Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Asisten dadakan Khair.


__ADS_3

Kehidupan Kiyai Bahi, setelah di tinggal sang Zafirah menikah, sungguh menyenangkan. Pasalnya, sang cucu kerap menghabiskan waktu bersamanya di pondok pesantren.


Sangat bertolak belakang dengan apa yang di pikirkan, nyatanya Kiyai Bahi justru sangat terhibur atas kehadiran Enda.


"Repot sekali, Enda sudah lapar kek," setelah sekian lama, akhirnya bocah itu mengeluh.


Sang kakek tersenyum"Sebentar lagi, kita pasti akan dapat ikan."


Enda kembali memperhatikan ujung dari pancingnya, duduk pada sebuah kursi kecil yang di sediakan sang kakek. Sore itu, usai mengaji Enda di ajak Kiyai Bahi untuk memancing di kolam belakang kelas santri putra. Betapa senangnya sang kakek sebab sang cucu sedang ingin menginap di kediamannya, san kakek pun mengajaknya berkeliling area pondok pesantren hingga berakhir di tepi kolam berukuran lumayan besar itu.


"Ikan, ayo makan pancing Enda" gumam bocah itu menopang dagunya, dengan kedua tangan.


Sudut bibir Kiyai Bahi terangkat naik, memperhatikan kelakuan si bocah tampan.


Hanya satu kali Enda membuka suara, protes akan waktu yang terlalu lama habis di tepi kolam itu. Waktu terus berjalan namun sang incaran belum jua termakan umpan pada pancingnya, sungguh kesabaran seorang Enda tengah di uji.


"Ya sudah, Enda makan telur goreng saja Kek, telur goreng juga enak."


Pria tua itu tak kuasa menahan tawa, dia terkekeh saat Enda kembali angkat bicara.


"Apa kau benar-benar lapar?."


Enda mengangguk"Iya, rasanya perut Enda sudah kempes sekali, kakek," tukasnya lagi sembari memegangi perut. Tidak begitu kempes, hanya kurang berisi seperti biasanya saja.


"Enda bilang ingin makan ikan, kakek sedang berusaha mengabulkan keinginan Enda, juga melatih kesabaran Enda."


"Enda sabar, kakek."


"Kalau sabar, kenapa tidak jadi ingin makan lauk ikan goreng?," tanyanya menatap wajah polos itu dengan seksama.


Enda terlihat menggaruk pipinya, dan tersenyum canggung"Ehehehe, karena Enda sabar, jadi besok pun tidak mengapa makan ikan gorengnya, kakek."


Kiyai Bahi mengangkat alisnya"Oh ya? jadi untuk malam ini kau ingin makan telur goreng saja?."


"Heem," tukas sang cucu mengangguk pasti.

__ADS_1


Begitulah Enda, di saat apa yang dia inginkan tidak langsung terwujud, dia memilih opsi lain alih-alih memaksakan kehendak. Sikap bocah ini selain baik, orangnya juga sangat menggemaskan. Dan betapa besarnya kuasa Allah, di saat Enda sudah iklhas makan dengan lauk seadanya, Yahya datang dari arah ujung hutan kecil, dengan menenteng bubu berisi ikan-ikan yang besar.


"Assalamualaikum, pak Kiyai," sapa Yahya.


"Waalaikumsalam," sahut Kiyai berbarengan dengan Enda.


Sorot mata Enda, langsung tersita kepada bubu yang di bawa Yahya. Ikan-ikan besar di dalam sana meronta-ronta, menimbulkan suara yang menarik perhatian. Dan, kaki kecil bocah itu spontan mendekati bubu tersebut, seulas senyuman terbit di wajahnya saat mengintip pada celah-celah bambu, dan memastikan ada ikan di dalam bubu tersebut.


"Kakek," ujarnya memanggil Kiyai Bahi, dengan senyuman selebar-lebarnya, menampilkan barisan gigi putih milik bocah itu.


"Kau ingin ikan ini?," tanya Yahya.


"Iya bang!."


Melihat binar-binar kebahagiaan pada dua bola mata Enda, bagaimana Yahya akan tega tidak membagi ikan-ikan kepadanya.


"Boleh, tapi apa Enda mau membantu abang untuk memasak ikan-ikan ini?."


"Boleh, nanti Enda akan membantu dengan doa," ucapnya masih dengan senyuman nan lebar.


...🌺🌺🌺🌺...


Saat Agam dan Jena kembali ke kediaman pantai, Khair dan Zafirah tengah suap-suapan di toko buku. Keadaan toko buku sudah tidak ada pelanggan, karena itulah Zafirah dapat dengan leluasa menikmati pelayanan hangat sang suami, juga membalasnya.


"Apa yang kalian makan??," alih-alih mengucapkan salam, Jena langsung bertanya tentang apa yang sedang mereka nikmati.


"Hanya es krim coklat, kau mau?," Khair menyodorkan semangkuk kecil es krim dengan varian rasa coklat.


Mendapati apa yang bukan dia cari, Jena menggeleng dengan bibir mengerucut. Ujung mata wanita itu tertuju kepada Zafirah"Mana sisa bekal Enda?."


"Ini sudah malam Jena, aku tidak yakin sisa bekal itu masih layak untuk kau konsumsi. Apalagi kau sedang mengandung, kau butuh makanan yang baik."


Jena memberengut mendengar jawaban Zafirah.


"Aku buatkan hidangan spesial, kau mau?."

__ADS_1


Jena menolak tawaran hidangan dari sang suami, oh sungguh membuat hati Agam bersedih.


"Jenaira!! apa kau tidak lagi menyukai masakanku??," pertanyaan itu terlontar begitu saja, tidak tertahan lagi.


"Bukan seperti itu, mas."


"Apa masakanku sudah tidak enak lagi??," ulang Agam menyambar kata-kata sang istri.


Wajah sendu Agam, menjadi tontonan menarik bagi Khair, juga Zafirah. Pasangan yang sedang hangat-hangatnya itu menahan tawa melihat Jena dan Agam.


Senyuman meledek Khair dan Zafirah, terlihat oleh Jena. Dia pun langsung berucap"Khair, kau jangan senang dulu, aku ingin makan, bisakah kau membuatkan menu yang sama seperti bekal Enda?."


Ups!! ini bagai serangan yang sukses menghantam mental Agam. Pria itu semakin merasa di tinggalkan, ayolah Agam junior, kenapa kau tidak ingin memakan masakan ayahmu sendiri???.


Melihat kedua alis Agam yang berkerut, Khair sungguh tidak enak hati. Pria itu berpikir sejenak untuk mengatur kata-kata"Anu...masakan Agam, jauh lebih enak, Jena."


Di bawah sana, Zafirah mendorong pelan kaki sang suami, berharap Khair bersedia memasak sebuah hidangan untuk sang sahabat. Dalam kode yang hampir tak terbaca, Khair menggeleng kecil menanggapi dorongan kaki Zafirah. Bola matanya menunjuk ke arah Agam, yang berwajah masam.


"Mas Agam~~~," rengek Jena. Dia mengerti mengapa Khair enggan mengolah makanan untuknya.


Meski cemburu, tapi hati siapa yang akan tega melihat sang istri menahan keinginan untuk sebuah hidangan. Agam segera menarik lengan Khair"Ayo! aku temani kau memasak, kali ini aku akan menjadi sisten memasakmu."


Terseok-seok, Khair hanya bisa pasrah di tarik paksa oleh Agam menuju dapur. Zafirah tertawa, juga Jena. Akhirnya malam ini Jena akan kembali merasakan masakan Khair, meski tanpa di cicipi dulu oleh si tampan Enda.


...☘️☘️☘️☘️...


Kepergian Bella, membuat Adila berkurang simpati terhadap gadis itu. Dia pergi begitu saja dari pesta yang di gelar Adila untuk sang putra, tanpa sepatah dua patah kata kepadanya, ugh! sungguh tidak sopan.


Satu kandidat calon menantu nya telah hilang, dan melihat betapa cintanya Gibran terhadap Kanaya, Adila mencoba menguji kecocokan Kanaya dengan dirinya.


Adila pun mengirimkan sebuah pesan kepada Kanaya, sebuah ajakan untuk menghadiri acara arisan.


Oho! Kanaya menatap seksama pesan singkat yang di kirimkan sang calon ibu mertua. Setelah berdiskusi bersama Melisa, Kanaya pun bersedia menemani Adila. Jadwal telah di tentukan, dua hari lagi mereka berdua akan kembali bertemu. Akankah dua wanita ini menemukan kecocokan? Adila yang cerewet, juga Kanaya yang sedang melatih diri untuk menjadi wanita yang pantas untuk Gibran?


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2