Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Salah paham.


__ADS_3

Merajuk oh merajuk, Zafirah yang sabar pun ternyata juga bisa merajuk. Namun kali ini, perihal merajuk yang tengah dia rasakan, sungguh membuatnya pusing. Setelah di pikir-pikir, Khair tidaklah bersalah. Andara sang mantan istri yang selalu memaksa untuk kembali kepada dirinya. Sedangkan Khair, selalu menolak dan bahkan selalu memuji Zafirah di hadapan Andara.


Dan sikap pria itu, membuat hati Andara sangat terluka"Tidak bisakah kau memberikan satu kesempatan saja untuk ku?."


"Maaf, semua sudah berubah, Andara."


"Hal yang sudah berubah, masih bisa kita ubah kembali. Aku wanita yang melahirkan Enda, aku yang seharusnya berada di posisi Zafirah."


Mulanya, Khair merasa sedikit kasihan karena Andara kini telah sendiri. Tanpa dirinya, juga Enda. Tapi semua itu berawal dari pilihan dia sendiri, sedangkan mereka hanyalah korban dari keserakahan Andara terhadap harta.


Dan kini, setelah dia lelah mengejar harta dunia, dia ingin kembali kepada mereka.


Bahkan tanpa rasa malu, dia ingin merebut posisi Zafirah, yang semula di milikinya. Juga, opsi lain yang sangat tidak pernah Khair pikirkan, Andara bersedia menjadi istri yang kedua.


Dengan perasaan gusar, Khair menyudahi obrolan mereka. Pria itu segera meninggalkan Andara yang mengajaknya bertemu di sebuah cafe. Cepat langkah Khair, cepat pula langkah seorang Andara, wanita itu gegas mengejar dan mencengkeram pergelangan tangan Khair.


"Mas!! aku tidak bisa hidup tanpa kalian."


"Bohong! cepatlah kau berlalu dari kehidupan kami Andara! kami hanya masa lalumu, yang sudah bahagia dengan wanita pengganti dirimu," ketusnya melepaskan tangan Andara dari lengannya.


Keras kepala, itulah yang selalu Khair ingat dari seorang Andara. Dan benar saja, meski telah di tampar dengan kenyataan, wanita itu tak serta merta menghilang dari hadapan Khair"Aku akan terus memohon kepada Zafirah, untuk mengizinkan dirimu menikahiku lagi."


Dengusan napas berat, terdengar jelas dari seorang Khair. Pria itu berbalik, dan berhadapan kembali dengan Andara"Meski dia mengizinkan, aku tidak akan pernah ingin menduakan cintanya. Jika kau masih punya harga diri, bahkan hanya segelintir saja, lekaslah pergi dari hidup kami."


Usai mengucapkan kata-kata itu, Khair berbalik dan segera pergi dari tempat itu. Sungguh, pikirannya hanya tertuju kepada Zafirah. Keinginan untuk bertemu ini telah di konfirmasi lebih dahulu oleh Andara kepada Zafirah. Wanita itu tidak gusar, dia hanya menjadi irit bicara terhadap sang suami. Melalui memo yang dia letakan di atas meja tadi pagi, dia meminta kepada Khair untuk menemui Andara, dan segera menyelesaikan segala permasalahan mereka.

__ADS_1


Hari pria itu sangat terenyuh, begitu baik sang maha pencipta kepadanya. Di saat gangguan wanita lain datang, Zafirah masih menyimpan kepercayaan kepada dirinya, dan memberikan ruang agar menyelesaikan segala permasalahan ini. Alih-alih mengamuk dan menyalahkan semuanya terhadap dirinya.


Derai air mata kembali membasahi kedua pipi Andara, harapan itu sungguh telah tiada. Penyesalan hanya tinggal penyesalan, Ben yang baik dan lembut telah di miliki wanita lain. Juga Enda, bocah kecil yang di usir sang mantan ibu mertua dari kediaman mewah mereka.


Meninggalkan cafe tempat mereka bertemu, Khair segera menuju pesisir, memenuhi kewajiban sebagai koki di cafe milik Agam dan Gibran. Sempat datang terlambat, pria itu segera menjelaskan apa yang di laluinya pagi ini, tanpa di minta. Dan Agam, mendengarkan dengan seksama apa yang sedang Khair ceritakan. Tentang Andara, tentang Zafirah, dan tentang Enda. Dari situ, Agam dapat memahami betapa kacaunya isi dari dalam kepala Khair, dia memberikan sekaleng minuman bersoda, untuk menyegarkan pikiran pria itu.


"Terimakasih, kau sungguh bos yang sangat baik."


Agam hanya tersenyum, menampilkan lobang yang cukup dalam pada kedua pipinya. Pria itu melepas pandangan ke laut lepas, sementara Khair akan bersiap dengan peralatan memasaknya.


"Khair, bagaimana kau meyakinkan Zafirah? pernikahan kita hampir sama, terjadi dan di awali tanpa cinta dari kedua belah pihak."


"Ada apa denganmu? kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu."


Dari suara saja, Khair sangat tahu bahwa Agam sedang tidak baik-baik saja. Terlebih dengan sorot mata redup itu, Agam tidak ceria seperti biasanya"Bidadariku begitu pengertian, ku pikir aku tidak banyak melakukan hal baik."


"Seperti yang kau bilang, Zafirah sendiri yang meminta kau untuk menemui Andara. Itu cukup menunjukkan betapa yakin dirinya atas perasaan mu terhadap nya," tukas Agam lagi. Semilir angin pantai, seolah sedang mengusap lembut pucuk kepala pria itu, yang sedang resah karena sikap sang istri semalam.


Sementara di dapur pribadi mereka, Jena nampak sedang menguping obrolan dua pria itu. Dirinya merasa sangat menyesal, sempat memikirkan kesedihan Tiara, sementara Agam nya merasakan sedih tanpa di sadari nya.


Sembari menopang wajah dengan lengannya, Jena duduk menghadap jendela, tepat menghadap lautan lepas jua.


"Agam, jujur saja, pada hubungan kami Zafirahlah yang lebih banyak berinisiatif terlebih dahulu. Dia yang lebih dahulu mencairkan suasana canggung kami, bahkan dia yang lebih dahulu menawarkan cinta kepadaku. Aku hanya mengikuti arus yang mengalir dalam kehidupan kami."


"Dan karena itukah kau menjadi tergila-gila kepadanya? ku pikir kau yang lebih pandai mengambil hatinya, hingga membuatnya sangat yakin akan cinta yang kau punya untuk dirinya."

__ADS_1


"Ya! tentu saja," sahut Khair begitu yakin.


"Lantas, apakah aku juga harus seperti Zafirah? tapi semua cintaku sudah ku berikan kepada Jena. Dengan cara apa lagi aku membuktikan perasaanku, membandingkan diriku dengan Tiara sang mantan sahabat, sungguh membuat dadaku sesak," kembali menenggak minuman dingin di hadapannya, Agam berusaha menenangkan hati yang mulai memanas mengingat Jena yang masih memikirkan Tiara, dan juga Dewa.


Oh tidak! ini tidak bisa di biarkan. Agam salah paham! bukan tidak yakin dengan cintanya, Jena hanya selintas memikirkan Tiara, dan sekarang pikiran itu telah Jena buang sejauh-jauhnya.


Dia sengaja menampakkan diri di hadapan Khair, sementara Agam masih duduk menghadap lautan lepas. Kehadiran Jena membuat Khair salah tingkah, terciduk sedang bertukar rahasia pribadi bersama sang sahabat.


Memahami isyarat dari Jena, Khair melangkah perlahan meninggalkan area dapur cafe. Lebih baik dirinya berpindah ke area pelanggan, duduk memantau para pekerja yang sedang membersihkan area tersebut.


"Agam suamiku," lirih Jena. Suara wanita itu bergetar. Perasaan bersalah sedang menyelimuti diri seorang Jena. Pria itu langsung berbalik, saat mendengar suara bergetar wanita yang sangat di cintai.


"Maaf mas, aku sungguh tidak meragukan perasaanmu. Sungguh," ucapnya penuh penekanan.


"Kau tidak perlu seperti Zafirah, aku sudah cukup tergila-gila kepadamu, cukup jadi engkau yang biasanya saja."


Wajah sendu sang istri membuat Agam tidak bisa diam saja. Dia segera meraup tubuh kecil sang istri kedalam pelukan"Jangan menangis, sayang."


"Perkataan ku pasti sangat menyakitimu, maafkan aku mas. Tidak seharusnya aku bertanya seperti itu kepadamu."


Agam menggeleng, telapak tangannya mengusap pucuk kepala Jena dengan sangat lembut. Ya! pertanyaan Jena tentang Tiara yang dahulu pernah meminta izin kepadanya untuk menikah dengan Dewa, memang sempat menggores relung hari Agam. Namun Agam baru menyadari, semua ini hanyalah salah paham.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2