Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Perdamaian.


__ADS_3

Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah sakit hati karena sang kekasih kerap berjumpa dengan wanita lain, rasa kesal semakin menjadi saat melihat gaun yang di kenakan Bella.


Ya! gadis itu juga hadir di kediaman Ahmad, ikut dalam perayaan pesta sederhana mereka.


Melisa dan Kanaya, dua gadis yang baru memulai persahabatan itu memilih gaun berwarna senada, untuk mereka kenakan pada hari perayaan ini. Adila dengan suka rela memberikan gaun-gaun cantik itu untuk dua calon menantunya, dan dirinya meminta kepada mereka untuk memilihkan satu gaun lagi, dengan model cantik dan warna senada.


Kanaya pikir, gaun itu kelak akan di berikan kepada Jena, namun.... justru Bella yang memakai gaun pilihan mereka tersebut.


Perayaan itu di adakan di taman belakang, kediaman Ahmad. Hanya di hadiri keluarga inti saja, dan anehnya Bella si orang asing nampak bersama mereka jua.


"Aku pikir, gaun itu untuk kak Jena," bisik Kanaya.


Melisa belum menyadari kehadiran Bella, dia lantas menatap kepada Kanaya seolah bertanya.


Begitu malas, Kanaya menunjuk ke arah Bella dengan bibir maju. Mengikuti arah dari mulut manyun Kanaya, kedua bola mata Melisa di buat terbelalak, bukankah itu gaun yang mereka pilih di butik kemarin??.


Kembali menatap Melisa, dan gadis yang sedang di tatap itu mengendikan baju"Aku pun tidak mengerti," ujarnya mendengus kesal.


Adila nampak senang menyambut kehadiran Bella. Dia memanggil Gibran untuk menuntun Bella duduk pada salah satu meja. Ayolah! Gibran nampak berat hati untuk melaksanakan titah sang mama, namun keberanian pria itu seketika menciut saat mendapat lirikan tajam.


"Ayo, aku hanya akan mengantarmu ke meja, selebihnya kau nikmati saja perayaan ini," tukasnya, dengan sangat terpaksa.


"Apa kau tidak akan menemaniku? di sini hanya kau yang aku tahu," Bella, merengek seperti anak kecil, nampak menggelikan alih-alih menggemaskan.


Emosi Kanaya hampir saja meledak, jika tidak lekas-lekas Melisa menempelkan segelas jus dingin pada pipinya"Minumlah, demi kewarasan otakmu."


Di depan sana, Gibran dan Bella duduk berhadapan, sepertinya keinginan untuk melarikan diri seorang Gibran telah gagal. Pria itu luluh oleh rengekan menjijikan Bella.


Dalam sekali tenggak, segelas jus itu telah kandas. Dia mengembalikan gelas itu kepada Melisa, namun saat sang sahabat ingin menerima gelas itu, Kanaya menariknya kembali.


Kening Melisa di buat berkerut, ada apa lagi dengan gadis ini"Melisa, jika aku pecahkan gelas ini, apa suaranya akan terdengar hingga ke telinga mereka?."

__ADS_1


Sontak, Melisa yang semula menatap lurus ke depan, kini menoleh lebih fokus kepada Kanaya"Kau mau apa?, dengan gelas pecah?."


"Bukan apa-apa, gadis bernama Bella itu pasti akan semakin cantik jika ku buatkan lubang di kedua pipinya, seperti lubang di pipi bang Agam."


Melisa tersenyum"Oh, kau ingin membuat lesung di kedua pipinya?."


"Hemm," sahut Kanaya tanpa menoleh padanya.


"Kanaya oh Kanaya! bukankah sudah ku katakan, jangan membuat tanganmu kotor. Kau cukup bermain manis saja, jika perlu kau harus selalu menempel kepada Gibran, agar gadis itu lebih tahu diri. Bukankah kau menolak jika langsung menyerangnya! dengan fakta tentang ibunya?."


Terdengar, Kanaya menarik napas kemudian menghela nya dengan kasar"Hupffhh!!, oke, baiklah, aku harus lebih menahan diri. Tapi, tanganku sangat gatal ingin menjambak rambut gadis itu?," pekik tertahan Kanaya.


"Ayolah! bersabarlah, gadis itu di undang oleh tante Adila, nilai mu akan semakin buruk jika bersikap kasar terhadap wanita yang telah menolong putranya?," ya! untuk urusan mengambil hati seperti ini, Melisa memang jagonya. Namun sayang, gadis ini masih belum berhasil untuk mengambil hati seorang Arkan, ckckcckck!!.


Haya~~~ Kanaya hampir melupakan perang dingin-dingin empuknya dengan sang calon ibu mertua. Mendengar betapa senangnya dia karena bantuan seorang Bella terhadap Gibran, sepertinya benar apa yang di katakan Melisa itu.


"Baiklah, baiklah! aku akan lebih menahan diri," kali ini, Kanaya lebih meyakinkan diri untuk bersikap manis di dalam semua kondisi.


Wanita itu mulai merasakan aura buruk, saat menjajakan kaki ke kediaman kedua orang tuanya. Bagaimana tidak, dua bocah manis itu mengenakan pakaian yang berwarna senada, juga gadis artis itu, dirinya pun nampak seragam dengan pakaian yang di kenakan ibunya.


Hatinya tiba-tiba tercubit, saat mengetahui bahwa gaun-gaun mereka di berikan oleh sang ibu, lantas, mengapa hanya dirinya yang tidak mendapat pakaian itu? bukankah dirinya anak kandung? alih-alih mereka yang belum pasti menjadi menantunya?.


Sempat ingin melangkah mundur, tiba-tiba Ane datang menghampiri Jena. Mengingat hubungan mereka yang sempat rusak karena ulah para pengkhianat, Jena semakin berkecil hati untuk terus bertahan dalam acara itu.


Namun, semua keresahan itu hanyalah virus yang mengotori pikiran Jena. Toh kenyataannya, Ane menebar senyuman kepadanya, dan menariknya untuk masuk ke kediaman ayah dan ibunya.


"Tante, kita kau kemana?."


"Ke kamarmu, beberapa hari ini aku menempati kamar masa kecilmu," sahut Ane.


Langkah cepat sang tante, membuat Jena sedikit khawatir, setelah sekian lama akhirnya dirinya mengandung, oleh karena itu Jena lebih ekstra menjaga diri.

__ADS_1


"Tante, bisakah kita berjalan saja? aku tidak kuat berlari," ucapnya.


Ane segera melangkah pelan, sembari berucap"Kita harus bergegas berganti pakaian, jika Adila tidak memberimu pakaian yang senada, maka aku yang akan berpakaian senada denganmu."


Mendengar ucapan Ane, Jena jadi teringat betapa kompaknya mereka dahulu, sebelum hubungan mereka hancur karena ulah Tian dan Tiara.


Sesampainya di kamar, Ane menyodorkan sebuah gaun yang sama dengannya. Jena menatap sang tante lekat-lekat"Apa ini?."


"Aku melihat ketidak adilan di sini, Adila hanya merangkul para wanita yang sedang dekat dengan kedua putranya, sedangkan dia melupakan dirimu, putri kandungnya."


Jena tersentuh, sikap Ane membuatnya terdiam sembari menunduk.


"Maafkan aku Jena, aku telah salah menilaimu. Dan sekarang, izinkan aku untuk memperbaiki kesalahanku, aku mohon," ucapnya menarik jemari Jena, membuat mereka saling berpegangan tangan.


"Jadi, tante sudah...."


"Ya, aku sudah sadar, aku terlalu yakin dengan cinta palsu pria tidak tahu diri itu."


Terlihat senyuman manis terbit di wajah Jena, jua menular pada wajah cantik Ane.


Syukurlah, akhirnya hubungan mereka kembali membaik. Dan seperti apa yang di sarankan Ane, tidak mengapa Jika Jena tidak berseragam kompak seperti sang ibu, namun ada tante Ane, yang nampak serasi dengan gaun manis berwarna senada dengannya.


Sorak-sorai Adila, begitu bersemangat saat iklan perdana Gibran di putar pada layar televisi. Dirinya bertepuk tangan dan tersenyum lebar, juga melirik kepada Melisa, Bella dan Kanaya, hingga membuat tiga wanita itu pun bersorak sorai seperti dirinya. Demi menarik hati sang calon ibu mertua, Kanaya perlahan bersikap manis kepada Adila, seperti apa yang di sarankan Melisa.


Melihat betapa di terimanya Kanaya di dalam keluarga itu, menyulut api iri dengki berkobar dalam hati Bella.


"Keluarga yang sangat baik, aku harus segera menaklukkan hati Gibran," bisik hatinya.


"Dan kau Kanaya, tersenyumlah untuk saat ini," melirik kekasih Gibran dengan niat buruk di dalam hati.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2