya," ujarnya akhirnya.


Lantas, pria tinggi itu berjalan menyambut handuk yang Zafirah tawarkan. Namun, ada sebuah tanya yang terselip di dalam dada. Membuatnya berbalik setelah sempat melangkah menuju kamar mandi"Ustadzah, aku tidak menduga bahwa hari ini akan menikahi mu. Kedatanganku ke sini hanya untuk mengantarkan Enda mengaji, jadi, aku tidak berbekal pakaian ganti."


Zafirah perlahan mengangkat pandangan, memberanikan diri bertatapan langsung dengan suaminya"Aku akan memilihkan pakaian abi yang cocok untuk kau kenakan."


Khair lantas langsung menyela"Anu....bukan itu maksud ku! aku hanya menginginkan pakaian yang ku kenakan semula."


Saat prosesi pernikahan, dirinya memakai salah satu gamis terbaik Kiyai Bahi. Sedangkan Zafirah memakai gamis putih milik mendiang umi nya.


Jujur saja, penampilan Khair sangat menarik saat mengenakan gamis itu. Zafirah spontan ketagihan ingin melihat Khair mengenakan pakaian seperti itu lagi. Tapi, sepertinya hal itu harus dia pendam saja. Dirinya menilai bahwa Khair tak begitu menyukai berpenampilan seperti itu, sebab sekarang dia meminta kembali pakaian semulanya. Ah!! Zafirah ini, hari sudah larut malam dan mereka adalah sepasang pengantin baru, kenapa dia menawarkan pakaian seperti itu saat mereka hendak beristirahat di tempat tidur? hanya untuk tidur ya! bukan untuk hal lain 🤭.


...****...


Gibran, yang terlambat menghadiri pernikahan singkat Zafirah dan Khair, kini sedang merenung memikirkan saran yang sempat di ucapkan Agam, Yaitu menikahi Kanaya.


Sebenarnya perkataan yang mengatakan dirinya ingin menyelidiki terlebih dahulu selera aneh Kanaya, itu bukan gurauan belaka. Malam itu, saat Jena dan Agam berangkat terlebih dahulu ke pondok pesantren, dirinya menyuguhkan segelas es teh kepada Kanaya. Wanita itu begitu senang, dirinya langsung meminum es teh itu memuji kenikmatannya"Segar sekali, terimakasih sayang," ujarnya tersenyum senang.


Dengan kening berkerut, Gibran mencoba tertawa senatural mungkin. Bukan apa-apa, dirinya menambahkan begitu banyak garam, alih-alih gula ke dalam minuman itu. Dirinya juga telah mencicipinya sebelum memberikannya kepada Kanaya, dan rasanya sangat asin sekali.

__ADS_1


Bukan hanya seteguk dua teguk, gadis itu meminumnya hingga tandas. Kalau begitu, bukankah ada yang tidak beres dengan lidah Kanaya??


...***...


Sementara Jena, wanita itu memandang masakan super pedas olahan Kanaya. Belum habis, dan sangat di sayangkan jika masakan nikmat itu di sia-siakan.


Dirinya pun meminta kepada Agam agar menghabiskan makanan itu, dan jelas saja Agam tidak mau! aromanya memang sedap, tapi rasanya bisa membuatnya berada di ambang kematian. Berlebihan?? tapi rasanya memang seburuk itu, juga berbahaya untuk kesehatan.


Memberikan penolakan berkali-kali, namun Jena yang keras kepala terap memintanya menghabiskan masakan Kanaya itu.


"Ayolah suamiku sayang, sayang sekali jika tidak di habiskan."


"Istriku tersayang, katakan kepadaku, kau lebih sayang hidangan pedas itu atau lebih sayang kepadaku?? aku tidak jamin akan baik-baik saja setelah memakannya," ujarnya memandang Jena yang menatapnya penuh harapan. Andai saja ada permintaan yang lain, Agam dengan senang hati akan melakukan hal itu untuk menyenangkan hati wanitanya.


Dan Jena, wanita itu menggelengkan kepala"Tidak! aku hanya ingin kau memakan masakan enak ini."


"Jenaira sayang," lirih Agam. Dirinya tidak tega melihat Jena yang terus merengek, tapi dirinya juga tidak siap jika harus memakan masakan gila itu.


"Baiklah!!," ujarnya dengan dua bola mata berbinar-binar.


Sejenak, Agam dan Jena saling pandang, kemudian Jena kembali berucap"Tunggu apalagi? cepat habiskan makanan itu."


"Mana susunya?," balas Agam.


"Makan dulu, sayang," ujar Jena lagi.


"Oh tidak, ambilkan dulu susu nya."


"Ayolah Agam ku sayang," ujar Jena lagi.

__ADS_1


"Sayang~," dan Agam pun merengek seperti anak kecil. Membuat Jena gemas dan tertawa.


"Baiklah! baiklah, sekarang aku hanya ingin mas segera memakan masakan itu, dan aku akan segera mengambilkan susu untukmu."


Agam segera menyuapkan makanan itu sebanyak dia bisa, dan saat itu Jena segera menuju ke dapur untuk mengambil susu, penawar rasa pedas yang bisa membuat lidah suaminya terluka.


Saat Jena tiada di hadapannya, Agam segera memuntahkan makanan itu ke tanah pasir, dan kembali bersandar di pagar beranda belakang, menyuap sedikit saja sisa makanan yang tersisa. Tidak di kunyah, tapi rasanya cukup membuat kedua bola matanya memerah, argghh!!! racun jenis baru ini bisa di gunakan untuk membunuh penjahat sekalipun!!.


Jena meminum sebotol susu di perjalanan, dan menyerahkan sebotol susu lagi kepada Agam. Pria itu tak ingin rugi, dia lantas menelan paksa makanan itu dan meminum susu yang masih berada di dalam mulut Jena.


Sontak perbuatan Agam membuat kedua bola mata istrinya membulat. Pria yang nampak kepedasan itu meminum susu langsung dari mulutnya.


"Mas!!," Jena memukul dada suaminya"Hei, aku sudah memberikan sebotol susu ini kepadamu," ujarnya menyodorkan lagi sebotol susu itu.


Menyeka tepian bibirnya dengan seringai tawa"Susu dari bibirmu lebih manis, itu lebih mujarab untuk menawar pedas yang menyerang lidahku."


Jena mengulum bibirnya, Agam ini semakin pandai membuatnya tersipu malu. Untung saja Gibran sedang termenung di dalam kamarnya, jika bocah itu melihat kemesraan mereka, pasti dirinya akan mengomel seperti kakek tua yang cerewet lagi kepada mereka.


Agam masih merasakan pedas di rongga mulutnya, dan pria itu menyodorkan minuman susu itu kepada Jena.


Jena melirik Agam, curiga"Kenapa menyuruhku untuk meminumnya? yang kepedasan itu dirimu, mas."


"Kau harus memberikan susu ini seperti tadi, agar pedasnya lebih cepat hilang," ujarnya tertawa nakal.


"Duhai mas Agam!! kau licik sekali ya!," Jena di buat tertawa. Semakin hari kehadiran Agam dalam hidupnya menorehkan warna-warni baru, yang membuat hidupnya semakin terasa menyenangkan.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


Maaf jika banyak Typo, keadaan jaringan di sini sedang tidak baik. Listrik padam sejak kemarin malam, laptop ku mati, ponselku juga sebentar lagi akan mati 😜 , naskah ini di buat ngebut 🤭🤭🤭


__ADS_2