
Dering dan getar ponsel di nakas, sontak membuat kedua mata Arkan yang semula memejam kini terbuka. Dengan malas pria itu meraih sang gawai, tubuhnya sungguh lelah, terlebih pikiran dan beban di dalam dada. Nomor asing yang tertera di layar ponsel membuat Arkan memicingkan mata, menerima panggilan tersebut tanpa lebih dahulu bersuara, begitulah cara Arkan menerima panggilan nomor asing yang masuk pada gawainya.
"Halo.......", suara seorang pria di ujung sana.
"Ya?", sahut Arkan meragu. Bukan tanpa alasan dia bersikap seperti itu, belakangan ada rekan kerja wanita yang begitu ngotot ingin mendekatinya. Seolah melupakan jati diri sebagai seorang wanita, rekan kerja itu mengejar dan mencari perhatian Arkan tanpa mengenal rasa malu.
"Apa ini dengan saudara Arkan?", tanya seseorang itu.
"Iya, saya sendiri."
"Ah, begini, aku tahu keberadaan wanita yang sedang anda cari."
Tubuh lelah itu seketika bersemangat kembali, bangkit dari posisi rebahan Arkan mengambil duduk dan bersandar pada bahu ranjang"Benarkah??? di mana??."
"Tapi....", suara itu terdengar meragu.
"Tapi mengapa?? apa kau perlu imbalan?? aku akan memberikan berapapun yang kau pinta asalkan membagi informasi tentang wanita itu", tak ingin gagal menemukan sang adik, Arkan tak segan meski harus membayar mahal.
"Maafkan aku saudara Arkan, sebetulnya aku ingi menolongmu tanpa bayaran. Tapi, kakekku sedang sakit sekarang, dan memang aku sedang membutuhkan uang", entah memang benar sang kakek sedang sakit, atau hanya akal-akalan seseorang di hujung telepon saja. Arkan langsung bersedia memberikan sejumlah uang pada penelpon itu.
"Mari kita bertemu, aku akan memberikan uang yang kau butuhkan itu", ujarnya segera bangkit. Sembari meraih jaket yang tersampir di sofa tunggal"Katakan wanita itu ada di mana?."
"Kau bisa mengirim uang itu ke nomor rekening ku saja, dan aku akan segera memberitahukan keberadaan wanita itu. Aku sungguh terdesak, kakekku sedang menungguku di rumah sakit", terdengar tulus, Arkan lantas meminta penelpon tersebut mengirimkan nomor rekeningnya.
"Aku akan benar-benar mengirimkan uang untukmu, dan ku harap kau tidak sedang membodohi ku. Aku bisa saja melacak keberadaanmu dan meringkusmu jika berbuat curang", tuturnya kembali berhati-hati.
"Aku bersumpah, aku tidak akan berbuat curang kepadamu. Jika saja kesehatan kekekku baik-baik saja, aku akan dengan tulus mengantarkanmu ke tempat wanita itu berada", suara di ujung sana terdengar lemah, Arkan merasa iba, mungkin benar adanya kakek penelepon itu sedang sakit sekarang.
__ADS_1
Tak ingin bertele-tele, Arkan segera mentransfer sejumlah uang yang di inginkan sang penelepon tersebut dan mendapatkan informasi tentang adik perempuannya.
Ketika malam semakin merangkak naik, melewati puncaknya dan perlahan menyongsong dini hari, sesosok pria berlesung pipi tengah meminta pada sang maha pencipta.
"Ya Allah, jika dia jodohku dekatkanlah kami. Jika dia bukan jodohku maka musnahkan rasa cinta di hati ini", gumamnya lirih.
Doa yang sama itu Zafirah langitkan beberapa minggu yang lalu, saat Agam memberikan signal penolakan atas cintanya. Dan sekarang, di sela keputusasaan, dengan pasrah Agam pun melangitkan doa yang sama pada sang pencipta, betapa hancur dan sakit hatinya, begitulah rasa sakit yang Zafirah rasakan saat mendapat penolakan dari dirinya.
Pagi buta di kediaman Gibran, kehadiran sang abang membuat Gibran memalingkan wajah. Bagaimana tidak, menyalahkan dirinya atas perginya sang kakak, sebagai anak bungsu jiwa manja Gibran sungguh belum sirna meski telah beranjak dewasa. Memberengut di balik selimut, Arkan dan Gibran saling tarik selimut di pagi itu.
"Hah, sudahlah! aku akan pergi sendiri saja", ujar Arkan akhirnya. Meski sama-sama bertubuh besar, sang bungsu lebih kuat dan bertahan menarik selimut itu agar tidak tersibak dan menampakkan diri hadapan Arkan.
Masih berdiam diri, Gibran tak menghiraukan ucapan Arkan.
Menatap tubuh di balik selimut yang teronggok diam membisu, Arkan tak kehabisan akal agar sang adik beranjak dari tempat persembunyiannya.
"Srak!", perkataan Arkan sukses membuat Gibran keluar dari balik selimut.
"Abang sudah menemukan kak Jena!?."
"Hem", sahut Arkan singkat.
"Kau, ingin tetap di bawah selimut atau ikut bersamaku menjemputnya??!."
Sembari bangkit dari tempat tidur"Pertanyaan macam apa itu bang, jelas saja aku harus ikut bersamamu. Sungguh, aku sangat merindukan kak Jena", celotehan nya mencari pakaian untuk segera dia kenakan.
Kedua tangan Arkan terlipat di dada"Minimal, kau harus mandi dulu Gibran."
__ADS_1
"Tidak perlu. Kita harus segera berangkat", sahutnya melanjutkan aktivitas mengganti pakaian.
"Setidaknya kau harus mencuci wajah."
"Tidak perlu, kau akan kalah saing jika aku mencuci wajah. Kali ini aku akan mengalah darimu bang, untuk sekali ini saja predikat lelaki tampan aku titipkan kepadamu."
"Pletok!!", sebuah botol air mineral melayang dan mendarat dengan indah di kepala Gibran.
"Abang!!!, sakiittt", pekik si bungsu meringis kesakitan.
Arkan mendecih"Cih! ku kira otak dan kepalamu sudah mati rasa. Seolah-olah kau saja lelaki berwajah tampan di muka bumi. Aku menyuruhmu mandi agar tidak menimbulkan aroma tak sedap di dalam mobil nanti. Kau tahu bukan, aku sangat tidak tahan dengan aroma busuk air liur burung waletmu itu", cecar Arkan geram.
Seketika Gibran menarik diri ke hadapan cermin, dan benar saja, noda bekas air liur terlukis indah di kedua pipinya.
"Hehehe", ujarnya terkekeh sembari memainkan kedua alis tebal pada Arkan.
"Cuci wajahmu!!", sentak Arkan.
Wajah cengengesan Gibran berubah masam"Baiklah!!!, hisss, tidak ada kak Jena, ternyata kau yang menggantikan dirinya menjadi seorang pemarah di rumah ini", gerutu nya berlalu menuju kamar mandi.
Saat dua bersaudara itu tengah bersiap menjemput Jena, lain hal nya dengan Agam. Usai sholat subuh, Agam melihat postingan Yasir di media sosial berlambang burung biru. Betapa bertejut dirinya, Jena hadir bersama Yazir dan juga Zafirah dalam postingan tersebut. Wanita itu nampak cantik, tersenyum lebar mengenakan syal besar yang dia beli saat berbelanja bersama Agam tempo hari.
"Subhanallah, sungguh indah makhluk ciptaanmu ya Allah", gumam Agam dengan hati berdesir hebat. Sebongkah hari bergetar, berdebar hebat menatap senyuman yang sangat jarang terbit di wajah wanita idamanannya.
Tanpa menunggu lama, Agam segera menghubungi nomor Yasir. Kerap singgah dan menghabiskan waktu di pondok pesantren Al-jannah, membuat Agam mengenal dan berteman akrab dengan para penghuni pondok pesantren itu. Yasir adalah salah satu tenaga umum di pondok pesantren tersebut, telah lama mengabdikan diri di sana bersama sang ayah, Agam tidak terkejut saat mengetahui bahwa yasir lah yang memimpin kelompok relawan itu. Bertutur kata lembur, sabar dan gemar bersedekah, sangat pantas jika Yazir lah yang di daulat menjadi pemimpin kelompok relawan dari pondok pesantren Al-jannah milik kyai Bahi tersebut.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗