Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Memadu kasih


__ADS_3

Pagi minggu di kediaman sederhana, Zafirah nampak sedang membersihkan ikan di dapur. Wanita itu tidak sedang menggunakan kerudungnya, rambut hitam panjangnya tergerai dalam keadaan setengah basah, mungkin hal itu yang membuat dirinya belum mengenakan kerudung panjangnya.


Dari arah kamar, terlihat Khair sedang menyugar rambutnya, yang juga nampak setengah basah. Mendapati sang istri sudah menyibukan diri di dapur pagi-pagi seperti ini, dirinya segera datang menghampiri.


"Zafirah, biar aku saja yang memasak," hampir berbisik, pria itu datang dan langsung memeluk pinggang ramping sang istri dari belakang. Sikap Khair membuat Zafirah terkejut, hingga jantungnya berdetak sangat kencang.


Seperkian detik, wanita itu terdiam. Kemudian meletakan pisau yang sedang dia pegang"Mas, aku sedang memegang pisau dan kau datang dengan mengejutkan ku, apa jadinya jika pisau ini melukaiku."


Lengan pria itu sungguh tidak bisa diam, dia kembali berbisik kepada Zafirah sambil melepaskan pisau itu dari tangan sang istri"Karena itulah, lebih baik kau beristirahat saja, aku yang akan memasak pagi ini."


Degup sang jantung semakin menjadi, membuat Zafirah segera melepaskan benda tajam itu dan mencuci tangannya menggunakan sabun"Baiklah, jika itu mau mu," ujarnya perlahan melepaskan tangan kekar yang masih melingkar di pinggangnya.


Khair menahan tangan sang istri, menarik tubuhnya hingga mereka dapat saling berhadapan"Terimakasih," ucapnya menatap begitu dalam dua manik cantik Zafirah.


Sedikit mengerutkan kening"Bukankah aku yang seharusnya mengucapkan terimakasih, mas sedang meringankan pekerjaan rumahku."


Sedikit mengulum senyuman, Khair kembali mendekati daun telinga sang istri dan berbisik"Maksudku, terimakasih yang tadi malam."


Oh Tuhan! wajah Zafirah seketika memerah dan terasa panas. Wanita itu spontan menggigit bibir, sangat tidak menyangkan dirinya di buat menggila tadi malam.


"Kenapa kau menggigit bibir?," tanya Khair dengan tatapan nakal.


Menutup mulutnya dengan telapak tangan"Tidak kenapa-kenapa mas," ujarnya dengan bola mata yang berlarian.


"Ya....ya sudah, mas silahkan memasak. Aku...," Zafirah nampak mencari-cari cara agar undur diri dari hadapan sang suami.


"Aku akan membangunkan Enda, mulai hari ini mas akan rutin ke cafe bukan? serahkan urusan memandikan Enda kepadaku saja," ucapnya segera melangkah ke kamar Enda.


Khair di buat tertawa, Zafirah yang salah tingkah itu sangat menggemaskan"Zafirah," ujarnya sebelum sang istri benar-benar berlalu.


"Ya?."


Khair berniat menggoda sang istri lagi, namun melihat wajahnya yang sudah terlampau merona, Khair mengurungkan niat itu"Kau sangat cantik dengan rambut tergerai seperti itu," memujinya saja, alih-alih menggodanya dengan mengatakan ingin ikut di mandikan seperti Enda.


"Mas Khair," ujarnya dengan nada merengek.


Ya Allah, Khair sangat tidak tahan untuk memandang saja. Dirinya melangkah hendak mendekati Zafirah, namun...


"Sudah mas? aku tahu kau pasti akan terus menggodaku," demi keamanan jantungnya, Zafirah segera pergi ke kamar Enda. Meninggalkan Khair yang tertawa lebar, kehadiran Zafirah dalam hidupnya kerap membuat senyum dan tawanya mengembang.


Mengambil duduk di tepian ranjang sang putra, Zafirah mengusap lembut rambut lebat Enda, seraya berucap pelan"Maaf sayang, umma harus meninggalkan mu di tengah malam."

__ADS_1


Ya! demi memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, Zafirah mendatangi kamar Khair saat bocah itu telah tertidur lelap.


Sungguh, butuh keberanian yang mantap saat kembali menawarkan dirinya kepada sang suami. Dan kehadiran Zafirah di kamar itu membuat Khair terkejut. Dirinya baru saja terlelap saat Zafirah mengambil duduk di sampingnya.


Hemmmm, peristiwa malam pertama mereka di skip aja ya 🤭🤭


...🎉🎉🎉🎉 ...


Berbeda dengan pasangan Zafirah dan Khair yang masih malu-malu. Pasangan Jena dan Agam tidak begitu, Agam kembali masuk ke dalam selimut saat Jena membenamkan diri di sana, usai sholat subuh.


"Mas! apa yang kau lakukan??."


"Mengikutimu," sahutnya apa adanya.


"Hei, cafe sudah rutin di buka, kau tidak berniat sekedar sedikit bebersih di sana?."


"Ada Gibran," ujar Agam menarik Jena ke dalam pelukannya. Sejak tadi malam, dirinya menahan diri untuk tidak mengusik ketenangan sang istri, yang sedang fokus di depan layar laptopnya. Dia tahu wanitanya baru merampungkan pekerjaan saat subuh menjelang, dan seharusnya dirinya memberikan ruang untuk wanita itu beristirahat saat ini.


Tapi, hasrat bercintanya tidak bisa di ajak kompromi, hanya melihat Jena menyibakkan rambut hingga memperlihatkan leher jenjangnya saja, Agam sudah menelan saliva.


"Mas, ini sudah pagi," cicit Jena merasakan dekapan prianya yang semakin erat.


Jena nampak mendengus, bukan marah, tapi karena jantung yang berdebar dan hasrat yang mulai naik. Di tambah saat Agam menyugar rambut lebatnya, ayolah! mengapa pria ini begitu mempesona.


"Apa ini akan lama? aku ingin tidur sebelum berolahraga."


Pria berlesung pipi itu merasakan aroma manis dari tubuh sang istri, yang selalu membuatnya nyaman"Entahlah," suara Agam semakin terdengar berat, dirinya benar-benar di liputi hawa nafsu untuk segera melahap wanitanya. Dan ya! suara berat pria itu memancing gelenyar aneh di dalam dada seorang Jena. Membuatnya tak lagi banyak bertanya, dan mulai mengimbangi setiap sentuhan dan kecupan lembut suaminya.


Suara berat Agam semakin tenggelam, saat Jena menggigit cuping telinganya. Sungguh, baru di permulaan saja wanita ini sudah membuatnya melenguh nikmat.


...🤭🤭🤭 skiiippppp 🤣🤣🤣...


Merajuk! hal ini memang selalu akrab dengan seorang wanita, apalagi wanita manja dengan emosi turun naik bak rollercoaster seperti Melisa.


Berharap kehadirannya akan mencuri perhatian khalayak ramai, justru Arkan lah yang menjadi salah satu pria incaran para wartawan di acara pembukaan cafe tersebut. Di tambah lagi, saat para wartawan menanyakan status dirinya, yang selalu menggelayut manja mengekori Arkan, pria itu berucap"Bocah ini, katakanlah dia seperti seekor anak kucing yang di tinggal majikannya."


Para wartawan tertawa, lelucon Arkan yang kaku sungguh mengocok perut mereka, meski terdengar sedikit di paksakan.


"Arkan lihatlah! aku manusia! aku wanita! wanita yang cantik jelita!!," desis Melisa berdiri berkacak pinggang di hadapan Arkan. Sedangkan pria itu menatapnya dengan malas. Kali ini dirinya lagi-lagi termakan pesan tidak jelas Melisa. Dia mengatakan merasakan sesak di dada, bahkan susah untuk bernapas. Arkan yang sedang berada di lokasi perumahan tepian pantai langsung meluncur menuju perkotaan. Waktu tempuh yang biasanya hampir 1 jam menjadi singkat, Arkan membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, takut Melisa kenapa-kenapa.


Tapi, saat dirinya menerobos masuk ke apartemen Melisa, dengan napas beradu, gadis itu terlihat sedang bermalas-malasan di depan televisi.

__ADS_1


Bungkus cemilan di mana-mana, kaleng minuman bersoda, juga kemasan susu instan yang tergeletak di lantai, dengan sisa isian yang menggenangi lantai.


"Ya! kau memang manusia," ucap Arkan. Wajahnya memerah menahan diri agar tidak berteriak, baru kemarin apartemen ini dia bersihkan, dan sekarang sudah seperti kapal pecah kembali.


"Tapi kau mengatakan kepada wartawan bahwa aku ini anak kucing!," sentak Melisa kesal.


"Jadi! gusar karena ku katakan anak kucing, kau sampai mengirim pesan tidak jelas itu??, berkata sesak napas? Melisa! aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi."


"Aku kesal Arkan! kau membuatku kesal! kau mengatakan aku anak kucing di hadapan para wartawan."


Arkan memegangi kepalanya dengan kedua tangan, berdebat dengan Melisa sungguh menguras energinya.


"Oke! baiklah! aku minta maaf," ucap Arkan akhirnya.


Permintaan maaf itu tidak mendapat tanggapan yang bagus, Melisa menekuk wajahnya juga, tak ingin beradu pandang dengan Arkan.


Jika sudah begini, emosi yang menggebu di dalam dada seketika padam, lagi-lagi Arkan di kalahkan oleh Melisa.


"Maaf," ucap Arkan mendekati gadis itu.


"Jangan mendekat, kau tidak takut di cakar anak kucing? Tuan Arkan yang terhormat!," ketus Melisa.


Ow ow!! Arkan segera menjaga jarak. Pria itu mengendurkan dasi dan melirik jam di tangannya"Apa kau sudah makan?."


"Apa perdulimu!."


"Nona Melisa, aku minta maaf."


"Kau pikir mudah mendapat maaf? setelah menyebutku spesies hewan berbulu dan berkumis itu??."


Terlambat, Arkan baru menyadari betapa gusarnya Melisa karena ocehan spontan nya di hadapan wartawan"Ayolah Melisa, aku hanya sembarangan bicara saat itu."


"Oh ya! jika kau benar-benar ingin meminta maaf, ada satu hal yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan maaf dariku," ujarnya tanpa menoleh kepada Arkan.


"Katakan, apa yang harus ku lakukan agar kau mau memaafkanku?."


"Jadikan aku wanitamu!."


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2