Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Pertama.....


__ADS_3

Kenyataan semakin menampar Zafriah untuk lebih sadar diri, wanita yang masih terperangkap dalam cinta tak berbalas itu memalingkan wajah yang semula tertuju kepada Agam. Usapan lembut Syabila pada punggung tangannya, di balas senyuman pahit olehnya.


"Kita pulang saja, hemm?," tukas Syabila.


Zafirah menggeleng pelan"Sudah aku renungkan, menghindar hanya akan menutup sejenak luka di hatiku. Pinta pada sang illahi acap kali ku langitkan, namun entah mengapa langkahku selalu berujung menjumpai pria ini lagi," sepasang manik sendu itu membalas tatapan iba Syabila.


"Mungin, aku butuh tamparan kuat demi menyadarkan hati yang buta ini Syabila. Segumpal darah di dalam sini masih menyimpan rindu pada dia yang telah berjumpa jodohnya," lanjutnya sembari meletakan tangan di dada, tepat di mana letak sang hati berada.


"Jadi....kau akan tetap berada di sini?," tanya wanita berwajah bulat, Syabila.


"Hem," angguk Zafirah.


"Kau akan menyakiti dirimu sendiri," nada itu terdengar sangat tidak rela.


"Kenyataan itu memang menyakitkan, Syabila," ucapnya penuh penekanan.


Syabila membuang muka, sungguh, gadis itu tidak mengerti dengan pola pikir Zafirah.


Tersenyum kecil, Zafriah bangkit dari duduknya. Menghampiri Jena dan menyarankan agar segera mengobati luka bakar Agam. Sekilas gadis itu memandang jemari pria berlesung pipi itu, lukanya tidak seberapa.


"Aku yang akan melanjutkan membakar ikan nya," mengambil alih kipas besar yang teronggok di lantai, sikap wanita ini membuat Angga dan Gibran menggelengkan kepala.


"Kau terlalu baik, aku hanya berharap semoga kau tidak berubah jahat seperti Tiara, sebab berubahnya orang baik menjadi jahat akan sangat menakutkan, Zafirah," gumam hati Gibran.


"Sudah, cepatlah kemari. Biarkan Jena mengurusi suaminya. Kalian harus segera memulai permainan, jika tidak aku akan menghabiskan cemilan-cemilan ini," Yasir memanggil mereka agar kembali bergabung bersamanya. Namun Syabila enggan kembali bergabung, gadis itu memilih menemani Zafirah menggantikan tugas pengantin baru tadi.


"Ck, apa kau tidak menginginkan cemilan-cemilan itu?," tanya Gibran saat Syabila mendudukan diri bersama Zafirah.


Terlihat, sorot mata gadis itu begitu mendamba cemilan-cemilan di dalam kerangka.


"Tidak! aku sedang diet," kilahnya.


Zafirah tersenyum kecil,"Kalau begitu aku saja yang bermain, kau tolong bakar ikan-ikan ini ya."


Seketika wajah gadis itu memberengut,"Duhai Zafirah yang manis dan cantik, aku bertahan di depan pemanggang panas ini demi menemanimu."


Barisan gigi putih Zafirah nampak terlihat, di sela hati yang lara wanita itu masih bisa tertawa dengan lebarnya"Pergilah, dapatkan cemilan-cemilan itu untuk kita nikmati di asrama nanti."

__ADS_1


"Lantas, ikan-ikan ini?."


"Ini tugasku, tugasmu melanjutkan perjuangannya kita mendapatkan hadiah menggiurkan itu," tunjuknya pada sekeranjang cemilan.


Angga menarik ujung kerudung Syabila"Lekaslah, lawan kelinci raksasa ini. Aku akan dengan ikhlas menggantikan mu menemani Zafirah mengurusi mayat-mayat ikan ini."


Memegangi kepalanya yang goyang karena ulah Angga"Ugh! kau bisa bicara baik-baik kan, menarik kerudung ku sama saja dengan menjambak rambutku, Angga," geramnya menatap horor pada Angga.


Dengan senyuman yang selalu menenggelamkan kedua matanya, Angga menangkupkan kedua tangan kepada Syabila"Maafkan daku duhai dedek Syabila."


"Huh, tidak perlu memanggilku dengan sebutan dedek? telingaku ingin muntah mendengar nya," ujarnya berpindah pada meja mereka semula.


Angga mengolok Syabila dengan bibir yang turun naik tanpa suara, dan Zafirah hanya tersenyum lebar melihat interaksi mereka berdua yang jarang terlihat akur bersama.


Di dalam rumah.....


Jena mengambil kotak P3K, meminta Agam untuk duduk di ruang tengah. Dengan patuhnya, pria itu mendudukan diri di sofa berwarna coklat tua itu. Wanita itu meletakan kacamatanya di atas meja dapur, sungguh dirinya sangat takut melukai anak kesayangan Arabella ini.


Mengeluarkan hampir semua isi dari kotak kesehatan itu, jujur saja ini kali pertama Jena berniat mengobati luka selain pada dirinya sendiri.


"Aku hanya perlu handuk dan air dingin, Jena."


"Hah?," Jena nampak tidak mengerti.


Agam segera bangkit menuju dapur, kembali ke ruang tengah dengan ember kecil berisi air dingin dan handuk kecil.


"Begitu saja?," tanya Jena saat Agam membungkus jarinya setelah merendamnya ke dalam air yang dingin.


"Hem," sahut Agam mengangguk"Lagipula, ini hanya luka kecil, hanya di ujung dua jari ini," ujarnya menunjukan jari telunjuk dan jari jempolnya kepada Jena.


Melihat hal itu, sungguh Jena merasa sikapnya sangat berlebihan. Bagimana bisa dirinya langsung menghisap jari pria itu di hadapan para teman dan sahabat mereka, lihat saja, mereka pasti akan mentertawakan nya saat tahu itu hanyalah luka yang kecil.


Melihat Jena yang hanyut dalam lamunan,"Kau sedang memikirkan apa?," sembari menarik kedua kakinya untuk bersila di atas sofa.


"Tidak, aku hanya sedang mentertawakan tindakan bodohku tadi."


"Maksudnya?," selidiki Agam.

__ADS_1


Dengan kedua alis bertaut, Jena mendudukan diri pada sofa yang sama dengan Agam"Ku pikir tanganmu terluka parah......"


"Dan...ck! maaf aku spontan menarik jarimu dan menghisap nya", cicitnya pelan.


Lagi, sepasang lesung pipi itu tercetak dengan sangat jelas. Mengingat hal itu membuat garis senyum menukik naik di wajahnya.


"Apa kau mengkhawatirkan ku?," tanya nya mencoba beradu pandang dengan wanitanya.


Alih-alih membalas pandang teduh pria itu, Jena memalingkan wajah sembari menyugar rambut indahnya.


"Sudah ku katakan, aku spontan melakukan hal itu."


Jena yang pemarah seolah pergi dari dirinya sejak menjadi istri bocah tengil ini, berganti sikap malu-malu yang kerap menghadirkan rasa menggemaskan Agam terhadap Jenaira. Dan kali ini, sikap wanita itu kembali membuat Agam ingin lebih dekat padanya.


Membawa diri agar lebih dekat pada istrinya, Agam menarik lembut dagu wanita itu hingga akhirnya saling beradu pandang.


"Jadi, kau tidak merasa khawatir sedikit pun terhadap ku? padahal, sejak resmi menyandang status sebagai suamimu, diriku adalah milikmu."


Sepasang manik berwarna coklat itu mengerjap, rasa gugup langsung menyerang hingga membuatnya kehabisan kata-kata.


Masuk lebih dalam memandangi pria yang selalu bersikap lembut kepadanya, tatapan hangat pria itu membuat hati kecil di dalam sana juga ikut menghangat.


Jemari besar Agam menyentuh pipi lembut istrinya, mengusap bibir wanita itu dengan ibu jarinya.


"Jenaira, menghindarlah jika kau tak bersedia."


Perlahan Agam memutus jarak di antara mereka, mendaratkan ciuman singkat pada bibir istrinya. Dan...kesan pertama yang Agam rasakan, jantungnya terasa ingin meledak.


Jena terdiam, tidak ada langkah mundur dari wanita itu. Tubuhnya seolah terpaku dalam tatapan penuh cinta dari prianya.


Menyatukan keningnya dan kening Jena, Agam diam sejenak setelah mendaratkan ciuman pertama nya. Deru napas mereka kian beradu, hingga timbul keinginan untuk kembali melakukan hal itu.


Agam melepaskan handuk di tangannya, meraup wajah cantik sang istri dengan kedua tangannya dan kembali menciumnya. Jena, wanita itu cukup menikmati sentuhan pertama lelaki muda itu. Lembut dan hangat, Jena sempat bertanya-tanya benarkah ini ciuman pertama Agam? mengapa perlahan terasa mulai memabukan???


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2