Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Nenek manis, Jena meringis.


__ADS_3

Hujan rintik begitu nyaman menyapa bumi, seolah melepas rindu usai begitu lama bersemayam di atas langit nan biru.


Di perjalanan, tiga pria itu sungguh terkejut dengan jalur perjalanan yang harus mereka tempuh. Meninggalkan mobil di perbatasan kota mentaya, mereka menaiki perahu besar untuk pertama kalinya. Sungguh, Gibran sangat senang dalam perjalanan ini. Perahu yang mereka naiki membelah sungai Mentaya dengan kecepatan tinggi, pria dengan bola mata bulat seperti boba itu berdiri sembari merentangkan kedua tangan. Membuat Agam segera menariknya hingga terjungkal ke bawah.


"Kau pikir kita sedang menaiki kapal Titanic? jika kau terjatuh ke sungai ini, aku tidak jamin bisa menyelamatkan mu," geramnya, bagaimana tidak, arus sungai ini sangat deras, terlebih Gibran melakukan hal itu saat mereka hendak melintas di bawah jembatan. Bagaimana jika kepala bocah itu tersangkut di sana?


"Aku menyukai angin di kota ini, sangat sejuk," ujarnya meringis menepuk pantatnya.


"Lantas, kau akan mengabaikan keselamatan demi menikmati angin sejuk itu? kenapa tidak sekalian saja gantung kepalamu di sana? anggap saja kau menyumbangkan kepala demi kokohnya jembatan di belakang tadi."


Sungguh, ucapan Arkan membuat nyali bocah itu menciut. Sorot mata nya tersentak saat menyadari betapa dekatnya kepala mereka dengan pondasi jembatan saat melintas di bawahnya. Seketika Gibran menelan saliva, andai Agam terlambat beberapa detik saja menarik dirinya, benar kata Arkan, kepalanya akan tergantung di tempat itu.


Duduk diam di bawah tatapan tajam Arkan, si tengil Gibran tidak berani sekedar melirik kakak tertuanya.


Tidak ada percakapan lagi di antara mereka, Arkan dengan segala pikiran yang berkecamuk, juga Agam. Sementara Gibran, diam karena takut memancing kembali emosi dua pria bersamanya ini.


Seperti jalan yang telah di tempuh Jena, mereka juga menepi di jalan raya yang tergenang air. Menaiki mobil sewaan dan kembali berakhir di pelabuhan darurat, lagi-lagi mereka menaiki perahu demi sampai ke tempat tujuan.


"Jadi, Jena melalui jalanan ini," lirih Agam. Ucapan pria itu terdengar jelas oleh Gibran, membuat pria itu jadi memikirkan hal yang sama.


"Hanya sekecil jari kelingking, tapi langkahnya telah sampai ke tempat ini," tukas Gibran.


Kedua alis Agam saling bertautan"Jadi, di matamu Jena hanya sebesar jari kelingking?."


"Tentu," sahut Gibran seringan bulu. Andai dia berkata seperti itu di hadapan Jena, pasti sebuah tendangan maut telah bersarang di perutnya.


"Ck! kau terlalu meremehkan nya," decih Agam.


...___________...


Siang telah menjelang, langit kembali kelabu saat para relawan bergabung bersama tim SAR menyusuri daerah tergenang banjir. Bagi warga yang memiliki rumah bertingkat dua, mereka masih memilih tinggal di sana sembari menunggu air turun.


Dengan perahu kecil, para relawan dan para tim SAR membagikan bahan makanan kepada mereka. Meski sempat di minta menunggu


kedatangan Agam dan dua saudaranya di tenda, nyatanya sekarang Jena telah bergabung bersama mereka.


"Aku tak ingin kedatanganku menjadi sia-sia, setidaknya izinkan aku ikut bersama kalian membagikan sembako siang ini. Hatiku menghangat melihat wajah ceria mereka saat menerima bantuan," ujar Jena saat berusaha meyakinkan Zafirah.

__ADS_1


Ternyata benar, langit kelabu kali ini memang di susul oleh sang hujan. Perlahan rintiknya turun, membuat mereka masing-masing mengeratkan jaket yang mereka kenakan.


Perahu yang di naiki Jena perlahan berpisah dari perahu yang di naiki Zafirah. Bersama satu relawan dan satu anggota tim SAR, Jena membagikan sembako ke gang sebelah dari perkampungan itu. Riak kebahagiaan tergambar jelas di wajah para warga, dan hal ini membuat hati para relawan terenyuh, mereka masih mampu tersenyum di tengah bencana yang tengah melanda.


Pada sebuah rumah di ujung gang, ada seorang nenek sebatang kara yang terperangkap di dalam banjir. Hal itu baru di ketahui saat seorang warga mengatakan bahwa sang nenek bersikeras menolak untuk di ajar mengungsi ke rumah tingkatnya.


Segera, Jena bersama dua rekannya menuju kediaman sang nene. Dan benar saja, sang nenek dengan perlengkapan seadanya tengah bertahan di kediamannya.


"Air akan segera turun, aku akan bertahan di panggung ini," ujarnya saat tim SAR membujuk sang nenek untuk mengungsi.


Jena mengedarkan pandangan, keadaan rumah itu cukup luas, sangat di sayangkan sang nenek tinggal sendirian di tempat itu. Menyisakan beberapa jari saja, jika hujan terus turun hingga esok hari kemungkinan besar panggung sang nenek yang di bangun di tengah rumahnya itu akan terendam air.


Anggota tim SAR mulai kewalahan membujuk sang nenek, juga rekan sesama relawan Jena.


"Nek, ayo saya gendong," bujur Jena menepuk pundak kecilnya.


"Tidak mau, lagipula dengan tubuh kecil begitu kau tidak akan mampu menggendong ku," ujar sang nenek. Jelas saja, tubuhnya sangat gembul, si nenek dengan pakaian emas besar-besar itu sungguh sulit di ajak meninggalkan kediamannya.


Jena tersenyum pahit"Rumah nenek berada di ujung gang, nenek tidak takut saat malam hari sendirian?."


"Tidak, aku sudah terbiasa hidup sendiri. Meski dengan emas mentereng di badanku, alhamdulillah tidak pernah tejadi hal yang tidak menyenangkan," sahutnya sembari bermain air. Nenek itu nampak mengayun-ayunkan kakinya yang menjuntai di air.


"Apalagi di malam hari," sambungnya.


Memang benar, beberapa hari yang lalu ada warga yang di gigit ular piton, taring nya menancap dengan sangat dalam pada betis warga itu.


"Heh, jangan menakut-nakutiku," pekik sang nenek segera menaikan kakinya ke atas panggung.


Jena tertawa kecil, juga rekan relawannya.


Sangat di sayangkan, si nenek tidak suka di tertawakan.


Pertama-tama, sang nenek bersedia di ajak mengungsi ke tempat pengungsian, alih-alih menumpang di rumah loteng tetangganya.


"Aku tidak yakin akan aman di rumahnya, dia punya anak-anak kecil yang selalu berisik," ujar sang nenek.


Yang kedua, si nenek meminta Jena dan dua rekannya untuk mengemasi alat memasak besar-besar milik sang nenek yang terendam banjir ke atas panggung. Entah apa profesi sang nenek, wanita tua itu punya perabot memasak yang amat sangat banyak, memakan waktu hampir 1 jam hanya untuk mengemasi alat memasak nya.

__ADS_1


Yang ketiga, kaki si nenek terasa ngilu, dan si nenek tidak bersedia di gendong anggota tim SAR, dengan alasan tidak nyaman bersentuhan dengan lawan jenis. Hahahha, ada-ada saja alasan nenek ini.


Alhasil, rekan relawan Jena menawarkan diri untuk menggendong sang nenek keluar dari rumah menuju perahu.


"Kenapa tidak perahunya saja yang masuk ke rumah ini? nenek dapat langsung masuk ke dalam perahu bukan," ucap Jena. Kedalaman air di dalam rumah nenek di atas lutut, perahu bisa masuk dan mengambang dengan kedalaman itu.


"Jangan! pamali jika ada perahu masuk ke dalam rumah," perkataan nenek membuat otak Jena berpikir keras, baru kali ini dia mendengar peraturan seperti itu. Bukan hanya Jena, tapi dua orang lainnya.


Nenek itu nampak mengemasi pakaiannya, sembari bertanya"Apa di sana akan makan enak? sejujurnya aku hanya makan ikan kering selama bertahan di rumah ini."


"Setidaknya di sana tidak akan makan ikan kering nek," sahut rekan relawan.


"Aku ingin makan daging ayam," celoteh sang nenek masih sibuk berkemas.


Jena memandangi sang nenek yang terbilang cerewet, sungguh hatinya gemas sekali ingin segera menculik si nenek dari tempat ini. Selain cerewet, si nenek terlalu banyak memerintah dan bertanya tentang ini dan itu. Jena yang terlahir dengan stok sabar super duper tipis mulai kesal dengan tingkah wanita tua ini.


"Sepertinya di dapur posko kita memiliki stok ayam, lekaslah nenek berkemas, jika mereka memasak stok ayam itu siang ini kemungkinan nenek tidak akan kebagian," rekan relawan balas berceloteh.


"Kenapa begitu?," tanya nenek menghentikan aktivitas nya.


Menarik napas demi mempertahankan kesabaran di dalam hati"Sebab......"


"Sebab nenek begitu lambat," sambar Jena memutus kata-kata rekan relawan.


"Hari sudah mulai petang nek, menu makan malam kita mungkin tidak tersisa banyak saat kita sampai di tempat pengungsian," ujarnya lagi, membuat anggota tim SAR merasa ketar-ketir, dia khawatir sang nenek akan merajuk hingga membatalkan niatnya pindah ke tempat pengungsian.


Namun, mental si nenek tidak selemah kerupuk. Nenek tua itu tersenyum miring menatap Jena.


"Aku sudah selesai, lekas gendong aku," ujarnya mengulurkan kedua tangan kepada Jena.


Sangat terkejut, dua bola mata Jena hampir meloncat keluar mendengar perkataan sang nenek.


"Saya,.....," tanya nya tercekat sembari menunjuk dirinya sendiri.


Nenek itu tersenyum amat sangat manis, sembari mengangguk"Iya, aku akan ikut bersama kalian ke pengungsian, tapi harus kau yang menggendongku."


To be continued....

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2