
Berdiam diri, Jena yang pendiam semakin tenggelam dalam palung kesendirian. Ponsel yang telah Agam hadiahkan padanya di nonaktifkan, sejak kabar tak sedap itu beredar Jena seolah membangun benteng dari ponsel, laptop dan televisi. Semakin menarik diri dari khalayak ramai, hari-hari yang di laluinya banyak di habiskan di dalam kamar saja.
sebagai pengantin baru, Arabella dan Akhtar menawarkan wisata berbulan madu ke negeri tetangga. Namun, dengan halus Jena menolak tawaran itu.
Bagaimana dengan Agam? pria itu masih belum mendapatkan hak nya sebagai seorang suami. Entah terbuat dari apa, hati yang di miliki pria itu terlampau baik, juga kesabarannya. Menghadapi wanita dingin dan irit bicara seperti Jena sunggung sangat melelahkan, namun bagi Agam, melihat wajah tenang sang istri saat terlelap dalam tidur sudah cukup membuatnya senang dan bahagia.
Arkan, kakak laki-laki Jena itu tak hanya diam mengetahui kabar buruk kembali menerpa kehidupan sang adik. Dengan segala koneksi yang dia miliki, wartawan yang menggunggah berita murahan itu mulai samar di ketahui.
Malam itu, usai melaksanakan sholat isya, Agam kembali mendapat kabar terbaru tentang penyelidikan Arkan. Nama seorang wartawan pria yang bekerja di kantor majalah hiburan telah di kantongi mereka. Dan, malam itu jua Agam menghubungi sang paman, Salman.
"Aku tahu betul siapa pria itu, beberapa bulan yang lalu dia sempat bekerja di perusahaan ku sebagai illustrator," ujar Salman menanggapi pertanyaan Agam tentang sang wartawan.
"Dan sekarang dia menjadi wartawan???," Agam sedikit terkejut.
"Entahlah, mungin dia berubah tujuan hidup. Hendak apa dan hendak menjadi apa hanya dirinya sendiri yang tahu, bukan?," jawab Salman. Selagi bekerja sama, pria itu cukup baik dimata Salman.
"Apa paman tahu pria itu tinggal di mana?."
"Ya, aku tahu, jika dia tidak berpindah tempat tinggal," sahut Salman lagi.
Tanpa banyak berbasa-basi, Agam meminta Salman mengirimkan alamat wartawan itu dan mengirimkan kembali alamat itu kepada Arkan.
"Kau cepat sekali dalam bertindak, bocah," gurau Arkan di ujung telepon.
Terdengar Agam tertawa di ujung telepon"Ayolah bang, berhenti memanggil ku bocah. Aku sudah menjadi adik iparmu sekarang."
Kini, giliran Arkan yang tertawa"Baiklah, kau memang telah menjadi adik iparku. Tapi, apa kau sudah berhasil menaklukkan hati wanita dingin itu? apa kau sudah.....hahahahah," gelak tawa Arkan membuat wajah Agam memerah.
Tak kuasa memberikan jawaban, Agam hanya mampu menelan saliva saja.
"Hei, kenapa kau terdiam? kemana pria yang tadi berlagak kepadaku?."
Agam menggaruk tengkuknya yang tak gatal"Hehehe, abang bisa saja bercandanya."
"Hahahahah," Arkan kembali tertawa.
"Kau kira aku bercanda? aku serius Agam, aku benar-benar ingin tahu apa kau sudah berhasil menaklukkan adik ku yang dingin itu??," ujarnya membuat Agam tak berkutik di seberang panggilan.
"Yah....begitulah bang," sebuah jawaban yang tidak memuaskan.
"Ck! apa aku boleh menebak?."
"Jangan bang, apa yang sedang abang pikirkan memang benar," sahut Agam tak mampu berkilah.
Sungguh malang, Arkan kembali mentertawakan nasib bocah malang itu.
Lama berbincang dan mengatur strategi untuk memancing wartawan itu, tanpa terasa waktu terus berjalan dan malam pun kian merangkak naik.
__ADS_1
"Ya sudah, malam semakin larut, lebih baik kau segera menghampiri wanita dingin itu. Tawarkan kehangatan kepadanya, siapa tahu malam ini kau sedang beruntung." gurau Arkan sebelum mengakhiri panggilan.
Ash!!! jika saja yang sedang berbicara ini adalah Angga atau pun Gibran, mungkin dirinya akan lebih santai menanggapi nya.
Usai meletakan gawai di atas meja, Agam menghampiri Jena yang nampak terlelap dalam tidurnya. Cahaya temaram dari lampu tidur, menyembunyikan sosok Agam yang hanya mampu memandangi wajah sang istri.
"Ck! bang Arkan jahil sekali, hatiku jadi gelisah seperti ini," gerutunya dalam hati.
Demi menetralkan debar jantung usai memandangi sang istri, Agam mengambil air wudhu dan berserah diri kepada sang maha kuasa dalam sholat malamnya. Usai berkeluh kesah pada sang illahi, pria itu melantunkan surah yang sangat dia sukai, Ar-rahman.
Meski sangat pelan, keheningan malam membuat suara pria itu terdengar jelas di telinga Jena. Masalah hidup yang datang silih berganti membuat dirinya kerap terjaga di malam hari.
Tanpa Agam sadari, wanita itu melangkah ke ruangan yang akhir-akhir ini bisa di bilang menjadi kamarnya. Sungguh, benar apa yang di katakan Zafirah, suara pria ini sangat merdu.
Hati yang semula gundah, perlahan merasakan ketenangan saat itu. Tubuh lelah Jena memberi peringatan untuk beristirahat kembali, namun Jena masih ingin mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an itu. Hingga tanpa sepengetahuan Agam, Jena merebahkan diri di ranjang tunggal Agam. Ranjang yang di desain dengan ukuran lebih kecil dari ranjang utama Agam, tempat Jena tertidur semula tadi.
Lantunan demi lantunan bagai usapan lembut yang membelai pucuk kepalanya. Mengantarkan Jena kembali ke alam mimpi, juga membantu menghapus segala lara yang sempat bersarang di hati.
Betapa terkejutnya Agam saat membalikan badan usai membaca surah tersebut, wanita yang sempat membuat hatinya resah kini tertidur pulas di tempat tidurnya.
Melipat sajadah nya, meletakannya di atas meja dan perlahan berjalan mendekati Jena. Pesona seorang Jena sangat tidak di ragukan lagi, Agam kembali terhanyut memandangi wajah sang istri.
Membelai lembut rambut yang menutupi pipi lembut sang istri, tindakan itu membuat Jena kembali terjaga dari tidurnya.
"Eung.....," Jena membuka kedua mata.
"Hem...," sahut pria itu singkat. Di pandanginya wanita itu lekat-lekat, memastikan bahwa dirinya tidak sedang mengigau memegang jemarinya.
Jena sedikit menggeser tubuhnya"Puk", wanita itu menepuk sisi bantalnya.
Agam seolah bertanya dengan sorot matanya.
"Tidurlah, kau pasti juga kelelahan. Aku tahu bukan hanya aku yang merasa terbebani dengan berita murahan itu," berbicara layaknya orang yang sadar kan diri. Dapat di pastikan Jena tidak sedang mengigau saat ini.
Agam menelan saliva"Aku tidur di samping mu?," tanya nya ragu.
"Hem," wanita itu mengangguk sembari memejamkan kedua mata.
Perlahan Agam berdiri, namun Jena masih memegang jemari besar itu. Menahan pria itu untuk tak pergi meninggalkan nya.
"Jenaira, apa kau sadar?," sungguh, Agam tak ingin Jena berteriak saat bangun di pagi hari, mendapati dirinya tidur pada ranjang yang sama dengannya.
Jena melepaskan jemari Agam, memunggungi nya sembari berkata"Cerewet sekali bocah satu ini."
Lagi-lagi di panggil dengan sebutan bocah, lambat laun panggilan itu menyisakan kesal dalam hatinya. Menyugar rambutnya ke belakang, Agam menarik napas sebelum akhirnya benar-benar naik ke ranjang itu.
Berbagi bantal dengan wanita yang telah lama dia cintai, ah! hati kecil di dalam sana sangat berisik sekali. Demi menenangkan degup jantung yang semakin kencang, Agam menyilang kedua tangan di dada dan juga memunggungi Jena, memejamkan kedua mata agar segera pergi ke alam mimpi.
__ADS_1
Satu detik....
Dua detik....
Tiga detik....
Tiba-tiba Jena berbalik menghadap punggung lebar Agam. Menyerbukan kepalanya pada punggung pria itu.
"Deg!!!," hati pria itu semakin jumpalitan. Kedua matanya kembali terbuka, bahkan membesar sempurna.
Alih-alih menghindar, Agam menjadi mati gaya di hadapan Jena. Pria itu terdiam seribu bahasa, dan.... mematung pastinya.
"Agam," panggil Jena begitu pelan.
"Hem," sahutnya singkat.
"Apa kau menyesal menikahiku? memandangku saja kau sudah tak mau."
Ucapan lirih Jena membuat Agam beringsut membalikan badan. Nampak manik coklat itu tengah menatap sendu kepadanya.
"Menikahimu, suatu keberuntungan terbesar dalam hidupku Jena."
"Lantas, mengapa kau enggan berbalik padaku?."
"Bukankah kau telah mengaku cinta padaku?."
Lama pria itu memandangi Jena, menatap lurus semakin masuk dalam pandangan nya.
"Bukankah kau belum terbiasa dengan kedekatan kita?."
"Aku akan membiasakan diri untuk lebih dekat denganmu."
"Jadi, apakah sekarang kau mulai menaruh hati padaku?," seulas senyuman hangat terbit di wajah pria itu, dan seperti biasa sepasang lesung pipi nan dalam selalu muncul di saat dirinya tersenyum.
"Tidak," seloroh Jena.
Jawaban macam apa itu? Agam merasa di permainkan malam ini. Sikap istrinya yang menarik ulur naluri lelakinya sungguh membuatnya bingung.
"Untuk sekarang tidak banyak," lanjut Jena kembali.
"Bersyukurlah kau di ciptakan berbekal suara yang merdu, lantunan surah Ar-rahman tadi menarikku hingga akhirnya berada di sini."
Senyuman Agam semakin lebar, tak lagi sungkan Agam menarik tubuh Jena masuk kedalam pelukannya.
Mencium penuh haru kening sang istri"Aku akan membuatmu semakin nyaman bersama ku Jena, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku," ucapnya lirih sembari mengeratkan pelukannya.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗